Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 jenderal wanita lentera es dan sang teratai pandai besi
Badai salju perlahan mereda seiring terbitnya matahari pagi di atas Lembah Ngarai Besi. Sinar keemasan memantul dari permukaan salju yang telah membeku bersama ribuan genangan darah. Di tengah lembah, seratus ribu prajurit Pasukan Naga Hitam terbangun dengan kondisi fisik yang terasa seperti terlahir kembali.
Pil Pembersih Sumsum yang dicairkan ke dalam kuali-kuali air panas semalam telah menyapu bersih rasa kelelahan ekstrem mereka. Urat-urat nadi yang sebelumnya tersumbat kini dialiri kembali oleh energi qi yang hangat dan bertenaga. Sorak-sorai kemenangan bergema membelah tebing-tebing hitam. Mereka selamat dari ancaman pembantaian Suku Barbar Badai, dan yang lebih penting, perut mereka terisi penuh oleh roti daging serta arak spiritual.
Di atas sebuah tebing yang menghadap langsung ke arah kamp militer, Bahtera Awan Emas melayang tenang bagai dewa penjaga.
Di geladak utama, Cang Qixuan berdiri mengamati lautan manusia berzirah hitam di bawahnya. Jubah sutra merahnya berkibar pelan. Matanya yang berwarna amber-emas memancarkan kepuasan seorang pemangsa yang baru saja mengunci buruannya di dalam kandang berlapis emas. Pasukan ini kini sepenuhnya berada dalam genggamannya. Kesetiaan mereka telah dibeli dengan makanan, dan nyawa mereka telah diikat erat oleh penawar racun berkala yang hanya bisa ia sediakan.
"Tuan Muda," Lin Sanniang melangkah mendekat dari arah buritan kapal. "Prajurit di bawah sedang mengumpulkan sisa-sisa mayat musuh dan senjata yang ditinggalkan. Semangat mereka berada di titik tertinggi. Sayangnya, ada sebuah masalah kecil dalam hierarki komando. Kematian Jenderal Mu Chenghai meninggalkan kekosongan kepemimpinan di tingkat operasional. Para kapten divisi mulai berdebat tentang siapa yang berhak mengatur distribusi logistik dan penjagaan."
Qixuan tidak langsung menjawab. Ia terus memutar mutiara naga di tangannya. Sebuah pasukan tanpa komandan lapangan yang cerdas tidak lebih dari sekumpulan preman bersenjata. Ia sendiri tidak tertarik untuk tinggal di perbatasan yang dingin ini hanya demi mengatur jadwal ronda prajurit.
"Panggil seluruh kapten divisi ke bawah tebing. Aku akan menunjuk panglima pelaksana hari ini juga," perintah Qixuan ringan.
Satu jam kemudian, sekitar lima puluh kapten berzirah berat berkumpul di tanah lapang di bawah bayangan bahtera. Mereka memancarkan aura prajurit veteran yang keras, dengan tingkat kultivasi rata-rata berada di tahap Pengumpulan Qi tingkat akhir. Ketika Qixuan melompat turun dari bahteranya dan mendarat dengan gerakan selembut bulu di hadapan mereka, seluruh kapten tersebut serentak berlutut memberi hormat.
"Tuan Muda Cang! Panglima Tertinggi!" seru mereka serempak.
"Berdirilah," Qixuan mengibaskan kipasnya, berjalan perlahan melewati barisan para komandan kasar tersebut. "Pasukan ini membutuhkan otak baru untuk menggantikan Mu Chenghai yang tidak berguna. Siapa di antara kalian yang paling mengerti tentang manajemen logistik, formasi pertahanan, dan pergerakan Suku Barbar?"
Para kapten saling pandang. Sebagian besar dari mereka adalah petarung garis depan yang hanya tahu cara mengayunkan pedang, bukan membaca peta strategis.
