Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Izin yang Membuat Hati Gelisah
Pagi datang dengan cahaya yang lembut.
Jenna terbangun lebih dulu.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam, mencoba memahami posisi tubuhnya. Ia berada di sisi kanan ranjang, masih terselimuti rapi. Udara kamar terasa dingin, tetapi tidak menusuk. Lampu tidur sudah mati, digantikan cahaya matahari yang masuk tipis melalui celah tirai.
Lalu Jenna sadar.
Shaka tidur di sisi kiri ranjang.
Jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Semalam mereka tidur satu ranjang untuk pertama kalinya.
Jenna menoleh perlahan.
Shaka masih tertidur. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding saat ia terjaga. Tidak ada garis dingin yang biasa mengeras di rahangnya. Tidak ada tatapan tajam yang sering membuat orang segan. Dalam tidur, Shaka terlihat lebih manusiawi. Lebih lelah. Lebih mudah dijangkau.
Jenna menatapnya sebentar, lalu segera mengalihkan pandangan ketika menyadari dirinya terlalu lama memperhatikan.
Ia bangun perlahan agar tidak membangunkan Shaka. Namun gerakan kecil itu tetap membuat Shaka terusik. Laki-laki itu membuka mata perlahan, lalu menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Hening.
Terlalu hening.
“Pagi,” ucap Shaka lebih dulu, suaranya masih sedikit serak.
Jenna menunduk, wajahnya terasa hangat.
“Pagi, Mas.”
Hanya dua kata sederhana, tetapi entah kenapa terdengar begitu canggung. Mereka sama-sama sadar bahwa ada sesuatu yang berubah sejak malam tadi. Tidak besar. Tidak langsung membuat mereka dekat. Tetapi cukup untuk membuat pagi itu terasa berbeda.
Shaka bangun perlahan dan duduk di tepi ranjang.
Jenna merapikan khimarnya, lalu berkata pelan, “Mas, nanti Jenna mungkin pulang agak terlambat.”
Shaka menoleh.
“Kenapa?”
“Besok hari Minggu ada kegiatan bakti sosial di panti asuhan bersama yayasan Kak Sagara. Hari ini Jenna harus menyiapkan bahan untuk sesi kreatif anak-anak. Selain itu, kafe juga biasanya ramai kalau malam minggu.”
Nama Sagara membuat sesuatu di dada Shaka kembali mengeras.
Kak Sagara.
Ia tidak suka mendengarnya.
Tidak suka membayangkan Jenna akan sibuk menyiapkan acara bersama laki-laki itu. Tidak suka mengingat cara Sagara menatap Jenna di kafe beberapa hari lalu. Tatapan itu masih melekat di kepala Shaka seperti gangguan kecil yang tidak mau hilang.
Namun Shaka menahan diri.
Ia tidak boleh membuat Jenna kembali merasa tidak nyaman.
Ia tidak boleh bersikap seperti laki-laki yang tiba-tiba menuntut setelah sebelumnya membangun batas. Ia tidak ingin Jenna kembali menutup diri hanya karena ia tidak mampu mengendalikan rasa cemburu yang bahkan belum berani ia akui.
“Baik,” ucap Shaka akhirnya. “Nanti saya yang jemput.”
Jenna menatapnya.
“Mas tidak perlu repot. Jenna bisa minta sopir.”
“Saya jemput.”
Nada Shaka tetap tenang, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk dibantah.
Jenna menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Baik, Mas.”
Shaka diam sebentar.
Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Awalnya ia ingin menahannya. Namun jika ia diam saja, besok Jenna akan pergi bersama Sagara, dan ia hanya akan duduk gelisah di rumah atau kantor dengan pikiran buruk yang ia buat sendiri.
Akhirnya Shaka berkata, “Besok acaranya jam berapa?”
Jenna tampak sedikit bingung.
“Mulai jam sembilan pagi, Mas.”
“Boleh saya ikut?”
Jenna terdiam.
Benar-benar terdiam.
