Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih hidup
"Aku harus kabur dari sini."
Lyn menatap sekitar ruang pendingin, berusaha mencari cara keluar dari ruangan itu dengan sisa tenaga yang dia punya.
Gadis itu meremas ujung bajunya, tubuhnya masih terasa lesu, kepalanya juga terasa perih. Ia terus berjalan dengan pelan, menelusuri ruangan ini, Lyn tidak ingin jadi korban seperti apa yang dikatakan orang di luar tadi.
Cukup lama Lyn mengelilingi ruangan, hingga tenaganya hampir tak tersisa.
"Ya Tuhan, bantu aku..." gumamnya lirih, berusaha melawan hawa dingin yang menggigit tubuhnya.
Hingga akhirnya, tatapan Lyn beralih ke atas. Ia menangkap sesuatu, sebuah ventilasi berukuran cukup besar yang menempel di dinding tersembunyi di antara bayang-bayang langit-langit gudang.
"Itu..." bisiknya, matanya membulat penuh harap.
Senyum tipis merekah di bibirnya yang pucat, seolah baru saja menemukan secerah harapan di tengah keputusasaan, seolah petunjuk yang dikirimkan Tuhan pada waktunya.
"Terima kasih," lirihnya pelan, nyaris tak terdengar, sambil menatap ventilasi.
Ia menatap sekeliling, mencari apa saja yang bisa dimanfaatkan. Matanya berhenti pada sebuah kursi tua yang tergeletak tak jauh darinya, juga beberapa palet kayu, dan kotak pendingin yang bisa di tumpuk.
"Semoga ini cukup kuat," gumamnya, mulai menyeret kayu itu mendekat.
Dengan sisa tenaga yang ada, Lyn menumpuk palet kayu satu per satu di atas kursi, menyusunnya menjadi pijakan menuju ventilasi yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari tempat ini.
"Ayo, Lyn, kamu pasti bisa," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan tekad sebelum memulai memanjat.
Lyn mulai memanjat tumpukan kursi dan palet kayu itu dengan hati-hati, tangannya gemetar menahan berat tubuhnya sendiri yang sudah lemah.
Selangkah demi selangkah, hingga akhirnya tangannya meraih ventilasi.
Sesampainya di atas, Lyn mencoba mendorong penutup ventilasi itu, tetapi sia-sia.
Lyn menghela napas pelan, logam itu keras dan dingin, seakan sudah menyatu dengan dinding karena karat dan suhu beku ruangan.
"Sial," desisnya, mendorong sekuat tenaga yang tersisa. Namun ventilasi itu tidak bergeming sama sekali.
Napas gadis itu memburu, tubuhnya gemetar hebat menahan posisi di atas tumpukan yang tidak stabil.
"Apa aku akan mati di sini?"
Namun sekelebat bayangan wajah ibunya muncul di benaknya, senyum hangat yang selalu jadi tempatnya pulang.
"Tidak!" tekadnya. "Aku harus kuat. Demi Ibu!"
Ia menatap ke bawah, matanya menyapu seisi gudang, mencari sesuatu yang bisa membantunya.
Dan di sudut ruangan, tersembunyi di balik rak besi, matanya menangkap sebuah kotak perkakas tua yang berisi berbagai alat, termasuk sebuah palu.
Tanpa pikir panjang, Lyn turun kembali dengan hati-hati, kakinya nyaris tergelincir saking terburu-buru. Ia meraih palu itu, menggenggamnya erat-erat seolah itu adalah kunci menuju kebebasannya.
"Terima kasih Tuhan."
Lyn kembali memanjat tumpukan kursi dan palet, kali ini dengan tekad yang lebih kuat.
Sesampainya di atas, Lyn memukul-mukul ventilasi, berusaha melepas baut yang berkarat.
TANG! TANG! TANG!
Suara pukulan logam bergema di ruangan sunyi itu, membuat Lyn menahan napas, takut terdengar sampai keluar. Tapi ia tak punya pilihan lain, ini satu-satunya jalan.
"Sedikit lagi," gumamnya, terus memukul dengan sisa tenaga yang ada.
Krek! Ventilasi akhirnya berhasil terbuka, setelah perjuangan panjang Lyn.
Ia menghela napas lega, tenaganya nyaris terkuras habis.
Lyn perlahan mendorong tubuhnya masuk ke lorong ventilasi yang sempit, merangkak dengan sisa tenaga yang nyaris habis.
"Sedikit lagi..." bisiknya, menahan dingin yang menusuk.
Setelah beberapa meter, ia melihat celah di ujung lorong, namun tenaganya sudah benar-benar habis, tangannya gemetar, serta penglihatannya mulai kabur.
BRUK!
Tubuh Lyn terjatuh begitu saja keluar dari ventilasi, menghantam ke tanah keras di luar gudang.
"A-akhirnya..." lirihnya lemah.
—•—
"Elea, ke arah barat."
Elea mengangguk, lalu berlari sekuat tenaga menuju ruang pendingin itu. Pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan buruk, ia tak sanggup membayangkan kondisi putrinya.
