"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macha Mau Pullang
Derit pintu itu menggema memecah keheningan malam. Memaksa ummi Hannah untuk beranjak, memeriksa siapa gerangan yang datang.
"Lin... ."
Ummi Hannah tercekat saat mendapati Alina tengah berdiri di ambang pintu. Napas perempuan itu memburu. Keringat dingin bahkan kini membasahi dahinya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Lin? Kenapa harus lari-lari? Kamu kan sedang hamil... ."
Namun jerit kecemasan itu hanya di balas dengan gelengan kepala oleh sosok Alina yang terlanjur panik memikirkan sang putri. "Marsha gimana, Teh?"
"Marsha baik. Dia sudah menunggumu dari tadi."
Ummi Hannah menyingkir, memberikan Alina jalan untuk mendekati ranjang.
Di sana, di atas ranjang pasien itu, sosok gadis kecil itu tampak terkulai lemas.
"Sayang... ."
Alina menghambur merengkuh gadis kecil itu dengan perasaan membuncah. Isaknya pecah. Apalagi saat jemari kecil itu perlahan mengusap punggungnya dengan lemah.
"Mommy..." suaranya lemah, nyaris seperti bisikan yang tertelan oleh angin malam.
"Ya, sayang. Mommy disini. Maaf, Mommy terlambat datang."
Ditatapnya gadis kecil itu lamat-lamat. Ada rasa iba yang menjalar di dada. Marsha adalah anak yang sangat aktif. Gadis kecil itu bahkan selalu mengukir senyum di bibirnya yang manis.
Namun, melihat keadaannya saat ini... sungguh memprihatinkan. Wajahnya memucat pasi. Pun dengan tubuhnya yang kini semakin kurus setiap hari.
"Kenapa sayang, hmmm... Marsha haus? Mau minum susu ultra mimi? Mommy ambilkan ya? Mommy sudah belikan banyak sekali untuk Marsha." Alina hendak beranjak, sebelum akhirnya gadis kecil itu kembali berseru.
"Ndak mommy..." Tolak Marsha, diiringi gelengan kepala, lemah.
"Lalu, Marsha mau apa, Sayang? Bilang sama mommy."
Sejenak, ruangan itu mendadak hening. Gadis kecil itu menatap Alina dengan ragu, membuat Alina kemudian berseru. "Kenapa sayang? Kasih tau mommy. Marsha mau apa?"
"Mommy..." panggil Marsha lagi, kali ini suaranya tercekat, menahan isak yang hampir tumpah.
"Ya, sayang..."
"Macha mau pulang, mommy. Ndak mau shini." Isak itu pecah. Marsha akhirnya terisak. Bulir air mata itu bahkan jatuh satu per satu menetes membasahi bantalnya.
Huffft....
Hela nafas terdengar berat, sebelum akhirnya Alina kembali berseru. "Tunggu sampai Marsha sembuh dulu ya, sayang. Nanti kita kembali ke kampung. Marsha nanti bisa bermain lagi sama kak Dira... ."
Gadis kecil itu menggeleng lemah. "Ndak mau. Macha mau pulang shekalang, mommy. Macha ndak mau shini... ."
Hening. Kini hanya terdengar isakan lirih dari sosok Marsha yang memaksa pulang karena tak ingin lagi ada disini. Marsha benar-benar muak. Ia lelah jika setiap hari harus melakukan serangkaian pemeriksaan yang sungguh menyiksa tanpa henti.
Sedang Alina, perempuan itu tampak terdiam seribu bahasa saat tak memiliki alasan satu pun untuk membuat gadis kecil itu bertahan lebih lama lagi.
"Ayo mommy, kita pulang. Macha ndak mau shini... Hiks..." Tangis itu semakin dalam menyayat. Memaksa ummi Hannah untuk mendekat.
"Marsha cantik, tunggu Marsha sembuh dulu ya. Nanti kalau sudah sembuh, kita pulang sama-sama."
Lagi-lagi Marsha menggeleng, pelan. "Ndak mau ummi. Macha mau pulang shekallang! Hiks... ."
Gadis kecil itu menatap pada dua sosok itu bergantian. Namun keduanya sama-sama tak bergeming seolah enggan membawanya pulang.
Membuat Marsha akhirnya nekat.
Dengan tenaga yang tak seberapa, gadis kecil itu memaksakan diri bangkit dari ranjangnya. Ia bahkan menulikan telinga saat sang mommy kini berteriak histeris penuh kekhawatiran.
"Sayang, jangan ya... Nanti infusnya lepas. Ini bisa berdarah... ."
Namun gadis kecil itu menolak menyerah.
Dengan sisa tenaga yang semakin lemah, Marsha masih berusaha bangkit sebelum akhirnya tubuh itu kembali terkulai tak berdaya.
Deru nafas itu memburu. "Macha... mau pulang... Mom-my..." isaknya, lagi. Suaranya tersendat bercampur tangis, terucap patah-patah seolah tenaganya telah di kuras habis. Wajahnya yang memucat pasi kini bahkan dibasahi genangan air mata dan peluh dingin.
"Iya sayang. Nanti kita pulang sama-sama ya..." Alina menahan suaranya yang bergetar karena isak. Dadanya kian sesak, apalagi saat ia mendapati jarum infus itu telah merobek punggung tangan Marsha hingga mengalirkan cairan merah yang pekat.
Bip! Bip! Bip!
Suara monitor di samping ranjang mendadak berbunyi lebih cepat, menandakan detak jantung Marsha yang kian meningkat karena emosi yang tidak stabil.
Alina dengan cepat memencet tombol emergency di dekat kepala ranjang.
Sedang Ummi Hannah, perempuan itu berusaha menenangkan gadis kecil itu dengan membisikkan kalimat penenang berulang kali di telinganya.
"Anak pintar... napasnya pelan-pelan, Sayang. Setelah ini kita pulang ya..." bisik Ummi Hannah lembut.
Tak lama, pintu terdengar dibuka. Menampilkan sosok dokter dengan beberapa perawat yang datang dengan tergopoh
Ummi Hannah menyingkir, membiarkan dokter itu untuk memeriksa Marsha yang masih terengah-engah mencari pasokan udara.
"Dokter, tolong..." Suara Alina tercekat. Manik mata itu menatap penuh harap pada sang dokter yang kini bergerak cepat memasangkan masker oksigen pada wajah kecil Marsha. Sementara perawat di sampingnya kini fokus pada jarum infus yang terlepas.
"Sus, tolong siapkan suntikan penenang dosis rendah," perintah dokter itu cepat pada perawat.
"Dok, putri saya tidak apa-apa kan?"
Dokter itu beralih menatap Alina yang gemetar di samping ranjang.
"Sejauh ini kondisinya masih cukup baik, Bu. Marsha hanya mengalami kelelahan hebat, napasnya sesak karena tadi emosinya sempat memuncak. Untuk sementara, kami suntikkan obat penenang agar kondisinya kembali stabil dan dia bisa beristirahat. Mohon jangan dibiarkan terlalu banyak bergerak dulu ya, Bu."
Dokter itu pun pamit undur diri.
Dan saat itulah, Alina baru menyadari jika laki-laki itu kini hadir disini.
Disana, di dekat pintu, Leon tampak berdiri dengan wajah dingin. Kaki jenjang itu perlahan mendekat.
"Daddy... ."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar