NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 BAB 1: MARTABAK MANIS DAN MEMORI YANG BOCOR

Aroma mentega yang gurih menari-nari di udara, bercampur dengan wangi adonan ragi yang sedang difermentasi. Di dapur Kedai Majapahit, waktu seolah berhenti bagi Kirana. Tangannya yang memegang spatula kayu sedikit bergetar. Matanya tidak lepas dari pria yang berdiri hanya tiga meter di depannya.

Pria itu. Arga.

Meski mengenakan kemeja linen berwarna sand yang santai dan celana bahan berwarna gelap—jauh dari baju zirah besi yang biasa ia kenakan—auranya tetap sama. Tegap, dominan, dan memiliki sorot mata tajam yang seolah bisa membelah barisan musuh hanya dengan satu kedipan. Namun, di dunia ini, di tahun 2024 ini, dia hanyalah seorang pria bernama Arga, seorang kolektor barang antik yang tampak kebingungan dengan reaksinya sendiri.

"Chef?" suara pria itu berat, mengirimkan getaran familiar ke ulu hati Kirana. "Anda baik-baik saja? Anda melihat saya seolah-olah saya adalah hantu."

Kirana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang menggila. Sebagai seorang Executive Chef yang sudah malang melintang di hotel bintang lima, dia seharusnya bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Tapi ini bukan soal pekerjaan. Ini soal pria yang pernah menangis di atas jasadnya lima ratus tahun yang lalu.

"Saya baik-baik saja," jawab Kirana, suaranya sedikit parau. Dia segera memalingkan wajah, berpura-pura memeriksa suhu loyang martabak di depannya. "Hanya saja... nama Anda cukup umum, tapi wajah Anda mengingatkan saya pada seseorang dari buku sejarah."

Arga tertawa kecil, suara tawa yang dulu sangat jarang Kirana dengar di kediaman Jenderal. "Banyak orang bilang begitu. Katanya wajah saya sangat 'lokal' dan 'klasik'. Mungkin di kehidupan sebelumnya saya memang seorang prajurit."

Kau memang prajurit, Arga. Kau iblis perang yang menangis hanya karena aku pamit pergi, batin Kirana pedih.

Kirana menatap pisau dapur di atas meja—pisau yang dibawa Arga. Pisau baja Damaskus itu terlihat tua, berkarat di beberapa bagian, tapi ukiran di gagangnya masih terbaca jelas. UNTUK KIRANA - CINTAKU ABADI. Ukiran itu kasar, dibuat dengan penuh emosi. Kirana tahu pasti, Arga yang mengukirnya setelah dia "meninggal" di tubuh Tantri.

"Pisau ini..." Kirana menyentuh ujung gagangnya dengan ujung jari. Dingin. Tapi entah kenapa, dia bisa merasakan kehangatan dari masa lalu yang merembes keluar. "Di mana Anda menemukannya?"

"Situs penggalian di Jawa Timur. Dekat wilayah yang dulunya diyakini sebagai pemukiman pejabat tinggi era Majapahit," jawab Arga, melangkah mendekat. Aroma maskulin yang bersih—campuran kayu cendana dan jeruk nipis—menyeruak masuk ke indra penciuman Kirana. "Anehnya, saat saya pertama kali memegang pisau ini, saya merasa sangat sedih. Padahal saya bukan orang yang melankolis."

Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung ribuan tahun kerinduan. "Terkadang, benda memiliki ingatan, Tuan Arga. Mereka menyimpan perasaan pemiliknya yang paling kuat."

"Panggil Arga saja," potongnya cepat. "Jadi, Chef Kirana... bagaimana dengan tawaran saya? Saya mendengar restoran ini adalah satu-satunya tempat yang menyajikan menu-menu kuno dengan rasa yang sangat... spesifik. Saya ingin tahu apakah lidah saya mengenali masakan Anda."

Kirana mengangkat alisnya. Sifat picky eater Arga sepertinya tidak berubah, bahkan setelah reinkarnasi. Di masa lalu, Jenderal Arga adalah pria paling sulit diberi makan di seluruh Nusantara. Dia benci makanan yang terlalu berminyak, dia benci sayuran yang terlalu lembek, dan dia punya masalah lambung yang kronis.

