Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit dari Perbatasan
Dua minggu berlalu di bawah langit perbatasan utara yang perlahan mulai bersahabat.
Berkat ketelatenan Erica dalam merawatnya siang dan malam, serta kekuatan fisik militernya yang sudah di latih puluhan tahun, Jenderal Eshar Megantara kini telah pulih sepenuhnya.
Luka di pundak kanannya telah mengering dan menyisakan garis parut tipis, menjadi sebuah lencana kehormatan baru yang menandai kesetiaannya dalam melindungi sang istri.
Desas-desus miring yang sempat ditiupkan oleh komplotan Nyonya Ratna pun lenyap ditiup angin pegunungan.
Berkat kata-kata tegas Erica pagi itu di koridor ruang medis terbukti sangat efektif, tidak ada lagi istri perwira yang berani berbisik-bisik di belakang mereka jika tidak ingin suami mereka berakhir di ujung pulau.
Bahkan, suasana di aula samping kini berubah seratus delapan puluh derajat. Mesin-mesin jahit kayuh Singer berderit teratur setiap hari, sehingga menghasilkan tumpukan pakaian anak-anak dan seragam Persit yang terpotong rapi dengan jahitan yang sangat kuat.
Berkat kesabaran dan ketelatenan Erica dalam mengajar, para istri prajurit kini telah menguasai dasar-dasar konveksi dengan sangat baik.
Pagi itu, mentari bersinar cerah tanpa kabut yang menghalangi. Erica berdiri di depan aula, menatap wajah-wajah hangat nan ceria dari para ibu Persit yang berkumpul untuk melepasnya.
"Ibu-Ibu sekalian," ujar Erica, suaranya jernih yang tulus itu menggema di dalam ruangan.
"Hari ini saya harus berpamitan untuk kembali ke Jakarta guna mengurus beberapa urusan bisnis Fiorenza Fashion yang tertunda. Tapi saya harap pelatihan kita tidak akan berhenti di sini. Karena dua mesin jahit ini tetap menjadi milik bersama, dan saya sudah menunjuk Ibu Kaira untuk mengoordinasikan pengiriman hasil jahitan kalian ke kantor cabang kami di kota terdekat setiap akhir bulan. Perusahaan saya akan tetap membeli hasil karya Ibu-Ibu dengan harga yang pantas."
Mendengar kalimat tersebut, para istri bintara dan tamtama tampak berkaca-kaca. Ibu Kaira melangkah maju, menjabat tangan Erica dengan erat.
"Terima kasih banyak, Nyonya Besar. Kehadiran Nyonya di sini telah membawa perubahan besar bagi kehidupan kami. Kami akan menjaga amanah ini dengan disiplin."
Erica pun tersenyum manis, memeluk hangat beberapa perwakilan ibu Persit. Di sudut aula, Nyonya Ratna tampak berdiri kaku dengan senyum yang dipaksakan. Dia tak lagi memiliki taring untuk menentang Erica setelah melihat bagaimana seluruh anggota organisasi kini berdiri kokoh di belakang istri Jenderal tersebut.
Sementara itu, di lapangan upacara utama markas komando, Jenderal Eshar Megantara berdiri tegap di hadapan ratusan prajuritnya yang berbaris rapi di bawah terik matahari pagi.
Angin kencang mengibarkan bendera merah putih di ujung tiang, menciptakan atmosfer lingkup militer ini menjadi lebih intens dan disiplin.
Di samping Eshar, berdiri Mayor Bambang dengan sikap sempurna, sementara Axelo berdiri di barisan belakang dengan senyuman humorisnya yang khas.
"Prajurit sekalian!" suara berat dan berwibawa Eshar menggelegar, merata ke seluruh penjuru lapangan tanpa bantuan pengeras suara.
"Mulai hari ini, saya akan kembali ke Jakarta untuk beberapa waktu, karena harus mengurus beberapa urusan strategis keluarga dan perusahaan Megantara Corp. Selama masa ketidakhadiran saya, komando harian pangkalan perbatasan utara ini akan saya serahkan sepenuhnya kepada Mayor Bambang!"
Mendengar namanya disebut, Mayor Bambang tersentak kaget tapi segera menegakkan tubuhnya lebih tegap lagi.
"Siap, Jenderal!"
