NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Saat Waktu Menghampiri

Hari-hari kini berjalan begitu tenang, seolah angin sepoi-sepoi senantiasa mengiringi langkah mereka. Argan semakin pulih—kakinya kini mampu melangkah tegap tanpa bantuan apa pun, meski dokter berpesan agar tetap menjaga tenaga dan tidak terlalu lelah. Namun yang lebih indah dari pemulihan fisiknya adalah pemulihan hatinya. Dulu hatinya tertutup dinding tebal yang dibangun dari rasa sakit dan kekecewaan. Kini dinding itu telah runtuh, digantikan oleh kelembutan dan keterbukaan yang lahir dari kasih sayang Aruna.

Pagi itu, saat mereka sedang menikmati sarapan bersama di teras yang menghadap ke taman, Aruna tiba-tiba meletakkan sendoknya perlahan. Wajahnya tampak sedikit pucat, dan tangannya tergerak perlahan menekan perut bagian bawah tanpa disadari. Argan yang selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya segera menyadari perubahan kecil itu.

“Kau merasa kurang sehat?” tanyanya lembut, segera meletakkan cangkir teh dan mendekat. “Wajahmu tampak tak biasa pagi ini.”

Aruna mengangkat wajahnya, menatap Argan dengan mata yang berbinar namun penuh keheranan bercampur harapan yang samar. “Saya... saya merasa sedikit mual sejak bangun tidur. Dan kadang terasa lelah tanpa sebab. Tapi mungkin hanya kelelahan biasa saja.”

Argan mengerutkan kening pelan. Ia bukan orang yang tak tahu apa-apa tentang hal ini. Ia segera meraih tangan Aruna, lalu menyentuh pelan dahi gadis itu. “Tidak demam. Tapi tetap saja kita harus memastikannya. Biar aku panggil dokter datang ke sini sore ini.”

“Sebaiknya tidak perlu, mungkin akan lewat sendiri,” cegah Aruna pelan, namun hatinya berdebar tak menentu. Sesuatu di dalam dirinya berbisik bahwa ini bukan sekadar kelelahan biasa.

“Tidak ada yang lebih penting bagimu dan bagi kita,” potong Argan lembut namun tegas. “Aku ingin memastikan kau sehat. Tolong, biarkan aku yang menjagamu kali ini.”

Sore itu, dokter keluarga datang sesuai janji. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti di ruang tamu yang tenang. Argan berdiri tak jauh dari mereka, menatap dengan tatapan penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Saat dokter berbalik menghadap mereka dengan senyum yang melebar dan mata yang berbinar bahagia, hati Argan berpacu semakin cepat.

“Selamat, Tuan Argan, Nyonya Aruna,” ucap dokter itu dengan suara yang penuh sukacita. “Kabar baiknya adalah... Nyonya sedang mengandung. Usia kandungannya baru beberapa minggu, masih sangat muda, namun semuanya tampak sehat dan baik-baik saja.”

Kata-kata itu seketika membuat suasana di ruangan itu hening sejenak. Aruna menatap dokter tak percaya, tangannya perlahan menutup mulutnya, sementara air mata bahagia tiba-tiba membasahi pipinya. Argan terpaku di tempat, napasnya tertahan, seolah belum mampu memahami makna kata-kata yang baru saja didengarnya.

“Mengandung?” gumam Argan pelan, melangkah mendekat seakan takut terbangun dari mimpi. “Kita... akan memiliki seorang anak?”

Dokter mengangguk mantap. “Benar. Namun karena usia kandungan masih sangat muda, Nyonya harus banyak beristirahat, menjaga asupan gizi, dan menghindari kelelahan berlebihan. Sangat penting untuk menjaga kondisi ibu tetap tenang dan bahagia.”

Setelah dokter pamit dan ruangan kembali sepi, Argan berlutut perlahan di hadapan Aruna. Ia menatap perut istrinya yang masih tampak sama seperti biasanya, lalu mengangkat wajahnya menatap Aruna dengan mata yang berkaca-kaca dan penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.

“Seorang anak...” suaranya bergetar, tangannya gemetar menyentuh lembut perut Aruna. “Seorang anak yang lahir dari kasih kita, Aruna. Bukti nyata bahwa dari segala kepahitan yang pernah kita lalui, Tuhan menyiapkan kebahagiaan yang jauh lebih indah dari yang pernah kita bayangkan.”

Aruna merangkul bahu Argan, membiarkan air matanya menetes bahagia di bahu pria itu. “Saya masih belum percaya, Argan. Rasanya seperti mimpi. Segala hal baik datang berdatangan kepada kita... pemulihanmu, kedamaian di rumah ini, dan kini... seorang anak.”

Argan berdiri perlahan, lalu mendekap Aruna ke dalam pelukannya yang hangat dan penuh rasa syukur yang mendalam. Ia mencium ubun-ubun istrinya dengan lembut dan penuh hormat.

“Ini bukan mimpi, sayang. Ini kenyataan. Dan mulai hari ini, tugasku berlipat ganda. Aku tidak hanya harus menjagamu, tapi juga menjaga buah hati kita yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Aku akan menjadi perisaimu berdua. Tak akan kubiarkan satu pun hal buruk mendekat kepada kalian.”

Malam itu, mereka duduk berdua di tepi jendela yang terbuka lebar menampakkan langit bertabur bintang. Argan tak melepaskan genggamannya pada tangan Aruna sepanjang waktu. Di dadanya, perasaan bahagia bercampur rasa syukur yang meluap-luap, namun ada juga sedikit rasa takut—takut tak mampu menjadi ayah yang baik, takut ada hal buruk yang terjadi. Namun saat ia menoleh dan melihat senyum tenang di wajah Aruna, ketakutan itu perlahan hilang.

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” tanya Argan pelan sambil menatap langit yang gelap namun penuh cahaya itu. “Dulu aku takut memiliki keturunan. Aku takut ketidakberdayaanku akan menurun kepada anakku. Aku takut anakku akan memiliki ayah yang lemah dan tak mampu melindunginya.”

Ia berhenti sejenak, lalu meremas lembut jemari Aruna.

“Tapi sekarang... aku justru bersyukur pernah melewati semuanya. Karena lewat semua itu, aku belajar arti kesabaran, ketabahan, dan ketulusan. Dan itulah yang akan kuberikan kepada anak kita. Bukan sekadar harta atau nama besar, melainkan nilai-nilai yang membuat hidupnya menjadi berarti.”

Aruna menyandarkan kepalanya di bahu Argan, merasa begitu aman dan dicintai. “Anak kita akan tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah. Karena ia memiliki ayah yang berhati mulia dan ibu yang akan selalu berdoa untuknya.”

Malam itu, saat waktu seakan berhenti sejenak untuk menyambut kabar gembira itu, mereka menyadari satu hal: hidup mereka tak lagi sama. Ada kehidupan baru yang sedang tumbuh, ada tanggung jawab baru yang mulai dipikul, dan ada harapan baru yang menyinari masa depan mereka. Saat waktu menghampiri, ia membawa serta berkah yang tak terduga—sebuah jiwa kecil yang akan menjadi jembatan kasih sayang mereka selamanya.

 

Lanjut ke Bab 27: Cahaya Baru Bernama Arka?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!