Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Kelopak mata indah itu perlahan terbuka, menyisakan pandangan yang mulanya tampak samar. Di hadapannya kini, sosok Rexsaka berdiri tegap dalam balutan seragam tentaranya, menatapnya dengan binar lembut, sebuah tatapan hangat yang selama ini selalu Nadya dambakan. Perlahan, sudut matanya bergulir turun, mendapati tangannya sendiri tengah tenggelam di dalam genggaman hangat tangan besar pria itu.
"Kak Rex... kamu pulang?" tanyanya lirih, nyaris berupa bisikan.
Tak ada jawaban. Rexsaka justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis habis jarak di antara mereka hingga aroma maskulin yang bercampur kesegaran mint menguar kuat, menguasai seluruh indra penciuman Nadya. Dengan gerakan perlahan namun penuh tuntutan, jemari besar pria itu menyingkirkan masker oksigen yang menghalangi wajah Nadya.
Seketika itu juga, sentuhan yang lembut, hangat, dan kenyal langsung mengunci bibirnya.
Nadya tersentak pelan saat bibir tebal Rexsaka mulai melumatnya dengan ritme yang dalam dan memabukkan. Sentuhan itu tidak lagi sekadar belaian halus, melainkan sebuah pagutan intens yang menuntut balasan. Nadya terbuai. Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan akal sehatnya meleleh bagai gulali di bawah sengatan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Nadya memberanikan diri mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh pria itu, meremas pelan seragam tentaranya untuk mencari tumpuan. Desakan itu kian berani, belahan bibir Rexsaka bergerak kian menekan, sementara ujung lidahnya mulai menyapu, mencoba menerobos perlahan barisan gigi Nadya.
Begitu pertahanannya runtuh, pautan itu berubah menjadi ciuman yang begitu panas, dalam, dan menghentak dada, seolah pria itu tengah menyalurkan seluruh rindu dan rasa takut kehilangan yang teramat sangat ke dalam sesapan manis tersebut. Nadya mendesah lirih di sela pagutan mereka, menyerahkan seluruh kesadarannya pada kehangatan yang terasa begitu nyata di bibirnya.
"Nona... Nona Nadya, Anda sudah sadar?"
Lho, sejak kapan suara Kak Rex berubah jadi suara perempuan? Dan sejak kapan ciuman panas ini berubah jadi embusan angin kosong? Suara batin Nadya mendadak terusik.
Begitu Nadya membuka mata, sejumput kesadarannya langsung ditarik paksa secara brutal kembali ke dunia nyata. Alih-alih wajah tampan Rexsaka yang berjarak satu sentimeter di depan hidungnya, sepasang mata milik seorang wanita asing yang mengenakan seragam putih kini tengah menatapnya dengan raut heran.
Hah?! Apa aku baru saja bermimpi?!
Sadar dirinya sedang menutup mata dengan erat dan mengerucutkan bibirnya ke depan, benar-benar siap untuk membalas lumatan fiktif tadi, Nadya buru-buru menarik wajahnya ke belakang dengan canggung.
"K-kalian... siapa?" tanyanya salah tingkah, dengan suara yang terdengar begitu lemas dan serak.
"Saya suster di rumah sakit ini, Nona," jawab perawat itu, tersenyum simpul seolah bisa menebak dengan tepat jenis mimpi apa yang baru saja membayangi pasiennya saat tak sadarkan diri. "Kemarin Anda dibawa ke sini. Untungnya luka tusukan Anda tidak terlalu dalam, dan kami sangat bersyukur Anda tidak mengalami trauma berat setelah kejadian itu."
Mimpi. Jadi semua keindahan tadi benar-benar hanya bunga tidur? Tapi sial, ciuman itu terasa begitu nyata, bahkan kehangatan bibir Rexsaka seolah masih tertinggal dan membekas di bibirnya.
"Apa saya baru sadar sekarang?" tanya Nadya lagi, mencoba mengalihkan rasa malunya sembari memperhatikan suster yang tengah merapikan selang infusnya.
"Iya, Nona. Anda baru saja siuman sejak kemarin siang. Beruntung sekali Anda bisa melewati masa kritis dengan cepat."
"Siapa... siapa yang membawa saya ke sini?"
"Oh, dua orang laki-laki bertubuh besar. Yang satu berkepala plontos dan yang satu lagi berambut gondrong."
Nadya mengembuskan napas pendek, bahunya merosot lesu. Apa yang kau harapkan, Nad? Kak Rex tidak mungkin pulang secepat itu. Mimpimu tadi pasti cuma manifestasi konyol karena kamu terlalu merindukannya, rutuknya dalam hati.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Nona. Jika butuh sesuatu, Anda bisa menekan tombol di samping ranjang," pamit sang suster setelah menyelesaikan tugasnya.
