Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parfum wangi vs Bau bawang
Raya berhenti dua langkah didepan Andini. Jaraknya cukup dekat untuk melihat rasa takut dimata Andini. Bau parfum yang tadi dicium dari jauh, sekarang menusuk lebih tajam.
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah mulus Andini. tangannya reflek memegang pipinya yang merah karena tamparan dari Raya.
Ruang jadi senyap, hanya ada suara nafas Raya yang berat dan tumit Andini mundur setengah langkah.
Bagas dan Raka hanya bisa diam, merekapun tidak berani untuk bersuara.
Tangan yang tadi memegang pipi perlahan turun" Berani sekali kamu?" Senyum sinisnya kembali lagi." Selain bau bawang, kamu juga kasar. pantas saja Bagas tidak betah hidup dengan kamu."
" Ya, kamu betul. Aku memang kasar, kalau aku turuti kata hati, ingin sekali aku menamparmu berulang ulang. Tapi tanganku terasa jijik untuk menyentuh kulitmu. Karena apa? karena sampah harusnya dibuang dan bukan disimpan." Bisik Raya dengan senyum sinisnya.
Andini tidak percaya dengan kata kata yang barusan diucapkan Raya untuknya. Sampah?
Raya duduk disofa dengan santai. Semua mata tertuju padanya.
" Tadinya aku datang kesini untuk memberi kamu kesempatan kedua, Bagas. Tapi sepertinya kamu tidak layak mendapatkan kesempatan kedua dariku, cukup tahu aku sekarang, kalian berdua memang cocok, sama sama sampah." Raya mulai bertepuk tangan.
pok pok.
Suara tepukkan itu kecil, tapi nyaring diruangan yang hening. Setiap ketukkan seperti palu dikepala Bagas.
Bagas merasa dadanya sesak. Di ingin bicara tapi tidak tahu harus bicara apa. kata sampah yang keluar dari mulut Raya lebih pedih daripada bogem mentah dari Raka.
Andini langsung naik pitam, senyum sinisnya hilang berganti dengan amarah." Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali kamu mengatakan aku sampah."
Andini maju selangkah, tapi terhenti saat melihat tatapan Raya. Dingin. kosong. Seperti melihat sesuatu yang tidak berharga.
Raya mengangkat dagu, senyum sinisnya makin lebar." Aku? kamu tanya aku siapa? Aku masih istri sah Bagas, sebentar lagi akan jadi mantan istri dan bodohnya aku datang kesini untuk meminta penjelasan, dan siapa tahu aku bisa memberi kesempatan kedua. Tapi melihat keadaan sekarang, aku mulai mantap untuk berpisah. " Raya menunjuk Bagas dengan dagunya.
Bagas akhirnya bergerak. Dia maju . Suaranya serak." Raya, aku tahu. Aku salah. Tapi aku bisa jelaskan semuanya, apa yang kamu lihat. Tidak seperti dugaan kamu. Sayang aku mohon."
Raya tertawa pelan, tidak ada yang lucu sama sekali. " Kamu bilang kamu cinta sama dia." Raya menunjuk Andini. "Karena cintamu ke dia, kamu bawa dia kesini. Hebat sekali. "
Andini mengacak pinggang," Tentu saja dia lebih cinta sama aku, aku memberikan kesenangan untuknya dan juga.. "
" Andini cukup.." Bentak Bagas.
Bagas tidak ingin Andini menambah kekacauan cukup sudah dia diam menghadapi sikap Andini selama ini.
Ruangan yang tadinya hanya diisi nafas berat dan tepukkan sinis dari Raya. Kini senyap total.
Andini kaget, untuk pertama kalinya sejak masuk, senyumnya luntur. Dia menatap Bagas, Lelaki yang baru saja dirayunya kini mulai membentak nya, di depan Raya pula.
" Kamu pikir kamu siapa, Andini?" Bagas maju selangkah, dadanya naik turun. Matanya merah, bukan karena marah saja, tapi juga karena malu, malu karena selama ini dia tetap memberikan ruang untuk Andini. " Cukup, semua yang kamu lakukan sudah,cukup. Aku sudah muak."
