Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: BADAI DI BALIK JERUJI DAN KEBENARAN YANG TERKUAK
Siren kepolisian melolong di tengah pekarangan Kediaman Pratama, membelah keheningan pagi yang kian kelam. Bunyi itu seolah menjadi simfoni duka yang mencabik-cabik ketenangan rumah yang baru saja mencicipi sedikit kehangatan. Di balik tirai jendela lantai dua, dua pasang mata mungil menatap dengan rasa takut yang tak terperi. Maya menangis sesenggukan dalam pelukan hangat Kakaknya, sementara Leo mengepalkan tangan kecilnya hingga memutih.
"Mama..." bisik Maya serak. "Kak, Mama mau dibawa ke mana? Kenapa ada polisi?"
Leo tidak menjawab. Air mata menetes melewati pipinya, namun ia menolak untuk terisak. Kata-kata Aris semalam dan pelukan hangat Kirana beberapa menit lalu masih bergema jelas di benaknya. Ibu tiri yang dulu amat disatroni dan dibencinya, wanita yang dulu ia sebut pengeruk harta, kini melangkah keluar rumah dengan kepala terangkat tinggi—bukan sebagai seorang pesakitan, melainkan sebagai sosok pelindung bagi mereka berdua.
Di lantai bawah, suasana berujung mencekam. Petugas Bareskrim bersama perwakilan dari Satuan Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) berdiri tegak di ruang tamu. Di belakang mereka, Herlina Pratama tersenyum tipis di balik saputangan sutranya, menikmati penderitaan yang baru saja ia perbuat.
"Kirana!" Aris mencengkeram lengan istrinya, matanya merah memendam Amarah dan kecemasan yang luar biasa. "Aku tidak akan membiarkanmu melangkah keluar dari pintu ini bersama mereka! Ini gila! Ini jebakan Herlina!"
Kirana membalikkan badan. Ia menatap Aris dengan ketenangan yang luar biasa—ketenangan yang lahir dari puncak kepasrahan dan keberanian seorang wanita yang tak lagi memiliki rasa takut. Jemari jemarinya yang halus mengusap rahang tegas Aris yang gemetar.
"Mas Aris, dengarkan aku," ujar Kirana, suaranya tenang namun bergema dengan ketegasan yang tak membantah. "Jika aku lari hari ini, Herlina akan menggunakan ketakutanku sebagai bukti bersalah di mata publik dan hukum. Beliau ingin membunuh karakterku sebagai seorang ibu dan istri. Biarkan aku pergi bersama mereka. Tugasmu bukan menahanku di sini, tapi melindungi Leo dan Maya dari cengkeraman ibumu, lalu bawa tim hukum terbaikmu untuk membongkar kebohongan delapan tahun lalu."
"Tapi Kirana—"
"Tolong, Mas," potong Kirana dengan mata berkaca-kaca, memperlihatkan sedikit kerentanan di balik ketegarannya. "Jangan biarkan air mata dan perjuanganku selama dua tahun di rumah ini sia-sia. Lindungi anak-anak kita."
Kata 'anak-anak kita' menghantam dada Aris dengan telak. Tanpa peduli pada keberadaan para petugas dan Herlina yang menatap berang, Aris menarik Kirana ke dalam dekapannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, dunia akan runtuh.
"Aku bersumpah demi nyawaku, Kirana... aku akan menjemputmu kembali," bisik Aris di telinga Kirana, suaranya pecah oleh kepedihan. "Aku tidak akan biarkan ibuku merengut kebahagiaan kita lagi."
Kirana melepaskan diri perlahan. Dengan gaun kremnya yang elegan dan langkah yang anggun, ia berjalan menuju petugas kepolisian. Sebelum melangkah keluar, mata Kirana menyapu sosok Herlina. Ibu mertuanya itu menatapnya dengan pandangan penuh kemenangan yang dingin.
"Puas, Ibu?" bisik Kirana tepat saat melintasi Herlina. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya ada kekecewaan yang mendalam. "Ibu pikir Ibu telah menang. Tapi ingatlah satu hal... makin dalam Ibu menggali lubang untuk menguburku, makin besar kuburan yang Ibu siapkan untuk diri Ibu sendiri."
Herlina sempat tersentak oleh kilatan di mata Kirana, namun ia dengan cepat menguasai diri dan memalingkan wajah dengan keangkuhan yang menyiratkan kebencian mendalam.
