NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Berusaha Ikhlas

Sebelum masuk ke lobi, Jena menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Aku harus tenang. Tidak boleh kelihatan sedih. Apalagi hancur. Kata Mas Toto juga, nggak usah nangisin si tukang PHP. Lupakan, tinggalkan," monolognya seraya membuang napas sekali lagi. "Bismillah!" Jena melangkahkan kaki.

Ketika sampai di lobi, Grace langsung menggodanya. "Gimana makan malam spesialnya, Mbak Jen? Lancar kan?"

Jena memaksakan bibirnya tersenyum. "Ya gitu deh, Mbak Grace."

"Roman-romannya lancar ya, Grace," timpal Pak Sunarto, satpam yang berjaga.

"Hehe ..." Jena menyengir. "Saya ke atas dulu ya." Ia melanjutkan langkahnya.

"Oke, Mbak. Ditunggu undangannya ya!" teriak Grace diiringi tawa.

Jena mengacungkan jempolnya tanpa menoleh lagi. "Undangan apaan?" senyumnya kecut.

Jena menekan tombol lift. Tak lama kemudian, pintunya terbuka dengan bunyi ting pelan. Ia melangkah masuk seorang diri. Begitu pintu lift menutup rapat, senyum tipis yang sedari tadi dipaksakan perlahan memudar. Bahunya yang semula tegak kini sedikit merosot.

Jena menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Pandangannya kosong menatap angka digital yang terus berganti menuju lantai apartemennya.

"Kenapa sih rasanya tetap sakit?" gumamnya lirih. Ia menggigit bibir bawah, berusaha menahan sesak yang kembali memenuhi dadanya.

Bayangan makan malam tadi terus berputar di kepalanya ... harapan yang sempat tumbuh, lalu hancur hanya dalam hitungan menit. "Nggak boleh nangis ..." bisiknya mengingat ucapan Toto. "Mas Toto benar. Buat apa nangisin orang yang cuma kasih harapan palsu?" Jena mengusap sudut matanya cepat-cepat saat terasa mulai memanas. Ia mengangkat dagunya, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Aku harus kuat. Besok semuanya akan baik-baik saja."

Lift berhenti di lantai lima belas.

Jena kembali memasang wajah setenang mungkin sebelum melangkah keluar. Lorong apartemen tampak lengang. Suara langkah kakinya bergema pelan hingga akhirnya ia tiba di depan unitnya.

Ia merogoh tas, mengambil kartu akses, pintu apartemen terbuka. Begitu pintu tertutup di belakangnya, seluruh kepura-puraan yang sejak tadi ia pertahankan seakan runtuh dalam sekejap.

Jena bersandar lemah di balik pintu yang baru saja ditutupnya. Tas di tangannya perlahan terlepas dan jatuh begitu saja ke lantai.

Ruangan itu sunyi. Namun, justru di dalam kesunyian itulah kenangan-kenangan tentang Jovian kembali bermunculan tanpa bisa ia cegah.

Tatapannya beralih ke sofa di ruang tengah.

Di sanalah Jovian selalu duduk sambil bercanda dengannya hingga mereka tertawa bersama. Ia masih ingat bagaimana pria itu kerap kali menggodanya hanya untuk melihatnya cemberut, lalu berakhir dengan permintaan maaf yang diselingi senyum manis.

Langkah Jena mengayun ke ruang makan. Pandangannya terpaku di sana.

Di tempat itu pula mereka pernah menikmati makanan sambil saling bercerita tentang hari yang mereka lalui. Bahkan secangkir kopi yang dibuat Jovian saat itu sempat membuatnya tersenyum sepanjang malam.

Jena memejamkan mata sejenak, tetapi bayangan lain kembali datang.

Jovian yang berdiri memakai celemek sambil bersikeras memasak meski hasilnya nyaris membuat dapur berantakan. Wajahnya yang penuh tepung, tawanya yang lepas, dan ekspresi bangga saat masakannya akhirnya berhasil. Semuanya terasa begitu nyata.

Jena membuka mata perlahan. Dadanya kembali sesak. "Kenapa ... kenapa semuanya harus ngingetin aku sama kamu?" bisiknya lirih. Ia menoleh ke setiap sudut apartemen. Hampir tak ada satu pun tempat yang tidak menyimpan jejak kebersamaan mereka.

Setiap langkah, setiap sudut, seolah menyimpan potongan kenangan yang kini berubah menjadi pisau, mengiris hati yang sedang berusaha sembuh.

Jena menundukkan kepala. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh setetes demi setetes membasahi pipinya. "Gimana caranya aku lupa sama Jovian kalau seluruh isi apartemen ini penuh sama kenangannya?" Ia tertegun sejenak, sebelum melangkah gontai menuju kamarnya. Jemarinya yang gemetar mendorong daun pintu hingga terbuka perlahan.

Begitu memasuki kamar, langkahnya seketika terhenti. Tatapannya menyapu setiap sudut ruangan. Dan lagi-lagi ... kenangan itu datang tanpa permisi.

Seolah sebuah reka ulang diputar tepat di depan matanya.

Ia seakan melihat Jovian berdiri di dekat jendela sambil melipat kedua tangan di dada, tersenyum jahil saat menggodanya. "Sini, Sayang."

Lalu bayangan itu berganti.

Jovian duduk di tepi ranjang, sementara Jena bersandar di bahunya. Mereka menghabiskan waktu hanya dengan mengobrol, saling bercerita tentang hal-hal sederhana yang membuat keduanya tertawa.

Kenangan lain kembali menyusul.