Di tengah keheningan itu, terdengar langkah kaki ringan. Barisan kapten di belakang perlahan terbuka, memberikan jalan bagi sesosok prajurit yang ukurannya jauh lebih ramping dibandingkan yang lain.
Sosok itu mengenakan zirah perak kusam tanpa lambang pangkat. Ia melepaskan helm bajanya, menggerai rambut hitam panjang yang diikat tinggi. Wajahnya sangat menawan, memiliki kulit putih pucat bak pualam dengan rahang yang tegas. Sepasang matanya sedingin telaga es, memancarkan kecerdasan tajam yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Dia adalah seorang wanita.
"Nama hamba Leng Yue, Tuan Muda," wanita itu menunduk memberi hormat, suaranya jernih dan tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Hamba menjabat sebagai Perwira Pencatat Logistik Tingkat Tiga. Jika Anda mencari seseorang yang memahami arus perbekalan dan formasi lembah ini lebih baik dari siapa pun, hamba berani mengajukan diri."
Bisik-bisik langsung terdengar di antara para kapten. Beberapa dari mereka membuang muka dengan tidak senang.
"Leng Yue, mundurlah! Ini bukan tempat bagi seorang pencatat buku!" tegur seorang kapten berjanggut tebal.
Qixuan mengangkat tangannya, seketika membungkam protes tersebut. Ia menatap Leng Yue dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aura wanita itu berada di tingkat Pembentukan Fondasi tahap awal, jauh lebih kuat dari mayoritas kapten di sana. Menariknya, auranya disembunyikan dengan teknik penyamaran yang sangat rapi.
"Seorang wanita dengan kultivasi setinggi ini, berakhir menjadi pencatat logistik rendahan?" Qixuan berjalan memutari Leng Yue, kipasnya mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. "Katakan padaku, Leng Yue. Mengapa Mu Chenghai menaruhmu di belakang meja alih-alih di garis depan?"
Mata dingin Leng Yue menatap lurus ke arah wajah Qixuan, sama sekali tidak terintimidasi oleh tekanan aura pemuda berjubah merah tersebut.
"Karena ayah hamba adalah Jenderal Leng Feng, salah satu loyalis paling setia dari Tuan Besar Cang Baotian," jawab Leng Yue lugas. "Ketika Mu Chenghai mengambil alih, ia menyingkirkan seluruh perwira yang setia pada kakek Anda. Karena hamba seorang wanita, ia menganggap hamba tidak cukup berbahaya untuk dibunuh, lalu membuang hamba ke bagian gudang untuk menghitung karung gandum yang kosong."
Seringai tipis terbentuk di bibir Qixuan. "Begitu rupanya. Karena kau bertugas menghitung gandum... kau pasti menyadari sesuatu yang aneh bulan lalu, bukan?"
Udara di sekitar mereka mendadak terasa tegang. Leng Yue tidak menghindari tatapan Qixuan. Ia melangkah maju setengah tindak.
"Hamba menyadarinya, Tuan Muda," suara Leng Yue merendah, hanya cukup untuk didengar oleh Qixuan dan beberapa kapten terdekat. "Penyakit misterius yang melumpuhkan pasukan ini tidak memiliki gejala medis yang wajar. Hilangnya tenaga bermula tepat tiga hari setelah jatah arak spiritual musim dingin dibagikan. Lalu, secara kebetulan yang sangat ajaib, Tuan Muda Cang muncul membawa makanan dan 'obat ajaib' yang menyembuhkan segalanya dalam semalam."
Para kapten tersentak. Mereka bukan orang bodoh, kata-kata Leng Yue secara tidak langsung menuduh bahwa Qixuan sendiri yang meracuni mereka.
Lin Sanniang yang berdiri di belakang Qixuan sudah memegang gagang pisaunya, siap membunuh wanita itu sebelum rumor menyebar.
Alih-alih marah, tawa Qixuan meledak. Tawa yang sangat renyah dan penuh kepuasan menggema di celah ngarai, membuat para kapten bergidik ngeri.
"Luar biasa!" Qixuan bertepuk tangan pelan, matanya berkilat penuh kekaguman yang berbahaya. "Kau sangat cerdas, Nona Leng. Kau tahu kebenarannya. Sekarang, apakah kau akan menghunus pedangmu untuk membalaskan dendam Mu Chenghai dan membela kehormatan kekaisaran?"
Leng Yue menggeleng pelan. Ia menarik pedang peraknya dari sarung, lalu meletakkannya mendatar di atas kedua telapak tangannya, dan berlutut dengan satu kaki di hadapan Qixuan.
"Kekaisaran membiarkan kami mati kelaparan, sedangkan Anda memberi kami kehidupan kedua, terlepas dari metode apa pun yang Anda gunakan," ucap Leng Yue mantap. "Di dunia yang brutal ini, kebenaran hanyalah milik mereka yang mampu memberi makan pasukannya. Jika Anda bisa memastikan seratus ribu saudara hamba ini tidak kelaparan di musim dingin, pedang Leng Yue akan menjadi bilah eksekusi Anda yang paling setia."
Qixuan menyipitkan matanya. Wanita ini adalah jenis bawahan yang paling ia sukai: cerdas, rasional, tidak terikat oleh moralitas buta, dan tahu cara menimbang keuntungan.
"Mulai detik ini," Qixuan mengambil pedang perak dari tangan Leng Yue, lalu meletakkannya di atas bahu wanita itu seperti sebuah prosesi penobatan. "Kalian semua memanggilnya Wakil Jenderal Leng Yue. Dia adalah komandan lapangan tertinggi Pasukan Naga Hitam di bawah komandoku langsung. Setiap perintahnya adalah perintahku. Siapa saja yang berani menentangnya, akan berhadapan dengan murkaku."
Para kapten yang awalnya meremehkan Leng Yue kini menundukkan wajah mereka serempak, meneriakkan pengakuan mereka. Di bawah bayangan bahtera emas tersebut, seorang jenderal wanita baru telah bangkit, siap menjadi tameng es bagi sang Naga Bayangan di perbatasan utara.
Sementara angin perubahan berhembus kencang di utara, atmosfer di dalam Istana Naga Langit Jinling nyaris meledak karena kepanikan.
Di dalam Ruang Belajar Kekaisaran, Kaisar Yan Wudi membanting tumpukan perkamen ke lantai. Wajah tuanya terlihat sepucat kertas. Di hadapannya, Han Mian dan Putri Yan Ling berdiri dengan raut wajah muram.
"Semuanya bohong!" raung Kaisar Wudi, telunjuknya yang gemetar menunjuk ke arah perkamen yang berserakan. "Laporan dari mata-mata bayangan kita menyatakan bahwa Cang Qixuan mendarat di Lembah Ngarai Besi menggunakan Bahtera Awan Emas kelas Surga! Dia menghancurkan pemimpin Suku Barbar hanya dengan satu pukulan, lalu membeli kesetiaan seluruh Pasukan Naga Hitam menggunakan makanan dan pil!"
Han Mian menyeka keringat dingin di dahinya menggunakan lengan baju sutranya. "Yang Mulia... kita telah melakukan kesalahan besar. Pemuda tanpa meridian itu tidak hanya memiliki kekayaan absolut dari Konsorsium Katak Emas, ia ternyata juga menyembunyikan kekuatan bela diri tingkat tinggi. Selama ini, gaya hidupnya yang gemar berfoya-foya hanyalah topeng sempurna untuk merajut konspirasi."
"Dia telah mencuri pasukan kita dari dalam tangan kita sendiri," desis Putri Yan Ling, tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa malu saat pusaka cerminnya hancur di Perjamuan Bunga Persik kembali membakar dadanya. Ia kini sadar, pemuda hidung belang yang selalu menggodanya itu sesungguhnya adalah monster perencana yang memandangnya tak lebih dari sekadar lelucon.