Kantor Bareskrim Polri – Pukul 14.00 WIB
Ruang pemeriksaan terasa begitu dingin dan lengang. Cahaya lampu neon memantulkan bayangan suram di atas meja kayu tebal. Di hadapan Kirana, dua orang penyidik senior duduk dengan berkas tebal terhampar di antara mereka. Di samping Kirana, pengacara senior bentukan Aris, Hendra Kusuma SH, duduk siap mendampingi.
"Nyonya Kirana," ujar penyidik membuka pembicaraan, suaranya datar dan profesional. "Laporan yang dimasukkan oleh Ibu Herlina Pratama melibatkan dokumen-dokumen baru terkait kecelakaan almarhumah Siska Pratama delapan tahun lalu. Dalam laporan tersebut, terlampir sebuah surat ancaman dan rekaman transaksi keuangan yang menunjukkan adanya aliran dana dari rekening atas nama Anda ke seorang mekanik bernama Sugeng—mekanik yang memelihara mobil almarhumah sebelum kecelakaan terjadi."
Kirana menatap dokumen yang disodorkan. Dahinya berkerut dalam. Nama "Sugeng" dan transaksi senilai ratusan juta rupiah tercetak jelas dengan nama lengkap Kirana sebagai pengirimnya.
"Ini tidak mungkin," ujar Kirana tegas. "Delapan tahun lalu saya hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang bekerja paruh waktu sebagai relawan di Yayasan Kasih Ibu di Bogor. Saya bahkan tidak memiliki rekening di bank ini saat itu! Transaksi ini jelas palsu!"
"Nyonya Kirana, bukti ini telah disahkan secara legal oleh pelapor dan disertai dengan kesaksian tertulis dari saudara Raymond Brotoatmodjo," balas penyidik dingin. "Selain itu, ada saksi yang menyatakan melihat Anda berada di sekitar panti asuhan Bogor beberapa jam sebelum Siska Pratama mendatangi tempat itu dan mengalami kecelakaan."
Hati Kirana mencelos. Raymond Brotoatmodjo. Nama itu kembali muncul. Pria yang selama ini menjadi tangan kanan Herlina dan pengacara keluarga Pratama. Jaring-jaring fitnah ini ternyata telah ditenun begitu rapi sejak bertahun-tahun lalu, menunggu moment yang tepat untuk dijeratkan ke lehernya.
Di tengah gempuran pertanyaan dan bukti-bukti rekayasa yang menyudutkan, pintu ruang pemeriksaan mendadak terbuka keras.
Aris melangkah masuk. Wajahnya garang, jas mewahnya agak kusut, dan matanya memancarkan amarah yang siap meledak. Di belakangnya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang membawakan map kulit hitam melangkah masuk dengan tenang.
"Pemeriksaan ini harus dihentikan sekarang juga!" tegas Aris dengan suara menggelegar, membuat para penyidik terperanjat dari duduknya.
"Tuan Aris Pratama, Anda tidak bisa sembarangan menerobos ruang pemeriksaan—"
"Saya membawa bukti baru yang akan menggugurkan seluruh laporan palsu Herlina Pratama!" potong Aris seraya melemparkan map kulit hitam itu ke atas meja pemeriksaan.
Penyidik mengerutkan kening dan membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan dokumen bank yang diaudit secara forensik, hasil pelacakan sertifikat digital, serta sebuah buku harian kusam berkulit cokelat yang sudah tampak tua.
"Apa arti semua ini, Tuan Aris?" tanya penyidik.
Aris menatap Kirana dengan pandangan penuh penyesalan sekaligus cinta yang membara, lalu kembali menatap penyidik.
"Delapan tahun lalu, almarhumah istri saya, Siska, memang mendatangi panti asuhan di Bogor. Tapi bukan untuk menemui Kirana atas tuduhan perselingkuhan," ujar Aris dengan nada tertekan, menahan emosi yang bergolak di dadanya. "Siska pergi ke sana untuk menyelamatkan seorang bayi—bayi rahasia hasil hubungan gelap antara Raymond Brotoatmodjo dan seorang wanita, yang sengaja disembunyikan di panti asuhan tempat Kirana mengajar!"
DEG.
Ruangan itu seketika diliputi keheningan yang mencekam. Kirana menahan napasnya. Pipinya pucat pasrah.
"A-apa...?" bisik Kirana tak percaya.
