THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: RAHASIA DI BALCON
Musik orkestra di dalam aula utama masih bergema, namun suaranya terasa jauh dan samar bagi Raka. Di tangannya, gelas jus buah itu sudah hangat, tapi dia tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada Elara yang berdiri di sampingnya, napasnya masih sedikit tersengal sisa dari tarian waltz mereka.
Pipi Elara masih merona merah, kontras dengan gaun biru dongkernya yang elegan. Dia menatap Raka, seolah menunggu sesuatu. Atau mungkin, sekadar menikmati keheningan di antara mereka berdua setelah keramaian dansa.
"Di sini... terlalu ramai," bisik Elara, suaranya hampir tertelan oleh denting gelas-gelas kristal tamu lain. "Aku butuh udara segar. Udara yang asli, bukan AC berfilter."
Raka mengangguk paham. Dia tahu persis apa yang dimaksud Elara. Di Aetheria, semuanya serba buatan, serba dikontrol. Bahkan angin pun diatur oleh algoritma cuaca.
"Ayo," kata Raka pendek. Dia meletakkan gelasnya di meja pelayan robot yang lewat, lalu mengulurkan tangan pada Elara. Tanpa ragu, Elara menerimanya. Jari-jari mereka saling bertautan, erat dan hangat.
Mereka menyelinap keluar dari kerumunan, melewati pintu geser kaca raksasa di sisi belakang aula. Saat pintu itu terbuka, hawa malam yang sejuk langsung menyambut mereka.
Mereka berada di sebuah balkon luas yang menjorok keluar dari gedung pencakar langit tertinggi di Aetheria. Lantainya terbuat dari kaca transparan kuat, memungkinkan mereka melihat langsung ke bawah—ke lautan awan tebal yang berarak pelan, diterangi oleh cahaya bulan buatan dan lampu-lampu kota di kejauhan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa aroma ozon bersih dan sedikit aroma bunga sintetis dari taman gantung di lantai bawah.
Ini adalah tempat yang sunyi. Jauh dari sorotan mata para elit yang sibuk berpura-pura bahagia.
Elara berjalan menuju pagar pembatas balkon, menopangkan kedua tangannya di atas rel besi dingin. Dia menatap kegelapan di bawah awan, ke arah Sektor Bawah tempat mereka berasal.
"Indah ya," gumam Elara pelan. "Dari sini, dunia terlihat begitu tenang. Tidak ada kemiskinan, tidak ada kejahatan, tidak ada rasa sakit. Semuanya tampak... sempurna."
Raka berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehadiran Elara. Dia juga menatap ke bawah. Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin menakutkan—ketinggian yang bisa membuat pusing. Tapi bagi Raka, itu adalah pengingat. Pengingat bahwa di balik kemewahan Aetheria, ada realitas keras yang harus mereka lindungi.
"Tapi itu cuma ilusi, El," kata Raka lembut. "Ketenangan ini mahal harganya. Dan rapuh."
Elara menoleh padanya, matanya berkilau terkena pantulan cahaya kota. "Kadang aku takut, Ka."
Raka menatapnya, bertanya-tanya dalam hati. "Takut apa?"
Elara menghela napas panjang, uap putih tipis keluar dari mulutnya. "Takut kalau ini semua cuma mimpi. Momen-momen seperti tadi... dansa itu, tawa Bimo, Kai yang akhirnya bisa tidur nyenyak... Kita terlalu bahagia, Ka. Setelah semua perang, semua kehilangan, semua trauma... rasanya tidak adil jika kita dibiarkan bahagia selamanya. Aku takut bangun-bangun, semua ini hilang. Aku takut kamu hilang."
Kalimat terakhir itu diucapkan begitu pelan, hampir seperti angin yang berhembus. Tapi Raka mendengarnya jelas. Hatinya bergetar.
Dia melangkah lebih dekat, hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Raka menatap Elara lekat-lekat, mencari kata-kata yang tepat. Kata-kata yang bisa menenangkan ketakutan terdalam wanita yang dia cintai.
