NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Rumah tua Madam Ling yang semula terasa seperti kuburan bagi kenangan masa lalu, kini berubah menjadi kawah candradimuka bagi Arumi.

Di ruang tengah yang dikelilingi oleh gulungan kain sutra langka dan buku-buku ekonomi lawas, Arumi tidak lagi memegang gunting jahit. Di depannya terbentang lembaran-lembaran kertas tebal penuh dengan istilah hukum yang rumit - Kontrak Kerja Sama.

Madam Ling duduk di kursi goyangnya, menyesap teh pahit tanpa gula. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Arumi yang sedang mengerutkan kening membaca baris demi baris dokumen.

"Apa yang kamu lihat di sana, Arumi?" suara Madam Ling memecah kesunyian, dingin dan menuntut.

"Sebuah penawaran kemitraan untuk pengadaan seragam maskapai penerbangan, Nyonya," jawab Arumi. "Nilainya fantastis. Puluhan miliar."

Madam Ling terkekeh sinis. "Itu yang dilihat oleh penjahit amatir. Sekarang, lihat lagi dengan mata seorang predator. Baca Pasal 14, ayat 3, tentang Force Majeure dan kompensasi keterlambatan."

Arumi menelusuri jarinya ke bagian yang dimaksud. Matanya membelalak. "Di sini tertulis... jika terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku dari pihak ketiga, seluruh kerugian operasional dibebankan kepada vendor utama, bukan suplayer."

"Itulah yang dilakukan keluarga Reza kepada para pesaingnya," Madam Ling berdiri, mendekati meja. "Mereka memberikan kontrak yang terlihat menggiurkan, lalu mereka menyabotase jalur suplayer di tengah jalan. Vendor itu akan bangkrut dalam semalam karena denda, dan Reza akan membeli aset mereka dengan harga sampah. Itu cara mereka menghancurkan lawan tanpa melepaskan satu peluru pun."

Madam Ling berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah kota yang mulai gemerlap. "Dunia bisnis tekstil bukan tentang siapa yang bisa menjahit paling rapi, Arumi. Tapi tentang siapa yang tahu warna apa yang akan disukai orang enam bulan sebelum mereka sendiri menyadarinya."

Ia melemparkan sebuah majalah mode internasional ke hadapan Arumi. "Lihat sampul itu. Apa yang kamu lihat?"

"Warna-warna neon dan potongan asimetris yang berani," jawab Arumi.

"Salah," potong Madam Ling cepat. "Lihat latar belakangnya. Lihat bahan yang digunakan model itu. Itu adalah kain Eco-Fiber. Tahun depan, dunia akan terobsesi dengan isu lingkungan. Pabrik Reza saat ini sedang besar-besaran memproduksi kain sintetis berbahan kimia tinggi. Mereka sedang menuju tebing kehancuran, tapi mereka tidak tahu. Mereka terlalu sibuk merayakan kemenangan masa lalu."

Arumi tertegun. Ia mulai memahami pola pikir Madam Ling. Ini bukan sekadar tentang kain, ini tentang memprediksi kehancuran lawan sebelum mereka mulai membangun kesuksesan baru.

"Jika kita ingin menghancurkan Reza," gumam Arumi, "kita tidak perlu membakar pabriknya. Kita hanya perlu memastikan bahwa saat pasar beralih ke Eco-Fiber, dialah satu-satunya orang yang masih memegang stok kain kimia yang sudah tidak laku."

Madam Ling tersenyum puas. "Tepat. Dan untuk itu, kita butuh panggung pertama kita - Istri Gubernur."

Madam Ling mengeluarkan sebuah peta meja yang menunjukkan peta distribusi kain di wilayah mereka. Ia menunjuk sebuah titik, gudang distribusi utama yang baru saja diakuisisi oleh Reza.