"Siska menemukan fakta bahwa Raymond dan Ibuku, Herlina, telah menggelapkan dana perusahaan Pratama Corp sebesar puluhan miliar rupiah melalui yayasan fiktif," lanjut Aris dengan suara bergetar. "Ketika Siska mengancam akan membongkar hal ini kepada Ayahku, Herlina dan Raymond merancang fitnah. Mereka menggunakan nama Kirana—relawan muda yang saat itu merawat anak tersebut tanpa tahu apa-apa—sebagai alat blackmail untuk menyudutkan Siska!"
Aris melangkah mendekati Kirana, lalu berlutut di samping kursi istrinya. Ia meraih tangan Kirana yang dingin dan bergetar hebat, menggenggamnya rapat-rapat.
"Siska tidak kecelakaan karena rem blong biasa, Kirana..." tangis Aris akhirnya pecah, sebuah penyesalan terdalam dari seorang pria yang tersadar akan kejamnya takdir. "Mobil Siska dirusak oleh orang suruhan Raymond atas perintah Herlina! Dan buku harian ini... ini adalah milik Siska. Di lembar terakhir yang ditulisnya sejam sebelum ia meninggal, Siska menuliskan nama Kirana..."
Aris membuka buku harian itu dan menunjukkannya pada Kirana. Di sana, tertulis guratan tangan yang agak terburu-buru namun jelas:
'Jika sesuatu terjadi padaku malam ini, aku tahu Herlina dan Raymond yang melakukannya. Aku telah menitipkan bukti penggelapan ini pada gadis tulus di panti asuhan itu—Kirana. Dia tidak tahu apa-apa, dia begitu polos. Tuhan, lindungi gadis itu dan lindungi Aris serta anak-anakku dari kekejaman Herlina...'
Air mata Kirana menetes deras membasahi lembaran kusam buku harian itu. Tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya yang hancur berkeping-keping kini diliputi gelombang emosi yang tak tertahankan.
Takdir... betapa kejam dan lucunya takdir mempermainkan hidupnya.
Selama dua tahun ini, ia masuk ke Kediaman Pratama dengan menanggung beban sebagai 'ibu tiri pengeruk harta', dicaci maki oleh Herlina, dibenci dan ditolak oleh Leo dan Maya, serta dipandang sebelah mata oleh publik. Ia berjuang berdarah-darah, menelan setiap hinaan dan tetesan air mata hanya demi memberikan kasih sayang murni kepada dua anak almarhumah Siska.
Dan kini, ia baru menyadari kenyataan pahit itu. Ia bukanlah wanita asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan keluarga Pratama. Takdir telah menautkan benang takdirnya dengan almarhumah Siska sejak delapan tahun lalu! Siska telah mengamanahkan perlindungan dan kebenaran itu padanya, bahkan sebelum Kirana tahu siapa itu Aris Pratama.
"Mbak Siska..." bisik Kirana lirik, dadanya naik turun oleh terpaan kesedihan yang membuncah. "Jadi selama ini... Mbak Siska yang melindungiku..."
"Ya, Kirana," ujar Aris serak, mencium jemari Kirana dengan kepedihan yang mendalam. "Siska menyerahkan kilat dokumen itu dalam lipatan selimut bayi yang kamu rawat malam itu. Tapi kamu tidak pernah membukanya karena dokumen itu tersembunyi di balik jahitan. Selama delapan tahun, Herlina dan Raymond mencari keberadaan dokumen itu. Dan ketika aku menikahimu dua tahun lalu, Herlina panik luar biasa. Beliau berpikir kamu mendekatiku untuk membalas dendam atau membongkar kejahatan mereka!"
Kesadaran itu menghantam jiwa Kirana begitu dahsyat. Perlawanannya selama ini, rasa sakitnya, penolakan anak-anak, hingga perjuangannya menembus benteng dingin Kediaman Pratama—semuanya adalah bagian dari skenario takdir yang rumit. Kasih sayangnya yang tulus kepada Leo dan Maya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan jawaban atas doa terakhir seorang ibu yang telah terbunuh delapan tahun lalu!
Penyidik yang membaca buku harian serta bukti forensik audit bank langsung memandang Aris dengan raut wajah serius.
"Tuan Aris, jika bukti-bukti dalam buku harian ini dan audit forensik ini terverifikasi asli... maka ini bukan lagi sekadar kasus hak asuh atau perselisihan keluarga," ujar penyidik tegas. "Ini adalah kasus pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, dan penggelapan dana berskala besar."
