Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 – Empat Warna, Satu Tujuan
Keheningan menyelimuti Arena Celestia untuk sesaat sebelum akhirnya suara Kepala Akademi Aldric menghilang ditelan angin pagi. Kini, tak seorang pun bergerak, puluhan murid yang berdiri di tengah arena hanya saling berpandangan dengan ekspresi rasa ingin tahu.
Para murid sadar bahwa mulai detik itu, setiap keputusan yang mereka ambil akan menentukan apakah mereka pantas menjadi bagian dari Tim Elit Aetherion. Matahari mulai melihatkan wujudnya di balik pegunungan sebelah Timur dengan memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan batu putih Arena Celestia.
Kristal-kristal yang menggantung di udara memancarkan cahaya yang lembut, membuat seluruh arena terlihat begitu megah sekaligus sakral. Aurelia menarik napas perlahan, ia dapat merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut, namun ia merasa begitu gugup.
Ujian seleksi ini merupakan hal pertama yang diikuti olehnya sejak menjadi murid Akademi Aetherion. Di sampingnya, Lyra masih terlihat santai, gadis berambut merah muda itu bahkan masih menikmati lollipop rasa anggurnya seraya membolak-balikkan buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa ke mana pun.
“Kau benar-benar tidak pernah lupa membawa buku itu, ya?” gumam Aurelia seraya tersenyum kecil.
“Kalau lupa membawa buku, aku masih bisa membeli buku baru.” Jawab Lyra santai.
“Lalu, kalau lupa membawa lollipop bagaimana?” Aurelia bertanya lagi dengan penasaran.
“Aku akan pulang. Karena lollipop ini adalah sumber inspirasiku. Dulu, aku menemukan tiga belas rumus ilusi seraya menghabiskan sekotak permen anggur.” Terang Lyra dan membuat Aurelia terkejut akan hal itu. Kemudian, keduanya pun tertawa bersama.
Entah kenapa, setiap kali bersama Lyra, dan mungkin lebih tepatnya, sifat Lyra selalu mampu mencairkan suasana, sehingga rasa gugup yang tengah dirasakannya pun perlahan menghilang. Sedangkan di tribun atas, Profesor Elowen tampak memperhatikan keduanya seraya tersenyum tipis.
“Mereka tampak akrab,” ungkapnya yang tidak mengalihkan pandangannya dari Aurelia dan juga Lyra yang terlihat masih saling melempar tawa.
“Itu merupakan suatu keuntungan. Karena dalam festival bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang mampu mempercayai rekannya.” Terang Cedric yang juga ikut memandang ke arah dua gadis itu.
Aldric yang berdiri tak jauh dari mereka pun tidak berkomentar apa-apa, tatapannya justru menyapu seluruh Arena Celestia. Disana, ia tidak hanya memperhatikan para peserta yang tengah berkumpul, melainkan juga setiap perubahan aliran energi sihir yang mengelilingi Akademi Aetherion, karena entah kenapa sejak pagi, perasaannya tidak bisa benar-benar tenang.
Kini, professor Cedric kembali melangkah ke tengah arena seraya mengangkat tongkat sihirnya dengan begitu tinggi. “Sudah waktunya,” begitulah ucapnya. Dan suara itu langsung membuat seluruh peserta kembali fokus.
Tongkat sihir Cedric memancarkan cahaya kebiruan yang perlahan membentuk puluhan bola cahaya kecil. Bola-bola itu melayang di atas kepala para peserta seperti kunang-kunang dan beberapa murid disana mendongak kebingungan.
“Apa itu?” Keriuhan seperti itu kembali terdengar saat melihat bola-bola di atas kepala mereka.
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban sama sekali, lebih tepatnya, saat jawaban belum diterima, setiap bola cahaya itu justru berubah warna. Bola-bola itu memiliki empat warna yaitu, ada merah, biru, hijau, dan emas.