"Dinda akan hadir di ulang tahun Istri Gubernur minggu depan. Dia akan menggunakan gaun dari Butik Bu Sarah yang berbahan Polyester Premium terbaru milik Reza. Dia ingin memamerkan bahwa perusahaan suaminya adalah yang terdepan."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Arumi.

"Kamu akan menjahitkan gaun untuk Istri Gubernur menggunakan bahan sisa Organic Silk yang kamu dapatkan dari gudang. Tapi bukan itu intinya. Kamu akan menyelipkan sebuah racun di dalam gaun Dinda."

Arumi mengernyit. "Racun?"

"Bukan racun yang membunuh tubuh, Arumi. Tapi racun yang membunuh reputasi," Madam Ling mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini adalah senyawa penetral pewarna sintetis. Sangat stabil dalam suhu ruang, tapi jika terkena panas tubuh manusia dan keringat dalam waktu dua jam, ia akan mulai memudarkan warna kain sintetis secara bertahap."

Arumi menahan napas. Ia membayangkan Dinda berdiri di tengah pesta yang megah, dikelilingi kamera media, dan tiba-tiba gaun mahalnya mulai memudar dan terlihat kusam seolah-olah baju murahan yang luntur.

"Itu kejam, Nyonya," ucap Arumi pelan.

"Kejam?" Madam Ling mendekatkan wajahnya ke Arumi. "Apakah lebih kejam daripada membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan di trotoar saat hujan badai? Apakah lebih kejam daripada mencoret namamu dari keluarga?"

Arumi terdiam. Kilasan wajah Kirana yang menggigil kedinginan kembali muncul di benaknya. Rasa perih di lambungnya karena menahan lapar agar Kirana bisa makan sebutir telur kembali terasa nyata.

"Tidak," jawab Arumi, suaranya kini sekeras baja. "Ini belum seberapa."

Malam itu, di kamar mereka yang remang-remang, Arumi melihat Kirana sedang mencoba menjahit potongan kain menggunakan jarum tangan, mencoba meniru apa yang dilakukan ibunya.

"Kirana, apa yang sedang kamu buat?" tanya Arumi.

"Baju untuk boneka, Ibu. Biar bonekanya cantik kalau diajak ke pesta," jawab Kirana polos.

Arumi mengambil boneka kain itu, lalu dengan satu gerakan cepat, ia merobek baju yang baru saja dikerjakan Kirana.

"Ibu! Kenapa dirusak?!" Kirana mulai terisak.

Arumi memegang tangan Kirana. "Ingat ini baik-baik, Kirana. Jangan pernah membuat sesuatu hanya karena ingin terlihat cantik. Cantik itu rapuh. Cantik itu bisa robek kapan saja."

Arumi mengambil sepotong kain dari tasnya, kain sutra yang sangat kuat dan sulit dirobek. "Buatlah sesuatu yang kuat. Sesuatu yang tidak bisa dihancurkan orang lain. Di dunia ini, orang akan mencoba merusak apa yang kamu miliki hanya karena mereka iri. Jika bajumu cantik tapi mudah robek, kamu akan berakhir menangis seperti sekarang."

Kirana menatap baju bonekanya yang hancur, lalu menatap kain kuat di tangan ibunya. Ia berhenti menangis. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu mengambil kain kuat itu.

"Ajari Kirana menjahit yang kuat, Ibu. Biar tidak ada yang bisa merobeknya lagi," ucap Kirana dengan nada yang jauh lebih dewasa dari usianya.

Arumi memeluk anaknya. Hatinya perih melihat kepolosan Kirana mulai memudar, namun ia tahu ini adalah satu-satunya cara agar Kirana selamat. Di rumah Madam Ling, mereka tidak hanya belajar menjahit kain, mereka sedang menjahit kulit baru yang anti peluru.

Hari yang ditentukan pun tiba. Madam Ling memberikan sebuah undangan VIP kepada Arumi. "Kamu tidak akan datang sebagai tamu. Kamu akan datang sebagai asisten pribadi Istri Gubernur. Gaun itu sudah dikirim pagi tadi, dan dia sangat puas."

