Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17. Kejadian di Koridor yang Membuat Jantung Berdebar
Siang itu, matahari bersinar terang menyinari lorong-lorong gedung fakultas. Suasana kampus sedang riuh rendah di jam istirahat kedua, namun koridor lantai dua tempatku berjalan justru terasa lebih sepi dari biasanya. Aku berjalan terburu-buru menuju ruang perpustakaan untuk mengembalikan buku yang sudah lama kupinjam, langkahku ringan dan hati pun terasa tenang setelah kesalahpahaman kemarin yang kini telah terselesaikan dengan baik. Dadaku terasa lega, dan senyum tipis tak sengaja terukir di bibirku setiap kali terbayang wajahnya.
Namun saat aku berbelok di tikungan koridor yang agak sempit dan tertutup, langkah kakiku tiba-tiba terhenti. Di depan sana, berjalan dari arah berlawanan, adalah Arga. Ia berjalan dengan tenang, membawa beberapa buku tebal di satu tangan, sementara tangan lainnya tergantung santai di sisi tubuhnya. Wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu, namun terlihat begitu menawan dengan kemeja putihnya yang rapi dan rambut hitam yang sedikit berantakan tertiup angin pelan dari jendela yang terbuka.
Jantungku yang tadinya berdetak tenang seketika berpacu dengan liar. Darah seketika mengalir deras ke wajahku, membuat pipiku terasa panas memerah. Aku menundukkan pandangan, berniat melintas begitu saja dengan sopan, menyapanya sebentar lalu pergi. Namun koridor itu begitu sempit, dan kami berdua berjalan di tengah-tengahnya. Semakin dekat jarak kami, semakin cepat detak jantungku, seakan hendak meledak di dalam dada.
Saat kami berpapasan, tiba-tiba seorang mahasiswi berlari kecil dari ruang kelas di samping kami tanpa melihat ke depan. Ia hampir saja menabrakku, dan dalam gerakan refleks yang begitu cepat, Arga segera meraih lenganku dan menarikku perlahan ke sisinya agar aku tak terhantam.
"Berhati-hatilah," ucapnya pelan, namun suaranya terdengar begitu dekat, tepat di samping telingaku.
Tubuhku kaku seketika. Tangannya yang hangat mencengkeram lengan bajuku dengan lembut namun kokoh, menahanku agar tetap berdiri tegak. Jarak wajah kami begitu dekat—hanya beberapa sentimeter saja. Aku bisa mencium aroma wanginya yang khas, lembut dan menenangkan, aroma yang kini begitu akrab di ingatanku. Matanya menatapku lekat-lekat, penuh kekhawatiran yang tulus, seakan memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Napasku tertahan di kerongkongan. Tak mampu bergerak, tak mampu bersuara. Hanya mampu menatapnya balik dengan jantung yang berdebar kencang tak beraturan, seakan seluruh dunia di sekitar kami berhenti berputar saat itu juga. Di koridor yang sepi itu, hanya ada kami berdua, berdiri begitu dekat, merasakan kehadiran satu sama lain dengan cara yang tak pernah kami rasakan sebelumnya.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut, hanya terdengar olehku saja. Tangannya masih bertahan di lenganku sejenak sebelum perlahan menariknya kembali, seakan enggan melepaskan namun sadar akan tempat dan keadaan kami.
Aku mengangguk pelan, suaraku nyaris tak terdengar. "Iya... saya tidak apa-apa. Terima kasih, Pak."
Arga menghela napas pelan, seakan lega mendengar jawabanku. Matanya masih menatapku dalam-dalam, seakan ada sesuatu yang ingin ia ucapkan namun tertahan di bibir. "Syukurlah. Hati-hatilah berjalan. Koridor ini cukup sempit dan orang-orang sering kali berjalan terburu-buru tanpa melihat ke depan."
"Iya, Pak. Terima kasih sudah menahan saya tadi," jawabku, berusaha tersenyum walau hatiku masih berdebar hebat.
Ia mengangguk pelan, lalu perlahan melangkah melewati sisiku untuk melanjutkan perjalanannya. Namun sebelum melangkah jauh, ia berhenti sejenak tanpa menoleh sepenuhnya, dan berucap dengan suara yang sangat pelan namun jelas terdengar di telingaku. "Selalu jaga dirimu, Lisna. Karena setiap kali kau berada di dekatku, hatiku selalu berdebar khawatir agar tak terjadi apa-apa padamu."
Setelah itu, ia melangkah pergi, meninggalkanku yang masih terpaku berdiri di tempatku, menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Kata-kata terakhirnya itu... terasa begitu lembut, begitu tulus, dan begitu menghancurkan pertahanan hatiku. Jadi... bukan hanya aku yang merasakannya. Ia pun merasakan hal yang sama. Jantungnya pun berdebar, bukan karena takut, melainkan karena khawatir akan keselamatanku.
Aku menyandarkan punggungku ke dinding koridor yang dingin, memegangi dadaku yang masih berdetak kencang sekali. Wajahku masih terasa panas, dan bayangan tatapan matanya, aroma wanginya, serta sentuhan tangannya masih terasa begitu nyata di kulitku. Kejadian singkat di koridor sempit itu—yang hanya berlangsung beberapa detik saja—ternyata cukup untuk membuat seluruh duniaku berubah menjadi lebih berwarna dan penuh harapan.
Saat aku melangkah kembali melanjutkan perjalananku, langkah kakiku terasa begitu ringan, seakan melayang di udara. Setiap kali teringat wajahnya yang begitu dekat, dan kata-katanya yang begitu tulus, jantungku kembali berdebar. Dan di dalam hatiku, satu hal kini menjadi sangat jelas: perasaan ini bukanlah perasaan sepihak. Di antara kesunyian dan kerahasiaan ini, ada dua hati yang saling bergetar, dua jiwa yang mulai saling menemukan, dan dua orang yang takdirnya memang telah disatukan—meski harus melalui jalan yang penuh tantangan dan kesabaran.
Koridor itu kini tak lagi sama. Ia menjadi saksi bisu momen kecil yang mengubah segalanya. Momen di mana aku menyadari bahwa rasa ini bukan sekadar dugaan, melainkan kenyataan yang perlahan tumbuh dan semakin kuat setiap harinya.
bersambung...