NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : KETIKA SESEORANG MULAI TERASA HILANG

...BAB 16...

...KETIKA SESEORANG MULAI TERASA HILANG...

Pagi itu Amelia masuk ke kantor dengan langkah yang jauh lebih ringan.

Meskipun tumitnya masih terasa nyeri, wajahnya terlihat cerah.

Di tangannya ada kamera liputan dan buku catatan yang berisi hasil wawancara dengan Reyga.

Begitu masuk, beberapa rekan kerja langsung menoleh.

"Amelia!" panggilnya.

Amelia berhenti. "Ya?"

"Bos nyariin kamu."

Amelia langsung tersenyum. "Serius?"

"Kayaknya ada kabar bagus tuh."

Amelia segera menuju ruangan atasannya.

Ia mengetuk pintu.

"Masuk."

Amelia masuk. "Selamat pagi, Pak."

Atasannya, Pak Hendra, sedang membaca laporan di depan komputer. Begitu melihat Amelia, ia tersenyum.

"Nah, ini dia reporter yang kemarin bikin saya menunggu."

Amelia tertawa kecil. "Maaf, Pak."

"Jangan minta maaf dulu." Pak Hendra mengangkat sebuah dokumen. "Berita Reyga yang kamu kirim sudah tayang."

Amelia tersenyum bangga. "Bagaimana hasilnya, Pak?"

"Bagus." ucap Hendra.

Satu kata itu membuat wajah Amelia langsung berbinar. "Serius?"

"Serius." Pak Hendra memutar layar komputernya. "Artikel kamu mendapat pembaca cukup tinggi."

Amelia mendekat. Ia melihat judul berita yang dibuatnya.

REYGA TAK TERHENTIKAN, JUARA BALAP DENGAN HADIAH FANTASTIS

Di bawahnya terdapat foto Reyga memegang piala. Dan ada satu foto dirinya bersama Reyga.

Amelia tersenyum tanpa sadar.

"Bagus." Pak Hendra mengangguk. "Karena itu saya kasih kamu bonus."

Amelia terdiam. Matanya terbuka lebar. "Bonus?"

Pak Hendra mengeluarkan amplop. "Anggap saja reward karena kamu berhasil mendapatkan wawancara eksklusif."

Amelia menerima amplop itu dengan kedua tangan. "Ya Allah. Terima kasih banyak. Pak."

"Pertahankan kinerja kamu."

Amelia mengangguk cepat. "Saya akan berusaha."

Namun sebelum Amelia pergi, Pak Hendra memanggilnya.

"Eh. Aku belum selesai."

Amelia berhenti. "Ada apa lagi, Pak?"

Pak Hendra kembali menatap layar komputer.

"Berita ini memang bagus."

Ia menunjuk foto Reyga. "Tapi masih ada yang kurang."

Amelia terdiam. "Bagian mana?"

"Kehidupan Reyga." sahut Hendra.

Amelia langsung tahu arah pembicaraan itu. "Saya sudah bertanya tentang pertandingan."

"Saya tahu."

"Tapi dia tidak mau membicarakan keluarganya."

"Justru itu yang menarik."

Amelia menghela napas. "Pak..."

"Kamu tahu fasilitasnya dihentikan oleh ayahnya, kan?"

Amelia terdiam. Ia sebenarnya tidak ingin menggali lebih dalam. Bukan karena tidak mampu. Tetapi karena ia masih teringat ucapan Reyga malam itu.

"Jangan korbankan hidupmu demi aturan orang lain."

Ada sesuatu dalam cara Reyga mengatakan kalimat itu. Seolah ia benar-benar tidak ingin masalah keluarganya diketahui orang lain.

"Saya rasa itu privasi dia, Pak."

Pak Hendra mengangguk. "Saya mengerti." Namun kemudian ia tersenyum. "Tapi kamu seorang reporter."

Amelia diam.

"Kita mencari berita, bukan menghakimi." Lalu Hendra mengambil sebuah foto. Foto Reyga bersama Alessa di podium.

"Ini sekarang sedang ramai di perbincangkan." ujar Hendra lagi.

Amelia melihat foto itu. Dadanya terasa aneh.

Alessa tersenyum begitu bahagia di samping Reyga. Dan Reyga berdiri dengan piala di tangannya.

"Alessa?"

"Iya." Pak Hendra mengangguk. "Putri Armand Wijaya. Dia sponsor pertandingan."

"Betul Pak."

Pak Hendra menyandarkan tubuh. "Publik sedang ramai membicarakan mereka. Ini kesempatanmu lagi."

Amelia menelan ludah. "Jadi..."

"Sekarang tugasmu, wawancarai Alessa."

Amelia terdiam cukup lama. Menelan ludahnya kasar.

"Dan kalau bisa, gali juga hubungannya dengan Reyga." perintah Hendra lagi.

Jantung Amelia kembali tidak nyaman.

Meliput Alessa? Gadis yang terang-terangan mengatakan suka kepada Reyga? gumamnya dalam hati.

