NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menangisi nasib

Entah mengapa, Valerie tidak memiliki keberanian untuk kembali ke mansion keluarga Robert. Meskipun dirinya tidak bersalah, rumah itu kini terasa begitu asing.

Tatapan kecewa Damian dan tamparan Nyonya Margaretha terus terbayang di benaknya, membuat langkahnya enggan kembali ke tempat yang selama ini ia sebut sebagai rumah.

Dengan tangan gemetar, ia menghentikan sebuah taksi.

“Ke alamat ini, Pak,” ucapnya lirih.

Sepanjang perjalanan, Valerie hanya memandang keluar jendela. Air matanya tak pernah benar-benar berhenti mengalir. Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan rumah lamanya.

Begitu turun, dadanya kembali terasa sesak, pandangannya menatap rumah yang pernah dipenuhi tawa kedua orang tuanya. Kini, bangunan itu berdiri sunyi, seolah ikut berduka bersama dirinya. Kehangatan yang dulu selalu menyambutnya telah lenyap bersama kepergian kedua orang tuanya.

Dengan langkah gontai, Valerie membuka gerbang yang mulai berdecit. Ia lalu membuka pintu rumah menggunakan kunci baru yang diberikan Damian.

KLIK.

Pintu tertutup kembali, keheningan langsung menyelimuti seluruh ruangan. Valerie berjalan perlahan menuju kamar kedua orang tuanya. Begitu memasuki ruangan itu, pertahanan yang sejak tadi ia bangun akhirnya runtuh. Ia meraih bingkai foto kedua orang tuanya, lalu memeluknya erat.

“Ibu... Ayah...” isaknya pecah.

“Aku rindu...”

“Aku benar-benar sangat merindukan kalian...”

Tangisnya semakin menjadi.

“Aku lelah... hidupku sekarang terasa sangat berat. Aku kini sendirian, aku bahkan tidak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi?”

“Kenapa kalian pergi meninggalkanku sendirian, kenapa kalian tidak membawaku juga?”

“Aku kehilangan arah dan tujuan hidupku, kalianlah arah mata anginku, kalian tujuanku, kalian rumahku, kalian malaikatku. Setelah kalian pergi, aku kini tersesat...”

“Aku tersesat didunia yang sangat asing. Tiada hari yang tenang untuk gadis amatir sepertiku, seakan aku dipaksa dan dituntut menjadi dewasa.”

“Aku tidak di beri kesempatan, selalu di curigai, dianggap mengecewakan, terlihat menjijikan dan hina.”

“Apa dunia memang sekejam ini pada gadis yang hidupnya sudah hancur, apa aku tidak boleh sedikit bahagia?”

Ia menangis sejadi-jadinya, seolah seluruh luka yang selama ini dipendam tumpah dalam satu waktu.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu membuat tubuh Valerie langsung menegang, dan wajahnya memucat. Ingatan saat dirinya diculik kembali memenuhi pikirannya. Dengan napas tertahan, ia berjalan perlahan menuju pintu. Dari balik tirai jendela kecil, ia mengintip siapa yang datang.

Rasa takutnya perlahan mereda saat melihat sosok Pak Boby berdiri di depan rumah. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang usianya tak jauh dengannya.

Valerie membuka pintu perlahan.

“Pak Boby...?”

Wajah Pak Boby dipenuhi kekhawatiran.

“Nona Valerie... apa kami boleh masuk?”

Valerie menganggukkan kepala pelan, lalu mempersilakan mereka masuk.

“Iya, silakan.”

Setelah mereka duduk di ruang tamu, Valerie hendak mengambilkan air minum.

“Kalian duduk dulu, saya akan mengambilkan...”

Pak Boby menyela ucapan Valerie,

“Tidak usah Nona Muda, kami datang bukan untuk merepotkan.”

Valerie kembali duduk.

Pak Boby kemudian menoleh ke arah wanita di sampingnya.

“Perkenalkan. Ini istri saya, Amanda Patel.”

Wanita itu tersenyum hangat sambil menganggukkan kepala.

Pak Boby menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

“Saya datang karena sangat mengkhawatirkan keadaan Nona.”

Air mata Valerie kembali menggenang.

“Pak Boby...” suaranya bergetar. “Apa Bapak tidak kecewa sama saya?”

Pak Boby langsung menggeleng mantap.

“Tidak.”

“Saya sangat percaya pada Nona.”

“Saya sudah menjadi sopir pribadi Nona selama ini. Saya sudah mengenal siapa Nona, saya tahu Nona bukan perempuan seperti yang mereka tuduhkan.”

Tangis Valerie kembali pecah.

“Sebenarnya sejak tadi siang saya sudah merasa ada yang janggal. Saat saya tiba di gerbang kampus, Nona tidak ada. Padahal selama ini Nona tidak pernah pergi tanpa memberi tahu saya.”

“Lalu saya menerima pesan dari ponsel Nona yang meminta saya pulang lebih dulu.”

Pak Boby menundukkan kepalanya.

“Saya curiga, tetapi saya tidak punya bukti apa pun. Karena itulah saya akhirnya pulang.”

