Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Pak Damar di Lorong Gelap
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah kaki itu menggema pelan dari lorong luar ruangan.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Naresha berdiri membeku sambil menggenggam ujung hoodie-nya kuat-kuat.
Dadanya terasa sesak.
Karena entah kenapa…
Ia sudah tahu siapa yang datang.
Evelyn terus mundur perlahan ke sudut ruangan.
Tubuhnya gemetar.
Matanya yang hitam pekat menatap lurus ke arah pintu terbuka.
“Dia datang…” bisiknya lagi.
Arven langsung menutup buku hitam tua itu cepat.
Brak!
Suara bisikan di ruangan langsung berhenti.
Sunyi.
Namun hawa dingin justru terasa semakin berat.
Tok.
Tok.
Tok.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.
Bayangan seseorang terlihat samar di lorong gelap.
Tinggi.
Diam.
Lalu perlahan…
Pak Damar muncul dari kegelapan.
Seragam guru hitamnya rapi seperti biasa.
Ekspresinya tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang muncul di tempat mengerikan seperti ini.
Tatapannya langsung jatuh ke arah buku di tangan Arven.
Dan untuk pertama kalinya…
Pria itu tersenyum lebar.
“Akhirnya ketemu juga.”
Deg.
Naresha langsung mundur satu langkah.
“Bapak…”
Pak Damar masuk perlahan ke dalam ruangan.
Tatapannya bergantian melihat Arven dan Naresha.
“Kalian anak-anak memang terlalu penasaran.”
Nada suaranya lembut.
Namun justru itu yang membuat suasana semakin menyeramkan.
Arven berdiri lebih depan seolah melindungi Naresha.
“Jangan dekat.”
Pak Damar terkekeh kecil.
“Kamu masih sama seperti dulu ya, Arven.”
Tatapan Arven berubah dingin.
“Bapak yang bunuh Evelyn?”
Sunyi.
Naresha langsung menahan napas.
Namun Pak Damar hanya tersenyum tipis.
“Pertanyaan yang bagus.”
“JAWAB.”
Untuk pertama kalinya emosi terlihat jelas di wajah Arven.
Pak Damar memiringkan kepala pelan.
“Kamu pikir semuanya sesederhana pembunuhan biasa?”
Naresha mulai merinding lagi.
Karena cara pria itu bicara terdengar… tidak normal.
Pak Damar berjalan mendekati lingkaran merah di lantai.
Tatapannya tenang memperhatikan simbol tersebut.
“Sekolah ini berdiri jauh sebelum kalian lahir,” ujarnya pelan. “Dan ada sesuatu di sini yang selalu meminta tumbal.”
Deg.
Naresha langsung teringat sosok tanpa wajah di lantai tiga.
“Makhluk itu…” bisiknya pelan.
Pak Damar tersenyum kecil.
“Kalian sudah melihat Penjaga.”
“Penjaga?” ulang Arven dingin.
“Makhluk yang menjaga keseimbangan sekolah ini.”
Naresha mulai muak mendengar omongannya.
“Bapak gila.”
Pak Damar menoleh ke arah Naresha.
Tatapannya tajam.
“Kalau tidak ada pengikat…” suaranya mengecil, “semua orang di sekolah ini sudah mati sejak lama.”
Sunyi.
Naresha merasakan tenggorokannya kering.
Arven mengepalkan tangannya.
“Jadi Evelyn dijadiin tumbal?”
Pak Damar diam beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata,
“Dia dipilih.”
Deg.
Evelyn tiba-tiba menjerit keras dari sudut ruangan.
“BOHONG!”
Ruangan langsung bergetar.
Lampu pecah bersamaan.
Prang!
Prang!
Prang!
Angin dingin berputar liar memenuhi ruangan.
Rambut Evelyn melayang berantakan.
Tubuhnya dipenuhi bayangan hitam.
“Aku ga mau mati!” jeritnya.
Pak Damar menatap Evelyn tanpa rasa takut sedikit pun.
Tatapannya justru… kasihan.
“Kamu seharusnya tetap diam, Evelyn.”
Dan kalimat itu membuat darah Naresha terasa dingin.
Karena terdengar seperti ancaman.
Evelyn mendadak menangis sambil memegang kepalanya.
“Dia bohong…” bisiknya lirih ke arah Naresha. “Dia yang mulai semuanya…”
Deg.
Naresha langsung menoleh ke Pak Damar.
“Apa maksud dia?”
Namun Pak Damar tidak menjawab.
Pria itu justru melangkah mendekati Arven perlahan.
Tatapannya berubah gelap.
“Kamu tahu kenapa kamu bisa melihat mereka, Arven?”
Cowok itu langsung menegang.
Pak Damar tersenyum tipis.
“Karena sejak kecil… kamu sudah dipilih jadi penerus berikutnya.”
Sunyi.
Naresha langsung membeku.
“Hah…?”
Arven terlihat pucat.
Dan ekspresi itu cukup membuat Naresha sadar—
Pak Damar mungkin mengatakan sesuatu yang benar.