NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Dansa yang Berubah Menjadi Pertanda Bahaya.

“Agungkan sang penguasa masa depan! Menyambut pemilik darah murni Kerajaan Nivalis, pewaris sah takhta kerajaan es yang agung... Yang Mulia, Putri Iselyna von Niveterra memasuki ruangan!”

Suara herald menggelegar, membelah kebisingan aula.

Dari lantai atas, Iselyna muncul bak seorang Dewi Musim Dingin yang turun ke dunia manusia. Gaun panjangnya yang anggun menjuntai indah, berwarna putih kebiruan dengan gradasi kristal es yang berkilauan. Sebuah tiara kristal murni bertengger di atas kepalanya, menyempurnakan aura kebangsawanannya yang absolut.

Semua mata seketika terkunci padanya. Hening.

Kecantikan sang Putri begitu mutlak—membuat setiap pria yang memandang seolah rela menyerahkan jiwa mereka hanya untuk satu putaran dansa dengannya.

Ia turun dengan keanggunan yang menghipnotis. Setiap langkah kaki yang menyentuh lantai pualam seolah memancarkan sihir dingin yang mempesona. Bahkan para wanita di ruangan itu pun tak kuasa mengalihkan pandangan; mereka terpaku, tak sanggup berkedip.

Di tengah kerumunan, Edward merasa napasnya tercekat.

Ia terpaku. Rasa gugup yang tadi menghantuinya kini memuncak hingga ke ubun-ubun. Ini saatnya. Seluruh latihan keras bersama Emma akan diuji di detik ini. Edward melirik sekilas ke arah Emma dan Bernard yang sedang memberikan kode semangat dari balik bayangan.

Dengan satu tarikan napas panjang, Edward melangkah maju, bersiap menyambut sang Putri.

Namun, dunia seolah bergerak lebih cepat.

Pangeran Azaran dan Judas sudah lebih dulu melesat. Dengan sikap yang terlatih sempurna, keduanya membungkuk rendah, masing-masing mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri kepada Iselyna yang kini tengah turun mendekati lantai dansa.

Aula gempar. Bisik-bisik kekaguman memenuhi udara. Dua pangeran besar memperebutkan satu wanita? Pemandangan yang luar biasa.

Tapi, sang Putri tidak bereaksi.

Ia berhenti tepat di anak tangga ketiga. Matanya yang tajam mengabaikan kedua tangan yang terulur di hadapannya. Ia diam membisu, iris matanya bergerak mencari. Mencari seseorang di antara kerumunan tamu yang tampak begitu mencolok di matanya.

Dan saat netra mereka bertemu, sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang hanya ia tujukan untuk satu orang—terukir di bibirnya.

Edward mengerti maksudnya.

Tanpa ragu, ia melangkah maju. Seluruh mata tamu undangan yang semula tertuju pada Azaran dan Judas kini beralih tajam padanya.

Seperti dua pangeran sebelumnya, Edward membungkuk dengan elegan. Tangan yang ia ulurkan bukan sekadar gestur formalitas, melainkan sebuah janji. Iselyna pun menyambut tangan itu dengan mantap.

Deg!

Seluruh aula mendadak sunyi senyap, seolah waktu berhenti berdetak.

Seorang pangeran yang selama ini dianggap tak punya Mana, namanya selalu tenggelam di balik bayang-bayang negara lain... justru menjadi pasangan dansa pilihan sang "Dewi Musim Dingin", salah satu dari lima wanita tercantik di seluruh Terrasia.

Di kursi kehormatan, Raja Isenbard, Ratu Elizabeth, Ratu Tiana, dan Raja Nolan tampak saling bertukar senyum lebar, bangga bukan main. Terlebih lagi Isolde, yang duduk di samping sang ayah, tertawa kecil dengan senyuman lebar yang memamerkan giginya.

Pesta ini baru saja dimulai, dan Edward baru saja menuliskan sejarahnya sendiri.

Alunan musik klasik yang indah dan merdu mulai menggema di seluruh sudut aula.

Edward menuntun langkah Putri Iselyna menuju pusat lantai dansa. Meski dihujani ratusan pasang mata yang menatapnya tajam—terutama Pangeran Judas yang berdiri di tepi lapangan dengan rahang mengeras penuh amarah—Edward sama sekali tidak memedulikannya.

Ia memfokuskan seluruh pikirannya untuk menjalankan peran penting ini.

Di sudut lain, Pangeran Azaran hanya berdiri bergeming. Dari balik topengnya, iris mata hijau zamrud itu mengamati setiap lekuk gerakan Edward tanpa ekspresi, seolah sedang menganalisis sebuah fenomena baru.

Dansa pembuka pun resmi dimulai.

Lantai pualam yang megah itu seketika menjadi panggung utama bagi kedua sejoli tersebut.

Dalam benaknya, Edward mengingat kembali setiap helai instruksi dan arahan ketat yang diajarkan Emma jauh-jauh hari.

‘Pegang jemarinya dengan lembut... Bawa sang Putri dengan penuh penghormatan...’