Ia menatap Shaka seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak mungkin keluar dari mulut laki-laki itu.
“Mas Shaka mau ikut acara bakti sosial?”
“Iya.”
“Di panti asuhan?”
“Iya.”
Jenna masih menatapnya dengan mata terkejut. Selama ini, Shaka selalu tampak dingin, kaku, dan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Membayangkan Shaka berada di tengah anak-anak panti, ikut kegiatan sosial, rasanya sangat jauh dari bayangan Jenna tentang dirinya.
“Kenapa tiba-tiba ingin ikut?” tanya Jenna pelan.
Shaka sempat terdiam.
Karena aku tidak suka kamu bersama Sagara.
Kalimat itu hampir keluar.
Namun ia menahannya.
“Karena saya ingin tahu kegiatanmu,” jawab Shaka akhirnya.
Jenna menatapnya lebih lama.
Jawaban itu sederhana, tetapi terasa berbeda.
Selama ini, Shaka selalu menjaga jarak dari hidupnya. Ia tidak bertanya terlalu banyak tentang kafe, tentang kegiatan sosial, tentang apa yang membuat Jenna bahagia. Namun pagi ini, Shaka justru ingin ikut.
Jenna tidak tahu apakah itu karena cemburu, rasa ingin tahu, atau usaha kecil untuk mendekat.
Tetapi ia memilih menerimanya sebagai langkah baik.
“Boleh,” ucap Jenna.
Shaka menatapnya.
“Benar?”
Jenna mengangguk. “Iya. Kalau Mas Shaka memang mau ikut, Jenna senang.”
Kata senang itu membuat Shaka diam sesaat.
Bukan ucapan besar. Namun untuk pertama kalinya, Jenna tidak menjawabnya dengan datar. Ada sedikit kelembutan di sana. Sedikit saja, tetapi cukup membuat dada Shaka terasa lebih ringan.
“Baik,” ucapnya pelan. “Besok saya ikut.”
Jenna mengangguk.
Pagi itu, mereka bersiap seperti biasa. Masih ada kecanggungan, tetapi tidak lagi sepenuhnya dingin. Saat sarapan, Jenna sesekali menjelaskan tentang kegiatan esok hari. Anak-anak panti akan membuat kartu harapan, menghias tote bag kecil, dan merangkai bunga sederhana. Shaka mendengarkan tanpa banyak komentar.
Namun diamnya kali ini bukan diam mengabaikan.
Ia benar-benar mendengarkan.
Di kantor AZ Global Enterprises, Shaka terlihat tidak seperti biasanya.
Ia duduk di kursi kerjanya, tetapi pandangannya beberapa kali kosong. Laptop terbuka di hadapannya. Dokumen sudah tertata rapi. Namun sejak tadi, pikirannya justru kembali pada percakapan pagi tadi.
Kalau Mas Shaka memang mau ikut, Jenna senang.
Kalimat Jenna terus terulang dalam kepalanya.
Jenna senang.
Hanya karena ia ingin ikut kegiatan yang penting bagi perempuan itu.
Shaka menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap jendela besar di ruang kerjanya. Kota tampak sibuk di bawah sana, tetapi ia justru memikirkan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia pedulikan.
Anak-anak panti.
Bakti sosial.
Sesi kreatif.
Jenna yang menyiapkan bahan dengan teliti.
Dan tentu saja, Sagara.
Rahang Shaka mengeras sedikit.
Pintu ruang kerjanya diketuk dua kali, lalu terbuka.
Rafa masuk membawa map dokumen.
“Ka, tanda tangan dulu.”
Shaka tidak langsung menjawab.
Rafa berhenti di depan meja, memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak melamun.
“Wah.”
Shaka mengangkat mata. “Apa?”
“Parah.”
“Rafa.”
“Belum juga gue ngomong.”
“Wajah lo sudah mengganggu.”
Rafa meletakkan map di meja dan menyeringai.
“Lo melamun.”
“Saya sedang berpikir.”