Ia menarik napas panjang.

“Baru malam ini, setelah Nyonya Margaretha dan Tuan Damian pulang, saya mendengar apa yang terjadi pada Nona di hotel.”

Wajah Pak Boby dipenuhi penyesalan.

“Saya ingin langsung mencari Nona kesini. Tapi saya takut kalau saya datang sendirian, nanti justru muncul kesalahpahaman baru. Karena itu saya mengajak istri saya, kebetulan Amanda juga sangat ingin bertemu dengan Nona.”

Mendengar penjelasan itu, Valerie tak lagi mampu menahan air matanya.

Ibu Amanda perlahan berpindah duduk di samping Valerie. Tanpa banyak bicara, ia meraih tubuh Valerie dan memeluknya dengan lembut, seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.

“Nona Valerie.”

“Menangislah, luapkan semuanya.” bisiknya pelan. “Jangan ditahan.”

Kalimat sederhana itu seolah menghancurkan seluruh benteng yang selama ini Valerie pertahankan. Ia membalas pelukan Ibu Amanda sekuat tenaga.

Tangisnya berubah menjadi raungan pilu. Ia menangis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk meluapkan seluruh rasa sakitnya.

Ibu Amanda terus mengusap punggung dan rambut Valerie dengan penuh kasih sayang, membiarkan gadis itu melampiaskan seluruh kepedihan yang selama ini dipendam seorang diri.

Perlahan tangis Valerie perlahan mereda. Meski sesekali masih terisak, pelukan Ibu Amanda membuat dadanya yang sesak sedikit demi sedikit terasa lebih ringan.

“Menangis akan membuatmu menjadi lebih lega,”

Valerie mengangguk pelan. Matanya sembap, napasnya masih tersengal.

“Aku... benar-benar tidak tahu kenapa semua ini terjadi padaku, Bu.”

Suara Valerie bergetar.

“Saat aku menunggu Pak Boby di depan gerbang kampus. Tiba-tiba ada seseorang menutup mulutku dengan saputangan, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.”

Pak Boby dan Ibu Amanda saling berpandangan.

“Jadi, Nona diculik?”

Pak Boby memandangnya dengan wajah tegang.

Valerie menganggukkan kepala, air matanya kembali jatuh.

“Saat aku sadar... aku sudah berada di kamar hotel, di sampingku ada pria yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.”

Dengan prustasi Valerie mengapus air matanya.

“Begitu aku bangun, Nenek, Damian, dan Olivia sudah berdiri di depanku. Tatapan mereka seperti melihat hal paling hina di hidup mereka, tidak ada satu pun dari mereka mau mendengarkan penjelasanku.”

“Aku terpojok tanpa tau harus berbuat apa-apa, mereka membenciku tanpa mencoba mencari tau kebenarannya.”

Ibu Amanda menggenggam kedua tangan Valerie.

“Tapi, kami percaya padamu Nona.”

Kalimat sederhana itu membuat Valerie kembali menundukkan kepala menangis tersedu-sedu.

“Terima kasih... karena sudah mau percaya padaku.”

Pak Boby mengepalkan tangannya.

“Saya yakin ada seseorang yang sengaja merencanakan semua ini.”

“Tapi saya tidak tau siapa?” bisik Valerie.

Pak Boby menghela napas dalam-dalam.

“Saya hanya mengumpulkan. mereka sudah mengawasi Nona sejak lama, dan mengetahui jam pulang, sebelum saya menjemput Nona.”

Mendengar penjelasan itu, wajah Valerie semakin pucat.

“Lalu, apa yang harus saya lakukan?”

Pak Boby terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

“Saya hanya sopir pribadi keluarga Robert, tidak dapat membantu Nona banyak.”

Valerie menatapnya.

“Jika terjadi sesuatu pada Nona di mansion Robert, Nona boleh tinggal di rumah saya. Kalau Nona tinggal sendirian disini saya khawatir dengan keselamatan Nona, takutnya mereka akan datang kesini.”

Ibu Amanda mengangguk setuju.

“Jangan sungkan pada kami. kami bukan orang yang jahat, kamu aman tinggal bersama kami Nona.”

Valerie langsung menggeleng.

“Aku tidak ingin merepotkan Bapak Boby dan Ibu Amanda.”

Ibu Amanda tersenyum hangat.

“Kami tidak pernah menganggap Nona beban, sejak dulu Suami saya selalu bercerita tentang Nona. Katanya, Nona selalu memperlakukan para karyawan dengan baik dan tidak pernah memandang rendah siapa pun.”

Pak Boby tersenyum kecil.

“Mendengar kisah kedua orang tua Nona, dan kebaikan Nona. Saya ingin mengenal Nona lebih dekat, bahkan Nona bisa menganggap kami orangtua Nona?”

Valerie kembali menitikkan air mata.

Selama beberapa jam terakhir, ia hanya menerima tatapan penuh kekecewaan dan tuduhan. Kini, kepercayaan yang diberikan pasangan suami istri di hadapannya terasa seperti menemukan rumah hangat di belantara hutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!