NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengambil paket buku

Yukari menghampiri Daiki yang duduk santai di meja panggung kayu sudut pekarangan depan mengeluarkan beberapa potong kue beras hangat dan sebungkus keripik

"Bagaimana kondisi Akira? Ku lihat dia sudah sedikit lepas"

Yukari ikut mengambil sepotong keripik, lalu mengangguk pelan. "Ya, Jauh lebih baik. Malah... hari ini dia mulai mau bercerita sedikit tentang masa lalunya."

Daiki mengangkat sebelah alisnya,"Bagus lah" tatapannya kini menoleh ke arah rumah. "Menurutmu... dia benar-benar bisa pulih kembali?"

Yukari ikut memandang ke arah yang sama, seulas senyuman tipis yang sarat akan keyakinan terbit di wajah manisnya.

"Aku yakin dia pasti bisa. Hanya butuh waktu sedikit lagi. Dan setelah dia sembuh nanti, aku akan langsung menjual rumah ini"

Daiki menatap lekat wajah Yukari, lalu tersenyum lembut. "Aku pikir niat mu menjual rumah sudah hilang!!"

***

Sreeekk...

Suara pintu geser rumah yang terbuka mendadak memotong obrolan mereka. Akira berjalan keluar dengan rambut yang masih agak basah setelah mandi. Di kedua tangannya, dia membawa tiga kaleng soda buah dingin yang permukaannya masih dipenuhi oleh embun air. Pria itu berjalan menghampiri, lalu meletakkan kaleng-kaleng itu di atas meja panggung

"Woi! Lama sekali mandinya. Kamu mandi atau sedang merenovasi kamar mandi dalam?" seru Daiki blak-blakan.

Akira tetap memasang wajah datarnya yang kaku, lalu membuka satu kaleng soda hingga terdengar suara desisan yang menyegarkan. "Ada sisa cat yang susah hilang" jawabnya tenang, sengaja melirik sekilas ke arah Yukari. "karena ulah iseng seseorang."

Yukari yang saat itu sedang mengunyah kue berasnya langsung tersedak kecil. "Ehem! Uhuk... itu kan cuma coretan kecil, Akira-san!" membela diri dengan wajah memerah

Daiki yang paham situasinya langsung tertawa terbahak-bahak sampai menggebrak meja "Hahaha! Bagus! Akhirnya si Tuan Kaku ini sudah mulai bisa membalas leluconmu, Yukari!"

Yukari memonyongkan bibirnya kesal sembari menunjuk ke arah Akira. "Daiki! Lihat, dia sekarang mulai tertular sifat jahil gara-gara berteman denganmu!"

Grrd... Grrdd

Tak lama ponsel Yukari bergetar nyaring. Nama kurir langganannya tertera di layar, membuat Yukari bergegas mengangkat panggilan tersebut.

"Ya, halo"

"Oh, begitu. Maaf ya" jawab Yukari sembari mengangguk kecil. "Baik, saya akan ambil sendiri ke kantor"

Setelah panggilan berakhir, daiki penasaran "Ada apa ?"

"Aku harus pergi ke Aoyama siang ini."

Daiki langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Siang-siang bolong begini?"

Yukari mengangguk pasti. "Iya, kurir ekspedisi baru saja menelepon. Paket ku harus segera diambil."

Mendengar hal itu, Daiki langsung bangkit berdiri dari bale-bale. "Kalau begitu ayo, bersiaplah."

Namun, sebelum Yukari sempat memberikan jawaban, Akira lebih dulu membuka suara dengan nada baritonnya yang tenang namun tegas. "Kau sebaiknya tinggal di rumah dan beristirahat, Daiki."

Daiki menoleh bingung. "Hah? Maksudmu?"

Akira membalas tatapan pria desa itu dengan sorot mata lempeng. "Sejak subuh kau sudah bekerja keras di ladang, Yukari-san biar aku yang antar"

Daiki kemudian mengalihkan pandangannya menatap Akira yang berdiri kaku di samping teras. "Baiklah Akira, aku titip keselamatan Yukari padamu siang ini."

Akira mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Aku akan menjaganya dengan baik."

***

Motor peninggalan mendiang ayah Yukari bergerak melaju tenang menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok menuju arah Aoyama. Hanya suara deru mesin dan desis angin siang yang menemani perjalanan mereka sepanjang jalur hijau itu.

Yukari yang duduk di jok belakang awalnya tampak sangat menikmati hamparan pemandangan bukit. Namun, setelah hampir lima belas menit berlalu dalam keheningan total, rasa bosan mulai melanda dirinya.

"Akira-san," panggil Yukari sedikit berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh angin.

"Hm?" sahut Akira, melirik sekilas melalui pantulan kaca spion motornya.

"Kalau kita berdua terus-terusan diam seperti ini, aku bisa-bisa ketiduran lagi dan jatuh ke belakang."

"Itu sangat berbahaya," balas Akira, sedikit memperlambat laju motornya.

Yukari tertawa kecil dari balik punggung pria itu. "Makanya, ayo kita mengobrol sesuatu."

Akira terdiam beberapa detik, mencoba merangkai kata di kepalanya. "Lalu... kita sebaiknya membahas tentang apa?"

Yukari ikut berpikir sejenak sembari memperhatikan bahu lebar Akira di depannya. "Hm... apa kau dulu sering naik motor untuk menempuh perjalanan sejauh ini?"

"Sering. Dulu," jawab Akira singkat.

"Dengan teman-temanmu?"

"Bukan."

"Lalu?" tanya Yukari penasaran.

Akira menjawab dengan nada datarnya yang khas, "Dulu aku sering mengantar seseorang."

