tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Kak Aksa Yang Berbeda
Aku hanya diam, saat kak Aksa berbicara. "Lagian kenapa dia marah coba, selama ini kemana aja dia."ungkap Bintang dalam hati.
"Kenapa kamu diam Bintang. Apa kamu nggak dengar kata kakak."
"Dengar kak, tapi boleh Bintang ngomong nggak kak!"
"Ya, ngomong aja."
"Begini kak, bukan Bintang nggak mau pakai black card yang kakak berikan untuk keperluan pribadi Bintang. Tapi pernikahan kita ini hanya sementara, jadi Bintang beranggapan tidak ada kewajiban kakak untuk memberikan nafkah kepada Bintang. Lagian Bintang ada uang kok kak."
"Jadi kamu anggap pernikahan kita hanya main main!"
Dan aku hanya menggelengkan kepala ku menjawab ucapan kak Aksa."Bukan begitu kak. Tapi Bintang hanya tidak ingin ketergantungan nanti dengan kakak jika kita nanti berpisah. Tujuan Bintang hanya ingin mandiri. Selama Bintang tinggal di apartemen ini lah Bintang belajar hidup mandiri kak. Bintang bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa pun."jawab ku ke kak Aksa.
"Deg." Kenapa rasanya hati ku sakit kala Bintang ngomong kalau dia selama di apartemen ini baru belajar mandiri. Apakah selama ini begitu buruk kah aku memperlakukannya. Padahal fasilitas sudah ku berikan. Jadi apa yang kurang."
"Kak Aksa, kak. Kenapa kakak diam. Jika Bintang melakukan kesalahan, Bintang minta maaf ya kak. Karena satu tahun lagi Bintang selesai sekolah, Bintang harap kita dapat mengakhiri pernikahan kita ini kak. Agar tidak ada rasa sakit hati diantara kita. Lagian Bintang juga ingin fokus dengan pendidikan Bintang. Dan kak Aksa juga harus fokus dengan pendidikan kakak."
"Jawab kakak, apa yang selama ini kakak lakukan kepada kamu. Hingga kamu memcoba belajar mandiri, seolah olah kamu nggak butuh kakak."
"Apa perlu Bintang jawab kak? Apa kakak nggak ngerasa tindakan kakak selama ini ke Bintang." Dan dijawab gelengan oleh kak Aksa. "Ingin rasanya ku tempeleng kepala nya kak Aksa. Dia merasa jadi orang yang nggak merasa bersalah sama sekali. Kenapa banyak wanita yang suka modelan cowok kayak ini ya. Ganteng sih ganteng, tapi jika nggak berperasaan buat apa."gumam ku dalam hati.
"Apa boleh Bintang jujur."
"Ya kamu harus jujur sama kakak."
"Apa nanti kakak nggak marah jika Bintang jujur."ucap ku sedikit pelan.
"Nggak akan Bintang. Malah kakak mau kamu bicara jujur walau nantinya buat kakak nggak suka dengarnya."
"Bintang mencoba belajar mandiri pas kita baru pindah ke apartemen ini kak. Dimana pas pertama kita sampai sini, dan dihari itu juga aku kakak tinggalkan sendiri di apartemen ini dengan cuaca yang kurang bagus. Terus terang waktu itu Bintang sangat takut dengan lingkungan baru dan nggak ada orang sama sekali ditambah dengan adanya kilat dan petir membuat Bintang takut. Dan dari sanalah Bintang bertekat kalau Bintang hanya bisa mengandalkan diri sendiri disini. Dan Bintang harus bertahan sedikit lebih lama lagi sampai Bintang tamat sekolah."aku menunduk menceritakan apa yang aku rasakan kepada kak Aksa.
"Tapi itu sudah berlalu kak. Dan akhirnya Bintang bisa sendiri kok. Jadi nanti pas kita berpisah, Bintang nggak canggung lagi hidup sendiri. Karena Bintang sudah terbiasa mau apa pun sendiri."
"Ingat Bin, kakak nggak akan berpisah dari kamu, jika diantara kita belum ada yang menemukan cintanya. Ingat itu, dan mulai saat ini kamu harus ceritakan apa pun sama kakak. Jika mau minta bantu kamu omongin aja sama kakak. Dan juga kakak minta maaf atas sikap kakak selama ini. Apa kamu mau maafin kakak?"
"Bintang sudah lama kok maafin kakak. Malah Bintang berterima kasih pada kakak, karena dengan begitu Bintang bisa mandiri kak."
