Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 26
Hazi bari menyelesaikan praktiknya pukul tiga sore, hari ini banyak sekali pasien dengan gejala yang sama, mungkin di karenakan cuaca yang tidak menentu dan berubah begitu cepat yang membuat banyak orang demam dan juga banyak yang flu.
Hazi merogoh ponselnya ia melihat wallpaper ponselnya adalah foto umi dan abinya saat umroh , hanya dengan dirinya sebelum dirinya masuk ke dokteran beberapa tahun lalu.
" cuma ini yang aku bisa ingat jelas kebahagiannya, karena umi dan abi hanya fokus ke aku dan aku tidak perlu mengalah sama mbak Mila" gumam Hazi.
Ia mengusap kasar air matanya yang turun dengan begitu saja,ia merasakan nyeri di perutnya dah dia baru sadar,karena sejak semalam ia belum makan apapun.
" Aduh.. enggak tepat banget sih... ke ruangan Dokter Arras dulu ajalah, sebelum di hukum tambah berat" gumam Hazi yang berusaha untuk berdiri dan berjalan, keluar dari ruangan.
Sesampainya di lift yang sepi, Hazi berjongkok sambil memegang perutnya yang begitu perih, hingga dirinya tiba di lantai paling atas dan bertepatan juga dengan Arras yang ingin menghampiri sang istri, karena tidak kunjung datang.
" Kamu kenapa?" tanya Arras saat melihat Hazi yang berjongkok dan kesulitan untuk berdiri.
" Gapapa, Dokter mau kemana? maaf saya baru selesai, jadi baru ke ruangan Dokter " jawab Hazi yang berusaha profesional.
Arras melihat ke arah sang istri yang tampak pucat,lalu ia melihat ke sekitar yang tampak sepi, di lantai paling atas hanya ada ruangannya, Cafe dan juga ruang meeting .
Arras melepas jas dokternya dan menutupi wajah sang istri, lalu menggedongnya menuju ke ruangan miliknya.
"Mas....." geram Hazi.
" Diam, di Cafe banyak Dokter coas, jangan banyak gerak kalau, enggak mau jas nya jatuh dan kebuka" jawab Arras.
Arras segera menurunkan sang istri di sofa yang ada di ruangannya dan segera menutup pintu dan juga jendela yang mengarah ke luar ruangan.
Sedang di Cafe atas, tepat di sebrang ruangan Arras,banyak coas dan berapa Dokter yang tengah menunggu pergantian shift melihat kejadian tadi.
Sedangkan Hazi berusaha untuk meneralkan mimik wajahnya, agar tidak terlihat seperti sedang menahan sakit, walau ia benar- benar merasakan perih di perutnya.
" liat mas" pinta Arras pada Hazi, yang kini sudah berjongkok di depan Hazi dan memegang dagu Hazi, memaksanya untuk memandang dirinya .
Hazi dengan wajah pucatnya, senyum ke arah Suaminya yang kini memandang wajahnya dengan wajah mengintimidasi.
" perut kamu kenapa?" tanya Arras dengan wajah datarnya.
Hazi kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Arras kembali memincingkan matanya dan mengingat ucapan sahabatnya jika hari ini banyak pasien dengan keluhan yang sama,karena musim yang sedang berubah ubah.
" Kamu belum makan?" tebak Arras.
Awalnya Hazi, menggelengkan kepalanya dan ia bilang cuma nyeri haid, tapi setelah di cecar oleh suaminya, akhirnya Hazi mengakui jika mungkin saja asam lambungnya naik karena telat makan.
" kenapa enggak bilang dan minta jam istirahat?" sahut Arras yang mengambil ponselnya, untuk memesan makanan di Cafe ruangannya.
Arras segera mengambil obat untuk sang istri yang berada di mejanya , " minum dulu, sambil nunggu makanannya" pinta Arras memberika obat dan juga air pada sang istri.
Hazi kemudian menerimanya dan segera meminumnya, sambil mendengarkan ceramah dari suaminya yang ternyata lebih cerewet dari adiknya.
" Kamu ini Dokter, kalau kamu sendiri saja enggak bisa badan kamu sendiri, gimana kamu jaga orang lain, masak makan aja sampai lupa, padahal kamu selalu ingetin pasien kamu makan" gerutu Arras sambil mengkonpres perut sang istri dengan botol kaca yang ada di ruangannya yang di isi dengan air hangat.
" Tiap hari kasih edukasi ke pasien soal jam makan, sampai resiko hipoglikemia, tapi kamu sendiri tumbang karena hal sepele, Dokter macam apa yang membiarkan dirinya tumbang karena lupa makan, kamu cuma butuh waktu sepuluh menit untuk makan atau bahkan engga sampai, sesulit itukah? meluangkan waktu untuk diri sendiri,.hanya untuk makan" imbuh Arras yang seperti sedang memarahi anaknya.
Sedangkan Hazi tertunduk, mendengarkan omelan suaminya, ini juga salah dirinya juga karena ia adalah Dokter namun ia lupa untuk menjaga dirinya sendiri.
" tok.. tok .. tok.. " suara ketukan pintu, membuat Arras berhenti memarahi Hazi, yang membuat Hazi bisa bernafas lega kala suaminya bernafas mengomel.
" lebih parah dari adik , waktu dia sedang di suruh - suruh" gumam Hazi.
Hazi kembali mengunci mulutnya ketika suaminya kembali dengan nampan berisikan bubur dan juga teh jahe yang terlihat uap panasnya.
"makan dulu, mau makan sendiri apa mas suapin?" tawar Arras meletakkan nampan tersebut di meja depan sang istri.
" Makan sendiri aja"balas Hazi melirik ke arah Suaminya.
" cepet makan sekarang" pinta Arras.
" Iya... sabar"
Arras duduk di samping sang istri, sambil memantau sang istri, sedangkan Hazi tampak merasa sedikit terganggu dengan Arras yang memantau dirinya.
" Mas, boleh kerjain yang lain kok" ujar Hazi menatap ke arah Arras.
" Enggak, mas mau mastiin kamu habisin , makanannya" jawab Arras sambil menujuk ke arah buburnya.
" Iya...,ini kan lagi makan, nanti kalau cepet- cepet kesedak dan enggak bagus, lagian sunnah Rasulullah, mengunyah itu harus 33x" jawab Hazi menatap ke arah lain.
" itu bubur bukan Nasi"