Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Dari Awal Lagi?
Elyndor masih menatap Lucien dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang bergerak. Eve yang berada dalam gendongan Bastian mulai merasa sedikit penasaran. Kalau pria itu memang salah satu tokoh yang cukup penting dalam cerita, seharusnya dia tidak akan menerima begitu saja keputusan Lucien.
"Sejak kapan kau memutuskan ini?" tanya Elyndor akhirnya. Nada suaranya terdengar seperti orang yang masih berharap Lucien akan mengatakan bahwa semua hanya bercanda.
"Sejak aku membutuhkan seseorang untuk mengajarinya," jawab Lucien tenang.
Elyndor mengusap pelipisnya dengan dua jari. Monokelnya sedikit bergeser ketika dia menundukkan kepala, lalu dia kembali menatap Lucien dengan sorot mata yang lebih tajam.
"Lucien, aku datang ke sini untuk membicarakan urusan lain."
"Dan urusan itu sudah selesai."
"Bagiku belum."
"Kalau begitu, kau bisa menyelesaikannya nanti."
Eve yang mendengarkan percakapan itu hanya berkedip. Dia mulai memahami kenapa Lucien bisa membuat orang lain kesal hanya dengan beberapa kalimat. Pria itu bahkan tidak perlu meninggikan suara. Cara menjawabnya saja sudah cukup membuat lawan bicara kehilangan kesempatan untuk berdebat.
'Gue keknya ngerti deh perasaan Elyndor gimana.'
Eve diam-diam melirik Elyndor. Pria itu terlihat seperti sedang menimbang apakah lebih baik melanjutkan perdebatan atau menyerah saja. Dari ekspresinya, Eve bisa menebak jawabannya tidak akan menyenangkan.
Akhirnya Elyndor menghela napas panjang.
"Baiklah," katanya sambil membetulkan posisi monokelnya. "Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku pandai mengajar anak kecil."
Lucien menatapnya datar. "Kau bisa mengajarinya membaca."
"Aku tahu."
"Menulis."
"Aku juga tahu."
"Dan pengetahuan dasar yang lain."
Elyndor memejamkan mata sebentar. "Aku mendengar semuanya, Lucien."
Eve hampir tertawa.
'Kasihan banget'
Bastian yang masih menggendong Eve menundukkan kepala sedikit, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang muncul di wajahnya. Eve menangkap gerakan itu dan langsung merasa semakin yakin bahwa bukan hanya dirinya yang menganggap situasi ini lucu.
Lucien kemudian menoleh kepada Eve. "Kau sendiri. Ada keberatan?"
Eve terdiam.
'Lah tumben banget ni manusia tanya pendapat gue biasanya juga seenaknya'
Dia menatap Lucien, lalu Elyndor. Pria elf itu sekarang sedang memandangnya dengan ekspresi yang sedikit lebih tenang, meskipun jelas masih belum menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja mendapat pekerjaan tambahan.
Eve sebenarnya tidak keberatan. Justru kalau Elyndor memang seorang tokoh yang memiliki pengetahuan luas seperti yang digambarkan dalam novel, mungkin dia bisa mendapatkan banyak informasi darinya. Terlebih lagi, Eve memang membutuhkan seseorang yang bisa mengajarinya membaca tulisan dunia ini.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Dak ada."
Lucien mengangkat alis tipis. "Bagus, memang seharusnya begitu."
Eve kemudian menoleh kepada Elyndor dan tersenyum polos.
Elyndor menghela napas lagi sebelum akhirnya berjongkok agar tingginya sejajar dengan Eve. Dari jarak sedekat itu, Eve bisa melihat warna hijau mata pria tersebut dengan lebih jelas. Bentuk telinganya juga memang tidak mungkin disalahartikan sebagai manusia biasa.
"Anda benar-benar baru berusia empat tahun?" tanya Elyndor sambil memperhatikan Eve dengan rasa ingin tahu.
Eve mengangguk.
"Empat." Eve menunjukkan empat jarinya.
