Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Mei Huarin Dilawan
Duk
"Tidak sopan! sungguh keterlaluan! apa kalian semua lihat? kalian dengar itu kan? dia menyebut suaminya dengan nama seperti itu! dia benar-benar tidak pantas menjadi nyonya Jenderal!" nyonya tua Wang malah semakin memprovokasi.
Niatnya mungkin memprovokasi para tetua, tapi tanpa sadar, dia juga sudah membuat Mei Huarin kehabisan kesabaran.
"Bawa Yan'er ke kamarnya untuk ganti baju, panggil tabib!"
"Baik nyonya!"
Pengawal bayangan, tidak hanya pria. Yang wanita kemudian datang mendekat dan membawa Lu Yanzhi dan Xueyao seperti perintah Mei Huarin.
"Lu Yansheng, kamu sungguh ayah yang sangat baik!"
"Aku tidak perintahkan penjaga untuk menyiram Yan'er dengan air dingin!"
Tangan Mei Huarin terkepal. Tapi dia yang sudah banyak membantu jenderal dan Kaisar berperang. Punya cara sendiri membalas semua ini.
Mei Huarin kembali berbisik pada pengawal bayangannya. Dan pengawal bayangan itu membungkuk lalu melesat dengan cepat.
Mei Huarin menghela nafas dalam-dalam. Lalu dia melihat ke arah kursi, dimana tadi ibu mertuanya itu menyuruhnya untuk duduk.
"Jadi begitu! jadi tak ada perintah. Tapi para pelayan dan penjaga kediaman jenderal melakukan semua itu pada Yan'er, jadi begitu!"
Mei Huarin duduk dengan pelan dan tenang di kursi kayu itu.
"Yan'er memukul Shen Meiren sampai jatuh, untung dia tidak keguguran!"
"Untung dia tidak keguguran! benar sekali!"
Mei Huarin bicara tanpa melihat ke arah Lu Yansheng.
"Sekarang kembali pada apa yang seharusnya kita bicarakan! rumor apa yang telah kamu sebarkan di luar sana? kenapa nama jenderal jadi sangat buruk? apakah kamu tahu, tanpa nama jenderal, kamu bukan apa-apa!" kata salah satu tetua keluarga Lu.
"Tanpa nama jenderal aku bukan apa-apa?" gumam Mei Huarin sambil terkekeh.
"Kaku harus berlutut, pengawal ambilkan cambuk hukum keluarga!" kata pria yang berjanggut putih itu. Dia adalah kepala para tetua.
Mei Huarin masih tetap terkekeh pelan. Tapi kemudian Mei Huarin mengangkat kepalanya.
"Mau menghukum siapa?" tanya Mei Huarin.
"Kurang ajar! tentu saja kamu!" ujar nyonya tua.
"Jenderal dan nyonya tua Wang sudah mengatakan pada kami. Dia memberimu kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki nama jenderal di luar. Tapi kamu menolak bukan? maka kamu akan kami adili dengan hukum keluarga!" kata pria yang tubuhnya agak tambun, tidak terlalu tua, mungkin dia lebih muda sedikit dari nyonya tua Wang.
Pengawal lantas datang dengan cambuk di tangannya. Dan menyerahkannya pada jenderal.
"Kamu suaminya, ajari istrimu dengan baik!" kata tetua.
Jenderal menerima cambuk itu.
"Nyonya, berlututlah!"
Mendengar ucapan Lu Yansheng. Darah Mei Huarin rasanya mendidih. Tangannya terkepal begitu kuat. 18 tahun lamanya, dia benar-benar merasa sangat bodohh karena pernah begitu jatuh cinta dan percaya pada pria berhati picik seperti suaminya itu.
"Mau aku berlutut? lakukan itu kalau bisa!" tantang Mei Huarin.
"Nyonya, nyonya yang lebih dulu menyebarkan rumor..."
"Wanita selingkuhanmu itu yang mengatakan hal itu padamu, kan?"
"Meiren mengatakan sesuatu yang masuk akal!"
