Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bom Waktu Bernama Perjodohan
Suasana ruang makan malam itu terasa begitu kaku, meski meja sudah tertata rapi dengan hidangan yang terlihat menggugah selera dan cahaya lampu yang dipasang lembut.
Di satu sisi duduk Argantara dan istrinya, Lestari, dengan wajah yang tenang dan penuh harap. Di samping mereka, Erhan duduk tegak, sesekali melirik ke arah Alesha dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa suka dan rasa was‑was.
Di sisi lain meja, Reyhan terlihat gelisah, sementara Zaskia duduk dengan kepala terangkat, seolah sudah mempersiapkan kata‑kata yang telah dipikirkannya matang‑matang.
Alesha sendiri duduk dengan punggung menegang, jari‑jarinya saling menggenggam kuat di pangkuannya hingga buku‑buku jarinya memutih.
Ia sudah menduga ada hal penting yang akan disampaikan, namun tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan melampaui batas kesepakatan yang telah dibuat.
Ia berniat untuk berbicara jujur malam itu, menjelaskan bahwa ia sudah memiliki orang yang dicintai, dan meminta agar mereka menunggu hingga masa sepuluh tahun itu benar‑benar berakhir.
Namun, sebelum sempat ia membuka mulut, Zaskia lebih dulu memulai pembicaraan dengan nada yang tegas dan resmi.
“Bapak Argantara, Ibu Lestari, dan Erhan,” ujar Zaskia sambil menatap tamu itu satu per satu, suaranya terdengar jelas dan mantap.
“Kami mengundang kalian malam ini bukan hanya sekadar makan bersama, tapi juga untuk menyampaikan keputusan yang telah kami pikirkan baik‑baik. Mengingat hubungan kedua keluarga yang sudah terjalin erat selama ini, serta kesetiaan dan kebaikan yang telah Erhan tunjukkan kepada Alesha selama bertahun‑tahun, kami memutuskan untuk mempercepat ikatan ini.”
Jantung Alesha seolah berhenti berdetak. Ia menoleh cepat ke arah ibunya, matanya melebar tak percaya.
“Bu, apa maksud Ibu?” bisiknya pelan, berharap hanya salah dengar.
Namun Zaskia tidak menoleh sedikit pun. Ia melanjutkan kalimatnya seolah tidak mendengar interupsi putrinya.
“Kami dengan ini secara resmi mengumumkan bahwa rencana pertunangan antara Alesha dan Erhan akan dilaksanakan pada bulan depan. Kami harap ini menjadi langkah awal yang baik untuk menyatukan kedua keluarga kita selamanya.”
Seketika itu juga suasana berubah. Wajah Argantara dan Lestari langsung berseri‑seri, senyum lebar terukir di bibir mereka.
“Benarkah? Itu kabar yang sangat membahagiakan!” seru Lestari dengan nada gembira, lalu menoleh ke suaminya.
“Aku sudah lama menunggu momen ini. Rasanya tidak sia‑sia kami menunggu dengan sabar selama ini.”
Argantara mengangguk setuju, tatapannya penuh kepuasan.
“Keputusan yang sangat bijaksana, Zaskia. Kami sangat menyambut momen ini. Dengan ini, semua urusan dan ikatan di antara kita akan semakin kuat dan terjaga. Kami akan menyiapkan segala kebutuhan untuk acara pertunangan itu dengan sebaik‑baiknya.”
Erhan yang duduk di sampingnya juga terlihat sangat bahagia. Matanya berbinar, dan senyum yang tulus menghiasi wajahnya.
Namun, saat ia menoleh ke arah Alesha untuk melihat reaksi gadis itu, senyumnya perlahan memudar dan digantikan oleh rasa bingung.
Wajah Alesha terlihat pucat pasi, matanya berkaca‑kaca, dan bibirnya terkatup rapat seolah menahan amarah dan kekecewaan yang meluap.
Ia tidak bisa diam saja. Dengan napas yang terasa sesak, ia membuka mulutnya untuk menolak dengan tegas.
“Tunggu sebentar! Ini tidak benar! Ibu tidak bisa memutuskan hal sebesar ini tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu. Aku menolak...”
“ALESHA!”
Suara Zaskia meninggi dan tajam memotong ucapan putrinya. Ia menoleh seketika, melototkan matanya tajam ke arah Alesha, tatapan itu penuh peringatan dan larangan.
Pandangan itu seolah berkata, “Diamlah. Jangan hancurkan malam ini, jangan rusak nama baik kita, dan jangan ingkari janji yang sudah ada.”
Tatapan itu membuat lidah Alesha terasa kelu.
Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan bahwa ia sudah memiliki Zehar, bahwa hatinya sudah terikat pada orang lain, dan bahwa masa perjanjian itu pun belum sepenuhnya habis.
Namun, di bawah tekanan pandangan ibunya dan di hadapan tamu yang sedang menatapnya dengan penuh harap, kata‑kata itu terasa terjebak di tenggorokannya.
Ia hanya bisa menunduk dalam, air mata tertahan di pelupuk matanya, sementara dadanya terasa seperti dihimpit benda berat.
Reyhan di sampingnya hanya bisa menunduk, wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan tidak berdaya. Ia ingin membela putrinya, namun posisinya terjepit di antara keinginan hati dan tekanan yang dibangun oleh istrinya.
Melihat suasana yang berubah hening dan kaku, Argantara mencoba mencairkan keadaan dengan nada ramah.
“Tenang saja, Alesha. Kami tahu ini mungkin terasa mendadak. Tapi kami tidak ingin memaksamu untuk segera menikah. Pertunangan ini hanya sebagai tanda pengikat keseriusan, mengingat masa perjanjian kita pun akan segera berakhir. Setelah itu, kalian berdua masih punya waktu untuk saling mengenal lebih dalam.”
Erhan yang sejak tadi mengamati raut wajah Alesha akhirnya berbicara dengan nada lembut namun tegas, seolah memahami segalanya.
Ia menyadari bahwa kebahagiaan yang dirasakan orang tuanya tidak sama dengan apa yang dirasakan oleh gadis di hadapannya.
Ia melihat tatapan kosong, raut wajah yang pucat, dan tangan yang gemetar, semua itu jelas menunjukkan bahwa keputusan ini bukanlah keinginan Alesha sendiri.
“Pak, Bu,” ujar Erhan memanggil kedua orang tuanya, lalu menoleh ke arah Zaskia dan Reyhan.
“Terima kasih atas kepercayaan dan keputusan yang diambil. Aku sangat menghargainya. Tapi izinkan aku mengatakan satu hal, selama ini aku berusaha mendekati Alesha bukan karena merasa berhak, tapi karena aku ingin melihat dia bahagia. Meskipun kabar ini membuatku senang, aku bisa melihat bahwa Alesha belum siap menerima ini dengan sepenuh hati.”
Ia kemudian menatap lurus ke mata Alesha, suaranya terdengar jujur dan tanpa paksaan.
“Aku tidak ingin pertunangan ini menjadi beban bagimu, Alesha. Jika ini belum waktunya, atau jika ada hal yang membuatmu merasa tertekan, katakan saja. Kita bisa bicarakan lagi nanti. Aku tidak ingin memulai hubungan ini dengan paksaan atau keterpaksaan apa pun.”
Kata‑kata Erhan membuat hati Alesha sedikit terenyuh, namun rasa sesak itu tidak berkurang.
Ia hanya mengangkat wajah sebentar, menatap Erhan dengan tatapan penuh rasa terima kasih sekaligus kesedihan, lalu kembali menunduk tanpa menjawab apa‑apa.
Ia tahu, meski Erhan bersikap baik, keputusan yang sudah diumumkan secara resmi itu bagaikan bom waktu yang sudah diletakkan. Sekali diledakkan, ia akan terjebak dalam situasi yang semakin sulit untuk keluar.
Zaskia kembali berbicara, kali ini nadanya lebih lembut namun tetap tegas, menutup celah yang terbuka.
“Ini keputusan terbaik untuk masa depanmu, Alesha. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, nanti kamu akan mengerti. Bulan depan kita persiapkan segalanya dengan sederhana saja, tidak perlu mewah. Yang penting ikatan ini terjalin dengan baik.”
Malam itu berlanjut dalam keheningan yang terasa menyiksa.
Setiap suapan makanan terasa hambar di lidah Alesha.
Di dalam hatinya, ia sadar bahwa ibunya telah melangkah lebih jauh dari kesepakatan awal, dan keputusan ini telah menempatkannya di posisi yang paling sulit.
Ia harus menghadapi dua pilihan yang sama‑sama menyakitkan, mematuhi dan mengorbankan cintanya, atau menolak dan menghadapi risiko dianggap ingkar janji yang bisa merusak nama baik keluarganya.
Sementara itu, Erhan menyadari bahwa di balik pengumuman bahagia itu, tersimpan sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan menghancurkan harapan semua pihak.
Ia hanya bisa berdoa dalam hati, berharap bahwa suatu saat nanti, Alesha bisa melihatnya bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai pilihan hati.
Namun, ia juga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu, sesuatu yang membuatnya tidak bisa membuka hatinya sekalipun waktu telah berlalu bertahun‑tahun.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