NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman telah datang

Pelajaran Bahasa Inggris di kelas 10 IPS 1 berlangsung cukup tenang. Di depan kelas, berdiri Bu Denise yang sedang menuliskan beberapa contoh kalimat:

SIMPLE PAST TENSE

Diikuti beberapa pola kalimat di bawahnya yang ditulis sedikit lebih kecil daripada judul materi. Yang hampir sebagian besar, tulisan-tulisan itu sudah sepenuhnya disalin oleh seluruh penghuni kelas 10 IPS 1.

Subject + Verb 2 + Object

"Remember, guys. Simple past tense digunakan untuk menceritakan sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau," terang Bu Denise dengan gaya energiknya.

Beberapa siswa mengangguk mencoba mengerti. Ada yang langsung mencatat poin-poin tersirat yang dirasa penting. Bahkan ada pula yang hanya memperhatikan papan tulis sembari sesekali menguap.

"Yesterday, I went to school..."

Angga yang duduk tenang sembari menyalin contoh kalimat itu, bergumam kecil sembari terus menulis.

Namun tiba-tiba—

Krrrkkk...

Speaker yang terpasang di pojok atas ruangan mengeluarkan suara berdesis. Seluruh kepala spontan mendongak.

Bu Denise berhenti menulis.

Kemudian suara seseorang terdengar dari speaker.

"Perhatian kepada seluruh ketua kelas."

Suasana kelas langsung sedikit berubah.

Beberapa siswa saling pandang.

"Dimohon untuk segera berkumpul di depan ruang OSIS, yang terletak di sebelah selatan ruang guru."

Suara itu berhenti sejenak.

"Ketua kelas yang bersangkutan harap segera menuju lokasi. Terimakasih."

Krrrkkk...

Speaker kembali diam.

Hening.

Angga menatap papan tulis. Kemudian menoleh ke arah Bu Denise.

Bu Denise sendiri tampak memahami maksud pengumuman tersebut.

"Silakan pergi, Angga. Hati-hati di jalan yaa."

Angga langsung berdiri sembari tersenyum kikuk atas perhatian itu.

"Iya, Bu."

Ia merapikan kursinya sebentar, kemudian mengambil ponselnya.

Baru dua langkah—

"Dengerin betul-betul. Awas kalo miss informasi."

"Baik, Bu. Terima kasih."

Angga berjalan menuju pintu.

Namun baru beberapa langkah—

"Ga!"

Suara Rendy terdengar dari bangku belakang.

Angga yang hampir menginjakkan kaki di koridor sekolahan pun terhenti. Kemudian menoleh setengah.

"Lubuk hati yang terdalam berkata 'kalo ini adalah info liburan deh'."

Beberapa siswa langsung tertawa.

Angga hanya mengerutkan dahi sembari tersenyum heran.

"Kalau ada sih. Lu doa aja yang kenceng biar dikabulkan."

Pintu kelas kembali tertutup. Dan seketika perhatian 10 IPS 1 perlahan kembali kepada papan tulis.

Bu Denise mengambil spidol.

"Oke deh. Kita lanjutkan yaa."

Ia menunjuk salah satu kalimat di papan.

"Now, who can change this sentence into negative form?"

.....

Beberapa menit telah berlalu, tulisan SIMPLE PAST TENSE yang sebelumnya memenuhi papan tulis kini sudah sepenuhnya berganti menjadi beberapa soal latihan.

Bu Denise berdiri di samping meja guru, sesekali memperhatikan murid-murid yang mulai sibuk mengerjakan.

Suasana kelas kembali dipenuhi suara ujung bolpoin yang bergesekan dengan kertas.

Sementara itu dari ujung koridor, Angga mulai terlihat.

Ia berjalan kembali menuju kelas bersama beberapa ketua kelas lain yang juga baru saja menerima informasi dari ruang OSIS.

Langkahnya tidak terburu-buru. Namun ekspresinya membuat beberapa siswa yang berpapasan dengannya ikut penasaran.

Sampai akhirnya koridor yang mengarah ke 10 IPS 1 mulai terlihat. Dari balik jendela kelas, beberapa siswa yang duduk paling dekat dengan kaca sudah lebih dulu menyadari kehadirannya.

Rendy mengangkat kepala.

"Eh."

Ia menyenggol Michel yang sedang mengerjakan soal.

"Angga balik."

Michel menoleh.

"Udah?"

Rio yang duduk di sebelahnya ikut melirik ke arah jendela.

"Pengumuman apaan ya keknya?"

Satu per satu kepala mulai terangkat. Bahkan beberapa siswa yang sebelumnya sibuk mengerjakan latihan ikut berhenti menulis.

Suasana yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi penuh bisik-bisik.

Di depan kelas, Bu Denise hanya menghela napas kecil melihat konsentrasi muridnya mulai terpecah.

"Guys."

Seketika beberapa kepala kembali menghadap papan.

"Finish your questions first."

"Yes, Ma'am..."

Namun beberapa pasang mata masih saja sesekali melirik ke arah pintu.

Yuna yang duduk di bangkunya pun ikut menghentikan gerakan bolpoin. Tatapannya berpindah dari soal di hadapannya menuju ambang pintu.

Tanpa bisik-bisik.

Hanya... memperhatikan.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar semakin dekat.

Tap.

Tap.

Tap.

Bayangan seseorang muncul di bawah celah pintu. Kemudian gagang pintu bergerak.

Ceklek.

Pintu kelas terbuka.

