NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Minda dan Cowo Pemilik Es Teh Bertemu

Hari Senin pagi di SMA Bangsa selalu dimulai dengan rutinitas yang seragam.

Upacara bendera yang panas, langkah kaki yang malas menuju kelas, dan kantuk yang menggelayuti mata para siswa.

Namun, di dalam ruang kelas X-5, suasananya sudah seperti pasar malam.

Penyebabnya tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Minda.

Gadis heboh itu duduk di atas mejanya—tindakan yang selalu memicu teguran dari ketua kelas—sambil memegang kipas plastik kecil dan mengipasi lehernya dengan dramatis.

Di sebelahnya, Lila duduk dengan tenang, menata buku pelajaran sejarah dan paket biologi yang akan dikumpulkan hari ini.

"Lila, dengerin ya, sampai detik ini lambung aku masih terasa seperti ada kembang api yang meletus-letus," keluh Minda dengan volume suara yang memenuhi sepertiga ruangan.

"Itu Seblak Jebred Dewa benar-benar definisi dari konspirasi pemusnahan massal siswa SMA. Tapi anehnya... aku kok pengen lagi ya?" Lila hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya.

"Minda, kemarin kamu sudah hampir pingsan, menangis bombay, sampai... ya kamu tahu sendiri kan, tragedi salah minum es teh itu. Masa belum kapok juga?"

Mendengar kata "es teh", Minda langsung menutup wajahnya dengan kipas plastik.

"Aduh, Lila! Jangan diingatin lagi dong! Itu adalah aib internasional terbesar dalam sejarah hidup aku. Aku berdoa banget sama Tuhan supaya nggak pernah ketemu lagi sama cowok itu di planet bumi ini. Kalau ketemu, aku bakal pura-pura amnesia atau pura-pura jadi kembaran aku yang tertukar."

"Lagian kamu ceroboh banget," sahut Rio, salah satu teman kerja kelompok mereka yang duduk di baris depan, tiba-tiba membalikkan badan sambil tertawa mengejek.

"Kamu tahu nggak, Min? Kemarin pas kamu lari terbirit-birit keluar dari warung seblak karena malu, kamu itu meninggalkan sesuatu."

Minda mengerutkan kening. Ia menurunkan kipas plastiknya.

"Meninggalkan apa? Perasaan semua barang aku sudah masuk tas deh. Dompet ada, handphone ada, maket biologi aman."

"Gantungan kunci akrilik kamu yang segede gaban itu," sambung Rio sambil menahan tawa.

"Yang gambarnya karakter anime lagi nangis sambil makan ramen. Kemarin ketinggalan di atas meja, persis di sebelah mangkok seblak maut kamu."

Minda langsung memeriksa tas ranselnya. Benar saja, ritsleting depan tasnya kosong melompong.

Gantungan kunci kesayangannya yang ia beli dari uang jajan sebulan penuh sudah tidak ada di tempatnya.

"Aduh! Kok bisa lepas sih? Ah, tapi ya sudahlah, mending aku ikhlaskan daripada harus balik ke warung itu dan berisiko ketemu cowok es teh lagi."

Tepat saat Minda menyelesaikan kalimatnya, suasana di koridor depan kelas X-5 mendadak agak riuh.

Tap.. tap--

Langkah kaki beberapa siswa terdengar berhenti di depan pintu masuk.

Kelas X-5 yang tadinya bising perlahan-lahan mulai senyap, menyisakan suara Minda yang masih menggerutu pelan.

"Permisi..." sebuah suara bariton yang terdengar familier memecah keheningan di ambang pintu.

Minda membeku.

Suara itu seperti alarm bahaya yang langsung mengaktifkan semua sensor panik di otaknya.

Ia perlahan-lahan memutar kepalanya ke arah pintu kelas, berdoa dalam hati bahwa apa yang ia pikirkan adalah salah.

Namun, takdir tampaknya sedang ingin bercanda dengan Minda hari itu.

Berdiri di depan pintu kelas X-5 adalah cowok jangkung berseragam rapi dari SMA tetangga—SMA Garuda yang letaknya hanya berseberangan jalan dengan sekolah mereka.

Cowok itu memiliki potongan rambut rapi, senyum yang ramah, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah gantungan kunci akrilik berbentuk karakter anime yang sedang menangis sambil makan ramen.

"Maaf mengganggu waktunya," ucap cowok itu sopan kepada anak-anak X-5 yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Gua lagi nyari siswi kelas ini yang namanya Minda. Ada yang tahu duduknya di mana?"

Seketika, seluruh pandangan anak-anak kelas X-5—sekitar tiga puluh enam pasang mata—langsung tertuju serempak ke arah bangku baris ketiga tengah.

Ke arah Minda yang saat ini sedang berusaha mati-matian untuk meluncur turun dari atas meja dan bersembunyi di bawah kolong bangku Lila.

"Nah, itu orangnya! Yang lagi mau akrobat di bawah meja!" teriak Rio dengan semangat kompornya yang luar biasa, sambil menunjuk tepat ke arah Minda.

"Rio! Mulut kamu mau aku jahit pakai benang lem tembak kemarin ya?!" bisik Minda dengan wajah yang sudah merah padam selevel dengan kuah seblak dua puluh cabai.

