Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Suara isak tangis Mama Dania yang pecah di balik dinding kaca ballroom Hotel Grand Hyatt lenyap ditelan kebisingan malam kota Jakarta. Papa Freddy membeku, jemarinya yang gemetar mencengkeram erat barikade pembatas, menyaksikan gaun emerald green yang dikenakan Kyra menghilang di balik pintu kayu mahoni area VIP.
Senyuman tipis dan tatapan dingin yang dilemparkan Kyra beberapa detik lalu terasa bagaikan belati yang tak hanya menusuk, tetapi juga mencabut habis sisa harga diri keluarga Andreas.
"Dia... dia bahkan tidak mau menatap kita sebagai orang tuanya, Pa," bisik Mama Dania dengan suara serak, air matanya merusak riasan tebal yang dipakainya sejak sore.
"Anak itu benar-benar tega!" gumam Mama Dania.
"Bukan dia yang tega, Dania," pendar mata Papa Freddy meredup, memancarkan keputusasaan yang begitu pekat.
"Kita yang mengajarkannya menjadi sekejam ini. Kita yang membuangnya, mengurungnya di gudang dan memberinya roti kering. Sekarang... dia membalas kita dengan membuang kita dari dunianya," balas Papa Freddy.
"Tapi, tetap saja, Pa. Dia memang pembawa sial, lihat setelah kedatangan dia ke rumah kita, semua masalah terus berdatangan, mulai dari Sherly yang hamil, saham perusahaan juga anjlok dan keuangan perusahaan mulai goyah karena banyak investor yang mulai pindah ke perusahaan lain," ucap Mama Dania.
"Untuk sekarang jangan bahas Kyra dulu bisa gak, Ma. Papa pusing ini, Papa mau cari solusinya kadi gak bisa," ucap Papa Freddy dan Mama Dania akhirnya diam.
Di dalam area VIP yang eksklusif, denting gelas kristal dan alunan musik biola klasik menyelimuti ruangan. Suasana di sini sangat kontras dengan kepanikan di luar, para pejabat tinggi perbankan dan menteri ekonomi berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil dan fokus utama seluruh ruangan malam ini tak lain adalah Brian Sebastian Raymond beserta istrinya.
Kyra berjalan dengan punggung tegak dan membiarkan jemari kokoh Brian melingkari pinggangnya dengan erat. Setiap kali Brian memperkenalkan dirinya kepada mitra bisnis kelas atas, Kyra menyambut mereka dengan senyuman anggun dan bahasa tubuh yang begitu tenang, seolah-olah ia memang dilahirkan untuk berada di panggung tertinggi ini.
"Kau tampil sangat mengagumkan malam ini, Nyonya Raymond," bisik Brian rendah di samping telinga Kyra saat mereka berdiri di dekat meja hidangan, hembusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Kyra meremang.
Kyra melirik suaminya dan mempertahankan ketenangannya, "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, apalagi sekarang aku adalah istri dari Tuan muda Raymond Group. Bukankah Anda sendiri yang mengajari saya untuk menggunakan kekuasaan ini dengan benar?"
Brian menyunggingkan seringai miring yang sarat akan kekaguman terselubung, manik mata cokelat gelapnya menatap lekat bibir Kyra yang terpoles gincu merah merona.
"Pandai sekali. Tapi aku tahu, di balik wajah tenangmu ini, jantungmu masih berdegup kencang karena melihat dua orang di luar sana, kan?" bisik Brian.
Kyra mengepalkan jemarinya yang terbungkus sarung tangan halus di samping tubuhnya, namun riasannya tetap tak terganggu. "Rasa bersalah atau kepedulian pada mereka sudah mati sejak lama, Tuan Brian. Yang tersisa hanya kepuasan melihat mereka sadar betapa kecilnya mereka di hadapan kita," balas Kyra.
"Bagus," balas Brian pendek, pria itu menyesap wiskinya, lalu melirik Mark yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Mark, aku sudah minta Pak Tommy untuk membatalkan kerjasama dengan keluarga Andreas, jadi kau bisa mengurusnya," bisik Brian, yang hanya didengar Mark.
"Baik, Tuan," jawab Mark.
