Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aku pikir setelah kali bersama Galang dunia ku akan baik-baik saja ternyata salah. Aku baru mengetahui kenyataan pahit sebagai perempuan. Saat di ruang tindakan sebelum aku hilang kesadaran aku mendengar pembicaraan dokter.
"Sus kabari keluarga pasien, bilang pada mereka kalau kita harus melakukan operasi pada rahim pasien, "
"Baik dokter, " jawab suster.
Tak terasa air mata ku jatuh begitu saja karena aku tau setelah sembuh nanti mungkin aku tidak akan bisa hamil.
Saat membuka mata aku sudah berada di ruang perawatan dan di samping ku ada Galang yang menemani ku. Ku tatap wajah pria yang hampir enam bulan jadi suami ku. Pria yang menikahi ku karena harus menggantikan sepupunya. Pria yang saat ini jadi pujaan hati ku orang yang aku sayang. Namun dengan keadaan ku seperti ini apa dia mau menerimaku?.
Tiba-tiba Galang dan aku pun segera menghapus air mataku dan tersenyum manis pada Galang.
"Sayang, kamu udah sadar? " tanya nya sambil memegang tangan ku.
Aku hanya mengangguk dan Galang langsung memanggil dokter. Dokter memeriksa ku dan kondisi ku sudah baik-baik saja.
"Aku senang akhirnya kamu sadar dan baik-baik saja, " ucapnya penuh syukur.
"Aku kenapa bang? " tanya ku pura-pura tidak tahu dan akun ingin tahu Galang bakal jujur atau bohong.
"Kamu cuman kecapean, " jawaban Galang berbohong.
"Maaf ya, coba saja semalam aku gak sentuh kamu mungkin gak akan seperti ini, " lanjutnya dan aku lagi-lagi tersenyum.
Aku tau Galang gak mau buat aku sedih dan kepikiran tapi aku sudah tau semuanya. Selama di rumah sakit Galang selalu menemani ku sampai akhirnya aku di perbolehkan pulang dan entah kenapa aku takut untuk pulang, takut menghadapi keluarga Galang kalau sampai mereka tau kebenarannya.
"Ada apa?, kok kamu kaya gak senang saat tau kamu sudah boleh pulang? " tanya Galang membuat aku kaget.
"Aku... aku gak apa-apa kok bang, " jawab ku berbohong.
Kami pun tiba di rumah dan aku di sambut oleh mama dan bahkan mama mengantar ku ke kamar karena Galang di ajak bicara sama papa.
"Ma" aku memegang tangan mama setelah duduk di atas tempat tidur.
"Ada apa sayang? " tanya mama dengan lembut.
"Mama ingin punya cucu dari bang Galang? " tanya ku dengan sedikit takut.
"Kenapa kami tanya seperti itu?, mungkin semua orang tua berharap anaknya memberikan cucu tapi jika allah tidak mengijinkan mau gimana toh punya anak bukan kita yang tentukan, " jawab mama membuat aku kaget dan sepertinya mama udah tau dengan keadaan ku.
"Kenapa kamu tanya seperti itu? " tanya balik mama dan aku hanya hanya menggelengkan kepala.
"Ya sudah kamu istirahat saja, jangan banyak pikiran! " ucap mama lalu keluar dari kamar ku.
Sejak pulang dari rumah sakit aku selalu mengurung diri di kamar, aku keluar jika waktunya makan. Aku benar-benar jika dunia sudah runtuh.
"Al, " panggil Galang saat masuk kamar setelah makan karena aku memilih duluan.
Aku melirik ke arah Galang dan tersenyum.
"Mama bilang akhir-akhir ini kamu hanya diam di kamar, ada apa? " dengan lembut Galang bertanya.
"Aku gak apa-apa bang, cuman males aja, " bohong ku.
"Mama sangat khawatir sama kamu dia takut kamu kenapa-napa jadi mulai besok kamu jangan diam di kamar terus, " pinta Galang dan entah kenapa itu membuat aku sedih.
"Bang bisa gak jangan atur aku, terserah aku mau diam di kamar atau gimana pun, tolong jangan paksa aku, " balas ku dengan nada sedikit tinggi dan aku bisa lihat Galang sedikit marah.
"Ada apa sebenarnya? " tanya nya sambil menahan emosi.
"Aku gak apa-apa bang, aku cuman males aja, " jawab ku ketus.
Galang menarik nafas dalam lalu dia pergi begitu saja dan aku hanya bisa menangis. Keadaan sepeti itu terus berlanjut bahkan Galang jarang pulang.
"Alika, " mama. menghampiri ku.
"Ada yang mama bicarakan sama kamu, " dengan lembut mama berkata.
"Ada apa ma? " tanya ku.
"Kamu sama Galang berantem? " tanya mama dan aku hanya mengangguk.
"Kalau ada apa-apa itu bicarakan jangan sampai kalian salah paham, gak baik kalau seperti ini, " mama menasehati ku.
"Aku tau ma, tapi kenapa harus aku yang lebih dulu mengalah,?" tanya ku.
"Aku tau disini memang aku yang salah ma, tapi aku bingung harus bagaimana? ".
" Sebenarnya ada apa? "tanya mama.
" Mama sama bang Galang pasti tau, tapi kalian gak mau aku tau, "jawab ku.
" Al, maksud nya apa mama gak ngerti, "desak mama ingin aku menjelaskan.
" Kalian udah tau kan, kalau aku gak bisa hamil? "tanya ku dan reaksi mama kaget mungkin dia kaget kenapa aku bisa tau.
" Maksud kamu apa?, mama gak ngerti"mama mencoba pura-pura tidak tahu.
"Ma, jangan bohong, aku udah tau semaunya dan aku gak mau jadi beban buat kalian, " ujar ku dan mama air mata langsung jatuh begitu saja.
"Mama juga perempuan, mama pasti bakal ngerti gimana perasaan aku saat ini, " lanjut ku.
Mama langsung memeluk ku dan aku menangis di pelukan mama.
"Maafkan mama, mama gak mah kamu tau karena mama takut kamu sedih, " ujar mama.
Setelah bicara dengan mama dan mama sudah tau kenapa aku seperti itu aku pun segera membereskan baju ku aku bakal pergi sebelum Galang pulang karena mama bilang dia sedang di luar kota bersama Ilham. Namun tiba-tiba ponsel ku berbunyi dan aku pun segera mengambilnya dan melihat ada pesan masuk dari siapa. Namun aku di buat terkejut saat melihat sebuah foto yang entah siapa pengirimnya. Foto Galang bersama wanita lain masuk ke sebuah hotel dan tidur bersama.
Hancur sudah hati ku, walau itu yang aku mau tapi saat melihat kenyataannya hati ku benar-benar sakit dan gak kuat. Aku pun hanya bisa menangis tak ada keberanian buat menghubungi Galang untuk meminta penjelasan. Setelah merasa tenang aku pun berdiri lalu melangkah keluar dangan membawa sebuah tas yang berisi baju ku walau tidak banyak. Semua orang sudah tidur dan membuat aku dengan santai keluar dari ruang ini. Aku terus berjalan dan entah kemana tujuan ku karena aku gak mungkin pulang ke rumah orang tua. Sampai tiba di halte bus aku duduk dan terus berpikir aku harus pergi kemana.
"Alika, " panggil seseorang dari sebuah mobil dan membuat aku melihat ke arah orang itu.
"Suci, " balas ku karena ternyata yang memanggil ku Suci sahabat ku saat di kampung.