Saat mereka sama-sama tertidur karena kelelahan setelah menonton film hingga larut malam. Ketika terbangun, mereka justru saling mengejek wajah kusut masing-masing.

Kemudian muncul lagi momen saat Jovian mengusap lembut rambutnya sambil berkata bahwa Jena harus lebih banyak beristirahat dan tidak memaksakan diri bekerja.

Semua itu terasa begitu hidup.

Kenangan terakhir muncul, saat kemarin sore mereka bermesraan sampai nyaris kebablasan.

Semua tampak begitu nyata. Padahal kenyataannya, kamar itu kini hanya dihuni oleh kesunyian.

Jena menatap sisi ranjang yang dulu sering ditempati Jovian saat berkunjung. Perlahan ia duduk di tepinya, lalu mengusap seprai dengan ujung jarinya seolah masih ada jejak kehangatan yang tertinggal. Namun yang ia rasakan hanyalah dingin ... dingin yang begitu menusuk. Air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia bendung. "Kenapa?" bisiknya parau. "Kenapa semua kenangan indah itu harus berakhir seperti ini?" Ia memeluk lututnya di atas ranjang, membenamkan wajahnya di sana. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah memenuhi kamar yang kini hanya menjadi saksi bisu dari cinta yang pernah membuatnya sangat bahagia, sekaligus luka yang paling dalam.

Air mata Jena terus mengalir membasahi pipinya. Isak tangisnya memenuhi kamar yang sejak tadi dipenuhi kenangan tentang Jovian.

Namun, di tengah tangis itu, tiba-tiba sebuah suara kembali terngiang di kepalanya. Ucapan Toto tadi.

"Semangat ya, jangan nangisin orang yang udah PHP-in, Mbak. Lupakan dan tinggalkan. Buruan nyari yang baru."

Jena memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Tangisnya mulai mereda.

Dengan punggung tangan, ia mengusap air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Beberapa kali ia menghela napas hingga dadanya terasa sedikit lebih lega. Perlahan, Jena mengangkat wajahnya. "Mas Toto benar ..." gumamnya lirih. "Kalau aku terus meratap, nggak ada yang akan berubah." Ia menoleh ke sekeliling kamar. "Daripada terus menangis ..." katanya pelan, kali ini dengan nada yang lebih mantap. "Lebih baik aku bersih-bersih."

Jena berdiri dari tepi ranjang. Meski matanya masih sembap, tekad mulai terlihat di wajahnya. "Setelah itu ..." ia menatap ke arah langit-langit kamar seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. "Aku mau salat. Aku mau minta petunjuk sama Allah." Jena mengusap wajahnya sekali lagi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai membereskan kamar sedikit demi sedikit. Meski hatinya masih terasa nyeri, setidaknya malam itu ia memilih melangkah, bukan terus terpuruk dalam kenangan.

Setelah kamar rapi, gadis berambut panjang itu mengambil handuk, lalu melangkah ke kamar mandi. Air yang membasahi tubuhnya seakan turut meluruhkan sedikit demi sedikit kepenatan yang sejak tadi memenuhi dada.

Setelah selesai mandi, ia berwudu dengan khusyuk. Setiap basuhan terasa seperti doa yang dipanjatkan dalam diam, memohon agar Allah membersihkan bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya yang sedang terluka.

Usai mengenakan mukena, Jena membentangkan sajadah di sudut kamar. Ia mengangkat kedua tangan, lalu bertakbir.

Malam itu, salatnya terasa berbeda.

Di setiap sujud, Jena mengadukan semua yang selama ini dipendamnya. Tentang harapan yang pupus, tentang rasa kecewa yang begitu dalam, tentang cintanya kepada Jovian yang ternyata tidak berakhir seperti yang ia impikan.

Air mata kembali menetes, tetapi kali ini bukan karena meratapi nasib. Melainkan karena ia sedang mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Sang Maha Mendengar.

"Ya Allah ..." bisiknya lirih seusai salat. "Kalau dia memang bukan jodoh yang Engkau tetapkan untukku, tolong lapangkan hatiku untuk menerima. Hilangkan rasa sakit ini sedikit demi sedikit. Jangan biarkan aku terus terjebak dalam kenangan. Kalau memang ada hikmah yang belum aku pahami, kuatkan aku untuk menunggunya. Dan tuntun lah aku agar tetap berada di jalan-Mu." Jena menengadahkan kedua tangan cukup lama. Setelah selesai berdoa, ia mengusap wajahnya perlahan.

Sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan terasa berkurang.

Beban yang semula terasa begitu berat kini seolah mulai terangkat sedikit demi sedikit. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.

Jena menatap sajadah di hadapannya.

"Aku yakin ..." ucapnya pelan, namun penuh keyakinan. "Ini yang terbaik." Ia bangkit sambil merapikan mukenanya. "Mungkin bukan yang paling mudah. Mungkin juga bukan yang paling aku inginkan. Tapi kalau ini adalah ketetapan-Mu, aku akan belajar menerimanya. Aku akan berusaha ikhlas, ya Allah." Dengan hati yang jauh lebih tenang, Jena mantap mengambil keputusan.

1
Yeyet Rohaeti
dasar orang kaya sombong, semoga bangkrut perusahaan ny, biar keluarga nya jatuh miskin.
partini
ternyata sama kaya ortu nya suka menghina orang miskin
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Ama Apr: hahaha mantap
total 1 replies
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
Nining Sariningsih
betul,,,banget jena lupakan orang2 serakah itu,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
semangat Jena 💪💪
Ama Apr: siappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!