“Mulai saat ini, kalian telah dibagi ke dalam kelompok sementara, bukan sebuah tim resmi.” Ucap Profesor Cedric seraya tersenyum tipis. “Hanya kelompok yang akan kami gunakan untuk melihat bagaimana kalian bekerja sama.” Bisik-bisik kembali memenuhi arena.
“Kelompok sementara? Berarti nanti masih bisa berubah?” Cedric mengangguk menanggapi pertanyaan itu.
“Kalau begitu kita tidak boleh sembarangan.” Seru murid lainnya.
Kini, Aurelia mendongakkan kepalanya, dan di atasnya melayang cahaya biru. Lyra ikut mendongakkan kepala dan ia memiliki warna yang sama dengan Aurelia. Keduanya saling berpandangan dan mereka tampak bersyukur akan hal itu.
“Setidaknya, aku tidak perlu beradaptasi sendirian.” Gumamnya seraya terkekeh. Belum selesai ia bicara, dua bola cahaya biru lain bergerak mendekat.
Seorang pemuda bertubuh tinggi berjalan dengan langkah tenang, rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan tertiup angin pagi. Di punggungnya tergantung sebuah busur panjang berwarna hitam dengan ukiran daun-daun perak di sepanjang sisinya, tatapannya tajam, namun tidak dingin dan ia berhenti tepat dihadapan Aurelia.
“Aku Aeron Solstice,” sapanya singkat. “Aku mendapat warna yang sama dengan kalian.” Nada bicaranya terdengar tenang, namun juga nyaris terdengar datar dan hal itu membuat Lyra menatap Aurelia sedikit.
“Dia hemat kata,” bisik Lyra dan Aeron yang mendengar hal itu pun langsung berdeham.
“Bukan. Aku hanya tidak pandai membuka percakapan.” Mendengar kejujuran itu justru membuat Aurelia langsung tersenyum ramah pada pria dihadapannya.
“Tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu.” Aeron mengangguk kecil, dan beberapa detik kemudian langkah kaki pelan terdengar dari belakang mereka.
Seorang gadis mungil berjalan seraya memeluk sebuah buku mantra yang ukurannya hampir setengah tubuhnya sendiri. Rambut hitam kebiruannya terurai hingga pinggang dengan pita berwarna ungu menghiasi sisi rambutnya.
Bola cahaya biru juga melayang di atas kepalanya. Gadis itu terlihat sangat gugup ketika tiba dihadapan Aurelia, Lyra dan juga Aeron yang belum lama tiba.
“A-aku..” ia menundukkan kepalanya. “.. Selene Vaeloria. Salam kenal.” Suaranya begitu pelan hingga hampir tenggelam karena desiran angin yang menyapu saat itu, lalu Lyra pun tersenyum lebar ketika kelompoknya telah lengkap.
“Tim kita sudah lengkap,” mendengar kalimat itu membuat Selena terkejut karena mendapatkan sambutan hangat yang diberikan oleh Lyra.
“Apa kalian tidak keberatan satu tim denganku?” Ucapan Selene itu langsung mendapat gelengan dari Aurelia.
“Kenapa harus keberatan?” Tanya Aurelia tak mengerti.
“Aku…” Selene menatap buku yang dipeluknya. “.. karena aku sering di anggap terlalu lambat.” Sambungnya lagi yang masih menundukkan kepalanya.
“Kecepatan bisa dilatih, namun kejujuran lebih sulit ditemukan.” Sahut Aeron dan hal itu membuat Selene mengangkat wajahnya. Tatapan gadis itu sedikit lembut, dan Lyra langsung menyenggol bahu Aurelia pelan.
“Sepertinya aku mulai suka tim ini,” Aurelia mengangguk kecil, karena ia juga merasakan hal yang sama. Mereka mungkin memang baru saling mengenal, namun tidak ada kesan saling meremehkan. Tidak ada yang berusaha menunjukkan dirinya paling hebat dan untuk pertama kalinya Aurelia mulai membayangkan bagaimana rasanya bertarung bersama mereka.