"Tuan Putri benar," Han Mian menambahkan dengan nada bergetar. "Jika Qixuan mengarahkan Pasukan Naga Hitam berbalik menyerang Jinling saat ini, kita tidak memiliki cukup pasukan untuk mempertahankan ibukota. Sisa perbendaharaan negara habis, gandum kita ditahan, tambang besi militer kita dikuasai olehnya."
"Kita tidak akan menyerah pada seorang anak bau kencur!" Kaisar menggeram, mencoba mengatur sirkulasi qi-nya yang berantakan. "Pasukan itu masih memiliki keluarga di ibukota! Terlebih lagi, Cang Baotian masih berada di kediamannya di bawah pengawasan kita. Kita jadikan Jenderal Tua itu sebagai sandera! Kirim Pasukan Bayangan Gelap malam ini juga, tangkap Baotian hidup-hidup!"
Yan Ling menggelengkan kepalanya perlahan, memadamkan rencana ayahnya. "Sudah terlambat, Ayahanda. Mata-mata kita melaporkan bahwa sejak fajar tadi, Kediaman Cang telah diselimuti oleh Formasi Gaib tingkat Bumi yang luar biasa rumit. Siapa pun yang mencoba masuk akan tersesat di dalam labirin ilusi dan mati. Qixuan tidak meninggalkan keluarganya tanpa pertahanan. Dia sudah merencanakan setiap langkahnya."
Kaisar terdiam kaku. Ia merosot kembali ke kursinya. Mahkota naga di kepalanya terasa begitu berat. Selama puluhan tahun memimpin Benua Timur, baru kali ini ia merasa dikendalikan bagai boneka kayu oleh seorang pemuda berusia dua puluh tahun.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?" bisik sang penguasa tertinggi itu, nada suaranya memancarkan keputusasaan yang telanjang.
Yan Ling memancarkan aura es yang membekukan lantai di sekitarnya. "Kekuatan militer mungkin berpihak padanya, kekayaan mungkin berpihak padanya. Hanya saja, dia lupa satu hal. Kekaisaran Yan bukan sekadar kumpulan tentara dan emas. Kita memiliki sekutu dari dunia atas."
Mata Kaisar Wudi sedikit melebar. "Maksudmu... Sekte Pedang Awan Putih?"
"Bukan hanya mereka," Yan Ling tersenyum dingin. "Leluhur Agung dari Sekte Langit Berkabut berhutang nyawa pada kakek buyut kita. Kirimkan dekrit emas. Minta bantuan dari tiga sekte ortodoks terbesar untuk menumpas 'Iblis Sesat' yang menguasai utara. Jika kita menyebarkan rumor bahwa Qixuan menggunakan teknik sihir terlarang untuk mencuci otak pasukan, para tetua sekte itu akan berebut turun gunung untuk memenggalnya demi menegakkan jalan kebenaran."
Kaisar Yan Wudi menghela napas lega, seolah mendapatkan sepotong kayu di tengah lautan yang mengamuk. Meminjam pedang para dewa untuk membunuh manusia fana. Itulah jalan satu-satunya.
Kembali ke wilayah utara.
Setelah menyerahkan seluruh urusan restrukturisasi kamp kepada Wakil Jenderal Leng Yue, Qixuan tidak segera kembali ke ibukota. Berada di lingkungan yang dikelilingi ribuan prajurit membuat aliran energi di dalam tubuhnya semakin liar.
Pusaran elemen Bumi dan elemen Air Kegelapan (Yin) di dalam Dantiannya terus berbenturan, menuntut penyelesaian. Untuk melangkah ke tingkat Pembentukan Fondasi tahap akhir, ia membutuhkan elemen penyeimbang mutlak: Api Yang ekstrem.