Tiba-tiba, seorang direktur utama bank swasta terbesar melangkah mendekat seraya mengangkat gelas sampanyenya ke udara.
"Tuan Brian, selamat atas pernikahan Anda. Nyonya Kyra sungguh luar biasa, sangat anggun dan memesona. Senang sekali akhirnya bisa bertemu secara langsung," puji pria paruh baya itu dengan nada penuh penghormatan.
Brian menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan wibawa, jemarinya di pinggang Kyra mengusap pelan kain gaun sutra istrinya. "Terima kasih, Tuan Wijaya. Istriku memang selalu penuh kejutan," balas Brian seraya melirik Kyra dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kyra membalas dengan anggukan halus, "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Wijaya. Semoga kerja sama antara bank Anda dan Raymond Group terus berjalan baik," sahut Kyra lancar, membuat pria itu tertawa kagum sebelum pamit mundur.
Saat beberapa relasi bisnis mulai teralih perhatiannya ke sudut lain, Kyra merapatkan tubuhnya sedikit ke arah Brian. Tanpa melunturkan senyum anggunnya di hadapan publik, ia berbisik pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh suaminya.
"Kau sengaja memperlihatkan semua ini pada mereka di luar, kan?" tanya Kyra.
Brian tidak langsung menjawab, pria itu menyesap wiskinya perlahan dan membiarkan cairan keemasan itu membakar kerongkongannya sebelum menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Kyra yang berkilat cerdas.
"Aku hanya memenuhi janjiku, Nyonya Raymond," bisik Brian dengan suara baritonnya yang dalam dan seksi.
"Penghancuran terbaik untuk musuhmu bukanlah dengan pertumpahan darah, melainkan dengan menunjukkan betapa tingginya tempatmu berdiri sekarang, sementara mereka merangkak di dasar lumpur tanpa bisa menyentuhmu sedikit pun,"
Kata-kata Brian merambat hangat di dada Kyra, mengikis sisa-sisa ragu yang pernah ada. Pria berbahaya ini memang predator, tetapi malam ini, ia sepenuhnya berdiri sebagai pelindungnya.
"Tapi, tunggu... Kenapa kau bisa tahu tentang kerjasama yang dilakukan perusahaan dengan pihak bank?" tanya Brian.
"Tentu saja aku cari tahu," jawab Kyra.
Padahal, Jura tahu semua informasi ini karena bantuan Yolla, padahal Kyra baru minta tadi siang sekitar jam 1, dan di jam 4 semua informasi sudah lengkap.
Padahal, tanpa Kyra tahu. Brian sudah tahu, setiap apa yang dilakukan Kyra, Yolla akan selalu melaporkannya pada Brian.
Pukul sebelas malam, limosin mewah yang membawa mereka kembali menembus sunyinya gerbang mansion keluarga Raymond. Kyra yang sudah sangat lelah melangkah perlahan menuju kamar tidur utama, melepas sepatu hak tingginya dan membiarkan kakinya menyentuh dinginnya lantai marmer.
Namun, baru saja ia memutar tubuh untuk menuju meja rias, langkahnya terhenti. Brian sudah berdiri di dekat pintu yang terkunci rapat, pria itu telah menanggalkan jas mewahnya dan menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang tegap.
Suasana kamar yang remang bercampur aroma kayu cendana mendadak terasa begitu intens. "Lehermu pasti pegal karena perhiasan itu," ujar Brian seraya melangkah maju dengan gerakan lambat namun penuh dominasi.
Kyra membeku di tempat saat Brian berdiri tepat di belakang punggungnya. Jemari hangat pria itu terulur, menyibak rambut hitam panjang Kyra ke satu sisi dan menyisakan kulit lehernya yang mulus terekspos di bawah pendar lampu kamar, denting halus terdengar saat Brian melepaskan pengait kalung zamrud mewah itu dan meletakkannya di atas meja.
Namun, jemari Brian tidak berhenti di sana. Tangannya perlahan turun mengelus bahu Kyra yang terbuka, menyusuri garis tulang selangkanya yang tegas hingga membuat napas Kyra mendadak tertahan.
"Terima kasih untuk malam ini, Brian," cicit Kyra pelan, berusaha menguasai detak jantungnya yang mulai bergemuruh liar.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu