"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-Benar Sial
Malam musim gugur di Sekte Bangau Abadi terasa begitu sunyi dan dingin. Di kaki Puncak Kesembilan, suara dengkur si Gendut Wang Ba terdengar bersahut-sahutan seperti guntur kecil. Di sampingnya, Lin Ling perlahan membuka sepasang mata hitam penyamarannya.
Sambil menyunggingkan senyum konyol, Lin Ling bangkit berdiri. Dia tidak repot-repot mengganti baju putih longgarnya dengan pakaian hitam khas pencuri. Baginya, jubah putih ini adalah kamuflase terbaik untuk membaur. Mengandalkan indra batinnya yang tajam, Lin Ling menyelinap keluar dari pondok, melompati pagar asrama, dan melesat menuju Puncak Kedua milik Fraksi Alkimia Obat.
Langkah kakinya begitu ringan, bergerak secepat angin malam tanpa memicu alarm formasi luar. Dalam waktu singkat, Lin Ling sudah berada di kompleks kediaman atas Puncak Kedua, tempat di mana aroma harum mengalir pekat.
Dia mengendus udara malam, mencoba mencari lokasi Aula Penyimpanan Obat utama.
"Ah, aroma ini sangat wangi, manis, dan menyegarkan jiwa. Pasti ini tempat penyimpanan Pil Kondensasi Qi tingkat tinggi atau tanaman obat seribu tahun," gumam Lin Ling dengan mata berbinar taktis.
Tanpa ragu-ragu, Lin Ling mendekati sebuah bangunan kayu giok yang diterangi cahaya lampion redup. Menggunakan kekuatan fisik murni Mahayana-nya, dia mendorong pintu geser bangunan tersebut dengan sangat perlahan dan tanpa suara.
SREEEKKK...
Pintu terbuka. Kabut asap putih yang hangat dan sangat harum langsung menyembur keluar, menyelimuti tubuh Lin Ling. Kamar itu sangat luas, dipenuhi tirai sutra tipis berkilauan. Namun, bukannya melihat rak-rak penuh botol obat, pandangan mata Lin Ling justru menembus kabut asap dan tertuju pada sebuah bak mandi kayu raksasa yang diisi air panas bertabur kelopak bunga spiritual.
Di dalam bak mandi tersebut, seorang wanita berambut hitam panjang sedang menyandarkan punggungnya dengan santai. Wanita itu tidak lain adalah Tetua Duanmu Rong, sang master ranah Nascent Soul pemegang otoritas Fraksi Alkimia Obat.
Tepat pada saat itu, merasakan ada embusan angin dari pintu, Tetua Duanmu Rong membalikkan badannya dengan cepat. Dia menutupi dadanya dengan sebelah tangan, dan matanya langsung tertuju ke arah ambang pintu.
Namun, karena tebalnya kabut asap air panas dan remangnya cahaya lampion, pandangan Tetua Duanmu Rong menjadi terbatas. Dia tidak bisa melihat struktur wajah sang penyusup dengan jelas, melainkan hanya melihat sekelebat rambut putih panjang yang terurai malas di balik kabut asap tersebut.
Bukannya panik atau langsung berbalik lari karena tertangkap basah, watak konyol Lin Ling malah mengambil alih. Berdiri diam di tempatnya, dia menatap siluet Duanmu Rong selama satu detik penuh dari atas ke bawah, lalu menggumam kagum dengan wajah polos tanpa dosa.
"Sial, ini luar biasa..." puji Lin Ling spontan di tempat itu juga, benar-benar mengagumi bentuk tubuh sang Tetua yang begitu sempurna.
Mendengar ucapan blak-blakan dari bayangan berambut putih tersebut, wajah Tetua Duanmu Rong seketika memerah padam antara malu dan murka yang luar biasa. Matanya membelalak lebar penuh kilat pembunuh, memancarkan tekanan mental raksasa ranah Nascent Soul yang langsung mengunci seluruh ruangan.
DEG!
Lin Ling terkejut saat merasakan fluktuasi energi pembunuh dari Tetua Duanmu Rong yang mendadak menyadari keberadaannya secara penuh. Sadar posisinya telah terkunci dan wanita itu siap mengulitinya hidup-hidup, insting taktis Lin Ling langsung berdentang.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lin Ling langsung berbalik dan kabur sekuat tenaga.
WUUUSSHHH—!
Menggunakan kekuatan otot kaki murni ranah Mahayana-nya, dia menghentakkan kaki ke lantai batu hingga tubuhnya melesat bagai kilat putih yang tak kasat mata, bahkan sebelum Tetua Duanmu Rong sempat mengangkat tangan untuk melepaskan serangannya.
Kecepatan larinya begitu mengerikan hingga meninggalkan embusan angin badai yang menggetarkan seluruh pintu dan jendela bangunan kayu tersebut. Dalam hitungan milidetik, Lin Ling sudah melompati atap-atap kompleks, meluncur turun dari Puncak Kedua menuju kaki Puncak Kesembilan seperti hantu putih yang ditiup angin malam.
Di dalam kamar mandi, Tetua Duanmu Rong mendadak membeku. Dia melongo menatap ambang pintu yang sudah kosong melompong dan masih berguncang keras akibat hempasan kecepatan ekstrem tadi.
Sebagai master Nascent Soul, indra batinnya bahkan tidak sanggup melacak ke mana arah perginya si rambut putih itu. Kecepatannya benar-benar berada di luar akal sehat!
"KAU... KULTIVATOR CABUL, AWAS KAU JIKA AKU MENEMUKANMU!!" jerit Tetua Duanmu Rong akhirnya meledak, suaranya yang penuh kemarahan mengguncang seluruh Puncak Kedua.
Sementara itu, begitu berhasil menutup pintu pondok kayu tipis di Puncak Kesembilan dengan gerakan senyap, Lin Ling langsung melompat ke atas tempat tidurnya. Dia menarik selimut katun kasarnya sampai ke kepala, lalu mulai mengasihani dirinya sendiri dengan wajah merana di balik kegelapan selimut.
"Sialan... nasibku kenapa mengenaskan sekali seperti ini?” ratap Lin Ling di dalam hati, meratapi nasib buruknya dengan sangat dramatis.
"Niatku ke Puncak Kedua itu murni dan tulus, untuk merampok Aula Penyimpanan Obat! Aku butuh Pil Kondensasi Qi dan Tanaman Obat Salju Seribu Tahun untuk memberi makan dantianku yang ompong ini! Tapi kenapa... kenapa takdir malah melempar babi malas sepertiku ke kamar mandi wanita murka itu?"
Lin Ling menghela napas berat, memeluk bantalnya dengan nelangsa.
"Energi spiritual tidak dapat, sekarang aku malah resmi menyandang status sebagai buronan cabul misterius di Sekte Bangau Abadi. Kalau ingatan Tetua Duanmu Rong itu tajam, dia pasti akan memburu setiap laki-laki berambut putih di tempat ini sampai ke akar-akarnya! Sial, sial... menjadi orang miskin yang ingin bangkit dari titik nol kenapa sesusah ini, sih?"
Tepat saat Lin Ling sedang sibuk meratapi "kemalangannya", suara dengkur si Gendut Wang Ba di ranjang sebelah mendadak berhenti. Wang Ba menggeliat malas, menggaruk perut buncitnya yang menyembul dari balik selimut, lalu mengigau dengan suara parau.
"Hoam... Saudara Lin... kau belum tidur? Jangan sedih karena kita hanya jadi tukang sapu... Besok aku... aku bagikan bakpaoku lagi untukmu..." Ciap, ciap, ciap. Setelah mengigau konyol, si gendut langsung mendengkur keras kembali.
Mendengar igauan tulus dari sahabat gendutnya, Lin Ling yang awalnya ingin menangisi nasib buruknya langsung terdiam. Dia mengintip dari balik selimut, menatap siluet gempal Wang Ba, lalu sudut bibirnya berkedut menahan tawa konyolnya yang khas.
"Ah, sudahlah. Setidaknya si Gendut ini menghiburku," batin Lin Ling, rasa nelangsanya mendadak menguap begitu saja. "Lagipula, Tetua Duanmu Rong hanya melihat rambut putihku sekilas di balik kabut asap. Besok pagi, aku hanya perlu melakukan sedikit trik pada penyamaranku."
Dengan senyum misterius yang kembali terukir di wajahnya, Lin Ling memejamkan mata hitamnya dengan santai. Urusan obat-obatan bisa dipikirkan besok, yang terpenting malam ini dia lolos dari amukan wanita ranah Nascent Soul berkat fisik dewa miliknya.