Di dalam kabin utama Bahtera Awan Emas yang kembali mengudara, Qixuan membaca laporan intelijen rahasia yang diserahkan oleh Lin Sanniang.
"Puncak Merah. Sebuah gunung berapi aktif di tepi Gurun Beku Utara," Qixuan menggumamkan baris kalimat dari gulungan tersebut.
Sanniang yang berdiri di dekatnya mengangguk. "Benar, Tuan Muda. Di sanalah letak Paviliun Teratai Api. Tempat itu dihuni oleh seorang pandai besi legendaris bernama Hong Lian. Wanita itu dikenal eksentrik, menolak tunduk pada kekaisaran maupun sekte mana pun. Tungku pandai besinya digerakkan oleh *Api Inti Bumi*, salah satu varian api Yang paling murni di benua ini. Banyak ahli senjata mencoba menaklukkan api tersebut, berujung mati menjadi abu."
Mata Qixuan berbinar penuh antisipasi. "Api Inti Bumi... Sempurna. Jika aku menyerapnya untuk membentuk Pusaran Kelima, fondasiku akan menjadi tak tersentuh. Perintahkan juru mudi bahtera, arahkan kemudi menuju Puncak Merah sekarang juga."
Sanniang sedikit ragu. "Tuan Muda, Nona Hong Lian sangat membenci tamu tak diundang. Dia pernah melemparkan seorang utusan dari Sekte Api Suci ke dalam kawah vulkanik hanya karena orang itu mengkritik hasil tempaannya. Dia tidak bisa disuap dengan uang biasa."
"Setiap orang memiliki harga, Sanniang," Qixuan menguap pelan, merentangkan tangannya. "Jika dia tidak bisa disuap dengan uang biasa, kita akan menyuapnya dengan uang yang sangat tidak masuk akal. Lagipula, aku membawa bangkai Serigala Salju Raksasa bermata tiga milik Khuza di ruang es kapal ini. Aku yakin seorang pandai besi akan melompat kegirangan melihat tulang spiritual kelas atas seperti itu."
Bahtera Awan Emas segera memutar arah, meninggalkan Ngarai Besi dan melesat membelah langit menuju cakrawala yang dipenuhi asap hitam tebal.
Dua jam kemudian, pemandangan salju putih di bawah mereka mulai digantikan oleh hamparan batu lahar hitam. Udara yang tadinya membekukan tulang berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan. Di kejauhan, sebuah gunung berapi berbentuk kerucut sempurna memuntahkan lahar pijar yang menyala merah terang.
Tepat di bibir kawah yang mengerikan tersebut, bertengger sebuah bangunan luas berbahan batu obsidian hitam. Itulah Paviliun Teratai Api.
Bahtera emas Qixuan mendarat di pelataran batu obsidian dengan suara benturan halus. Hawa panas langsung menyergap wajah saat Qixuan melangkah turun ke pelataran.
Suara dentingan logam yang sangat keras bergaung dari dalam bangunan terbuka tersebut.
Qixuan melangkah santai memasuki area paviliun pandai besi. Pemandangan di dalamnya sukses membuat siapa pun terperangah. Alih-alih diisi oleh pria-pria tua berotot yang dipenuhi keringat, tungku raksasa di tengah ruangan itu sedang dioperasikan oleh seorang wanita muda.
Wanita itu luar biasa menawan dengan cara yang sangat liar. Rambut merah apinya diikat tinggi dengan jepit dari tulang monster. Ia hanya mengenakan pakaian dari kulit binatang tahan panas yang sangat minim, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis dan kulitnya yang berwarna cokelat eksotis, mengkilap oleh keringat. Di tangannya, ia memegang palu raksasa berwarna merah membara, menghantam sebilah pedang yang menyala terang.
Setiap pukulan palunya mengandung ritme kultivasi yang selaras dengan dentuman magma di bawah gunung. Auranya memancarkan panas tingkat Pembentukan Fondasi tahap puncak.