Elea dan Vanesa terus berlari menembus kegelapan pelabuhan, langkah mereka tak sekalipun melambat.
"Di sana! Itu gudang pendinginnya." Vanese menunjuk gedung yang tak jauh dari posisi mereka.
Namun baru beberapa langkah lagi, sesosok bayangan besar melangkah keluar dari balik kontainer, diikuti belasan pengawal bersenjata yang mengepung dari segala arah.
"Jangan bergerak!"
Elea dan Vanesa berhenti mendadak, napas tersengal-sengal.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan sorot mata dingin—Rama.
"Apa urusan kalian di wilayahku?!"
"Di mana putriku?!" bentak Elea, tak gentar meski dikepung puluhan pengawal bersenjata.
"Putrimu? Oh, kau pasti ibunya mayat gadis itu?"
Amarah Elaa meledak seketika. "MAYAT?!" teriaknya. "Berani-beraninya kau bicara begitu tentang putriku!"
Rama tertawa mengejek, sama sekali tak terintimidasi. "Anakmu memang sudah meninggal, alias sudah jadi mayat." Ia melangkah santai, tangannya terlipat di dada. "Gadis itu sudah meninggal saat kami menemuinya. Anda terlambat, Nyonya."
"Jaga ucapanmu, brengsek!" Teriak Elea, tubuhnya gemetar menahan amarah. "Lyn masih hidup!"
Rama menyeringai mendengar bantahan Elea. "Masih hidup? Berhenti bermimpi, Nyonya. Cepat atau lambat, kau akan menyusul."
"BANGSAT!" Elea menggeram, matanya memerah menahan amarah yang sudah tak tertahan lagi.
"Lea, tunggu—" Vanesa mencoba menahan, tapi terlambat.
"Habisi mereka!" perintah Rama sambil melangkah mundur memberi ruang bagi anak buahnya.
Belasan pengawal langsung menyerbu, Elea tak menunggu lagi, ia melesat maju, belati di satu tangan, pistol di tangan lain, matanya menyala penuh dendam.
"KALIAN SEMUA AKAN MATI!" teriaknya, langsung menembak pengawal terdekat, lalu menebas lawan berikutnya dengan belatinya tanpa ampun.
Vanesa tak kalah ganas, menghajar dua pengawal sekaligus dengan gerakan cepat dan brutal. "Berani-beraninya kau mengatakan putriku sudah mati! Gue hajar kalian sampai mampus!" umpatnya, sikunya menghantam wajah salah satu pengawal hingga terhuyung.
"Tangkap mereka!" teriak salah satu anak buah, panik melihat rekan-rekannya berjatuhan satu per satu.
Elea seperti kesetanan. Setiap pukulan, setiap tebasan belatinya penuh amarah yang membuncah. Tanpa ampun, ia menembak siapa pun yang mencoba menyerangnya.
Rama yang tadinya berdiri santai di kejauhan, kini mulai mengernyit. Kekuatan dan kegilaan wanita di hadapannya jauh di luar dugaannya, ia berpikir ini akan jadi pertarungan mudah, dua wanita melawan belasan pengawal. Tapi yang ia lihat justru sebaliknya, anak buahnya bertumbangan satu demi satu, sementara Elea dan Vanesa terus bergerak liar, tak menunjukkan tanda-tanda lelah.
"Sialan," gumam Rama, rahangnya mengeras. "Siapa sebenarnya wanita gila ini?"
Rama, yang mulai merasakan situasi di luar kendali, perlahan mundur menjauh dari kerumunan pertarungan. Ia tak mau ambil risiko dengan dua wanita gila ini, jelas bukan lawan untuk ditangani sendirian.
"Kalian urus mereka! Aku akan cari bantuan!" teriaknya, lalu berlari menjauh, menghilang di antara bayang-bayang kontainer.
Di tengah kekacauan, Vanese menghantam wajah salah satu pengawal dengan tendangan memutar, lalu melirik ke arah Elaa sambil menyeringai santai, seolah pertarungan ini hanya permainan biasa baginya.
"Ela, lo ke gudang aja!" teriaknya, membalas pukulan pengawal lain tanpa menoleh sedikit pun, gerakannya lincah dan penuh gaya. "Sisanya biar gue yang beresin di sini."
Elea menoleh sekilas, tahu betul kemampuan sahabatnya itu yang tak perlu diragukan lagi. Ia mengangguk cepat, lalu menghunjamkan belatinya dalam-dalam ke dada pengawal terakhir yang menghalanginya, membuat tubuh itu ambruk seketika.
"Hati-hati, Nes!" serunya, sebelum berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju gudang pendingin, mengabaikan luka-luka kecil di tubuhnya sendiri.
Di belakangnya, Vanesa masih terus bertarung dengan gaya santainya yang mematikan, tersenyum lebar di antara setiap pukulan dan tendangan yang ia layangkan.
"Ayo dong, jangan lemah gitu." ejeknya pada pengawal yang tersisa, sebelum melayangkan tendangan telak ke wajah lawan terakhirnya.