Andini tertawa pelan." Muak, Sama aku? Yakin? Bagaimana dengan istrimu yang setiap hari bau bawang dan tidak bisa memuaskan kamu? Sekarang dia ada disini, jadi kamu bilang muak sama aku?"
" Aku kirim foto ciuman kita ke Istri kamu ini." Andini menunjuk Raya." Karena aku tahu kamu menikmatinya dan supaya dia sadar, kalau kamu itu hanya untukku." Andini tersenyum puas.
" Hebat kamu Bagas!" Sekali lagi Raya memuji Bagas, bukan karena dia bangga , tapi karena dia sudah muak dengan sandiwara busuknya.
" Raya itu tidak benar.." Bagas mencoba membela diri. Meskipun dia tahu itu hanya sia sia.
Raka dari tadi hanya diam mengamati. Rahangnya mengeras. Dia mengerti, kalau dia bicara sekarang, pasti tangannya akan naik lagi.
Raya berdiri dari tempat duduknya," Aku pikir dulu, Laki laki yang aku nikahi punya harga diri. Ternyata harganya murah sekali. Cukup dengan wangi parfum mahal dan sedikit sentuhan dia langsung luluh dan berubah menjadi bodoh."
Bagas menunduk, kata kata yang diucapkan Raya barusan memang benar adanya, Dia bodoh.
" Tentu saja. Aku lebih menggoda, lebih cantik, lebih seksi .." Andini tidak mau mengalah dab tetap pada pendiriannya.
" Lebih baik kamu pergi saja dari sini, kecuali kamu ingin saya laporkan ke polisi,dengan kasus perzinahan" Raka sudah muak dengan kata kata Andini yang seolah olah menunjukkan kalau Raya itu jauh dibawahnya.
" Kamu pikir kamu siapa? berani sekali kamu mengancam." Andini tidak terima dengan ancaman Raka.
" Cukup." kini Raya kembali bersuara. " Kamu mau Bagaskan? Ambil. Aku sedekahkan sama kamu. Mungkin kamu kesepian dan butuh belaian laki laki. menjijikan."
" Apa?" Andini mengibaskan tangannya ke wajahnya, seolah semuanya terasa sangat panas sekarang.
" Sayang aku mohon." Bagas mengiba.
Raya melirik kearah balkon. " Rumah ini tidak terasa lagi seperti rumah, semua kenangan indah kita dan anak anak sudah tidak berhaga lagi sekarang , Jadi mulai hari ini aku akan membawa anak anak selamanya dari kamu. Silakan nikmati masa masa indahmu dengan wanita ini." Raya melangkah keluar di belakangnya ada Raka.
Andini tersenyum puas, Dia merasa menang. Menang telak.
" Jangan bawa anak anak, Raya." lirih Bagas. " Aku mohon. "
Raya berhenti. Dia balik badan. tatapanya datar. " Jangan jadikan aku sebagai pencuri Bagas, aku hanya menyelamatkan mental anak anak, karena ulahmu Galang sangat terluka. Dia sangat kecewa dengan papanya yang dulu dianggap pahlawan ternyata hanya sampah murahan. "
" Tunggu saja surat cerai dariku," Tanpa menunggu jawaban. Raya balik badan, Langkah Raya berat. Tapi tidak ragu. Bagas makin jauh dibelakang.
" Sekarang kamu sudah dengar apa yang dikatakan Raya, bukan? Kalau kamu memang laki laki sejati, Lepaskan adikku." Raka memberi peringatan kepada Bagas, sebelum ikut berjalan dibelakang Raya.
Didalam Bagas diam. Bagas hanya bisa berdiri. Tangan yang tadi ingin menyentuh Raya. kini menggantung diudara. kosong.
Andini sangat puas, benar benar puas. Akhirnya Bagas bisa lepas dari Raya.
" Kamu memang ditakdirkan untuk menjadi milikku sayang, tidak usah kamu tangisi, sekarang ayo kita ke kantor, Satria sudah mengamuk mencari kamu. " Andini mengambil tas nya dan mengeluarkan bedak padat dari dalamnya.
Memoles wajah mulusnya yang tadi ternoda karena tamparan Raya.
Pintu mobil tertutup pelan. Begitu suara mesin menyala, semua yang Raya tahan sedari tadi, akhirnya runtuh. Dia tidak ingin menangis didepan Bagas maupun Andini.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