Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Mode Akuntan Kulkas
Meskipun di rumah kelakuannya tidak jauh berbeda dari beban keluarga yang hobinya memalak kopi gratis, kehidupan Kael di luar rumah khususnya di dalam gedung perkantoran V-Logistic, perusahaan logistik milik Papa—180 derajat berbeda.
Sebagai anak laki-laki kedua, adiknya Killian sekaligus kembaran Sael, Kael memegang posisi sebagai 𝘏𝘦𝘢𝘥 𝘰𝘧 𝘈𝘤𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘢𝘯. Dan percayalah, Kael di depan laptop dengan rumus Excel-nya sama mengerikannya dengan Sael yang sedang di ruang sidang.
𝐒𝐞𝐧𝐢𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐢 𝐊𝐚𝐧𝐭𝐨𝐫: 𝐌𝐨𝐝𝐞 𝐀𝐤𝐮𝐧𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐮𝐥𝐤𝐚𝐬
Pukul delapan pagi, Kael sudah rapi dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung rapi dan kacamata berbingkai kotak.
Di ruangannya, kubikel divisi keuangan terasa seperti zona militer jika Kael sudah mulai memeriksa laporan arus kas (𝘤𝘢𝘴𝘩 𝘧𝘭𝘰𝘸) bulanan pengiriman logistik antar-pulau.
"Ini kenapa biaya 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘤𝘦 armada truk di cabang Surabaya melonjak 15%?" tanya Kael datar, matanya menatap tajam layar monitor tanpa beralih sedikit pun.
"Itu... ada pergantian ban dan suku cadang dadakan karena cuaca buruk kemarin, Pak Kael," jawab salah satu staf keuangan dengan suara agak bergetar.
Kael menghela napas, jemarinya bergerak cepat di atas kalkulator, menciptakan suara ketukan yang mengintimidasi. "Lampiran kuitansinya kurang dua. Tolong minta ke tim operasional Surabaya sekarang juga. Saya nggak mau pas audit internal akhir bulan, angka ini jadi temuan Papa. Mengerti?"
"Baik, Pak!"
Begitulah Kael di tempat kerja. Di bawah kepemimpinan Papa, Kael tidak pernah mendapatkan hak istimewa sebagai anak bos. Papa mendidiknya dengan keras. Jika ada selisih satu Rupiah pun dalam laporan manifest pengiriman barang, Kael adalah orang pertama yang akan dikejar Papa, sekaligus orang pertama yang akan mencecar divisi lain demi validitas data.
𝐉𝐚𝐦 𝐈𝐬𝐭𝐢𝐫𝐚𝐡𝐚𝐭: 𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 (𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩) 𝐏𝐫𝐨𝐭𝐞𝐤𝐭𝐢𝐟
Namun, mode kulkas Kael otomatis mencair begitu jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Hal pertama yang ia lakukan setelah melepas kacamatanya adalah merogoh ponsel dan memeriksa grup WhatsApp keluarga—atau lebih tepatnya, mengintip aktivitas kembarannya.
Gedung V-Logistics kebetulan hanya berjarak lima belas menit dari area perkantoran tempat Sael bekerja. Jadi, bukan hal aneh jika seminggu dua kali Kael tiba-tiba muncul di lobi kantor Sael.
Siang itu, Sael yang baru saja keluar lift bersama beberapa rekan kantornya langsung mengernyit begitu melihat sesosok cowok tinggi bersandar di pilar lobi sambil memainkan kunci mobil milik Papa.
"Kael? Ngapain ke sini?" tanya Sael menghampiri.
"Nih," Kael menyodorkan sebuah kantong kertas tebal. "Tadi Papa ada rapat di luar, terus Mama nitip ini buat lo. Katanya vitamin sama bekal makan siangmu ketinggalan di meja makan."
Rekan-rekan kantor Sael diam-diam berbisik, mengagumi betapa perhatiannya kembaran Sael yang terlihat tampan dan berwibawa dengan baju kantoran itu. Sael yang menyadari hal itu hanya bisa membatin, 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘴𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘰𝘨.
"Makasih," ujar Sael menerima kantong tersebut.
Kael memajukan tubuhnya sedikit, berbisik dengan nada jahil yang mendadak kembali ke setelan pabrik. "Gimana? Tadi berangkat nggak diantar Kak Aeros, kan? Sepi ya? Jantungnya nggak maraton pagi ini?"
"Kael, ini di kantor aku ya! Pulang sana!" desis Sael sambil mencubit lengan Kael kencang.
"Aduh! Galak amat!" Kael terkekeh, mengusap lengannya sambil melangkah mundur. Sebelum berbalik, ia menepuk puncak kepala Sael sekilas—kebiasaan refleksnya sebagai kakak yang lahir lima menit lebih dulu. "Makan yang bener. Jangan sakit lagi kayak kemarin lusa, bikin repot tetangga sebelah aja kamu. Dadah, Ibu Peri!"