Elyndor menatapnya beberapa saat. "Dan Nona sudah tertarik pada perpustakaan?"
Eve mengangguk lagi.
"Banyat butu."
"Begitu rupanya." Elyndor sedikit tersenyum mendengar jawaban Eve.
Eve memperhatikan ekspresi Elyndor, mungkin dia tidak akan sesulit Lucien.
Elyndor berdiri kembali dan menatap Lucien. "Kapan aku mulai?"
"Hari ini."
Mata Elyndor langsung menyipit.
"Kau gila? Hari ini juga?"
Lucien mengangguk.
Elyndor menghela napas panjang, lalu akhirnya mengangguk. Dia tidak punya pilihan lain, mengingat Lucien sudah menyelamatkan martabat nya di depan Kaisar "Baiklah. Kalau memang harus dimulai hari ini, aku akan melakukannya."
Lucien hanya mengangguk seolah urusan itu sudah selesai.
Eve yang masih berada dalam gendongan Bastian menatap Elyndor dengan sedikit rasa ingin tahu. Dia sempat mengira pria itu akan terus berdebat, tetapi ternyata cukup mudah menyerah setelah mengingat perjanjiannya dengan Lucien.
Lucien kemudian menoleh kepada Bastian. "Bawa Aveline ke perpustakaan. Elyndor akan menyusul."
"Baik, Yang Mulia Duke," jawab Bastian sambil menundukkan kepala.
Eve langsung mengangkat wajah.
'Perpustakaan lagi?'
Bastian membawa Eve kembali ke perpustakaan. Kali ini langkahnya tidak terburu-buru. Begitu pintu besar itu dibuka, Eve kembali disambut oleh deretan rak yang memenuhi hampir seluruh ruangan. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi ruangan, jatuh di atas meja panjang yang berada di tengah perpustakaan.
Bastian menurunkan Eve dari gendongannya.
"Nona bisa duduk di sini," ujar Bastian sambil menunjuk kursi di salah satu sisi meja.
Eve naik ke kursi dengan bantuan tangannya sendiri. Kursi itu masih terlalu tinggi untuk tubuhnya, tetapi setidaknya kali ini dia tidak perlu digendong. Dia duduk sambil mengayunkan kakinya yang belum menyentuh lantai.
Beberapa menit kemudian, pintu perpustakaan kembali terbuka.
Elyndor masuk membawa beberapa buku dan sebuah papan tulis kecil yang entah dari mana asalnya. Wajahnya sudah jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Elyndor membuka salah satu buku yang dibawanya, tetapi kali ini dia tidak langsung menunjuk halaman atau meminta Eve membaca. Dia justru menyandarkan punggungnya pada kursi dan memperhatikan Eve beberapa saat, seolah sedang menentukan dari mana pelajaran sebaiknya dimulai.
"Baik," katanya akhirnya. "Sebelum kita mulai, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui."
Eve yang sejak tadi duduk sambil mengayunkan kaki langsung berhenti. Dia menatap Elyndor dengan penuh perhatian. Elyndor mengambil sebuah lembar kertas dari antara buku-bukunya dan meletakkannya di atas meja.
"Anda sekarang adalah bagian dari keluarga Duke Valois. Karena itu, pendidikan Anda tidak akan berhenti pada membaca dan menulis."
Eve mengerutkan kening.
'Udah gue duga.'
"Untuk anak bangsawan, terutama keluarga dengan kedudukan seperti keluarga Valois, kemampuan berbahasa adalah salah satu hal yang paling penting," lanjut Elyndor. Sejak usia dini, Anda akan dibiasakan mendengar dan menggunakan beberapa bahasa."
Eve menatapnya, "Bebelapa?"
"Setidaknya tiga bahasa."
Kaki Eve yang tadi bergerak santai kembali berhenti.
'Tiga bahasa? gila.'
Elyndor mengambil pena dan menuliskan sesuatu di atas kertas.
"Yang pertama adalah High-Elven, yang juga dikenal sebagai High-Imperial."