"Kalau ini mimpi," kata Raka perlahan, suaranya berat namun penuh ketulusan, "berarti aku nggak mau bangun. Aku ingin tinggal di mimpi ini selamanya, selama kamu ada di dalamnya."
Elara tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca.
Raka melanjutkan, mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi Elara dengan lembut. Jari-jarinya yang kadang bergetar karena 'glitch' internalnya, kali ini stabil karena fokusnya sepenuhnya pada Elara.
"Tapi tenang, El. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan selama aku ada di sini..." Raka menekan kata-katanya, memberikan penekanan khusus pada frasa itu, "...aku pasti jaga mimpi ini tetap nyata buat kamu. Aku akan jadi penjagamu. Aku akan memastikan kamu selalu aman, selalu bahagia, dan selalu punya alasan untuk tersenyum."
Elara memejamkan mata sebentar, menikmati sentuhan hangat tangan Raka di pipinya. Saat dia membuka matanya lagi, ada kepercayaan penuh di sana. Kepercayaan buta yang indah dan menyakitkan.
"Aku percaya padamu, Rak. Selalu."
Mereka berdiri diam beberapa saat, menikmati angin malam dan pemandangan awan yang berarak. Di kejauhan, kilat-kilat kecil menyambar di antara awan, tanda badai elektromagnetik kecil yang biasa terjadi di lapisan atmosfer atas. Tapi di balkon itu, suasana terasa damai, terlindung dari segala gangguan.
Raka menatap profil Elara. Dia ingin mengatakan lebih banyak. Dia ingin mengatakan betapa dia mencintai wanita ini, betapa dia rela melakukan apa saja demi senyumnya. Tapi ada sesuatu yang menahan lidahnya. Sebuah beban rahasia yang dia pikul sendirian.
Rasa sakit di dadanya kembali muncul, kali ini lebih tajam. Seperti ada jarum halus yang menusuk jantungnya dari dalam. Raka menahan desisan sakit itu, menjaga ekspresinya tetap tenang. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Tidak sekarang. Tidak di momen sesempurna ini.
Selama aku ada di sini, pikir Raka dalam hati, kata-kata itu bergema seperti kutukan sekaligus janji suci. Janji itu benar. Tapi berapa lama 'di sini' itu akan bertahan? Berapa lama napasku masih bisa kuhembuskan untuk menjagamu?
Dia tidak memberitahu Elara. Dia tidak akan pernah memberitahunya. Karena melihat Elara bahagia, percaya pada masa depan mereka, adalah satu-satunya hal yang membuat rasa sakit itu tertahankan.
Elara membuka matanya, menatap Raka lagi. "Ka, lihat! Bintang jatuh!"
Raka menoleh ke langit. Sebuah garis cahaya putih melintas cepat di antara bintang-bintang buatan, menghilang dalam sekejap.
"Minta (permintaan) apa?" tanya Raka.
Elara tersenyum, lalu mencondongkan kepalanya ke bahu Raka. "Aku sudah mendapatkannya. Kamu ada di sini. Itu cukup."
Raka memeluk bahu Elara, menariknya lebih dekat. Dia menatap bintang yang sudah hilang itu, merasa hampa sekaligus penuh.
I wish I could stay with you forever, batin Raka, doa yang tak terucap. But if I can't... let my love be enough to protect you when I'm gone.
Malam itu, di balkon Kota Terapung, di bawah langit palsu yang indah, dua hati bersatu dalam janji yang manis. Janji yang akan menjadi kenangan paling berharga, dan sekaligus paling menyakitkan, di hari-hari kelam yang akan datang.
Angin berhembus lebih kencang, membawa dingin yang menusuk. Tapi di pelukan Raka, Elara merasa hangat. Dan untuk saat itu, itu adalah satu-satunya kebenaran yang mereka butuhkan.
Bersambung...