“Dulu kalau lo berpikir, aura lo mengancam direksi. Sekarang aura lo kayak suami baru yang bingung cara mendekati istri.”
Shaka menatap Rafa tajam.
Rafa mengangkat tangan.
“Benar, kan?”
“Diam.”
“Gue tebak.” Rafa menarik kursi tanpa diminta, lalu duduk di depan Shaka. “Ini soal Bu Jenna.”
Shaka membuka map dan mengambil pulpen.
“Dokumen mana yang harus ditandatangani?”
Rafa menunjuk beberapa bagian, tetapi mulutnya tetap berjalan.
“Lo tahu, Ka, sejak nikah ekspresi lo makin lucu.”
Shaka mendelik.
“Lucu?”
“Iya. Dulu dingin karena memang dingin. Sekarang dingin tapi panik. Ada lapisan baru.”
“Rafa.”
“Gue sebagai sahabat bangga. Akhirnya CEO es batu mulai mencair.”
Shaka menandatangani halaman pertama dengan gerakan tegas.
“Bonus lo bulan ini bisa saya potong.”
Rafa langsung pura-pura serius.
“Baik, Pak. Dokumen kedua di halaman tiga.”
Shaka berdecak kesal.
Namun Rafa tidak benar-benar berhenti.
“Jadi, kenapa melamun? Bu Jenna marah lagi? Atau lo akhirnya sadar dia terlalu baik buat lo?”
Tangan Shaka berhenti sebentar.
Rafa menangkap jeda itu.
“Nah. Kena lagi.”
Shaka menatapnya dingin.
“Besok saya ikut kegiatan bakti sosial Jenna.”
Rafa membeku.
Lalu wajahnya berubah penuh minat.
“Sebentar. Lo? Arshaka Zayd Kalandra? Ikut bakti sosial? Bersama anak-anak panti?”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Gue cuma sedang memastikan dunia belum kiamat.”
“Rafa.”
“Ini karena lo ingin mendukung istri atau karena ada laki-laki lain di sana?”
Shaka diam.
Rafa langsung menunjuknya.
“Ha! Ada laki-laki.”
Shaka menutup map dengan suara cukup keras.
“Jaga ucapan.”
“Siapa namanya?”
“Bukan urusan lo.”
“Berarti benar ada.”
Shaka menyipitkan mata. “Kalau tanda tangannya sudah selesai, keluar.”
Rafa mengambil map sambil tertawa pelan.
“Ka, saran gue cuma satu. Kalau cemburu, jangan bentuknya jadi interogasi. Nanti Bu Jenna makin jauh.”
Shaka terdiam.
Rafa berdiri, lalu menambahkan dengan nada lebih serius, “Datang saja. Lihat dunianya. Bukan buat mengawasi, tapi buat mengenal. Itu beda.”
Setelah itu Rafa berjalan keluar.
Shaka menatap pintu yang tertutup.
Untuk sekali ini, ia tidak menyangkal dalam hati.
Mungkin Rafa benar.
Ia harus datang bukan hanya karena Sagara.
Tetapi karena Jenna.
Karena jika ia ingin Jenna percaya, ia juga harus mulai mengenal dunia yang selama ini membuat Jenna menjadi dirinya.
Sementara itu, Jenna’s Bloom Café sedang jauh lebih ramai dari biasanya.
Hari itu malam minggu.
Sejak sore, pelanggan terus berdatangan. Ada pasangan muda yang duduk di sudut dekat jendela, sekelompok mahasiswi yang sibuk berfoto dengan dessert mereka, beberapa pekerja kantoran yang mampir membeli kopi, dan pelanggan tetap yang datang memesan buket bunga untuk hadiah malam minggu.
Di sisi flower shop, pesanan buket menumpuk.
Naya nyaris tidak berhenti merangkai bunga. Alya bolak-balik mencatat pesanan dan memastikan pembayaran. Amanda sibuk mengantar minuman dan makanan ringan. Kevin berdiri di balik mesin kopi dengan ekspresi pasrah karena pesanan latte dan iced coffee terus masuk tanpa jeda. Arya di dapur bahkan beberapa kali keluar hanya untuk memastikan stok makanan ringan masih cukup.