"Hah," Mei Huarin mendesah kasar, "memang mustahil memberi tahu lalat, kalau sampah itu baunya busuk!"
"Apa maksud nyonya?"
"Tolong! Tolong! nona Shen Meiren jatuh ke kolam, tolong!"
"Meiren!" jenderal langsung panik.
"Pengawal bayangan!" pekik Mei Huarin lagi.
Dan kali ini yang datang lebih banyak.
"Urusan jenderal belum selesai! jangan biarkan jenderal pulang ke kediamannya dulu!"
"Tolong!" Chuying terus berteriak.
Nyonya tua Wang ikut berdiri,
"Meiren, calon cucuku..."
Dorrr
"Agkhh!" nyonya tua Wang dan pelayan pribadinya sampai melompat ketika Mei Huarin menembak lantai di depan mereka.
Para tetua juga langsung berdiri. Ketiganya menoleh, ke arah Mei Huarin. Dan wajah mereka menjadi pucat. Mei Huarin memegang sebuah senjata yang selama ini belum pernah mereka lihat.
Tentu saja, karena itu adalah senjata api pertama buatan Mei Huarin di jaman ini.
"Siapa berani beranjak dari tempat ini! jangan salahkan aku kalau aku salah tembak!" ujar Mei Huarin yang mengatakan semua itu sambil duduk santai di kursinya.
"Tuan jenderal tolong! para pengawal mau menolong nona, tapi di hadang para pengawal bayangan!" teriak Chuying.
Lu Yansheng segera menoleh ke arah Mei Huarin.
"Hentikan semua ini, Meiren sedang hamil!"
"Apa? aku duduk diam disini tidak lakukan apapun! aku tidak perintahkan siapapun. Memangnya kamu dengar, kalau aku perintahkan pengawalku menenggelamkan wanita selingkuhanmu itu di kolam? tidak kan?" tanya Mei Huarin.
"Jangan main-main dengan nyawa nyonya!"
"Siapa yang lebih dulu bermain dengan nyawa anakku?" tanya Mei Huarin yang wajah santainya berubah menjadi sangat tegas dan mengerikan.
"Tolong!"
Jenderal mengeluarkan pedangnya. Dia berjalan ke arah pengawal bayangan dan melawan mereka.
"Mei Huarin, apa yang kamu lakukan? awas saja kalau terjadi sesuatu pada calon cucuku!" ancam nyonya tua Wang.
"Memangnya Lu Yanzhi bukan cucumu, kamu lihat bagaimana kondisinya kan nyonya tua! apa menurutmu jika aku terlambat datang satu jam saja, anakku tidak akan kenapa-kenapa?"
"Mei Huarin..."
"Jika kalian buka mulut lagi! peluru dari senjata ini tidak akan mengenai lantai. Tapi langsung ke mulut kalian!" gertak Mei Huarin.
Dan mendengar ucapan Mei Huarin, tiga tetua langsung menutup mulut mereka rapat-rapat dengan kedua tangan mereka.
"Haiya, bagaimana ini?" bingung nyonya tua.
Sementara jenderal, dia juga sudah berusaha melawan satu persatu pengawal bayangan dari Mei Huarin. Namun jumlahnya terus bertambah dan bertambah. Dia benar-benar mulai kewalahan. Pengawal bayangan adalah mereka yang tingkat ilmu beladirinya nyaris setara dengan para jenderal. Tentu saja tidak mudah menghadapi mereka.
"Mei Huarin, hentikan semua ini! Meiren sedang mengandung!"
Mei Huarin sengaja tak menggubris. Hingga Chuying berteriak lagi.
"Tolong, nona sudah pingsan. Tolong, kalau begini terus dia bisa mati!"
"Mei Huarin!" pekik Lu Yansheng.
Mei Huarin segera berdiri dengan rahang yang mengeras.
"Hari ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya! jika kamu, keluargamu atau wanita selingkuhanmu itu berani menyentuh putriku. Aku akan menembak langsung di kepala! Ingat itu!"
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️