Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 koin timbangan Surga dan aliansi dua kutub
Runtuhnya Istana Pedang Guntur Suci meninggalkan kawah raksasa yang masih mengepulkan asap kelabu di pesisir Benua Atas. Selama seribu tahun, tempat tersebut merupakan simbol supremasi absolut yang tidak berani ditatap langsung oleh manusia fana. Hari ini, tempat suci itu tidak lebih dari ladang jarahan raksasa bagi armada pedagang dan seratus ribu prajurit berzirah hitam.
Di bawah komando ketat Wakil Jenderal Leng Yue, barisan prajurit Pasukan Naga Hitam bahu-membahu memindahkan pegunungan harta dari ruang bawah tanah menuju lambung-lambung kapal Paviliun Fatamorgana Surga. Keringat membasahi dahi mereka, senyum kelelahan sekaligus kebanggaan menghiasi wajah-wajah kasar tersebut. Setiap prajurit telah dijanjikan bonus sebesar seratus batu spiritual tingkat atas—jumlah yang cukup untuk menjamin masa depan tujuh generasi keluarga mereka di Benua Timur.
Di atas geladak kapal utama, Cang Qixuan duduk bersila di atas dipan sutra. Alih-alih mengawasi proses pemuatan harta karun, perhatian utamanya tertuju pada artefak kuno yang melayang di atas telapak tangannya: *Koin Timbangan Surga*.
Koin tersebut terbuat dari logam misterius yang permukaannya tidak memantulkan cahaya. Sisi depannya berukirkan lambang timbangan keadilan, sedang sisi belakangnya menampilkan pusaran galaksi yang terus bergerak lambat. Artefak ini tidak memancarkan hawa membunuh layaknya senjata pusaka kelas dewa, melainkan memancarkan aura hukum alam (Dao) murni.
Shen Feiyan, yang baru saja selesai merekap inventaris tahap pertama, melangkah mendekati Qixuan. Gaun merah keunguannya tersingkap pelan tertiup angin laut. Matanya yang indah menatap koin di tangan sang majikan dengan campur aduk antara rasa takjub dan ngeri.
"Tuanku," Shen Feiyan berucap sangat pelan, seolah takut suaranya akan merusak keseimbangan artefak tersebut. "Menurut manuskrip kuno milik Paviliun kami, Koin Timbangan Surga adalah pusaka peninggalan Era Primordial. Benda itu memiliki hukum *Pertukaran Setara Absolut*. Benda itu dikabarkan mampu mengubah nilai satu objek menjadi objek lain tanpa terikat aturan alkimia. Sangat berbahaya jika digunakan tanpa pemahaman jiwa tingkat tinggi."
Qixuan tidak membuka matanya. Jiwa Baru (Nascent Soul) di dalam Dantiannya yang berwujud miniatur dirinya yang diselimuti kegelapan sedang meresonansikan frekuensi koin tersebut.
"Pertukaran setara..." Qixuan menggumam ringan. "Para kultivator kolot Benua Atas menyimpan benda ini di dalam kotak kaca karena mereka takut pada harganya. Mereka mengira pertukaran setara berarti mengorbankan nyawa untuk kekuatan. Pemikiran yang sangat miskin."
Pemuda itu perlahan membuka kelopak matanya. Kilatan biru-emas menyala terang.
"Nona Shen, tahukah kau apa esensi sejati dari perdagangan?" Qixuan bertanya, jari telunjuk dan jempolnya menjepit koin tersebut.
"Membeli dengan harga rendah, menjual dengan harga tinggi demi keuntungan maksimal, Tuanku," jawab Shen Feiyan cepat, mengutip hukum dasar yang ia pelajari sejak kecil.
"Itu adalah cara berpikir pedagang kaki lima," Qixuan terkekeh. "Esensi sejati dari perdagangan tingkat dewa adalah *menciptakan nilai dari kehampaan*. Koin ini tidak meminta nyawa. Ia hanya meminta nilai yang setara dari elemen yang ditukarkan."
Untuk membuktikannya, Qixuan mengambil sebilah pedang besi biasa milik seorang prajurit jaga. Pedang itu bahkan tidak memiliki ukiran spiritual. Menggunakan tangan kirinya, Qixuan memegang pedang besi tersebut. Sementara tangan kanannya menggenggam Koin Timbangan Surga.