"Anda tadi bertanya soal Martabak Manis, bukan?" Kirana mulai menuangkan adonan ke loyang panas. Bunyi cesss yang merdu terdengar. "Di menu saya, ini disebut 'Terang Bulan Rempah'. Saya menggunakan campuran kayu manis dan sedikit parutan kulit jeruk purut untuk menyeimbangkan manisnya."

"Terdengar tidak biasa," komentar Arga, menyilangkan tangan di dada. Dia memperhatikan gerakan tangan Kirana dengan intensitas yang membuat Kirana gerah. "Biasanya orang hanya pakai cokelat atau keju."

"Itu karena mereka tidak tahu cara memanjakan lambung yang sensitif," sahut Kirana tanpa sadar.

Gerakan tangan Arga terhenti. Matanya menyipit. "Bagaimana Anda tahu lambung saya sensitif?"

Kirana membeku. Sial. Kebiasaan lamanya merawat Arga selama di kediaman Jenderal muncul begitu saja. Dia harus memutar otak. "Oh, itu... itu hanya insting koki. Anda terlihat seperti pria yang sangat pemilih soal makanan. Biasanya, orang seperti itu punya pencernaan yang rewel."

Arga tampak tidak sepenuhnya percaya, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia memilih untuk duduk di kursi tinggi yang menghadap langsung ke arah open kitchen. Dia memperhatikan Kirana yang dengan cekatan menaburkan gula pasir di atas adonan yang mulai bersarang.

"Anda tahu, Chef," Arga memulai pembicaraan lagi, suaranya lebih lembut sekarang. "Saya sering bermimpi buruk. Tentang sebuah ruangan besar yang gelap, suara hujan badai, dan tangisan bayi. Tapi yang paling membuat saya sesak adalah bayangan seorang wanita yang perlahan-lahan menghilang menjadi cahaya putih."

Tangan Kirana yang memegang mentega mendadak kaku. Itu adalah momen kematiannya di tubuh Tantri. Ternyata Arga membawa trauma itu hingga ke kehidupan ini.

"Dalam mimpi itu," lanjut Arga, matanya menerawang menembus kaca restoran yang mulai berembun karena hujan di luar. "Wanita itu mengatakan sesuatu yang konyol. Dia melarang saya memberikan makanan pedas pada anak saya sebelum usia lima tahun."

Kirana tertawa, tapi air mata hampir jatuh. "Itu saran medis yang masuk akal, bukan?"

"Mungkin. Tapi rasanya begitu nyata. Sampai saya bangun dengan pipi basah," Arga kembali menatap Kirana. "Dan saat saya melihat foto Anda di majalah kuliner bulan lalu, saya merasa... saya harus ke sini. Saya merasa jawaban dari mimpi itu ada pada Anda."

Kirana mematikan kompor. Dia mengangkat martabak manis itu, mengolesinya dengan mentega kualitas terbaik, lalu memberikan taburan kacang tanah sangrai dan wijen. Dia memotongnya menjadi bagian-bagian kecil yang rapi.

Dia menyajikannya di depan Arga.

"Makanlah," kata Kirana lembut. "Ini akan menenangkan saraf Anda."

Arga mengambil sepotong. Dia ragu sejenak, lalu menggigitnya.

Seketika, ledakan rasa terjadi. Manisnya pas, gurihnya mentega menyatu dengan aroma rempah yang samar namun menenangkan. Tapi bukan itu yang membuat Arga terdiam. Ada sebuah rasa—sebuah aftertaste—yang memicu sesuatu di otaknya.

Flashback singkat menghantam Arga.

Di sebuah dapur kayu yang sederhana namun bersih, seorang wanita cantik dengan celemek kain kasar sedang menyuapinya sesuatu. "Ayo, Jenderal, buka mulutmu. Ini makanan baru, jangan cemberut terus."

Arga tersentak, hampir menjatuhkan martabak di tangannya. Matanya membelalak menatap Kirana.

"Rasa ini..." bisik Arga. "Ini rasa yang sama dengan yang ada di mimpi saya."

