NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pilihan yang Tak Pernah Ada

Tarikan dari gerbang cahaya itu semakin kuat, seolah ada ribuan tangan tak kasat mata yang berusaha merenggut kami masuk ke dalam pusaran waktu yang tak berujung. Angin menderu liar, menerbangkan debu dan serpihan kayu di sekeliling dermaga hingga tak satu pun dari kami sanggup membuka mata lebar-lebar.

Erlan menggenggam tanganku sekuat tenaga, jari-jarinya saling mengait erat hingga kulit kami hampir menyatu, seolah genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang mampu menahan kami agar tidak terseret ke dalam kehampaan. Tubuh Dimas masih terkulai tak berdaya di papan kayu yang bergetar hebat, napasnya samar namun masih terlihat naik turun, memberi sedikit harapan bahwa nyawanya belum sepenuhnya direnggut.

Sosok bayangan raksasa itu melayang perlahan mendekat, wujudnya kini semakin nyata namun tetap tak memiliki wajah yang bisa dikenali. Di tengah kegelapan yang menyelimuti badannya, cahaya merah itu berdenyut semakin cepat, seolah jantung yang berdetak kian kencang menanti kemenangan yang sudah di depan mata.

"Sudahlah," suaranya kembali bergema, kali ini terdengar lebih mendesak dan penuh kepastian. "Perlawanan kalian sia-sia. Pilihan sudah ada di hadapan kalian. Terimalah salah satunya, atau biarkan ketiganya hancur sekaligus tertelan waktu yang tak memaafkan siapa pun."

"Kami tidak akan memilih apa yang kau siapkan!" seruku berusaha mengatasi deru angin, kakiku meremas papan kayu di bawah agar tak terlempar. "Dimas berkata pilihan itu palsu! Dan kami percaya padanya lebih dari perkataanmu yang penuh kepura-puraan! Jika kau benar-benar penjaga keseimbangan, mengapa kau takut memberi kami jalan lain? Mengapa kau terburu-buru memaksa kami memilih sebelum kami melihat kebenaran yang sesungguhnya?"

Entitas itu terdiam sejenak, seolah kata-kataku sempat membuatnya ragu atau terganggu. Namun tak lama kemudian, tawanya kembali terdengar—kali ini penuh kemarahan yang tak lagi bisa disembunyikan. "Kalian menyebutku penipu? Kalian yang telah melanggar aturan yang abadi kini menuduhku berbohong? Baiklah... jika kalian tak mau memilih, maka aku yang akan memutuskan segalanya."

Ia mengangkat tangannya yang besar dan gelap, dan seketika itu juga gerbang di atas kami melebar berkali-kali lipat. Cahaya yang memancar kini bukan lagi merah dan putih, melainkan campuran warna gelap yang menyakitkan mata. Tarikan menjadi tak tertahankan lagi. Erlan merangkul pinggangku erat, menarikku agar tetap bersandar pada tubuhnya, sementara ia mencoba melangkah mundur menjauhi sumber bahaya itu meski kakinya hampir tak sanggup menapak.

Namun tepat saat bayangan itu hendak meraih kami, tanda merah di pergelangan tangan Erlan tiba-tiba menyala terang benderang, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bersamaan dengan itu, liontin dan cincin yang tersimpan di saku dadanya melesat keluar sendiri, melayang tinggi di antara kami dan sosok bayangan itu. Keduanya menyatu kembali, memancarkan cahaya keemasan yang murni, cahaya yang sama sekali berbeda dengan cahaya merah yang selama ini mendominasi.

Cahaya itu seolah menolak kehadiran entitas itu. Setiap kali bayangan itu mencoba mendekat, ia terpental mundur seolah terbakar.

"Kau bukan penjaga keseimbangan!" seru Erlan tiba-tiba, seolah potongan terakhir ingatannya baru saja kembali utuh seketika. "Kau adalah yang mencoba merusaknya! Kau terperangkap di sana karena kau yang melanggar janji pertama ribuan tahun lalu! Dan kau menggunakan kami untuk membebaskan dirimu sendiri!"

Kebenaran itu menghantamku seketika. Semua kejadian, semua ancaman, semua kebohongan tentang pilihan yang semu... semuanya adalah taktik untuk memancing kami agar menggunakan kekuatan itu, untuk memancing kami agar membuat keputusan yang justru akan membebaskan entitas yang terkurung itu dari penjara yang dibuat leluhur kami sendiri.