Ia memusatkan aliran Inti Emas Kegelapannya, menyedot ribuan batu spiritual dari tumpukan peti di dekatnya. Batu-batu spiritual itu hancur menjadi debu, mengalirkan energi murni ke dalam koin.
Seketika, koin itu berpendar. Timbangan di permukaannya bergoyang.
Di bawah tatapan terbelalak Shen Feiyan, pedang besi murahan di tangan Qixuan mulai berubah wujud. Karatnya menghilang, digantikan oleh kilauan perak murni. Hawa membunuh setajam es meledak dari bilahnya. Dalam tiga tarikan napas, pedang besi fana itu telah berevolusi menjadi Senjata Spiritual kelas Bumi tingkat atas!
"Mustahil..." Shen Feiyan mundur selangkah hingga menabrak pagar geladak. "Mengubah materi fana menjadi pusaka kelas Bumi hanya dengan mengorbankan batu spiritual sebagai kompensasi hukum alam?! Tanpa perlu api pandai besi atau waktu puluhan tahun penempaan?!"
Qixuan melemparkan pedang yang baru berevolusi itu ke lantai. "Hanya sebuah trik kecil. Nilai bahan dasar besi ini dinaikkan menggunakan konversi energi mentah dari batu spiritual. Benda ini adalah mesin pencetak kekayaan tak terbatas, asalkan kau memiliki modal dasar untuk memutar timbangannya. Pantas saja Lei Wuji menyembunyikannya. Jika para muridnya tahu ia memiliki jalan pintas ini, mereka akan malas berkultivasi."
Hong Lian yang baru saja muncul dari palka bawah kapal langsung memungut pedang tersebut. Sang Teratai Pandai Besi mengamati bilah perak itu dengan mata memicing, lalu mendecakkan lidah.
"Sangat rapi, Tuanku. Struktur logamnya padat sempurna tanpa cacat tempaan," evaluasi Hong Lian, menatap Qixuan dengan penuh gairah inovasi. "Jika Anda menggunakan koin itu untuk mengubah Inti Lava Abadi yang baru saja kita curi... kita bisa menciptakan sumber tenaga abadi untuk meriam generasi kedua tanpa perlu lagi membakar batu spiritual manual!"
"Tepat sekali, Hong Lian," Qixuan tersenyum buas. "Gunakan seluruh perbendaharaan Guntur Suci ini. Bangun seratus armada baru. Kita tidak akan lagi menembakkan energi, kita akan menembakkan hukum alam itu sendiri. Perintahkan armada untuk segera berlayar kembali ke Jinling. Langit di selatan mulai terlihat tidak ramah."
Sesuai dengan perkiraan Qixuan, hancurnya salah satu dari tiga pilar raksasa Benua Atas tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh penguasa lainnya.
Ribuan li ke arah tenggara dari reruntuhan Guntur Suci, terbentang wilayah yang selalu diselimuti oleh kabut merah darah. Itulah Markas Besar Sekte Teratai Darah, faksi yang mempraktikkan seni kultivasi modifikasi tubuh dan manipulasi darah kehidupan.
Di dalam Aula Darah Leluhur, sebuah proyektor gaib raksasa yang terbuat dari cermin air memancarkan bayangan seorang pria paruh baya yang melayang di udara. Pria itu adalah Yun Canghai, Patriark dari Sekte Langit Berkabut yang menguasai wilayah udara barat.
Berdiri di hadapan cermin proyektor tersebut adalah Xue Wuyan, Patriark Sekte Teratai Darah. Xue Wuyan memiliki penampilan yang sangat muda layaknya remaja berusia lima belas tahun, berkulit pucat pasi dengan rambut merah menyala. Padahal usianya telah menginjak enam ratus tahun dan ia merupakan entitas ranah *Domain Bumi* tahap menengah, sejajar dengan mendiang Lei Jiantian.
