Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Balik Jeruji
Penyelidikan Hendra terhadap CCTV perimeter luar tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Pengintai malam itu bergerak dengan sangat rapi, memanfaatkan titik buta di balik rimbunnya pohon palem tua yang daunnya belum sempat dipangkas minggu ini.
Kenyataan bahwa benteng keamanannya berhasil ditembus oleh seekor "tikus" membuat Adrian tidak tenang sepanjang hari di kantor.
Hingga seingat rona merah senja memudar di langit Jakarta, Hendra masuk ke ruang kerja Adrian dengan terburu-buru. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak mengeras.
"Tuan Adrian, kita kecolongan," lapor Hendra, meletakkan sebuah ponsel lipat murah di atas meja marmer.
"Informan kita di dalam lembaga pemasyarakatan baru saja mengabarkan bahwa Taufik berhasil menyelundupkan alat komunikasi keluar lewat seorang sipir yang telah disuap dengan sisa uang judinya."
Adrian langsung menegakkan punggungnya. Tatapannya menajam, mengunci ponsel di hadapannya. "Apa yang dia lakukan dengan ponsel itu?"
"Dia menyewa seorang fotografer amatir dari jaringan lamanya untuk mengintai paviliun belakang. Sasarannya adalah Anda dan Nona Aisha," Hendra menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Foto-foto Anda malam kemarin saat berada di paviliun... sudah dikirimkan ke tangan pengacara Taufik. Mereka berencana menggunakannya di sidang pembacaan vonis tiga hari lagi."
Adrian mendengus sinis, tawa dingin yang meremehkan lolos dari bibirnya. "Menggunakannya untuk apa? Menuduhku berselingkuh dengan mantan istrinya? Dia sendiri yang mengusir Aisha dan memalsukan kematian anaknya. Secara hukum, dia tidak punya hak apa pun lagi atas Aisha."
"Bukan itu masalah utamanya, Tuan," sahut Hendra dengan nada yang kian serius. "Pengacara Taufik akan memutarbalikkan fakta di depan media massa saat sidang terbuka nanti.
Mereka akan membangun narasi bahwa Anda, sebagai CEO Arkan Group, telah menggunakan kekuasaan dan uang Anda untuk 'merebut' istri orang, menjebak Taufik dengan kasus palsu agar bisa mengurungnya, dan mengambil paksa anak kandung mereka. Jika narasi ini digoreng oleh media gosip, reputasi moral Anda dan nama baik Aisha akan kembali hancur."
Rahang Adrian mengeras hingga urat-urat di pelipisnya menegang hebat. Kepalan tangannya menghantam meja marmer dengan keras, menimbulkan dentuman yang menggema di dalam ruangan.
"Bajingan itu benar-benar tidak tahu cara untuk mati dengan tenang," desis Adrian, suaranya merendah hingga ke titik paling mematikan. "Dia ingin memanfaatkan media untuk memerasku lagi?"
"Tampaknya begitu, Tuan. Mereka menuntut pencabutan seluruh tuntutan hukum dan uang damai sebesar lima puluh miliar rupiah jika Anda ingin foto-foto dan narasi itu dimusnahkan."
Adrian berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota.
Alih-alih panik, seulas senyuman dingin yang penuh dengan kalkulasi kejam terukir di wajah tegasnya. Taufik mengira ia sedang memegang kartu as, padahal pria penjudi itu baru saja menggali liang kuburnya sendiri lebih dalam.
"Hendra," panggil Adrian tanpa berbalik.
"Iya, Tuan?"
"Biarkan mereka membawa foto-foto itu ke persidangan."
Hendra tertegun sejenak, matanya melebar.
"Tapi, Tuan... bagaimana dengan Nona Aisha? Jiwanya baru saja pulih dari kejadian gala dinner kemarin. Jika dia melihat namanya kembali diseret ke dalam lumpur media"
"Aku tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari nama Aisha disentuh oleh mereka," potong Adrian dengan nada mutlak yang memotong kekhawatiran Hendra.
"Katakan pada tim hukum kita untuk menyiapkan serangan balik. Kita tidak akan memblokir sidang itu. Kita akan membiarkan pengacara Taufik membuka 'kartu as' mereka di depan hakim dan seluruh wartawan. Dan tepat saat mereka mengira mereka telah menang..."
Adrian berbalik, sepasang mata elangnya berkilat penuh intimidasi yang absolut.
"...kita akan menjatuhkan bukti rekaman asli transaksi penjualan bayi yang dilakukan Taufik, lengkap dengan kesaksian dari makelar yang kita tangkap di Bogor tempo hari.
Biarkan publik melihat sendiri siapa iblis yang sebenarnya. Dan untuk sipir serta pengacara yang membantunya... pastikan surat penangkapan mereka atas konspirasi dan pemerasan selesai sebelum sidang dimulai."
"Dimengerti, Tuan. Pancingan mereka akan menjadi tali gantung bagi mereka sendiri," jawab Hendra dengan senyum tipis yang penuh kepatuhan.
Sementara itu, di paviliun belakang, Aisha sedang duduk di tepi ranjang sembari melipat beberapa pakaian bayi milik Kael dan Fatih. Perasaannya mendadak tidak tenang. Dadanya terasa sesak seolah-olah ada awan hitam besar yang sedang bergerak mendekat ke arah mansion ini.
Ia berjalan mendekati boks bayi, menatap wajah polos Fatih dan Kael yang sedang tertidur pulas dengan posisi tangan yang saling bersentuhan.
Di dalam ruangan yang hangat ini, mereka begitu aman. Namun, Aisha tahu, di luar sana, sisa-sisa badai dari masa lalunya masih terus mengintai, bersiap untuk merenggut kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.
Aisha menggenggam kalung perak kecil yang melingkari lehernya, lalu berbisik dalam doa,
"Ya Tuhan... lindungilah anak-anakku. Lindungilah pria yang telah menjadi perisai bagi kami."
Tanpa ia ketahui, tiga hari dari sekarang, sebuah pertempuran hukum dan harga diri yang paling menentukan akan digelar di bawah sorot kamera seluruh negeri. Dan Adrian Arkan, telah bersiap untuk menghancurkan musuh-musuhnya secara total tanpa sisa.
---
Bersambung~