Cowok dari SMA Garuda itu tersenyum lebar begitu melihat Minda yang sedang terjebak dalam posisi canggung antara duduk di lantai dan memegangi kaki meja Lila.

Cowok itu melangkah masuk ke dalam kelas X-5 dengan santai, mengabaikan bisik-bisik dari siswi-siswi lain yang mulai terpesona dengan ketampanannya.

Ia berhenti tepat di depan meja Minda dan Lila. Dengan gerakan yang sangat sopan, ia meletakkan gantungan kunci akrilik itu di atas meja, tepat di samping buku sejarah Lila.

Kletuk... (Suara meletakkan gantungan kunci di atas meja)

"Halo, pencuri es teh," sapa cowok itu dengan nada bercanda yang kental.

"Kemarin barang lu ketinggalan di warung Mang Ujang. Untung gua sempat nanya ke temen lu sebelum kalian kabur, katanya lu anak X-5 SMA Bangsa. Karena sekolah kita deketan, ya sekalian aja gua anterin sebelum jam masuk gua."

Minda mendongak, menatap gantungan kuncinya, lalu menatap cowok itu dengan senyum yang sangat kaku.

Energi hebohnya yang biasanya meledak-ledak mendadak menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa malu yang membuat suaranya mencicit kecil.

"Eh... ngg... hai. Makasih banyak ya... aduh, maaf repot-repot."

Lila yang duduk di sebelah Minda menahan senyumnya kuat-kuat. Ia menyenggol lengan Minda dengan sikunya, memberi kode agar sahabatnya itu bersikap lebih normal.

"Minda, kenalan dong. Masa ditolongin nggak nanya nama," bisik Lila lembut.

Cowok itu mendengar bisikan Lila dan langsung mengulurkan tangannya ke arah Minda sambil tersenyum ramah.

"Kenalin, nama gua Devon. Anak kelas XI-Sains di sebelah."

Minda menerima uluran tangan itu dengan ragu-ragu. "Aku Minda... dan ini sahabat aku, Lila."

Devon mengangguk ke arah Lila sebagai tanda salam, lalu kembali menatap Minda dengan tatapan jenaka.

"Oh iya, Minda. Gua cuma mau mastiin satu hal aja sih datang ke sini."

"Mastiin apa?" tanya Minda dengan waswas, khawatir cowok ini akan meminta ganti rugi atas setengah gelas es teh manis yang ia tenggak habis kemarin.

Devon mendekatkan wajahnya sedikit lalu berbisik, namun suaranya tetap terdengar oleh Lila dan Rio. "Gua cuma mau mastiin kalau lambung lu nggak meledak setelah makan seblak lava kemarin. Soalnya kemarin pas lu pergi, muka lu udah kayak kepiting rebus."

Seketika itu juga, seisi kelas X-5 yang sejak tadi menguping dengan antusias langsung meledak dalam tawa yang sangat riuh.

Rio bahkan sampai memukul-mukul mejanya sendiri karena menganggap situasi ini adalah hiburan terbaik di hari Senin pagi.

Minda hanya bisa pasrah, menenggelamkan wajahnya ke atas meja kayu sambil merutuki takdirnya yang luar biasa kocak.

Devon tertawa kecil melihat reaksi Minda yang menggemaskan saat sedang malu.

Ia kemudian menegakkan badannya dan membetulkan posisi tas selempangnya.

"Ya sudah, tugas gua mengembalikan barang berharga ini sudah selesai. Gua balik ke sekolah gua dulu ya. Oh iya, Minda..."

Devon menggantung kalimatnya di depan pintu kelas, membuat Minda terpaksa mendongak lagi.

"Lain kali kalau makan seblak di sana, bilang gua aja. Nanti gua pesenin es teh manisnya dua gelas langsung, biar lu nggak perlu milih antara pingsan kepedasan atau salah minum punya gua lagi," ujar Devon sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor kelas X-5.

Suasana kelas X-5 langsung gempar setelah kepergian Devon.

Teman-teman perempuan Minda langsung mengerubungi mejanya, menghujani Minda dengan berbagai pertanyaan heboh yang membuat kelas menjadi semakin bising.

Lila yang berada di tengah pusaran kehebohan itu hanya bisa tertawa lepas. Ia mengambil gantungan kunci anime milik Minda dan memasangkannya kembali ke ritsleting tas sahabatnya itu dengan rapi.

"Gimana, Minda? Masih mau pura-pura amnesia atau pura-pura jadi kembaran yang tertukar?" goda Lila sambil tersenyum jenaka.

Minda perlahan mengangkat wajahnya yang masih merona merah, namun perlahan senyum hebohnya yang khas mulai kembali menghiasi wajahnya. Ia memeluk tas ranselnya erat-erat.

"Lila! Kayaknya konspirasi seblak kemarin membawa berkah deh. Tapi jujur... besok-besok kalau kita ke sana lagi, kamu harus jagain gelas aku ya, Li!" seru Minda kembali dengan suara cemprengnya yang bersemangat.

Persahabatan mereka di kelas X-5 memang selalu dipenuhi kejutan, dan Minda tahu, bersama Lila di sisinya, setiap momen memalukan pun akan selalu berakhir menjadi petualangan yang menyenangkan untuk diceritakan kembali.

Bersambung~~~

Hayy gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗

Jangan lupa Follow akunnya, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!