Di sisi lain Arena, kelompok merah juga telah berkumpul. Caelum Velrath berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jubahnya. Tiga murid lain tampak sibuk menyusun strategi, namun pemuda berambut putih itu sama sekali tidak ikut berdiskusi, karena tatapannya berkali-kali teralihkan ke arah kelompok biru.
“Jadi mereka yang dipilih. Menarik.” Batinnya dan sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya.
Di sisi lain Arena Celestia, Kael yang sejak tadi memperhatikan adiknya menyadari arah pandang Caelum. Rahangnya mulai mengeras dan Lucien ikut mengikuti arah tatapan itu.
“Dia lagi.” Gumam Lucien. “Aku sudah bilang, dia bukan sedang mengamati pertandingan, tapi dia mengamati Relia.” Rowan menghela napas panjang.
“Aku mulai tidak menyukai anak itu. Tidak. Aku sudah tidak menyukainya sejak awal.” Pungkas Kael yang tidak mengalihkan pandangannya.
Profesor Cedric mulai kembali mengangkat tongkat sihirnya, dan seluruh peserta langsung menoleh ke arahnya. “Perhatikan baik-baik. Kalian tidak akan melawan satu sama lain, tidak hari ini. Musuh pertama kalian adalah sesuatu yang bahkan tidak mengenal belas kasihan.” Beberapa murid spontan menelan air liurnya.
Profesor Lyren menjentikkan jarinya dan tiba-tiba tanah Arena Celestia pun bergetar. Getarannya begitu kuat hingga beberapa kerikil kecil melompat dari permukaan tanah. Selene tanpa sadar memegangi lengan Aurelia.
“Apa yang terjadi?”
“Aku tidak tahu,” jawab Aurelia yang juga bingung.
Retakan panjang mulai muncul di tengah arena, suara batu yang bergesekan terdengar semakin keras. Salah satu dinding batu di sisi utara arena pun sampai runtuh hingga membuat kepulan debu yang memenuhi udara.
Angin berhembus membawa serpihan batu ke berbagai arah, semua peserta memasang posisi bertahan dan tak seorang pun berani berkedip. Lalu, dibalik kepulan debu itu muncul sebuah tangan raksasa yang tersusun dari batu hitam.
Tangan raksasa itu kemudian di susul dengan kemunculan sebuah lengan dan bahunya, kemudian tubuh setinggi hampir empat meter itu perlahan bangkit dari balik reruntuhan. Retakan-retakan bercahaya biru memenuhi seluruh tubuhnya dan sepasang mata merah menyala terbuka perlahan.
“RAAAAAGGGHHHH!” Suara raungannya itu mengguncang Arena Celestia, bahkan kaca-kaca kristal di tribun ikut bergetar hebat. Beberapa murid tahun pertama refleks mundur selangkah dan hal itu membuat professor Cedric tersenyum tipis.
“Perkenalkan. Ini adalah Golem Penjaga. Makhluk yang diciptakan khusus untuk menguji kerja sama para penyihir.”
Aurelia merasakan telapak tangannya mulai berkeringat, ia perlahan menarik tongkat Astralis dari pinggangnya, dan kristal di ujung tongkat itu mulai memancarkan cahaya putih lembut. Di sampingnya, Aeron memasang anak panah pertama pada busurnya.
Lyra menutup buku catatannya seraya memasukkan kembali lollipop ke dalam mulutnya. Sedangkan Selene membuka halaman pertama buku mantranya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Empat murid yang baru saling mengenal beberapa menit lalu, kini harus menghadapi musuh pertama mereka sebagai sebuah kelompok, dan tanpa disadari oleh siapapun seekor burung gagak berwarna hitam masih berputar-putar tinggi di atas langit Akademi Aetherion dengan sepasang mata merahnya yang tak pernah lepas dari satu sosok—Aurelia Evandria.