Sael hanya bisa menggelengkan kepala melihat punggung Kael yang menjauh menuju tempat parkir.
Menjadi akuntan di perusahaan logistik yang sibuk membuat Kael belajar menjadi pria yang bertanggung jawab. Namun bagi Kael, meledek Sael sampai kembarannya itu salah tingkah brutal tetaplah hiburan terbaik dan bentuk kasih sayang paling tulus yang bisa ia berikan setelah seharian lelah menghitung angka.
Sore harinya, tepat pukul lima sore, kesibukan di kubikel divisi keuangan V-Logistics mulai mereda. Kael meregangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah menatap barisan angka di layar monitor sejak siang. Setelah memastikan seluruh laporan pengiriman barang untuk manifes kapal laut besok pagi sudah tervalidasi, ia mematikan komputernya.
Saat ia sedang merapikan meja, ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Papa.
[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐩𝐚 ] 𝘒𝘢𝘦𝘭, 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘶𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘊𝘢𝘬𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 yang 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘦𝘭 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘧𝘦 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘶.
Kael terkekeh membaca pesan Papanya. Rupanya, aksi makcomblang ini sudah mendapat restu dan dukungan penuh dari jajaran petinggi rumah.
"Siap, Bos Besar. Pantauan aman terkendali," gumam Kael sambil mengetik balasan singkat untuk Papanya.
Ia menyambar kunci mobil, memakai jaket penahan anginnya, dan melangkah keluar ruangan dengan langkah santai.
Gedung kantor Sael dicapainya dalam waktu lima belas menit. Kael sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari lobi, memilih untuk memperhatikan dari kejauhan. Tak lama, ia melihat Sael keluar dari lobi. Namun, yang membuat Kael menaikkan sebelah alisnya adalah penampilan Sael.
Gadis itu sempat mampir ke toilet kantor untuk memulas sedikit lipstik dan merapikan rambut panjangnya. Di tangannya, Sael menggenggam erat kartu hitam VIP pemberian Aeros pagi tadi.
"Wah, wah... yang mau jadi tamu agung pelayan pribadi dandanannya beda ya," cibir Kael dalam hati, menahan tawa di balik kemudi.
Ia membiarkan Sael memesan taksi daring dan mengikutinya dari belakang. Benar saja, rute taksi itu mengarah lurus ke, kafe utama milik Aeros yang terletak di kawasan kuliner elite tengah kota.
Begitu taksi Sael sampai, Kael ikut memarkirkan mobilnya di seberang jalan, tepat di bawah rindangnya pohon mahoni. Dari balik kaca mobil yang gelap, Kael mengintip suasana kafe yang malam ini tampak sangat ramai oleh pengunjung akhir pekan. Lampu-lampu 𝘸𝘢𝘳𝘮 𝘸𝘩𝘪𝘵𝘦 yang estetik menggantung di area 𝘰𝘶𝘵𝘥𝘰𝘰𝘳, menciptakan atmosfer yang sangat romantis.
Melalui kaca besar kafe, Kael bisa melihat Aeros yang sedang berdiri di dekat meja barista. Cowok itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, terlihat sangat menonjol di antara para stafnya. Dan begitu Sael melangkah masuk melewati pintu kaca, Kael bersumpah ia melihat radar di kepala Aeros langsung menangkap keberadaan kembarannya.
Aeros meletakkan papan catatannya, membisikkan sesuatu pada baristanya, dan langsung berjalan sendiri menghampiri Sael dengan senyuman yang... jujur saja, membuat Kael di seberang jalan bergidik geli.
"Gila, 𝘨𝘦𝘳𝘤𝘦𝘱 amat si Aeros. Nggak sia-sia aku kasih lampu hijau," gumam Kael, mengambil ponselnya dan memotret momen saat Aeros menarikkan kursi khusus untuk Sael di sudut area 𝘪𝘯𝘥𝘰𝘰𝘳 yang agak privat.
Kepala Kael otomatis bekerja. Potensi Sael patah hati? Jelas ada. Kemungkinan Aeros main-main? Bisa jadi. Tapi melihat bagaimana cara Aeros menatap Sael malam ini, Dan bagaimana Kael mengenai Aeros sejauh ini, membuat perhitungan Kael berakhir pada satu kesimpulan, Aeros adalah investasi masa depan yang bagus untuk kebahagiaan adiknya.
Kael tersenyum tipis, mengetikkan pesan kepada adiknya dan menyimpan kembali ponselnya.
[𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐞𝐥] 𝘗𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘱𝘢: 𝘊𝘳𝘰𝘪𝘴𝘴𝘢𝘯𝘵 𝘤𝘰𝘬𝘦𝘭𝘢𝘵 2, 𝘐𝘤𝘦𝘥 𝘈𝘮𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘯𝘰 1. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘱𝘰𝘭 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘳, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯, 𝘜𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘣𝘶𝘴! 🥐☕✨