Eshar melangkah mendekati Mayor Bambang, menatap langsung ke dalam manik mata perwira menengah tersebut dengan mata coklatnya yang setajam elang.
Ada intensitas yang sangat dingin dan mengintimidasi dalam tatapan sang Jenderal, meskipun dia sedang memberikan promosi jabatan sementara.
Eshar menepuk pundak Mayor Bambang dengan tangan kirinya yang kuat.
"Mayor Bambang, saya memercayakan pangkalan ini padamu karena saya yakin akan loyalitasmu. Tapi tolong ingat satu hal. Seluruh dokumen logistik, taktis, dan rahasia militer di distrik ini sekarang berada di bawah tanggung jawab langsung darimu. Jika terjadi kebocoran informasi sekecil apa pun kepada pihak luar, terutama melalui desas-desus keluarga atau jalur komunikasi sipil yang tidak sah, maka kau adalah orang pertama yang akan saya seret ke pengadilan militer atas tuduhan pengkhianatan negara."
Keringat dingin seketika bercucuran di pelipis Mayor Bambang. Dia tahu persis ke arah mana peringatan dingin Jenderal Eshar ini bermuara.
Posisi ini adalah jerat tak terlihat yang sengaja dipasang Eshar untuk mengunci mulut lancang Nyonya Ratna.
Dengan mengangkat Mayor Bambang sebagai tangan kanannya, Nyonya Ratna tidak akan berani lagi menyebarkan gosip atau berkomplot dengan Daniel di Jakarta.
Jika wanita itu nekat membocorkan informasi pangkalan demi keuntungan pribadi, maka suaminya sendirilah yang akan hancur dan mendekam di penjara militer seumur hidup.
"Siap, laksanakan, Jenderal! Saya akan menjaga rahasia militer dan pangkalan ini dengan taruhan nyawa saya!" jawab Mayor Bambang tegas dengan suara bergetar.
"Bagus," sahut Eshar datar.
"Saya akan sesekali menengok barak ini untuk melakukan inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan. Bubarkan barisan!"
"Siap, bubarkan!"
Satu jam kemudian, sebuah mobil jip militer CJ-7 hitam dengan logo bintang satu di plat nomornya telah terparkir di depan gerbang utama rumah dinas.
Axelo dengan sigap memasukkan beberapa koper pakaian milik Erica dan Eshar ke dalam bagasi belakang.
Erica melangkah mendekati mobil tersebut, mengenakan blus katun biru toska, dia memakai kacamata hitam mendominasi karena ukurannya yang besar, dengan bingkai plastik tebal yang memberikan kesan berani dan keren yang bertengger di hidung mancungnya, memancarkan aura wanita pengusaha kelas atas yang siap bertempur di ibu kota.
Di sampingnya, Eshar berjalan dengan langkah tegap, kembali mengenakan kemeja mode hitamnya yang mencetak jelas tubuh atletisnya yang telah pulih sepenuhnya.
Eshar membukakan pintu penumpang untuk Erica dengan gerakan yang sangat protektif, membuat beberapa prajurit yang berjaga di gerbang menatap mereka dengan tatapan sedikit mengejek, ingin berseru tapi tertahan.
"Semua peringatan sudah terpasang dengan rapi di perbatasan ini, Erica," bisik Eshar saat dia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping istrinya.
Erica menoleh, melepaskan kacamata hitamnya dan menatap wajah tampan suaminya dengan senyuman manisnya yang sangat menawan.
"Dan sekarang, saatnya kita kembali ke Jakarta untuk menarik jaring yang sudah kita pasang, Eshar. Daniel dan Shofia pasti sudah sangat merindukan kehadiran kita."
Mobil jeep militer itu pun perlahan bergerak maju, membelah jalanan tanah perbatasan utara yang mulai kering, menuju jalur utama yang akan membawa mereka kembali ke gemerlapnya Jakarta.
Masa persiapan dan pengisian amunisi yang dingin telah berakhir, dan kini sudah tiba saatnya, sepasang singa perbatasan telah bergerak untuk mengobrak-abrik takhta kesombongan klan Megantara di Menteng.
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂
tp dtggu pake banget kelanjutan ny yx kak ,,
niat hati mau menjatuhkan ,,
eeeh malah jatuh sendri sejatuh2nya ,,
emnk anda berdua cocok menjadi mertua Dan menantu ,,
😒😒😒😒