Mendengar jawaban itu, Yukari terdiam sesaat, lidahnya mendadak terasa sedikit kelu saat menebak arah pembicaraan ini. "Kekasihmu... maksudku, mantan ?"

Keheningan sempat kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik sebelum Akira akhirnya bersuara pelan, "Ya."

Suara berat pria itu nyaris saja tenggelam oleh deru angin jalanan, membuat Yukari langsung menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bersalah. "Maaf... aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu kembali mengingat memori buruk itu."

"Tidak apa-apa, Yukari," sahut Akira tenang. "Kali ini rasanya tidak sesakit dan sesesak dulu lagi."

Yukari sedikit terkejut mendengar pengakuan spontan itu. "Benarkah?"

Akira mengangguk kecil di atas kemudinya. "Mungkin... karena untuk perjalanan kali ini, aku tidak sedang berkendara sendirian lagi."

Kalimat itu seketika membuat Yukari membisu. Kedua belah pipinya perlahan kembali menghangat dengan rona merah yang samar. Untung saja posisi Akira saat ini sedang fokus menghadap ke depan jalan raya, karena jika tidak, pria itu pasti akan dengan mudah menangkap senyuman manis yang sejak tadi gagal disembunyikan oleh Yukari dari balik punggungnya.

***

Motor terus melaju membelah jalanan pedesaan yang perlahan mulai berganti menjadi kawasan pinggiran kota yang semi-modern. Arus lalu lintas di sekitar mereka pun mulai tampak sedikit lebih ramai oleh beberapa truk pengangkut barang yang melintas dari arah berlawanan.

"Akira-san," panggil Yukari lembut setelah suasana kembali tenang.

"Hm?"

"Dipikir-pikir... kau ternyata cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan baru di desa ini, ya."

Akira mengernyitkan dahinya tipis di balik helm beningnya. "Beradaptasi dalam hal apa?"

"Dengan semuanya!" Yukari mulai menghitung menggunakan jari telunjuknya sembari terkekeh kecil dari belakang. "Kau sudah membantu Daiki memanen di ladang, pandai memasak, mengecat pagar depan, dan sekarang... bahkan kau mengantarku."

Sudut bibir Akira kembali terangkat tipis mendengar rentetan pujian itu. "Kurasa itu bukan daftar pekerjaan yang buruk untuk seorang pendatang."

"Nah, kan! Kalau performamu begini terus setiap hari, lama-lama Daiki bisa kehilangan pekerjaannya karena posisinya tergeser olehmu," goda Yukari jenaka.

Akira menggeleng pelan. "Tidak mungkin. Daiki jauh lebih pandai berbicara dan mencairkan suasana daripada aku."

Yukari langsung tertawa renyah mendengarnya. "Hahaha, kamu terlalu tidak percaya diri Akira-san."

Di lampu lalu lintas di sebuah persimpangan kota menyala merah. Akira menarik tuas rem dan menghentikan laju motornya dengan sangat halus.

Saat sedang menunggu giliran lampu berganti menjadi hijau, sepasang mata bulat Yukari tanpa sengaja menangkap pantulan bayangan mereka berdua di kaca etalase sebuah toko besar di tepi jalan. Gerakan matanya mendadak membulat sempurna.

"Eh..." gumam Yukari pelan.

"Ada apa?" tanya Akira heran.

Yukari menunjuk ke arah kaca etalase tersebut. "Coba lihat ke sebelah sana, Akira-san."

Akira mengikuti arah telunjuk Yukari. Di pantulan kaca bening itu, tampak siluet mereka berdua sedang duduk berboncengan di atas motor tua yang sama. Akira berada di depan dengan jaket gelapnya yang tampak gagah, sementara Yukari duduk manis di belakang dengan kardigan hijau serta rambut cokelat panjangnya yang bergoyang lembut tertiup angin siang.

Entah mengapa, komposisi pantulan sederhana itu terlihat sangat serasi, persis seperti potret sepasang kekasih yang sedang melakukan perjalanan jauh bersama.

Sadar akan arah pikirannya yang mulai melantur, Yukari buru-buru mengibaskan sebelah tangannya di udara dengan panik. "E-eh! Maksudku... motor peninggalan Ayah ternyata kalau dilihat-lihat masih kelihatan sangat keren ya jika dipakai di area perkotaan begini!"

Akira kembali menatap lekat pantulan siluet mereka berdua di kaca toko tersebut selama beberapa detik. Senyum samar menghiasi wajahnya. "Ya. Kau benar. Motornya memang terlihat sangat keren."

Jawaban santai dari Akira membuat Yukari mengembuskan napas lega di belakang punggung pria itu. Syukurlah... pria kaku ini sepertinya tidak menyadari hal aneh apa yang sempat melintas di kepalaku tadi, batin Yukari menenangkan diri.

Namun, kenyataannya, Akira sebenarnya sangat menyadarinya. Dia melihat dengan jelas bagaimana posisi duduk mereka yang begitu dekat di pantulan kaca tersebut. bayangan dirinya yang kembali berdiri berdampingan dan melindungi seseorang... tidak lagi terasa menakutkan bagi hatinya.

Motor itu pun kembali berjalan meninggalkan persimpangan lampu merah dan mulai memasuki pusat Kota Aoyama yang padat. Di kejauhan, sebuah papan nama besar bertuliskan "Kyushu Distribution Center" mulai berdiri tegak di tepi jalan raya.

"Akhirnya kita sampai juga," gumam Yukari dengan mata bulat yang berbinar senang melihat tujuan mereka sudah berada di depan mata.

Akira mengangguk pelan dari balik helmnya, membawa motor tua itu berbelok memasuki area parkir. "Ya. Kita sudah tiba, Yukari."

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!