Dialah Hong Lian, Sang Teratai Pandai Besi.
Menyadari ada langkah kaki asing memasuki wilayahnya, Hong Lian menghentikan ayunan palunya. Ia menoleh, menyapu sosok Qixuan yang mengenakan jubah sutra merah mewah dengan tatapan jijik.
"Seorang bangsawan kota yang tersesat mencari tempat mandi uap?" suara Hong Lian serak namun sangat bertenaga, dipenuhi aura dominasi. Ia menyandarkan palu raksasanya di atas landasan tempa. "Ini bukan rumah hiburan, Tuan Muda. Jika kau tidak ingin sutra mahalmu itu terbakar menjadi abu, berbaliklah dan kembali ke bahtera emasmu yang norak itu."
Qixuan tidak terprovokasi. Ia justru melangkah lebih dekat, mengipasi dirinya sendiri meskipun hawa panas terus mencoba membakar kulitnya. Pusaran Air Kegelapan di dadanya bekerja secara otomatis, memancarkan aura es tipis yang melindungi tubuhnya.
Merasakan aura es purba tersebut, mata Hong Lian menyipit tajam. "Qi Yin Kegelapan? Menarik. Tapi itu tidak cukup untuk membuatku menerimamu sebagai tamu. Pergi sebelum aku melemparkan palu ini ke kepalamu."
"Nona Hong Lian, kau benar-benar tidak ramah pada calon pelanggan terbesarmu," Qixuan menghela napas panjang, merogoh ruang di dalam cincin penyimpanannya.
Dalam satu kibasan tangan, sepuluh peti kayu jati melayang keluar dan mendarat keras di atas lantai obsidian. Tutup peti-peti itu terbuka secara otomatis, memancarkan cahaya silau yang mampu mengalahkan terangnya lava di kawah sana. Ribuan keping emas murni tingkat kekaisaran tersusun rapi hingga tumpah ruah ke lantai.
"Ini seratus ribu tael emas," ucap Qixuan santai.
Hong Lian mendengus kasar. "Bongkahan logam lunak yang tidak berguna. Aku tidak membuat senjata dari emas. Emas hanya pantas digunakan sebagai perhiasan pelacur di ibu kota. Uangmu tidak berlaku di sini."
Qixuan tersenyum lebar. Ia sama sekali tidak tersinggung. Ayunan tangannya kembali bergerak. Kali ini, sebuah peti raksasa berlapis es mendarat dengan dentuman yang menggetarkan lantai.
Tutup es itu mencair perlahan. Di dalamnya, terbaring utuh tulang belulang dan taring raksasa milik Serigala Salju bermata tiga—monster buas tingkat menengah yang dibunuh Qixuan di Lembah Ngarai Besi. Aura Yin ekstrem dari tulang tersebut masih memancar kuat.
Ekspresi Hong Lian seketika berubah. Palu di tangannya nyaris terjatuh. Sebagai seorang pandai besi, bahan material langka adalah nyawanya. Tulang serigala es purba seperti ini sangat mustahil didapatkan karena habitat aslinya berada di zona terlarang badai salju.
"Ini... Tulang Serigala Salju Mata Tiga? Dan kondisinya sangat utuh tanpa cacat tebasan pedang?" Hong Lian melangkah maju mendekati peti es tersebut, matanya berbinar penuh nafsu seorang seniman. Ia mengelus tulang raksasa itu seakan mengelus sutra paling halus.
"Kau mendapatkan perhatianku, Bangsawan," Hong Lian mendongak menatap Qixuan, senyum buas tersungging di bibirnya. "Apa yang kau inginkan? Pedang kelas Bumi? Zirah anti-magma? Sebutkan pesananmu, dan tulang ini akan menjadi bayarannya."
