NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 30.batas waktu sebagai tanda kasih

Setelah perubahan sikap kecil yang ditunjukkan Ayah Zahra, pria itu kini mulai menunjukkan perhatiannya dengan cara yang khas tegas dan teratur. Ia tidak lagi bersikap jutek atau diam saja, namun ia menetapkan aturan yang jelas setiap kali Zahra pergi bersama Rendra, ia harus sudah berada di rumah sebelum matahari benar-benar terbenam. Pulang malam dilarang keras, tak peduli seberapa baik alasan yang disampaikan.

Bagi Ibu Zahra, aturan itu terasa agak berlebihan. “Mereka sudah dewasa, Pak. Rendra pun pemuda yang tahu sopan santun. Tidak perlu terlalu ketat begini,” ujar Ibu pelan saat berdua dengan suaminya. Namun Ayah hanya menggeleng mantap. “Bukan soal tidak percaya pada Rendra. Tapi selama belum ada ikatan resmi, kehormatan putriku harus tetap terjaga. Itu tanggung jawabku sebagai ayah.”

Saat mendengar aturan itu dari Zahra, Rendra sama sekali tidak merasa tersinggung atau keberatan. Ia justru mengangguk paham.

“Ayahmu benar, Zahra. Itu cara beliau menjagamu. Aku malah senang beliau begitu perhatian. Aku akan selalu mengantar pulang tepat waktu, bahkan lebih cepat dari batas yang ditentukan,” janji Rendra tulus.

Sejak saat itu, ke mana pun mereka pergi entah berjalan-jalan sebentar, membeli kebutuhan, atau sekadar duduk mengobrol Rendra selalu mengingatkan waktu. Kadang saat obrolan masih asyik, ia yang lebih dulu mengajak pulang. “Sudah mulai gelap, sayang. Ayahmu pasti sudah menunggu di depan. Kita harus pulang sekarang.”

Zahra kadang merasa ingin berlama-lama, namun ia tahu Rendra melakukannya demi menghormati orang tuanya. “Kau benar, Mas. Kita jangan membuat Ayah khawatir.”

Setiap kali Rendra mengantar pulang, ia tak pernah langsung pergi begitu saja. Ia selalu memastikan Zahra sudah masuk ke halaman, lalu berpamitan secara sopan kepada Ayah maupun Ibu. Kadang Ayah hanya mengangguk singkat, namun matanya tak lepas mengamati bagaimana Rendra selalu memegang payung saat hujan, membukakan pintu, atau memastikan jalan yang dilalui Zahra aman.

Suatu sore, mereka terjebak hujan deras di tengah jalan. Rendra tahu waktu sudah hampir habis. Tanpa ragu, ia memacu kendaraannya lebih hati-hati namun tetap cepat, lalu tiba di rumah tepat saat cahaya matahari terakhir menghilang.

“Terlambat sedikit saja,” ujar Ayah Zahra saat mereka masuk, nadanya masih terdengar tegas namun tak lagi dingin.

“Maaf, Pak. Tadi hujan turun tiba-tiba. Tapi saya pastikan Zahra sampai dengan selamat dan kering,” jawab Rendra sambil menunduk hormat.

Ayah menatap punggung Zahra yang memang kering karena dilindungi Rendra. “Kau sendiri basah kuyup.”

“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting putri Bapak aman.”

Mendengar itu, Ayah terdiam sejenak. Ia mulai menyadari bahwa ketegasan aturannya tidak dipandang sebagai penghalang oleh Rendra, melainkan sebagai sesuatu yang dihargai dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Di samping ketegasan Ayah, Ibu selalu menjadi tempat Zahra bercerita dan bernapas lega. Ibu sering kali membela mereka saat Ayah terlihat terlalu kaku. “Lihatlah mereka, Pak. Mereka tidak pernah melanggar batas. Rendra bahkan lebih menjaga Zahra daripada kita sendiri.”

Namun Ibu juga tahu betul bahwa sikap Ayah bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang yang terlalu besar. “Ayahmu itu hanya takut salah menyerahkanmu, Nak. Dia ingin memastikan tangan yang menerima kamu nanti adalah tangan yang paling kuat dan paling bertanggung jawab.”

Rendra pun makin berusaha menunjukkan keseriusannya. Ia tidak protes, tidak meminta kelonggaran waktu, dan tidak mengeluh. Justru ia menjadikan aturan itu sebagai motivasi: bahwa ia harus segera melangkah ke jenjang yang lebih tinggi agar suatu hari nanti ia berhak menemani Zahra kapan pun dan di mana pun tanpa harus dibatasi.

Suatu hari saat berpamitan, Rendra memberanikan diri berbicara pada Ayah

“Saya tahu Bapak membatasi waktu karena ingin melindungi Zahra. Saya janji, Pak. Saya akan berusaha sekuat tenaga agar secepatnya bisa menjadikan Zahra istri saya yang sah. Saat itu tiba, saya akan menjaganya selamanya siang maupun malam, di mana pun kami berada.”

Ayah Zahra menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, sudut bibir pria tua itu sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat berarti.

“Buktikan saja, Nak. Buktikan bahwa kau layak menjadi pemimpin bagi putriku.”

Malam itu, meski batasan waktu masih berlaku, hati mereka semua terasa lebih dekat. Aturan yang sempat terasa berat kini menjadi jembatan yang mengantarkan mereka pada satu tujuan yang sama kebersamaan yang sah dan penuh berkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!