Angga berdiri di ambangnya.

Beberapa siswa langsung menatapnya.

Hening sesaat.

Seolah seluruh kelas sedang menunggu satu kalimat darinya.

Angga sendiri hanya berdiri sambil memegang notebook di tangan. Kemudian matanya menyapu seluruh ruangan. Melihat belasan wajah yang kini tertuju kepadanya.

Setelahnya, ia melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kelas. Sembari masih diikuti beberapa pasang mata masih memperhatikannya. Berjalan untuk menuju meja guru—tempat Bu Denise berdiri di samping meja sembari memeriksa pekerjaan siswa.

Angga berhenti di depan beliau. Sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Bu..." bisik Angga agar tidak mengganggu konsentrasi teman-temannya yang masih mengerjakan soal.

Bu Denise pun menoleh dengan senyum hangat.

"Bu, saya mau menyampaikan pengumuman dari ruang OSIS. Boleh?"

Bu Denise memperhatikan wajahnya beberapa detik. Kemudian mengangguk paham.

"Sure. Why not?"

Ia segera merapikan beberapa barang yang berserakan di atas meja: spidol dimasukkan ke tempatnya, beberapa lembar kertas dirapikan, kemudian dimasukkan ke dalam tas bahu. Juga sebuah map jinjing yang disimpan di bawah tumpukan buku materi juga ia ambil.

Angga secara refleks menepi.

Grettt...

Bu Denise bangkit dari kursinya.

"Okay, Students!"

Suara cerahnya langsung membuat beberapa siswa mendongak. Bu Denise melirik sekilas ke jam dinding yang terpajang di atas papan tulis putih.

"Berhubung waktu tinggal dua puluh menit lagi..."

Beberapa siswa langsung menghela napas lega.

"...untuk tugas yang Ibu berikan, silakan dilanjutkan di rumah sebagai PR, yaa!"

Beberapa siswa langsung tersenyum.

Bu Denise mengangkat satu tangannya.

"Keep fighting and smiling!"

Jemarinya mengepal kecil di depan dada. Ujung kukunya yang berwarna merah muda ikut terlihat ketika ia memberikan gestur semangat itu.

"Yes, Ma'am!"

Suara seluruh kelas terdengar hampir bersamaan. Membuat Bu Denise terkekeh kecil melihat kekompakan para anak didiknya.

"Good luck, everyone!"

Ceklek!

Pintu kelas ditutup perlahan. Meninggalkan aroma shampo dan body lotion yang semerbak wangi.

Di depan, Angga pun berdiri menuju ke tengah kelas sembari membuka halaman notebooknya.

Namun ketika ia hendak membaca kalimat pertama, sudut matanya tanpa sengaja menangkap gerak-gerik wali kelasnya yang baru saja keluar itu.

Langkah beliau tiba-tiba melambat ketika sampai pada pertigaan koridor.

Lalu menoleh ke kanan. Kemudian ke kiri. Bahkan sempat-sempatnya melihat ke belakang.

Setelahnya, beliau nampak tersenyum kecil sembari menyembunyikan wajahnya di sebalik tas jinjing.

Lalu—

Tap tap tap tap!

Beliau malah berlari kecil—berbelok ke arah yang seharusnya tak menuju ke ruangan guru.

Angga yang berdiri di dalam kelas tidak sempat melihat ke mana gurunya pergi. Tetapi seorang siswi di bangku depan melihat semuanya.

Melody bertopang pipi. Matanya menyipit ke arah koridor yang baru saja ditinggalkan oleh Bu Denise.

Tiba-tiba, dirinya malah mengembuskan napas panjang.

"Duhh... enak banget jadi guru."

Ia kembali menatap meja.

"Punya privilege buat bolos ke kantin."

Telunjuknya menggambar lingkaran pada permukaan meja.

"Dengan alasan ketua kelas mau ngasih pengumuman..."

Melody menghela napas lagi.

"Hufftt!"

Kedua lengannya kemudian ia selonjorkan di atas permukaan meja. Ekspresinya berubah seperti seseorang yang baru saja menyadari ketidakadilan terbesar dalam sejarah pendidikan.

"Padahal aku juga laper hiks-hiks..."

Di sampingnya, Angel hanya melirik.

"Kenapa lu? Cemburu ya?"

"Cemburu," jawabnya lirih. Suaranya bahkan terdengar kurang jelas akibat wajahnya yang terbenam oleh lengan kemejanya.

Angel terdiam kehabisan kata-kata.

Dan pada akhirnya, ia pun hanya bisa membelai pucuk kepala Melody untuk menenangkan perasaannya yang terkadang begitu rapuh.

"Sabar ya, Cintaku. Nanti kita bolos bareng-bareng abis ini."

Sementara itu, di depan kelas, Angga akhirnya berdeham kecil. Kemudian membuka notebook yang sedari tadi dibawanya.

"Oke, guys."

Suasana kelas yang sempat kembali berisik perlahan mereda.

"Jadi tadi gue dipanggil ke ruang OSIS karena ada pengumuman dari pengurus..."

Beberapa siswa langsung menegakkan badan.

Yuna ikut mengangkat pandangan dari bukunya.

Dan tanpa mereka sadari—

Pengumuman sederhana yang sebentar lagi disampaikan Angga akan menjadi awal dari kekacauan kecil yang sudah dirancang oleh seseorang di ruang OSIS.

Seseorang yang sejak awal memang tidak pernah puas dengan rencana yang terlalu biasa.

Azka.

1
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!