Entitas itu berteriak marah, suaranya mengguncang seluruh dermaga. "Kau terlambat menyadarinya! Gerbang sudah terbuka! Tak ada yang bisa menghentikanku sekarang!"

Namun di saat kekacauan itu memuncak, tubuh Dimas yang terbaring tiba-tiba bergerak perlahan. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia merangkak mendekat ke arah tempat kepingan batu hitam terjatuh. Ia meraihnya, lalu dengan penuh kesungguhan melemparkannya tepat ke tengah cahaya keemasan yang memancar dari benda pusaka kami.

"Satukan semuanya..." bisiknya pelan namun terdengar jelas di telinga kami. "Itulah pilihan ketiga... jangan ambil salah satu... ambil semuanya sekaligus..."

Kepingan batu hitam itu menyatu dengan cahaya keemasan itu, menciptakan ledakan cahaya putih yang menyilaukan mata hingga kami terpaksa memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh suara menderu lenyap seketika, digantikan oleh keheningan mutlak yang mendamaikan. Saat perlahan aku membuka mata kembali, gerbang yang tadinya menganga lebar sudah tertutup rapat. Cahaya merah di puncak bukit telah padam. Sosok bayangan raksasa itu perlahan memudar, menyusut, dan akhirnya lenyap sepenuhnya bersama angin malam yang kini berhembus lembut kembali.

Namun cahaya keemasan itu belum hilang. Ia kini melayang perlahan turun, menuju ke arah kami berdua, lalu perlahan menyatu masuk ke dalam dada kami masing-masing—menjadi satu dengan hati kami, tanpa rasa sakit, tanpa beban.

Erlan menghela napas panjang, genggamannya melunak namun tak pernah melepaskan tanganku. Ia menatapku, dan kali ini matanya jernih kembali—seluruh ingatan, seluruh perasaan, dan seluruh kebenaran kini utuh kembali di sana.

"Kita berhasil," bisiknya haru, lalu segera berlutut memeriksa keadaan Dimas yang kini terbaring lemah namun tersenyum samar. "Kita berhasil, Dimas."

Namun saat Dimas mencoba tersenyum, tangannya perlahan meraba dadanya, dan secercah cahaya merah samar masih terlihat berdenyut lembut di sana, tersembunyi di balik pakaiannya. Ia menatap kami dengan tatapan sedih namun pasrah.

"Aku tidak bisa ikut kalian pulang sepenuhnya," ucapnya pelan, suaranya melemah. "Bagian dari diriku masih terikat... menjadi penutup gerbang terakhir itu. Kalian harus pergi sekarang, sebelum sisa ikatan itu kembali menariknya bangkit."

Belum sempat kami menolak, tanah di bawah dermaga itu bergetar pelan. Cahaya samar itu mulai menarik tubuh Dimas perlahan menjauh, seolah ia akan menjadi bagian dari tempat itu selamanya.

"Tunggu! Kita bisa mencari cara lain!" seruku histeris berusaha meraih tangannya.

Dimas menggeleng pelan, senyumnya tetap terukir di wajah. "Ingatlah... cinta kalian bukan kelemahan. Itulah kunci yang sesungguhnya. Jangan pernah biarkan siapa pun meragukannya. Dan jaga... jaga rahasia yang belum terungkap itu..."

Sebelum sempat kami bertanya apa rahasia terakhir yang ia maksud, tubuh Dimas perlahan berubah menjadi cahaya lembut yang menyatu dengan dermaga tua itu, menyatu dengan bukit, menyatu dengan angin... hingga tak ada yang tersisa selain keheningan malam dan sepotong kalimat yang menggantung di udara:

"Kalian pikir perang sudah selesai? Kebenaran yang sesungguhnya baru saja dimulai..."

Di kejauhan, langit perlahan mulai memerah menyambut fajar, namun di dalam hati kami justru merasa seolah baru saja terbangun dari mimpi panjang yang belum usai. Apa rahasia yang masih tersembunyi? Dan mengapa pengorbanan Dimas terasa seperti awal dari perjalanan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kami bayangkan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!