Sepeninggalan suster tersebut, keheningan kembali merayap. Nadya menghela napas panjang, jemarinya perlahan bergerak meraba permukaan perutnya. Di balik balutan perban, ada rasa nyeri yang tertinggal akibat tusukan pisau lipat Arnold kemarin siang, sebuah luka yang ia terima demi menjadi perisai hidup bagi Paman Amar.
Astaga, Paman Amar! Bagaimana keadaannya sekarang?!
Kepanikan mendadak menyerang kepalanya. Melupakan rasa sakit di perutnya, Nadya nekat menggeser tubuh dan menurunkan kedua kakinya. Namun, tepat di detik pertama telapak kakinya menyentuh dinginnya lantai rumah sakit, suara klik dari gagang pintu yang diputar mendadak memecah kesunyian. Pintu ruangan itu terbuka lebar.
***
Mobil Rexsaka akhirnya terparkir sempurna di pelataran rumah sakit. Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar dengan penampilan yang telah berganti, kini ia mengenakan kaus ketat yang membungkus tegas otot tubuhnya, dilapisi jaket taktis yang identik dengan profesinya sebagai seorang prajurit.
Selepas subuh tadi, ia memang memutuskan untuk pulang sebentar demi mengambil beberapa keperluan sang ayah. Kini di kedua tangannya, ia membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan mandi Paman Amar serta sebuah kantong kresek berisi makanan yang rencananya akan mereka santap bersama sebagai menu sarapan.
Namun, baru beberapa langkah kaki Rexsaka memasuki lobi rumah sakit, perhatiannya langsung terganggu oleh pergerakan seseorang. Insting militernya seketika menegang saat menangkap gestur mencurigakan dari sosok berpakaian serba hitam dan tertutup itu. Meski wajahnya tersembunyi, Rexsaka merasa sangat familier dengan postur tegap sang pria misterius.
Mengikuti firasat buruk yang berdering di kepalanya, Rexsaka memutuskan untuk mengubah arah langkah dan membuntutinya tanpa suara. Benar saja, targetnya berjalan dengan tergesa menuju lorong kamar rawat Nadya. Begitu tangan orang asing itu terulur hendak memutar gagang pintu kamar sang nona muda, Rexsaka bergerak secepat kilat. Ia langsung menghadang pergerakan itu, lalu mencengkeram kuat dan menyentak turun tudung hoodie hitam yang menutupi kepala sang penyusup.
"Arnold," desis Rexsaka tajam, matanya menyipit berbahaya saat wajah familier pria itu terpampang di hadapannya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rexsaka langsung menjatuhkan barang bawaannya ke lantai dan melayangkan sebuah hantaman sikut cepat ke arah rahang Arnold. Namun, refleks Arnold tak kalah cepat. Terkejut oleh serangan mendadak itu, Arnold berhasil memiringkan kepala ke belakang, membuat sikut Rexsaka hanya memotong udara kosong.
Memanfaatkan celah, Arnold balas melayangkan pukulan lurus ke dada Rexsaka. Dengan insting terlatihnya, Rexsaka menepis lengan Arnold menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya bergerak secepat kilat mencengkeram kerah jaket pria itu, berniat mengunci tubuhnya ke dinding koridor.
Sadar dirinya terdesak oleh kekuatan fisik Rexsaka yang superior, Arnold bertindak nekat. Ia menyentakkan kepalanya ke depan, melakukan headbutt brutal ke arah wajah Rexsaka. Benturan dahi itu membuat Rexsaka terhuyung satu langkah ke belakang, cengkeramannya terlepas sesaat.
Arnold tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Sambil menahan pening di kepalanya, ia memutar tubuh dengan tangkas, menendang tumpukan tas di lantai ke arah kaki Rexsaka untuk menghambat pengejaran, lalu melesat kabur menyusuri lorong rumah sakit secepat yang ia bisa.
Alih-alih mengejar Arnold yang telah melesat jauh, Rexsaka memilih untuk berjongkok. Ia memungut kembali tas perlengkapan dan kantong kreseknya yang sempat berserakan di lantai, lalu mendorong pintu kamar rawat di hadapannya hingga terbuka lebar.
Begitu melangkah masuk, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Nadya yang sudah berdiri di samping ranjang, tampak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Beritahu aku, apa Arnold yang melukai kalian?"
Suara Rexsaka terdengar dingin, memotong keheningan kamar tanpa basa-basi. Ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana kondisi gadis itu, atau sekadar berucap syukur karena Nadya baru saja siuman dari masa kritisnya. Tatapan matanya lurus, tajam, dan menuntut sebuah jawaban instan.