Edward memulainya dengan bungkukan badan yang anggun dan santun, yang seketika dibalas dengan kepakan gaun dan cengkeraman halus jemari Iselyna.

‘Perhatikan setiap irama langkah. Jangan sampai jemari kaki Yang Mulia Pangeran menginjak gaun atau kakinya...’

Setiap kali melangkah, Edward menyesuaikan temponya. Gerakannya mengalir seirama dengan lekuk tubuh sang Putri, menciptakan keharmonisan yang presisi—tidak ada yang mendahului, tidak ada yang tertinggal.

‘Dan yang terpenting, sembunyikan kegugupan anda di balik senyuman.’

Edward mempraktikkan seluruh ajaran itu dengan begitu sempurna. Penampilannya yang alami dan penuh wibawa membuat gerakannya terlihat seolah-olah ia sudah terbiasa berdansa di aula istana sejak kecil.

Di pinggir aula, Emma yang menyaksikan pemandangan itu memegang dadanya yang berdesir haru. Matanya berkaca-kaca, menahan air mata kebanggaan yang hampir menetes melihat sang Tuan Muda tampil begitu bersinar.

Malam itu, aula kerajaan yang megah seakan menyusut.

Lantai dansa itu seolah-olah mendadak murni hanya milik mereka berdua. Tanpa sorak-sorai, tanpa dengki para bangsawan—hanya ada sang Pangeran Bintang dan sang Dewi Musim Dingin yang menari indah di bawah pendaran lampu kristal.

Namun, tepat di pertengahan lagu, Edward mendadak menghentikan langkah kakinya.

Beruntung, refleks Putri Iselyna sangat tangkas. Ia dengan sigap menyeimbangkan tubuhnya hingga meluncur pasrah ke dalam dekapan hangat sang Pangeran.

Grep.

Musik yang semula mengalun merdu mendadak terhenti secara tiba-tiba akibat aksi mendadak Edward. Seisi aula seketika sunyi senyap.

Gumam bisik-bisik mulai menyeruak di antara para tamu undangan. Sebagian berpendapat bahwa pertunjukan dansa itu telah gagal, sementara sebagian lainnya percaya bahwa hentakan itu hanyalah variasi gerakan dari tarian mereka.

Di panggung kehormatan, para pemimpin negara hanya sanggup membisu dalam kebingungan, menanti apa yang sebenarnya terjadi.

Di tepi aula, Emma dan Bernard memegang dada mereka yang berdebar cemas. Mereka takut luar biasa jika Tuan Muda mereka mendadak terserang rasa gugup ekstrem atau lupa pada urutan langkah dansanya.

Iselyna—yang wajahnya kini merona merah akibat jarak tubuh mereka yang teramat dekat—baru saja hendak membuka suara untuk mempertanyakan alasan Edward berhenti.

Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan saat menatap raut wajah sang Pangeran.

Wajah Edward terlihat teramat serius. Kelewat serius. Tatapan matanya tajam dan fokusnya seolah telah melayang jauh menembus batas aula pesta.

“Yang Mulia Pangeran... ada apa? Kenapa Anda mendadak berhenti?” bisik Iselyna cemas.

Alih-alih menjawab, kepala Edward berpaling cepat, menatap lurus ke arah pintu utama istana yang tertutup rapat. Raut wajahnya kini dipenuhi kekhawatiran dan rasa waspada yang mendalam.

“Bernard!” seru Edward lantang.

Gema suaranya membelah keheningan aula, membuat Iselyna, para pangeran lain, serta seluruh tamu undangan tersentak kaget.

Bernard sempat tertegun sejenak. Namun, sebagai pelayan setia yang memahami insting Tuan Mudanya, ia sadar bahwa panggilan itu adalah sebuah sinyal bahaya—dan tentu saja, bukan kabar yang baik.

Tanpa ragu, Bernard melangkah cepat membelah kerumunan menghampiri Edward, membuat para tamu undangan makin bingung dan bertanya-tanya atas kelakuan tak biasa sang Pangeran.

“Saya mendengarkan, Yang Mulia,” ujar Bernard sembari membungkuk siaga.

“Segera amankan seluruh area aula pesta. Berkoordinasi langsung dengan Jenderal Tulip untuk memperketat pertahanan istana. Pastikan tidak ada ancaman yang berhasil menerobos masuk dan jamin keselamatan mereka semua. Sampaikan instruksi ini pada seluruh jajaran militer. Kau mengerti?”

“Saya mengerti penuh, Tuan Muda,” tegas Bernard mantap.

“P-Pangeran Edward... sebenarnya ada apa ini...?” Iselyna kian diliputi kepanikan.

Edward menatap Iselyna lalu menyunggingkan senyuman hangat yang menenangkan.

“Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Pastikan kau tetap berada di dalam istana dan jangan keluar. Aku akan segera kembali!”

Edward perlahan melepaskan dekapan tangannya.

WUUUSH—!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, tubuh sang Pangeran melayang ke udara, lalu melesat secepat kilat menerobos keluar dari aula istana—meninggalkan seluruh penghuni ruangan dalam guncangan rasa terkejut yang luar biasa!

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!