"Ya sudah jangan dibahas lagi. Karena perut kakak lapar, yuk kita cari makanan di luar aja."
"Nggak usah keluar kak, biar Bintang masakin aja."
"Nggak, kakak hari ini maunya makan di luar dan kamu juga ikut. Kakak nggak mau penolakan keluar dari mulut mu. Ya udah kamu siap siap lagi. Kakak tunggu disini, biar kita turun barengan"
"Baik kak. Kalau gitu Bintang hanya ambil hoodie sama hp aja bentar."
Aku dan kak Aksa menuju ke tempat motor kak Aksa di parkir di apartemen ini. Aku merasa canggung kalau berjalan bersama kak Aksa, jadi aku mengekori kak Aksa aja dari belakang. Hingga kak Aksa menarik tangan ku agar kami berjalan beriringan.
"Kenapa kamu berjalan di belakang kakak. Apa kamu nggak suka jalan beriringan dengan kakak."
"Bukan begitu kak." Ucap ku sambil menundukkan kepala ku.
"Kalau ngomong sama kakak tu, lihat wajah dan tatap mata kakak. Apa wajah kakak ada dibawah sana hingga kamu ngomongnya menunduk gitu."
"Nggak kak. Hanya saja Bintang nggak terbiasa kak."
"Dan mulai sekarang, kamu harus biasakan. Ingat itu."
"Iya kak." Aneh kak Aksa, kenapa hari ini dia banyak bicara ya. Apa dia salah makan ? Lagian kenapa sikapnya berubah pas ketemu di mini market tadi. Apa gara gara black cardnya ya. Kan kak Aksa juga yang diuntungkan jika aku nggak boros. Emang aneh ni orang. Disaat aku belajar nggak butuh dia, eh malah dia yang nawari agar aku mengandalkan nya. Emang agak laen kak Aksanya."gumam ku dalam hati.
"Kenapa kamu diam. Apa ada yang kamu butuh kan ?"
"Nggak kak. Oh ya kak, kita mau makan dimana ?"
"Kamu mau makan apa?"
"Bintang nggak milih milih makanan kok kak. Tapi kalau bisa, makan yang dekat ini saja ya kak. Soalnya Bintang mau belajar. Kan ujian kenaikan kelas tinggal tiga hari lagi."
"Baik lah. Kalau gitu kita makan pical ayam pinggir jalan ini aja. Apa kamu nggak keberatan?"
"Boleh juga kak. Kayaknya enak deh, soalnya banyak yang makan disana."ucap ku sambil tersenyum pada kak Aksa.
"Ni anak nggak memilih tempat dimana mau makan. Dia nggak jijik sama sekali mau makan dipinggir jalan seperti ini. Nggak sama dengan Tia. Kalau Tia, pasti akan nolak kalau makan di tempat seperti ini. Pasti dia akan koment"masakan nggak higenis lah atau tempatnya kotor lah". Ngapain juga aku ingat dia..uh."gumam Aksa dalam hati.
"Kamu mau makan apa Bin?"
Ya kebetulan di tempat ini menyediakan banyak menu. Dan aku jadi bingung mau pilih yang mana. "Kak, Bintang mau pesal pical ayam aja sama es teh kak."
"Ok, kita samakan aja. Mang, pical ayam 2 porsi dan minumnya satu es teh satunya lagi es jeruk."
"Ok den, tunggu bentar, mamang ambilkan dulu."tak berapa lama, makan kami sampai juga.
"Makasih ya mang."ucap ku dengan senyuman.
"Iya neng gelis. Wah pacarnya aden, sudah cantik suka senyum lagi. Beruntung ya den punya pacar seperti neng ini."
"Bu.."aku ingin menjawab, tapi sudah di dahulukan olen kak Aksa menjawabnya."Iya mang, makasih pujiannya."
Aku malah bengong dengan jawaban kak Aksa. Kesambet apa coba kak Aksa. "Kenapa sikapnya bisa berobah secepat ini. Apa nanti dia nggak balik lagi kesetelan awalnya jadi kulkas empat puluh pintu."gumam ku dalam hati.
Akhirnya kami makan dengan tenang. Setelah kami kenyang akhirnya kami kembali ke apartemen. Aku masuk ke kamar ku dan kak Aksa juga masuk kekamarnya.
Ku ganti lagi pakaian ku seperti tadi pas aku tidur. Ya karena aku tidur suka pakai ten top dan celana pendek. Atau kadang aku tidur hanya pakai daster tali satu saja.