Tulisan yang dibuatnya terlihat berbeda dari tulisan yang tadi Eve lihat di papan katalog. Elyndor kemudian menjelaskan dengan tenang.
"Bahasa ini digunakan dalam diplomasi antar-kerajaan, pertemuan bangsawan, pesta dansa kalangan elit, dan berbagai dokumen hukum tingkat tinggi. Pengucapannya halus dan memiliki banyak aturan dalam tata bahasa."
Eve memperhatikan tulisan itu.
"Karena bahasa ini digunakan dalam urusan resmi, seorang bangsawan diharapkan mampu menggunakannya tanpa banyak kesalahan," lanjut Elyndor. "
Terutama keluarga dengan kedudukan tinggi. Kesalahan kecil dalam pemilihan kata bisa mengubah maksud sebuah kalimat."
Eve mengangguk pelan.
'Jadi semacam bahasa resmi buat kalangan atas. Oke noted. '
Elyndor kemudian menggeser kertasnya dan menulis bagian kedua.
"Yang kedua adalah Arcana, atau Runik Kuno."
Runi kuno, membuat Eve sedikit tertarik dengan perkataan Elyndor.
"Bahaca kuno?"
"Benar." Elyndor mengangguk. "Bahasa ini sudah tidak digunakan untuk percakapan sehari-hari. Namun kau tetap harus mempelajarinya karena bahasa tersebut digunakan dalam kitab-kitab suci Kuil, mantra sihir klasik, serta berbagai teks sejarah kuno."
Eve menatapnya.
"Cihil?"
Elyndor mengangkat alis tipis. "Anda belum pernah mendengar tentang sihir?"
Benar sihir, di dalam novel Rose and the crown, salah satu tokoh pendukung juga menggunakan sihir, begitu pula dengan Seraphina si heroine bahkan Seraphina di cap sebagai saintess oleh kuil. Dia buru-buru menggeleng sambil memasang wajah polos.
"Beyum."
Elyndor memandangnya sebentar, kemudian melanjutkan tanpa mempermasalahkannya.
"Kalau begitu, nanti Anda akan mempelajarinya juga. Tapi tidak sekarang. Untuk anak seusia Anda, cukup mengenali dasar-dasarnya terlebih dahulu."
Eve mengangguk.
'Ga ada salahnya sih gue belajar sihir, ya siapa tau bisa berguna.'
Dia menyimpan informasi itu di kepalanya. Entah akan berguna atau tidak, tetapi mengetahui bahwa bahasa kuno digunakan untuk mantra sihir membuatnya sedikit lebih penasaran.
Elyndor kemudian menulis bagian terakhir.
"Yang ketiga adalah bahasa Vernakular, atau dialek wilayah."
Eve memiringkan kepala.
"Ini adalah bahasa yang digunakan oleh rakyat di wilayah kekuasaan keluarga Valois," jelas Elyndor.
"Sebagai seorang bangsawan, terutama anggota keluarga Duke, Anda perlu mampu berbicara dengan rakyat tanpa selalu menggunakan bahasa resmi. Kelak, jika Anda harus mengunjungi wilayah kekuasaan keluarga atau berbicara langsung dengan masyarakat, Anda harus bisa memahami mereka."
Eve mengangguk perlahan.
Elyndor meletakkan pena di atas meja.
"Ketiga bahasa itu akan Anda pelajari secara bertahap. Anda tidak perlu menguasainya sekaligus."
Namun Elyndor belum selesai.
"Selain bahasa, Anda juga akan mempelajari membaca, menulis, berhitung, sejarah kerajaan, geografi, etiket, dasar hukum bangsawan, serta pengetahuan mengenai keluarga dan wilayah kekuasaanmu."
Eve menatapnya dengan wajah kosong.
"...Banyat."
Elyndor terdiam sebentar, kemudian sudut bibirnya naik sedikit.
"Memang. Sejak anda diangkat menjadi anak bangsawan, sudah merupakan hal wajar bila Anda wajib mempelajari banyak hal."