Amelia mencoba tersenyum profesional.

"Baik, Pak."

"Bagus."

"Kalau begitu saya permisi dulu."

Setelah mendengar perintah atasannya Amelia keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, senyumnya langsung menghilang.

Ia menatap foto Alessa yang masih ada di tangannya. "Jadi sekarang aku harus mewawancarai perempuan yang suka sama Reyga?"

Amelia menghela napas. "Aku harus profesional." Ia menepuk pipinya sendiri. "Ini pekerjaanmu Lia."

Namun hatinya justru menjawab berbeda.

Siang harinya Amelia pulang membawa amplop bonus.

Begitu sampai rumah, kedua adiknya langsung menyambut.

"Kak Lia!"

Amelia tersenyum.

"Ada apa?"

"Uang sekolah."

Adiknya menunjukkan buku pembayaran.

Amelia langsung membuka tas.

"Nih." Ia menyerahkan sebagian uang.

"Kakak sudah bayarkan." Wajah kedua adiknya langsung berbinar.

"Benarkah?"

"Iya."

Mereka langsung memeluk Amelia.

"Terima kasih, Kak!"

Amelia tertawa. "Sudah, sudah."

Ibunya yang melihat dari ruang tengah ikut tersenyum.

"Kamu dapat bonus?"

Amelia mengangguk. "Iya Bu.."

"Alhamdulillah." Ibunya menghampiri. "Ibu bangga sama kamu."

Kalimat sederhana itu membuat Amelia terdiam. Ia menunduk sebentar.

"Amelia cuma melakukan pekerjaan, Bu."

"Tapi kamu melakukannya dengan sungguh-sungguh."

Ibunya memeluknya. Amelia tersenyum.

Hari itu ia juga menggunakan sebagian uangnya untuk membeli kebutuhan rumah.

Beras, minyak dan kebutuhan sekolah adik-adiknya. Dika dan Intan. Dan beberapa makanan untuk keluarganya.

Malamnya setelah makan dan mandi, Amelia duduk di kamarnya. Ia membuka laptop. Di layar terpampang foto Reyga.

Amelia langsung mengerutkan kening. "Kenapa lagi-lagi dia?"

Ia ingin mencari informasi tentang Alessa. Namun jarinya justru berhenti ketika melihat foto Reyga.

Ia teringat saat lelaki itu memegang pinggangnya ketika ia hampir jatuh. Amelia buru-buru menutup laptop.

"Fokus Amelia, fokus!" Ia mengambil napas panjang. "Besok aku harus siap mewawancarai Alessa. Ya. Gadis itu..."

Namun entah kenapa, ia tidak merasa bersemangat.

*****

Beberapa hari kemudian. Arena balap terasa berbeda. Reyga datang bersama Berry.

Namun kali ini mereka tidak sedang mengikuti pertandingan.

Berry membawa Bintang. Bayi itu terlihat begitu senang ketika melihat lintasan.

"Dia suka tempat ini," kata Berry.

Reyga mengangguk. Bintang tertawa sambil menunjuk motor.

"Ta! Ta! Ta!" oceh Bintang. Reyga menggendongnya dari Berry.

"Motor? Kau suka?" tunjuk Reyga. "Nanti ku ajarin balapan"

Bintang tertawa lagi. Berry langsung menyeringai.

"Wah-wah bahaya, bisa-bisa bayi ini nanti jadi pembalap cilik," sindir Berry sambil melipat tangan di dada.

Reyga membawa Bintang berjalan mengelilingi arena.

Beberapa mekanik menyapanya. "Hei Rey! Siap menang lagi nanti!"

Reyga tertawa kecil. Namun beberapa menit kemudian, ia tiba-tiba berhenti.

Matanya menyapu sekitar. Tidak ada Amelia.

Entah kenapa, ia memperhatikan pintu masuk. Kemudian melihat ke tribun. Kosong.

Tidak ada perempuan dengan membawa kamera. Tidak ada suara yang memanggil namanya. Tidak ada orang yang mengejarnya dengan buku catatan.

Reyga mengerutkan kening. Berry memperhatikan.

"Lo nyari siapa?"

"Nggak." Reyga terkejut.

"Lo lihat-lihat apa dari tadi."

"Gue cuma lihat arena."

"Yakin?"

"Iya."

Berry tersenyum lebar. "Jangan-jangan nyari Amelia." celetuknya yang langsung membuat Reyga menoleh.

"Ngapain gue cari dia?"

Berry tertawa kencang. "Karena beberapa hari ini dia nggak datang. Ya, kan."

Reyga terdiam, dia baru menyadarinya. Bintang memegang kerah bajunya. Reyga menunduk.

"Dia kan reporter."

"Terus?"

"Ya mungkin sedang sibuk."

Berry mengangguk dan mengangkat alisnya. "Ooh..." Ia sengaja memperpanjang suara.

"Jadi lo sadar dia nggak datang?"