"Aku tidak butuh senjata, apalagi zirah," Qixuan menggeleng pelan, melipat tangan di depan dada. Pandangannya beralih melewati tubuh seksi Hong Lian, mengunci tatapan pada tungku raksasa di tengah ruangan. Di dalam tungku itu, nyala api tidak berwarna merah, melainkan berwarna kuning keemasan yang sangat pekat, seolah memiliki nyawa sendiri. Itulah Api Inti Bumi.
"Aku hanya ingin 'mandi uap' di dalam tungkumu itu selama satu jam," ucap Qixuan enteng.
Keheningan melanda Paviliun Teratai Api. Suara letupan magma di bawah kawah terdengar semakin nyaring.
Hong Lian mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna kalimat gila yang baru saja ia dengar. Mandi di dalam tungku Api Inti Bumi? Bahkan baja terkuat pun akan meleleh dalam sepuluh detik di sana!
"Kau ingin bunuh diri?" seru Hong Lian, tertawa keras dan sarkas. "Jika kau punya masalah hidup yang berat, lompat saja ke kawah di luar. Jangan mengotori tungku suciku dengan daging panggangmu. Api itu adalah inti spiritual dari gunung ini. Menyentuhnya sama dengan membakar jiwa!"
Qixuan mulai berjalan mendekati tungku tersebut. Hawa panas yang memancar semakin ekstrem hingga jubah sutra mewahnya mulai berasap.
"Biarkan aku meminjam apimu selama satu jam, Hong Lian. Seratus ribu emas dan kerangka serigala itu adalah milikmu. Ditambah lagi..." Qixuan berhenti tepat di depan tungku, wajahnya memantulkan cahaya api keemasan. "...jika aku keluar dari sana dalam keadaan hidup, kau harus bersumpah untuk menjadi pandai besi pribadi bagi pasukanku selamanya."
Hong Lian menyilangkan lengan di bawah dadanya yang menonjol, menatap pemuda itu dengan pandangan menantang. "Menarik sekali kesombonganmu. Baiklah! Aku menyetujuinya. Jika kau menjadi abu, harta ini tetap milikku tanpa aku harus bersusah payah menempa apa pun. Masuklah, Tuan Muda Sinting. Mari kita lihat berapa lama kau bisa berteriak."
Tanpa keraguan sedikit pun, Qixuan melepaskan mantel luarnya, menyisakan pakaian tipis yang langsung terbakar habis saat ia melompat ke dalam kuali tungku raksasa tersebut.
*BLAAARRR!*
Api Inti Bumi langsung mengamuk merasa wilayahnya dimasuki oleh entitas asing. Lidah api kuning keemasan melahap tubuh Qixuan sepenuhnya, menutup pandangan Hong Lian.
Di dalam neraka panas itu, Qixuan segera duduk bersila. Rasa sakitnya melampaui segala deskripsi manusia. Kulitnya melepuh seketika. Dagingnya terasa mendidih. Jika ia tidak memiliki fondasi elemen bumi untuk menahan panas, ia pasti sudah menguap dalam hitungan detik.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengabaikan rasa perih yang merobek sarafnya.
*Menelan Langit! Pusaran Kelima... Embrio Teratai Api, BANGKITLAH!*
Tiga pusaran di dalam perut dan dadanya berputar dengan kekuatan maksimal. Daya tarik spiritual meledak dari seluruh pori-pori tubuhnya. Bukannya menahan hawa panas dari luar, Qixuan justru menghisap lidah Api Inti Bumi yang membakarnya langsung ke dalam jantungnya.
Bentrokan antara elemen Api Yang ekstrem yang baru masuk dengan elemen Air Yin ekstrem di dadanya menyebabkan ledakan internal yang mengerikan. Darah segar menyembur dari mulut Qixuan, langsung menguap sebelum menyentuh dasar tungku.
Sirkulasi Yin dan Yang menuntut keseimbangan. Qixuan memaksakan kendali mentalnya, menggunakan elemen tanah sebagai jangkar untuk memisahkan dan memutar kedua elemen saling bertentangan itu layaknya lambang Taijitu (Yin-Yang) di sekitar jantungnya.