Elyndor tampaknya tidak terlalu peduli dengan ekspresi pasrah Eve. Dia justru membuka buku yang tadi dibawanya.
"Jadi untuk pelajaran pertama," lanjut Elyndor, "kita akan mulai dengan bahasa dan tulisan yang paling sering digunakan sehari-hari."
Eve memperhatikan buku yang dibuka Elyndor.
"Bahasa Velnatulal?"
"Benar."
Elyndor mengambil papan kecil yang tadi dibawanya dan meletakkannya di hadapan Eve. Dia kemudian menulis beberapa simbol dengan gerakan tangan yang rapi.
"Ini adalah dasar aksara yang digunakan dalam bahasa wilayah ini."
Eve langsung mengenali beberapa bentuk dari tulisan yang tadi dia lihat di perpustakaan.
Dia mendekatkan wajahnya sedikit.
"Yan tadi?"
"Ya. Tulisan yang Anda lihat di papan katalog perpustakaan termasuk dalam sistem aksara ini."
Eve mengangguk.
Elyndor menunjuk simbol pertama.
"Kita mulai dengan mengenali bentuk dan bunyinya. Sebaiknya jangan mencoba menghafalkan semuanya sekaligus."
Eve mengamati simbol tersebut, "Ini dibata badaimana?"
Elyndor menyebutkan bunyinya dengan perlahan, kemudian mengulanginya sekali lagi agar Eve dapat memperhatikan pengucapannya.
Eve menirukannya.
Awalnya terdengar sedikit aneh karena lidah kecilnya belum terbiasa mengucapkan beberapa bunyi tertentu. Elyndor tidak langsung membetulkan. Dia membiarkan Eve mencoba sekali lagi sebelum akhirnya mengoreksi bagian yang salah.
"Jangan terlalu menekan bagian akhirnya," jelas Elyndor sambil menunjuk huruf tersebut. "Coba lebih santai lagi."
Eve mengulanginya, kali ini lebih baik dari sebelumnya.
"Bagus."
Eve tersenyum kecil, ternyata Elyndor benar-benar serius mengajar, meskipun awalnya dia tampak tidak ingin menjadi tutor pada awalnya. Dia tidak hanya menyuruh Eve menghafal. Setiap huruf dijelaskan bentuknya, bunyinya, dan cara mengucapkannya. Setelah beberapa huruf diperkenalkan, Elyndor mulai menggabungkannya menjadi suku kata sederhana.
Eve memperhatikan dengan saksama.
Semakin lama, pola tulisan itu mulai terasa lebih mudah. Bentuknya memang berbeda dari alfabet yang dia kenal, tetapi otaknya masih bekerja dengan cara yang sama ketika mengingat simbol dan bunyi.
Elyndor kemudian menunjuk satu rangkaian huruf.
"Coba baca."
Eve menyipitkan mata. Dia mengenali huruf pertama. Kemudian huruf kedua. Setelah itu dia mencoba menggabungkannya.
"El...a?"
Elyndor menggeleng kecil.
"Hampir. Perhatikan huruf terakhir."
Eve menatap kembali tulisan tersebut, dia mencoba sekali lagi dan kali ini Elyndor mengangguk.
"Benar."
Eve langsung menyandarkan punggungnya pada kursi.
'Lumayan.Gak begitu susah lah, mungkin karena sebelumnya gue udah pernah belajar membaca kali ya, kalau tinggal hapal hapal huruf mah gampil'
Setidaknya belajar di dunia ini tidak sesulit yang dia bayangkan.
Elyndor membalik halaman berikutnya.
"Bagus. Kita lanjut."
Eve kembali duduk tegak.
Di luar jendela, pagi terus berjalan. Namun di dalam perpustakaan, Eve mulai menjalani pelajaran pertamanya sebagai Aveline Valois.
Ada banyak hal yang harus dia pelajari. Untungnya, Eve sudah pernah menjadi orang dewasa. Kalau cuma belajar, seharusnya dia masih bisa mengatasinya.