Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Anya menghela napas panjang dan meletakkan papan penawarannya ke atas meja dengan sedikit kasar. Dia menatap tajam ke arah barisan belakang dengan pandangan penuh rasa jijik yang tidak ditutupi sama sekali.
"Biarkan saja pria bodoh itu mengambilnya, aku tidak sudi bersaing dengan orang gila yang hanya mencari sensasi." Ucap Anya dengan nada dingin kepada pengawal di belakangnya.
Gadis cantik itu akhirnya menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Bersamaan dengan itu Saka melihat kabut ungu di sekitar tubuh Anya perlahan mulai mereda dan kembali tenang.
[Aura kutukan target berhenti bermanuver setelah ancaman dari energi giok penyejuk berhasil disingkirkan dari jangkauannya.]
Saka tersenyum miring membaca laporan dari sistem yang melayang tepat di depan matanya itu. "Kutukan yang sangat cerdas, dia meminjam tangan orang bodoh untuk menjauhkan barang yang bisa melukainya." Batin Saka sambil menatap Rio.
Di atas panggung Master Handoko mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi setelah tidak ada lagi yang menaikkan tawaran.
Tok tok tok.
Suara ketukan palu itu menggema memecah keheningan yang menyelimuti seluruh penjuru aula.
"Terjual kepada tuan muda di barisan belakang dengan harga luar biasa yaitu dua ratus lima puluh juta rupiah." Teriak Master Handoko mengesahkan kemenangan Rio.
Rio langsung melompat kegirangan dan melambaikan tangannya ke arah depan seolah dia adalah seorang pahlawan besar. Namun senyum lebar di wajahnya perlahan memudar saat dia melihat raut wajah Kevin yang luar biasa pucat.
"Bos, lo baru aja buang duit dua ratus lima puluh juta buat kalung batu ijo sekecil itu." Bisik Kevin dengan suara bergetar ketakutan sambil menarik ujung jas Rio.
"Itu kan setengah dari uang tabungan darurat bokap lo yang ada di ATM, kalau beliau tahu kita bisa mati dipenggal Bos." Lanjut Kevin mengingatkan kenyataan pahit yang baru saja terjadi.
Keringat dingin seketika menetes dari dahi Rio menyadari kebodohan impulsif yang baru saja dilakukannya demi mencari perhatian Anya. Kakinya mendadak terasa lemas hingga dia harus kembali duduk berdebum di kursi kayunya yang sempit.
"Tenang Vin, lo nggak usah panik kayak orang kampung begitu." Balas Rio berusaha menutupi rasa cemasnya yang mulai membumbung tinggi.
"Kita kan bawa guci Dinasti Ming malam ini, harganya pasti tembus ratusan juta dan bisa nutupin kerugian gue barusan." Ucap Rio mensugesti dirinya sendiri agar tidak jatuh pingsan karena panik.
Kevin hanya bisa menelan ludah paksa dan mengangguk ragu mendengar rencana bosnya yang terdengar sangat berisiko itu. Sementara itu di balkon lantai dua Saka nyaris tersedak air minumnya karena menahan tawa mendengar percakapan konyol mereka.
"Menutupi kerugian dua ratus lima puluh juta dengan barang rongsokan seharga lima puluh ribu rupiah." Gumam Saka sambil menggelengkan kepalanya merasa takjub dengan tingkat halusinasi Rio.
Acara lelang terus berlanjut dengan beberapa barang mewah lainnya yang terjual dengan harga cukup fantastis. Hingga akhirnya Master Handoko kembali naik ke mimbar utama dengan ekspresi wajah yang jauh lebih serius dari sebelumnya.
"Hadirin sekalian, sekarang kita akan masuk ke sesi khusus yaitu pelelangan barang titipan dari tamu undangan kita malam ini." Ucap pria tua itu melalui mikrofon.
"Barang pertama yang akan kita periksa bersama adalah sebuah kotak yang diklaim berisi guci langka dari Dinasti Ming." Lanjut Master Handoko sambil memberi isyarat kepada pelayan di pinggir panggung.
Dua orang pelayan wanita berjalan anggun membawa kotak beludru merah milik Rio dan meletakkannya di atas meja kaca. Dada Rio langsung membusung bangga melihat barang miliknya kini menjadi pusat perhatian ratusan konglomerat di ruangan itu.
"Lihat tuh Vin, barang gue udah naik ke panggung dan bentar lagi semua orang bakal sujud kagum lihat keindahannya." Bisik Rio dengan senyum arogan yang kembali menghiasi wajahnya.
"Iya Bos, si Anya juga pasti bakal nyesel udah nolak cowok sekaya dan sekeren lo tadi di depan." Balas Kevin mulai kembali melancarkan jilatan mautnya.
Master Handoko memakai sarung tangan putihnya dan perlahan membuka pengait kotak beludru merah tersebut. Semua tamu undangan menahan napas penasaran menunggu pusaka bersejarah apa yang akan muncul dari dalam sana.
Klek.
Tutup kotak itu terbuka dan Master Handoko perlahan mengangkat guci keramik biru itu ke bawah sorotan lampu utama.
Namun bukannya tatapan kagum yang terlihat di wajah pakar barang antik itu melainkan kerutan dahi yang sangat dalam. Master Handoko mendekatkan wajahnya ke guci itu dan memicingkan mata mengamati tekstur keramiknya dengan sangat teliti.
Di atas balkon VVIP layar transparan sistem kembali muncul di depan mata Saka untuk memberikan penilaian otomatis.
[Memindai objek Guci Keramik Biru di atas panggung.]
[Hasil pemindaian konsisten, barang tiruan modern buatan pabrik lokal dengan campuran semen kualitas sangat rendah.]
[Tidak ada setetes pun energi Qi di dalam benda ini.]
"Waktunya penghakiman dimulai." Ucap Saka pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa menunggu reaksi Master Handoko.