"Saya punya bukti rekaman percakapan antara Raymond dan Herlina tadi siang," tambah Aris seraya mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jasnya. "Serta kesaksian lengkap dari Sugeng, mekanik yang selama ini bersembunyi karena diancam akan dibunuh oleh Raymond. Dialah yang merusak rem mobil Siska atas perintah mereka."
Kirana menatap Aris. Suaminya yang dulu terkesan dingin dan ragu-ragu dalam mengambil sikap tegas terhadap ibunya, kini berdiri bagaikan benteng yang kokoh, siap menghancurkan siapa saja yang menyakiti istrinya.
"Mas..." bisik Kirana.
"Maafkan aku, Kirana," ujar Aris dengan tatapan mata yang dipenuhi cinta murni dan penghormatan setinggi-tingginya. "Maafkan aku karena terbuai oleh kepalsuan dan membuatmu menderita selama dua tahun ini. Aku membiarkanmu berjuang sendirian melawan dinginnya rumah itu. Tapi mulai hari ini... aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganmu lagi. Kita akan selesaikan badai ini bersama-sama."
Kediaman Pratama – Pukul 19.00 WIB
Malam telah jatuh di Jakarta. Kediaman Pratama yang biasanya megah dan sunyi kini dikepung oleh ketegangan yang memuncak.
Herlina Pratama duduk di sofa ruang tamu utama, meminum tehnya dengan jemari yang sedikit bergetar. Hatinya mulai merasa tidak tenang. Sudah beberapa jam berlalu sejak Kirana dibawa oleh polisi, namun belum ada kabar kemenangan yang ia nantikan dari Raymond. Ponsel Raymond bahkan tidak bisa dihubungi sejak dua jam lalu.
Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini? batin Herlina, menatap pintu depan yang tertutup rapat. Harusnya wanita sialan itu sudah ditetapkan sebagai tersangka sekarang!
Tiba-tiba, suara deru mobil-mobil memecah keheningan malam. Sorot lampu kendaraan memancar terang menembus kaca jendela ruang tamu.
Herlina berdiri anggun, mencoba mempertahankan wibawanya. Pintu utama terdorong terbuka lebar.
Bukan Raymond yang masuk.
Aris melangkah masuk lebih dulu dengan wajah yang mengeras bagaikan karang. Di sampingnya, berdiri Kirana. Wanita muda itu tampak begitu anggun dalam balutan gaun kremnya, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. Dan di belakang mereka, beberapa petugas Bareskrim Polri berseragam lengkap melangkah masuk dengan tegas.
Herlina mundur satu langkah, wajahnya yang tadi penuh keangkuhan seketika pucat pasi bagai mayat.
"A-Aris? Kirana?" gagap Herlina, teh di tangannya terguncang hingga tumpah membasahi gaun mewahnya. "Kenapa... kenapa wanita ini ada di sini?! Kenapa dia tidak ditahan?!"
"Ibu..." panggil Aris dengan suara yang sangat dingin, suara dari seorang putra yang telah kehilangan seluruh rasa hormatnya akibat pengkhianatan yang tak termaafkan. "Permainan Ibu dan Raymond sudah berakhir."
Dua orang petugas polisi melangkah maju, mengeluarkan selembar surat perintah penangkapan bertinta emas.
"Nyonya Herlina Pratama," ujar perwira polisi di depan Herlina dengan suara nyaring dan resmi. "Anda kami tangkap atas dugaan keterlibatan dalam Pembunuhan Berencana terhadap Siska Pratama, Pemalsuan Dokumen, Penggelapan Dana Perusahaan, dan Laporan Palsu. Saudara Raymond Brotoatmodjo telah lebih dulu kami amankan di kantornya."
PRANG!
Cangkir teh di tangan Herlina jatuh berkeping-keping di atas lantai marmer. Tubuh wanita tua itu gemetar hebat.
"Tidak! Ini fitnah! Aris, kamu gila?! Aku ini ibumu! Kamu membela wanita pengeruk harta ini demi menjebak ibu kandungmu sendiri?!" teriak Herlina histeris, suaranya melengking memenuhi sudut-sudut ruangan.
"Ibu bukan lagi seorang ibu!" seru Aris dengan suara menggelegar, matanya merah memendam rasa sakit yang teramat sangat. "Ibu adalah pembunuh! Ibu membunuh Siska, wanita yang sangat mencintaiku! Dan Ibu mencoba menghancurkan Kirana, wanita tulus yang selama ini menyelamatkan jiwa anak-anakku! Ibu telah menjual jiwa Ibu demi harta dan ambisi gila!"
