Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 029: Penyesalan dan Luka Lama yang Terbuka
Malam itu Aries pulang dengan langkah gontai, hatinya terasa diremas sakit. Rasa cemburu buta dan ketakutan kehilangan telah membuatnya lupa diri, hingga melukai wanita yang paling ia cintai dan membuka kembali luka lama yang belum sembuh. Ia duduk berjam-jam di teras rumah, menatap kosong ke arah gelap, menyesali setiap kata kasar yang keluar Dari mulutnya.
“Astaga Ris, kenapa kamu begitu bodoh? Itu sama sekali bukan salahnya, tapi kamu malah membentaknya,” gerutunya frustasi sambil mengacak rambutnya. “Maafkan aku sayang, aku sungguh menyesal,” isaknya pelan sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Keesokan paginya, Aries kembali ke rumah Aldara. Ia membawa seikat bunga mawar kesukaan gadis itu dan selembar surat tulisan tangannya sendiri. Ia mengetuk pintu pelan, namun tak ada jawaban.
Tok... Tok... Tok...
Ia paham Aldara butuh waktu sendiri, jadi ia meletakkan bunga dan surat itu di depan pintu, lalu melangkah pergi dengan berat hati.
Di tempat lain, Siska berjalan santai menuju kafe dan tak sengaja melihat Randy duduk di meja sudut. Ia segera menghampirinya.
“Sayang, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu kerja hari ini?” tanya Siska sambil duduk di hadapannya.
Randy terlonjak kaget, kebetulan wanita yang bersamanya tadi baru saja pergi, kalau tidak pasti sudah terjadi keributan. “Tugas sudah selesai lebih cepat, sayang. Kamu mau pesan apa? Aku yang traktir,” jawabnya berusaha tenang.
Namun mata Siska menangkap bekas gelas dan piring tambahan di meja. “Tadi kamu bersama siapa?” tanyanya curiga.
“Cuma teman lama, dia sudah pulang tadi,” jawab Randy santai tanpa rasa bersalah. Siska pun mengangguk pelan, meski keraguan sedikit masih tersisa di hatinya.
Sementara itu, Aldara akhirnya keluar dari kamarnya setelah menenangkan diri seharian. Matanya tertuju pada bunga dan surat di depan pintu. Ia membuka kertas itu perlahan, membaca tulisan tangan Aries yang terlihat bergetar penuh penyesalan: “Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud menyakiti mu. Aku hanya takut kehilanganmu sampai hilang akal sehat. Aku akan menunggu sampai kamu siap bicara denganku.”
Air mata menetes kembali, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena tersentuh. Ia paham kesalahan Aries karena rasa sayang yang berlebihan, meski caranya sungguh salah. Luka lama itu masih terasa perih, namun ia berusaha memaafkan dan memberi kesempatan.
Tak lama ponselnya berdering, Dede Ara menelepon dengan nada cemas. “Kak Dar, kamu baik-baik saja kan? Tadi Abang Chepot bilang Aries tampak sangat sedih dan menyesal seharian ini.”
“Aku baik, Dede. Hanya butuh waktu sebentar saja. Nanti aku akan bicara baik-baik dengannya,” jawab Aldara lembut.
“Syukurlah kalau begitu. Jangan lupa makan dan istirahat ya Kak, jangan memikirkan hal yang bisa bikin kamu sakit,” pesan Dede Ara sebelum menutup telepon.
Di rumah Abang Chepot, Aries pun bercerita dengan hati yang hancur. “Aku benar-benar salah, Bang. Aku tidak sengaja mendengar Randy mengungkapkan perasaannya pada Aldara di warung makan, jadi aku cemburu buta dan malah melampiaskan padanya.”
“Maafkan aku Bang, aku tidak tahu soal itu. Aku benar-benar merasa bersalah,” ucap Aries dengan mata berkaca-kaca.
“Biarkan dia tenang dulu. Nanti saat kalian bicara, jelaskan semuanya dengan lembut, tanpa emosi,” saran Abang Chepot bijak.
"Baik Abang, aku akan menunggu dia sampai mau berbicara lagi denganku.