Kirana bersandar di meja dapur, menatap Arga dengan mata yang basah namun bahagia. "Selamat datang kembali, Jenderal. Anda sedikit terlambat untuk makan malam, tapi martabaknya masih hangat."

Arga meletakkan martabaknya. Dia berdiri, tangannya secara instingtif ingin meraih wajah Kirana, namun dia ragu. Logika modernnya berperang dengan memori kuno yang mulai bocor.

"Siapa kau sebenarnya, Kirana?" tanya Arga, suaranya bergetar antara takut dan rindu.

"Aku hanyalah seorang koki yang pernah berjanji akan makan sate kambing bersamamu setelah melahirkan," jawab Kirana dengan senyum hancur. "Tapi sepertinya kita harus mulai dengan martabak manis dulu sebagai pembuka."

Hujan di luar Jakarta semakin deras, persis seperti malam di Majapahit lima ratus tahun yang lalu. Namun kali ini, tidak ada cahaya putih yang memisahkan mereka. Hanya ada aroma mentega dan janji yang mulai terpenuhi.

Namun, di sudut restoran yang gelap, seorang pria lain yang mengenakan topi hitam sedang mengamati mereka. Dia memegang ponsel, memotret kebersamaan Kirana dan Arga.

"Lapor, Nyonya," bisik pria itu ke ponselnya. "Target sudah bertemu dengan pria itu. Persis seperti yang Anda duga. Pisau itu telah mempertemukan mereka kembali."

Di seberang telepon, sebuah suara wanita yang lembut namun dingin—suara yang sangat mirip dengan Laras—menjawab dengan nada puas.

"Bagus. Biarkan mereka merasa bahagia sejenak. Aku ingin menghancurkan mereka di saat mereka merasa takdir sedang berpihak pada mereka. Kirana... Tantri... apa pun namamu, kau tidak akan pernah bisa memiliki Arga di kehidupan mana pun."

Kirana belum menyadari bahwa musuh masa lalunya juga telah kembali. Dan kali ini, perang tidak terjadi di medan tempur, melainkan di balik gemerlap industri kuliner dan perebutan artefak sejarah.

"Arga," panggil Kirana, mencoba mengalihkan perhatian dari suasana melankolis. "Apakah kau masih punya masalah lambung sekarang?"

Arga mengerjap, mencoba kembali ke realita. "Ya, dokter bilang itu maag kronis karena stres. Kenapa?"

Kirana tersenyum licik, sifat perfectionist-nya muncul. "Mulai besok, kau harus makan di sini tiga kali sehari. Aku tidak akan membiarkan 'Iblis Perang' ini tumbang hanya karena asam lambung. Dan sebagai bayarannya..."

"Sebagai bayarannya?" Arga mengangkat alis.

"Kau harus membantuku mencari tahu kenapa namaku bisa ada di pisau antikmu itu. Aku merasa, anak kita... Bara... meninggalkan sesuatu untuk kita di masa lalu."

Mendengar nama 'Bara', jantung Arga berdegup kencang. Nama itu terasa begitu benar di lidahnya.

"Bara," gumam Arga. "Nama yang bagus."

"Tentu saja bagus. Aku yang memberikannya," sahut Kirana bangga sambil mulai mengemasi peralatan masaknya.

Petualangan baru mereka di abad 21 baru saja dimulai. Sebuah petualangan untuk menyatukan kembali kepingan jiwa yang pecah, sambil tetap memastikan rasa masakan tetap sempurna. Karena bagi Kirana, cara terbaik memenangkan hati (dan ingatan) seorang pria tetaplah melalui perutnya.

...****************...

...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yeaayyy ngumpul semua 🥳🥳
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
ms. S
mantap up lagi ya kak👍👍
ms. S
keren...
SeekarYaSeekar
akhirnya update juga kak
Calisa
seru
Calisa
kok aku bingung ya?
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Calisa
emang arga istrinya berapa? Laras bukannya adik angkat?
Calisa
ayo kiranaaa.. hajaarrr
Calisa
diancam kayak gini siapa yg nggak takut 🤣
ms. S
novel dgn bab sedikit tapi cerita ga kaleng2. tuntas dan jelas. cerita jendral dan chef dan masa lalu. good job Thor.
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!