Dari luar tungku, Hong Lian menatap dengan mata terbelalak lebar. Api Inti Bumi di dalam kualinya tidak membakar pemuda itu, melainkan berputar membentuk pusaran tornado kecil yang terus-menerus disedot ke dalam dadanya!
"M-Mustahil... Dia menyerap Api Inti Bumi ke dalam tubuhnya secara langsung tanpa perantara artefak?!" Hong Lian mundur selangkah, rasa hormat campur ngeri merayapi hatinya. Pandai besi jenius ini menyadari bahwa pemuda di dalam tungkunya bukanlah manusia biasa, melainkan dewa iblis purba yang menyamar dalam wujud pemuda bangsawan.
Waktu berlalu perlahan. Satu jam terasa bagai satu abad bagi Qixuan. Setiap detik adalah pertarungan mempertahankan kesadarannya agar tidak terpecah belah oleh rasa sakit.
Tepat ketika batas waktu berakhir, sebuah dentuman yang sangat keras, lebih keras dari ledakan gunung berapi, menggema dari dalam tubuh Qixuan.
Sebuah pilar cahaya keemasan yang bercampur dengan aura kegelapan meledak menembus atap Paviliun Teratai Api, menembak lurus ke arah langit hitam. Hawa panas di dalam ruangan tiba-tiba mereda, disusul oleh hawa dingin yang sejuk.
Qixuan perlahan bangkit dari dalam tungku. Kulitnya yang sempat hangus telah terkelupas seluruhnya, digantikan oleh kulit baru yang mulus sempurna, seputih batu giok dengan pendaran cahaya merah samar di bawahnya. Sepasang matanya kini menyimpan pusaran api kecil di pupil amber-nya.
Pusaran Kelima telah terbentuk. Tingkat kultivasinya meledak menembus batas, meroket mencapai Pembentukan Fondasi tahap akhir! Auranya kini begitu menekan hingga udara di sekitarnya meliuk-liuk membentuk distorsi ruang.
Qixuan melompat keluar dari kuali dengan gerakan elegan, jubah api tak kasat mata menyelimuti tubuh telanjangnya sebelum Lin Sanniang buru-buru melempar mantel sutra cadangan untuk menutupi tuannya.
Pemuda itu mengikat sabuk mantelnya dengan santai, menoleh ke arah Hong Lian yang masih membeku dengan mulut setengah terbuka.
"Nah, Nona Hong Lian," Qixuan menyeringai, senyum angkuhnya kembali menghiasi wajah yang baru ditempa oleh api. "Sepertinya apimu kurang panas untuk membunuhku. Sesuai kesepakatan, mulai hari ini, palu tempa milikmu akan bekerja secara eksklusif untuk pandai besiku. Aku butuh seratus ribu set senjata baru untuk merobek langit Jinling. Kuharap lenganmu tidak mudah lelah."
Hong Lian menelan ludah. Sang Teratai Pandai Besi yang sombong itu perlahan menundukkan kepalanya, menyentuh dadanya dengan tangan kanannya. Bukan sekadar tunduk pada janji, melainkan tunduk pada kekuatan absolut yang baru saja ia saksikan.
"Palu ini adalah milik Anda, Tuanku," ucap Hong Lian dengan suara serak, api kekaguman baru saja menyala di hatinya.
Dengan kekuatan es dari utara dan api dari selatan dalam genggamannya, serta jaring bayangan yang melilit jantung perekonomian benua, Tuan Muda Pemboros itu kini berdiri di puncak papan catur kekaisaran. Langkah selanjutnya bukan lagi menggeser bidak, melainkan membalikkan papannya secara keseluruhan, membuat para kaisar dan sekte dewa berlutut di bawah kakinya yang beralaskan emas.