Jenna berdiri di tengah semua kesibukan itu.
Di satu meja, ia menyiapkan bahan untuk acara bakti sosial besok. Ada tote bag polos kecil, cat kain, kuas, pita warna-warni, stiker, kertas kartu harapan, spidol, lem, gunting tumpul khusus anak-anak, serta beberapa bunga kering yang akan dipakai untuk hiasan sederhana.
Di meja lain, beberapa buket pesanan masih harus ia cek.
“Naya, buket dusty pink untuk pelanggan atas nama Rania sudah selesai?”
“Sebentar lagi, Kak. Tinggal wrapping.”
“Alya, tolong cek paket kreativitas anak-anak. Jumlah tote bag harus lima puluh, jangan kurang.”
“Siap, Kak.”
“Kevin, pesanan meja tujuh sudah keluar?”
“Dua iced latte lagi, Kak. Mesin kopinya juga butuh napas.”
Amanda lewat membawa nampan. “Mesin kopi aja butuh napas, apalagi kita.”
Arya dari dapur menyahut datar, “Jangan dramatis. Kerja.”
Kevin menatap Arya. “Mas Arya, hatimu dari stainless steel ya?”
Jenna hampir tertawa, tetapi langsung kembali fokus ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Sagara.
Kak Sagara:
Jen, bahan untuk sesi kreatif sudah aman? Kalau ada yang kurang, aku bisa bantu belikan.
Jenna membalas singkat.
Jenna:
Insyaallah aman, Kak. Jenna sedang cek ulang jumlahnya.
Beberapa detik kemudian, Sagara membalas.
Kak Sagara:
Jangan terlalu lelah. Besok acaranya cukup padat.
Jenna menatap pesan itu sejenak.
Ia hendak membalas, tetapi pesan lain masuk dari Shaka.
Mas Shaka:
Jam berapa selesai?
Jenna membaca pesan itu, lalu menjawab.
Jenna:
Mungkin agak malam, Mas. Kafe ramai dan Jenna masih menyiapkan bahan acara besok.
Balasan Shaka datang tidak lama kemudian.
Mas Shaka:
Kabari kalau sudah hampir selesai. Saya jemput.
Jenna menatap layar ponselnya.
Untuk beberapa detik, hatinya terasa hangat.
Sederhana. Tetap singkat. Tetapi perhatian itu mulai terasa lebih nyata.
Naya yang melihat Jenna diam sambil menatap ponsel langsung menyenggol pelan lengannya.
“Dari Pak Shaka, ya?”
Jenna mengunci layar.
“Naya, buketnya sudah selesai?”
Naya tersenyum jahil.
“Belum. Tapi pipi Kak Jenna sudah duluan merah.”
“Naya.”
“Iya, iya. Aku kerja.”
Jenna menggeleng kecil, tetapi senyum tipis muncul di wajahnya.
Meski lelah, sore itu ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
Besok Shaka akan ikut dengannya ke panti.
Ia masih belum tahu bagaimana sikap Shaka di sana. Ia tidak tahu apakah laki-laki itu akan nyaman berada di tengah anak-anak, atau justru kaku seperti biasa. Ia juga belum tahu bagaimana suasana nanti saat Shaka bertemu Sagara lagi.
Tetapi untuk pertama kalinya, Shaka ingin masuk ke salah satu bagian dari hidup Jenna.
Dan bagi Jenna, itu adalah langkah kecil yang cukup berarti.
Di tengah aroma kopi, wangi bunga, suara pelanggan, dan tumpukan bahan kreativitas untuk anak-anak panti, Jenna diam-diam berdoa.
Semoga besok berjalan baik.
Semoga Shaka melihat sisi hidupnya yang lain.
Dan semoga, dari sana, jarak yang pernah mereka bangun bisa semakin pendek sedikit demi sedikit.