Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
happy reading guys
------------------------------
BAB 5: Bertemu Sang Penguasa Kota
Elena Vance melangkah keluar dari koridor toilet VVIP dengan dagu terangkat tinggi.
Sepasang matanya yang sedingin es menyapu area lobi VIP hotel yang sedikit lengang.
Di dalam tas pesta kecilnya, ponsel yang menyimpan rekaman pengakuan dosa Siska terasa sehangat bara api—siap untuk membakar habis seluruh reputasi keluarga Bramantara kapan saja ia mau.
Namun, baru saja Elena mengambil beberapa langkah menuju ke arah pintu keluar utama, sebuah cengkeraman kasar mendadak mendarat di pergelangan tangan kirinya.
Sret!
"Adeline! Berhenti! Kita harus bicara!"
Elena menghentikan langkahnya secara paksa.
Ia menoleh dengan cepat, mendapati Bramantara sedang berdiri di hadapannya dengan napas tersengal-sengal.
Wajah pria itu tampak sangat kacau.
Dasi kupu-kupunya sedikit miring, dan matanya yang memerah menatap Elena dengan perpaduan antara rasa tidak percaya, kepanikan, dan kemarahan yang meluap-luap.
"Lepaskan tangan Anda, Tuan Bramantara,"
desis Elena, suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki penekanan yang begitu menusuk.
Ia mencoba menyentakkan tangannya, tetapi genggaman Bram justru semakin mengencang.
"Nggak! Aku nggak akan ngelepasin kamu sampai kamu mengaku!"
bentak Bram, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pelayan hotel yang melintas di sekitar lobi.
"Jangan bohongi aku dengan nama Elena Vance itu! Aku suamimu, Adeline! Aku tahu setiap senti dari tubuhmu, suaramu, bahkan caramu menatapku! Bagaimana bisa kamu masih hidup?! Dan kenapa kamu bisa bersama Nicholas Syailendra?!"
Elena menatap pergelangan tangan kirinya yang mulai memerah akibat cengkeraman Bram, lalu perlahan mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata mantan suaminya tersebut.
Alih-alih ketakutan atau menangis seperti Adeline yang dulu, Elena justru mengulas senyum miring yang penuh dengan ejekan.
"Tuan Bramantara yang terhormat, saya rasa ingatan Anda sudah mulai terganggu," ucap Elena dengan nada suara yang renyah namun dingin.
"Bukankah satu bulan yang lalu Anda sendiri yang mengumumkan ke seluruh jaringan media massa bahwa istri Anda telah tewas terseret arus banjir? Mengapa sekarang Anda bertingkah seperti orang gila yang mengejar hantu wanita mati di tempat umum?"
"Kamu—"
Kalimat Bram mendadak terhenti.
Lidahnya terasa kaku saat melihat tatapan mata Elena.
Mata itu adalah mata Adeline, tetapi sorot kehangatan, cinta, dan kepasrahan yang dulu selalu ada di sana kini telah menguap tanpa sisa.
Yang ada hanyalah kegelapan yang pekat dan sedingin kutub utara.
"Adeline... kalau kamu memang Adeline, kenapa kamu berubah jadi sedingin ini?"
bisik Bram, suaranya mendadak melemah karena rasa syok yang teramat sangat.
"Malam itu... malam itu aku terpaksa mengusirmu karena bukti-bukti perselingkuhanmu sudah jelas! Kamu yang mengkhianati pernikahan kita lebih dulu! Kamu tidur dengan pria lain saat mengandung anakku!"
Mendengar kebodohan mantan suaminya yang begitu mudah dihasut, Elena menarik tas pesta kecilnya menggunakan tangan kanan yang bebas.
Dengan gerakan anggun, ia merogoh ponsel pintarnya.
"Oh, benarkah begitu, Tuan Bram?" Elena terkekeh sinis, matanya berkilat tajam. "Bagaimana kalau kita dengarkan sesuatu yang menarik? Anggap saja ini hadiah kecil dari saya untuk pernikahan baru Anda."
Elena menyentuh layar ponselnya, lalu menekan tombol play.
Detik berikutnya, suara lengkingan histeris Siska yang sangat akrab di telinga Bram berputar dengan volume yang cukup keras di antara mereka berdua.
“Ya! Aku yang menaruh obat tidur di minumanmu malam itu! Aku yang menyewa pria asing itu untuk berfoto bersamamu di ranjang hotel! Dan aku juga yang memastikan Bram melihat foto-foto itu tepat di saat kamu sedang mengandung anaknya! Asal kamu tahu ya, Bram tidak pernah benar-benar mencintaimu!”
Suara Siska dari speaker ponsel itu terdengar begitu jernih dan tanpa rekayasa.
Kata demi kata mengenai obat bius, pria bayaran di hotel, hingga jebakan malam badai terdengar sangat telanjang.
Deg!
Bram seketika membeku bagai patung marmer.
Seluruh darah di wajahnya seolah tersedot habis hingga ia berubah pucat pasi.
Genggaman tangannya pada pergelangan Elena melonggar secara drastis karena tubuhnya mendadak lemas kehabisan tenaga.
"Nggak... nggak mungkin... Siska?"
Bram menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak memercayai apa yang baru saja didengarnya.
Suara di rekaman itu jelas-jelas adalah suara istri barunya yang selalu bertingkah polos dan suci di rumah.
"Ini... ini pasti editan, kan?! Kamu sengaja merekayasa suara Siska untuk memfitnahnya!"
"Fitnah?"
Elena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan gerakan tenang dan santai, lalu menatap Bram dengan pandangan muak yang luar biasa.