"Bagaimana dengan gaun Dinda?" tanya Arumi.

"Aku sudah mengatur agar salah satu pelayan butik Bu Sarah, meneteskan senyawa itu ke lapisan dalam gaun Dinda saat proses steaming terakhir," Madam Ling tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang, tugasmu adalah berdiri di sana. Jadilah saksi mata saat mahkota ratu palsu itu jatuh ke lumpur."

Arumi mengenakan setelan hitam yang sangat sederhana namun memiliki potongan yang sangat tegas. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles make-up tipis yang menonjolkan tulang pipinya yang tajam. Ia nampak seperti seorang profesional yang dingin dan tak tersentuh.

"Ingat, Arumi," pesan Madam Ling sebelum Arumi berangkat. "Jangan tunjukkan emosi. Biarkan mereka yang berteriak, biarkan mereka yang malu. Kamu hanya perlu berdiri tegak dan melihat dunia mereka runtuh. Tanpa menyentuh mereka sekalipun."

Gedung pertemuan itu bersinar terang di bawah lampu sorot. Mobil-mobil mewah berderet di lobi. Arumi berdiri di area backstage, membantu Istri Gubernur mengenakan jubah luarnya.

Istri Gubernur menatap cermin, mengagumi gaun emas buatan Arumi. "Ini luar biasa, Arumi. Kamu membuat saya merasa seperti seorang permaisuri, bukan hanya sekadar istri pejabat."

"Itu karena bahan ini jujur, Nyonya," jawab Arumi tenang. "Ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya."

Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari arah pintu masuk utama. Dinda masuk dengan langkah angkuh, menggandeng lengan Reza. Ia mengenakan gaun berwarna merah menyala yang sangat provokatif, berbahan sintetis yang berkilau tajam di bawah lampu kamera.

Semua mata tertuju pada Dinda. Para fotografer berebut mengambil gambarnya. Dinda tersenyum lebar, merasa telah memenangkan pesta malam itu.

Dari kejauhan, Arumi menatap Dinda. Ia melihat jam di dinding.

Satu jam lima puluh menit berlalu sejak Dinda mulai mengenakan gaun itu.

Dinda mulai berkeringat karena lampu sorot yang panas dan keramaian pesta. Ia tidak menyadari bahwa di bagian punggung dan pinggangnya, warna merah menyala itu mulai memucat, berubah menjadi warna merah jambu yang kusam dan tidak merata, seolah-olah ia mengenakan kain murahan yang luntur terkena air.

Arumi melangkah keluar dari kegelapan backstage, berdiri di sudut ruangan di mana Dinda bisa melihatnya.

Saat Dinda sedang tertawa merayakan pujian seorang kolega, matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata Arumi. Senyum Dinda membeku.

Ia melihat Arumi berdiri di sana, mengenakan pakaian hitam elegan, menatapnya dengan pandangan yang penuh penghinaan yang tenang.

Dinda hendak melangkah mendekat untuk memaki Arumi, namun tiba-tiba terdengar suara bisikan dari orang-orang di sekitarnya.

"Eh, lihat punggungnya... kenapa bajunya luntur?"

"Ya ampun, itu kan gaun perusahaan suaminya? Kualitasnya kok begitu?"

Arumi tidak bergerak. Ia hanya mengangkat gelas sampanyenya sedikit ke arah Dinda, sebuah gerakan penghormatan terakhir sebelum eksekusi dimulai.

"*Selamat malam, Dinda*," bisik Arumi dalam hati. "*Nikmatilah lima menit terakhir dari kehormatanmu*."

Kepanikan mulai terlihat di wajah Dinda saat ia merasakan hawa dingin di punggungnya, sementara Arumi berdiri tegak, tak tersentuh, seperti sang pengatur takdir yang baru saja menjatuhkan bidak catur pertamanya.

...----------------...

**To Be Continue** .....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!