Herlina menggelengkan kepala dengan mata terbelalak tak percaya. Saat petugas polisi hendak memegang lengannya untuk memasangkan borgol, Herlina berontak dan menunjuk-nunjuk Kirana dengan jari yang bergetar.
"Kamu! Ini semua gara-gara kamu, Kirana!" jerit Herlina penuh dendam. "Harusnya kamu tidak pernah menikah dengan Aris! Harusnya kamu mati bersama rahasia Siska delapan tahun lalu!"
Kirana melangkah mendekati Herlina. Tidak ada Dendam di raut wajahnya, hanya ada rasa kasihan yang mendalam terhadap seorang wanita tua yang telah dibutakan oleh kesetanan harta dan kekuasaan.
"Ibu Herlina," ujar Kirana, suaranya tenang namun merasuk hingga ke tulang hitam Herlina. "Saya menikah dengan Mas Aris bukan untuk harta atau takhta Pratama Corp. Saya hadir di sini karena takdir ingin saya memenuhi amanah almarhumah Mbak Siska—untuk mencintai dan melindungi Leo dan Maya dari iblis berselimut malaikat seperti Anda."
Kirana menatap lurus ke dalam mata Herlina yang kian liar.
"Kasih sayang seorang ibu tiri yang selama ini Anda hina sebagai kepalsuan... adalah benteng ketulusan yang akhirnya meruntuhkan seluruh kebohongan Anda. Selamat menikmati sisa hidup Anda di balik dinginnya jeruji besi, Ibu."
Herlina tersentak hebat. Lidahnya kelu. Petugas polisi dengan sigap memasang borgol di kedua pergelangan tangannya dan menyeret wanita tua itu keluar dari Kediaman Pratama. Jeritan histeris dan tangisan Herlina perlahan-lahan menjauh dan menghilang ditelan kegelapan malam.
Ruang tamu utama seketika menjadi sunyi. Keheningan yang menyelimuti kini bukan lagi keheningan yang mencekam dan penuh ketakutan, melainkan keheningan yang membawa kebebasan dan kehangatan baru.
Dari arah tangga lantai dua, langkah-langkah kaki kecil terdengar berlari terburu-buru.
"Mama! Papa!"
Leo dan Maya berlari menuruni tangga. Maya langsung menghambur dan memeluk pinggang Kirana dengan erat, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di gaun Kirana. Sementara Leo, anak laki-laki yang dulu begitu dingin dan keras, berdiri di hadapan Kirana dengan mata berbinar-binar.
Tanpa kata-kata, Leo tiba-tiba maju dan merengkuh pinggang Kirana, menyandarkan kepalanya di dada ibu tirinya.
"Mama... Leo takut banget Mama nggak pulang..." bisik Leo serak, tangisnya yang selama ini ditahan akhirnya pecah jua. "Jangan pernah tinggalkan Leo dan Maya lagi, Ma..."
Kirana berlutut di atas lantai marmer. Ia merengkuh kedua anak itu ke dalam pelukannya yang paling hangat. Air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya. Rasa sakit, penolakan, caci maki, dan fitnah yang ia pikul selama dua tahun ini... semuanya menguap digantikan oleh rasa syukur yang membuncah.
Aris ikut berlutut di samping mereka. Lengan tegapnya melingkari Kirana dan kedua anaknya, menyatukan mereka dalam satu dekapan keluarga yang utuh dan tak tergoyahkan.
Di bawah pendar lampu kristal yang hangat, Kirana menatap ke arah jendela luar. Di antara taburan bintang di langit malam Jakarta, ia seolah melihat bayangan tersenyum dari almarhumah Siska—sebuah ucapan terima kasih tersirat dari seorang ibu di alam sana kepada wanita yang telah menggantikan posisinya dengan penuh ketulusan.
Takdir memang suka bertingkah jenaka. Takdir menyindir manusia dengan kepedihan, kepalsuan, dan ujian yang menyayat hati. Namun di balik setiap sindiran kejamnya, takdir selalu menyiapkan keindahan yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang bertahan dalam ketulusan cinta.
Kirana tersenyum lembut dalam dekapan suami dan anak-anaknya. Perjuangan berdarah-darah itu kini telah usai. Benteng prasangka telah runtuh, digantikan oleh benteng ketulusan seorang ibu yang akan bertahannya selamanya.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