"Bramantara, kamu memang pria paling bodoh dan menyedihkan yang pernah aku kenal. Kamu membuang istri sahmu dan membiarkan anak kandungmu mati di jalanan hanya demi membela seorang wanita ular bermuka dua."
"Adeline... jadi itu beneran kamu?"
Bram melangkah maju, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa besar yang mulai menghantam dadanya.
"Maaf... maafkan aku... aku nggak tahu kalau Siska sekejam itu—"
Sebelum tangan Bram sempat menyentuh tubuh Elena lagi, sebuah suara berat, dalam, dan penuh dengan aura intimidasi yang mutlak bergaung dari arah belakang tubuh Bram.
"Lepaskan tangan kotor Anda dari calon istri saya, Tuan Bramantara."
Nicholas Syailendra berjalan mendekat dengan langkah kaki yang tenang namun berwibawa.
Setiap ketukan sepatu pantofel mahalnya di atas lantai marmer seolah membawa beban tekanan yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun yang mendengarnya.
Dua orang pengawal berbadan besar berbaju hitam legam berjalan tegap di belakangnya.
Tanpa memedulikan keberadaan Bram yang sedang terguncang, Nicholas langsung melangkah ke samping Elena.
Dengan gerakan yang sangat posesif namun lembut, ia melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Elena, menarik tubuh wanita itu agar merapat sempurna ke sisi tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa, Elena?"
tanya Nicholas, nadanya suara yang semula sedingin es mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian saat menatap wajah Elena.
Mata elangnya sempat melirik sekilas ke arah pergelangan tangan Elena yang memerah akibat cengkeraman Bram tadi, dan detik itu juga, sorot matanya berubah menjadi sangat mematikan ketika kembali menatap Bram.
"Aku tidak apa-apa, Nicholas. Hanya ada sedikit gangguan kecil," jawab Elena sembari menyandarkan kepalanya dengan anggun di bahu tegap Nicholas, membalas permainan sandiwara ini dengan sangat sempurna di depan mata mantan suaminya.
Bram menatap kedekatan mereka berdua dengan mata yang membelalak lebar.
Rasa cemburu, marah, dan tidak terima seketika bergolak hebat di dalam dadanya, berbaur dengan rasa bersalah yang teramat sangat setelah mendengar rekaman tadi.
"Tuan Nicholas! Anda tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya! Dia adalah—"
Bugh!
Salah satu pengawal pribadi Nicholas langsung maju satu langkah dan mendorong bahu Bram dengan kasar hingga pria itu terhuyung mundur beberapa tapak, hampir kehilangan keseimbangannya di atas lantai yang licin.
"Tuan Bramantara,"
Nicholas berdesis, melangkah satu tapak maju untuk menutupi tubuh Elena di belakang punggung tegapnya.
Aura dominan sebagai penguasa tertinggi Kota Jakarta seketika menguar memenuhi seluruh ruangan lobi.
"Saya sudah pernah memperingatkan Anda di dalam ballroom tadi. Elena Vance adalah calon istri saya, Nyonya Muda Syailendra yang akan datang. Menghinanya di depan wajah saya sama saja dengan menyatakan perang terbuka dengan seluruh jaringan bisnis Syailendra Group."
Nicholas merapikan lipatan jas hitam mahalnya dengan gerakan santai namun elegan.
"Mulai besok pagi, saya akan menarik seluruh investasi dan membatalkan kontrak pasokan bahan baku berlian dari Syailendra Group ke Bram Corp. Mari kita lihat, berapa hari perusahaan kebanggaan Anda itu bisa bertahan tanpa dukungan dari saya."
"Tuan Nicholas! Anda tidak bisa melakukan itu secara sepihak!"
teriak Bram dengan wajah yang kini berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan.
Jika Syailendra Group benar-benar menarik investasinya, ditambah lagi dengan skandal Siska yang sebentar lagi meledak, maka Bram Corp akan menghadapi kebangkrutan massal dalam hitungan minggu.
"Saya bisa melakukan apa pun yang saya mau di kota ini, Tuan Bram," jawab Nicholas dengan senyuman miring yang terlihat sangat kejam.
Nicholas kembali berbalik menghadap Elena, merangkul pinggang wanita itu kembali dengan sangat posesif.
"Ayo kita pulang, Elena. Suasana di tempat ini sudah terlalu kotor untukmu."
"Tenu, Nicholas," jawab Elena dengan senyuman manis yang paling memikat.
Sebelum melangkah pergi menembus pintu kaca lobi hotel, Elena menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang melalui balik pundak Nicholas.
Ia menatap Bram yang kini berdiri mematung sendirian dengan tubuh gemetar hebat di tengah lobi mewah tersebut.
Tatapan mata Elena dipenuhi oleh kepuasan batin yang luar biasa.
Ini baru hari pertama, Bram.
Kamu baru saja kehilangan dukungan bisnis terbesarmu, dan pikiranmu sekarang pasti sedang hancur setelah tahu kebenaran tentang istri barumu.
Nikmatilah awal dari neraka duniamu, batin Elena kejam.
Di luar hotel, konvoi mobil Limosin hitam mewah milik keluarga Syailendra sudah menunggu dengan pintu yang terbuka lebar.
Nicholas membimbing Elena masuk ke dalam mobil dengan sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu adalah permata paling berharga di dunia yang tidak boleh tergores sedikit pun.
Pintu limosin ditutup rapat, mengisolasi mereka berdua dari kegelapan malam Jakarta.
Aliansi maut antara Sang Penguasa Kota dan Nyonya Muda yang terbuang kini telah resmi mengobarkan perang balas dendam yang sesungguhnya.
------------------------------
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa 🙏
Bye bye