Reyga menatapnya tajam. "Berry."

"Iya?"

"Jangan mulai."

Berry tertawa. "Tapi benar kan?"

Reyga tidak menjawab. Ia kembali melihat sekitar. Aneh. Biasanya keberadaan Amelia membuatnya kesal. Perempuan itu selalu muncul dengan pertanyaan. Selalu membawa kamera. Selalu mengejarnya. Tetapi sekarang ketika perempuan itu tidak ada, arena ini mendadak terasa sepi.

Reyga menggeleng. "Ngaco."

Berry tertawa lagi. "Lo kayaknya mulai kangen dia." godanya.

"Nggak."

"Mulai merasa kehilangan kan Lo."

"Nggak. Ngapain?!"

"Mulai—"

"Berisik Lo!" Reyga mulai kesal. Bintang tiba-tiba tertawa.

Berry menunjuk bayi itu. "Nah, Bintang aja setuju sama gue."

Reyga menghela napas. Namun ketika ia kembali menatap lintasan, matanya tetap mencari seseorang.

Dan kali ini, ia sendiri juga tidak tahu siapa yang sedang dicarinya?

Bersambung...

1
Lisa
Selamat y utk Melda & Berry atas kelahiran putra pertamanya..sehat y utk debaynya juga utk Mamanya cpt pulih..
Lisa
Akhirnya mereka berpisah juga dgn Bintang..sedih banget nih..
Kam1la
Akhirnya sampai juga di Jakarta, semoga tidak ada masalah atau hal buruk lagi. nih, Melda bakalan lahiran y sebentar lagi... cewek pa cowok yah
Kam1la
Reyga dan Amelia sudah menganggap Alden sebagai anak kandung mereka, tapi Alden masih punya keluarga kandung. perpisahan ini hanya sementara, suatu waktu nanti bisa ada kesempatan untuk bertemu lagi. dan bagi mereka jika berat berpisah, segera buat anak sendiri....
Lisa
Sama Kak..aku juga sedih banget nih sampe nangis karena Amelia akan berpisah dgn Bintang..aplg Amelia yg sudah merawat Bintang..klo bisa mereka jgn berpisah Kak 🤭
Lisa: Ya bener banget Kak..misalnya Amel & Reyga menetap di Kalimantan kan mereka bisa dekat sama Alden.
total 2 replies
Lisa
Sama² Kak Kayla..kita juga seneng banget ngikutin ceritanya..semangat y Kak..ikut seneng nih Rafael udh ceria lg..tp klo nanti Amel dkk udh balik ke Jkt pasti dia sedih lg..
Lisa: Sama² Kak Kayla
total 2 replies
Kam1la
Reflesing ke mall mungkin bisa mengurangi kesedihan Rafael, itu hanya sementara saja. setelah mereka kembali ke Jakarta, Rafael akan kesepian lagi dan teringat Celine
✨Kayla Rane✨: semoga Rafael cepet ketemu jodohnya ka😆😆 kasian ganteng2 jomblo sendiri🤣
total 1 replies
Lisa
Benar Kak..tapi Amel & Reyga yg sudah merawat Alden jadi harus dipikirkan solusi yg terbaik.
Lisa
Aku juga ikut sedih Kak..Celine yg begitu baik diabaikan oleh Rafael..akhirnya sekrg tinggal penyesalan..
Kam1la
bersama keluarga adalah hal terbaik. Alden atau Bintang memang sebaiknya bersama Rafael... keluarga kandungannya.
Kam1la
Rafael merasa sedih mengenang masa bersama Celine. menyesal selalu di belakang letaknya.... sabar ya
Kam1la
Celine meninggalkan kenangan yang begitu mendalam. selamat jalan Celine... Rafael sangat terpukul. Alan pantas mendapatkan karma
✨Kayla Rane✨: bener ka 🤭
total 1 replies
Lisa
Selamat jln Celine..sedih banget Kak Celine berkorban utk Rafael pdhl Rafael slm ini g membalas perasaan cintanya..
Lisa: ya bener banget Kak..
total 2 replies
Kam1la
sedih banget aku mendengar kabar Celine pergi untuk selamanya. perjuangannya hanya sekali tapi memberikan pukulan yang berat setelah dia benar-benar pergi. selamat jalan Celine....
Lisa
Ya Kak..sedih banget nih koq Celine g tertolong 😭 selamat jalan Celine..bahagia di surga ya..y dgn cara spt ini Alan menyesal seumur hidupnya krn dia membunuh putrinya..
Kam1la
ambulans, cepat datang dong....Semoga Celine selamat, dia baik tidak seperti ayahnya
Lisa
Alan benar² kejam yg terakhir ini putrinya sendiri yg ditembak demi menguasai harta..y Tuhan selamatkan Celine..
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
buset. udah brp nyawa itu
Lisa
Moga masalah mereka cpt beres
Kam1la
semangat lanjut kak... semoga Diana ditemukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!