"Jadi, rumor itu benar," suara Xue Wuyan terdengar menggema layaknya paduan suara ratusan orang, memberikan kesan mistis yang mencekam. "Patriark Lei Jiantian dikuliti hidup-hidup oleh kultivator bayaran, dan Leluhur Tua Lei Wuji... musnah menjadi abu. Siapa yang memiliki kemampuan sedahsyat ini? Apakah naga purba dari Lautan Kabut telah terbangun?"
Dari dalam cermin air, bayangan Patriark Yun Canghai membelai janggut panjangnya dengan ekspresi luar biasa suram. "Bukan naga purba, Wuyan. Kehancuran ini dibawa oleh manusia fana dari Benua Timur. Seorang pemuda bernama Cang Qixuan. Dia menunggangi armada penuh emas dari Paviliun Fatamorgana Surga, membawa seratus ribu prajurit berzirah baja, dan menggunakan hujan batu spiritual untuk membeli pasukan perompak pesisir."
Mata Xue Wuyan yang berwarna merah menyipit tajam. "Manusia fana? Paviliun pedagang? Lelucon macam apa ini, Canghai! Istana Pedang Guntur Suci memiliki perisai hukuman sembilan lapis! Jutaan tentara bayaran fana tidak akan bisa menembusnya walau mereka menyerang selama seratus tahun!"
"Masalahnya ada pada pemuda itu," Yun Canghai menghela napas berat, tekanan auranya membuat air cermin sedikit beriak. "Mata-mata bayanganku yang mengawasi dari jauh melaporkan sebuah anomali. Pemuda itu... menyedot habis perisai petir tersebut menggunakan tubuh fisiknya. Kemudian ia memanggil ribuan jimat peledak tingkat Surga. Terlebih lagi, ia menunjukkan kekuatan ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) di usianya yang masih sangat muda. Ia membunuh Leluhur Lei Wuji murni menggunakan kebrutalan dan uang."
"Ranah Jiwa Baru di usia dua puluhan?!" Xue Wuyan tersentak mundur satu langkah. Darah di dalam nadinya bergejolak. "Ini mustahil. Hukum dunia tidak mengizinkan akumulasi qi secepat itu tanpa membuat tubuh wadahnya meledak berkeping-keping. Dia pasti iblis yang bereinkarnasi, atau dia menguasai pusaka pencuri surga."
"Apapun wujud aslinya, dia adalah ancaman bagi tatanan kita," putus Yun Canghai dingin. "Guntur Suci telah runtuh. Keseimbangan tiga kutub Benua Atas hancur. Jika kita membiarkan pemuda ini menikmati hasil jarahannya, dalam lima tahun dia akan mencaplok sekte kita satu per satu."
Xue Wuyan mendengus sinis. "Lalu apa maumu? Membentuk aliansi? Sekte Teratai Darah dan Langit Berkabut tidak pernah berdamai selama ratusan tahun. Kau ingin kita berjalan beriringan hanya karena ketakutan pada bocah pedagang?"
"Ini bukan soal ketakutan, Wuyan. Ini soal bertahan hidup," mata Yun Canghai memancarkan kelicikan rubah tua. "Pemuda itu saat ini pasti sedang merayakan kemenangannya. Ia kembali ke Jinling dengan armada penuh harta. Jika kita menyerangnya langsung di pesisir, kita akan berhadapan dengan meriam-meriam kapalnya. Kita harus membunuh sumber kekuatannya dari dalam."
"Maksudmu?"
"Kita tutup seluruh jalur perdagangan Benua Atas menuju Benua Timur. Keluarkan Titah Pembunuhan Bersama. Larang semua serikat pedagang menjual pil, senjata, atau formasi kepada Jinling. Di sisi lain, kita tidak perlu mengirim pasukan penuh. Kita gabungkan tiga ahli pembunuh terbaik dari Langit Berkabut dan tiga Master Darah darimu. Enam ahli tingkat puncak Jiwa Baru. Misi mereka hanya satu: menyusup ke Jinling, memisahkan kepala Qixuan dari lehernya saat dia tidur. Setelah dia mati, kita akan membagi harta Guntur Suci dan wilayah Benua Timur secara adil."
Xue Wuyan merenung sejenak, menjilat bibirnya yang pucat. "Membekukan ekonomi mereka dari luar, dan memenggal kepalanya dari dalam. Strategi yang sangat ortodoks, sangat membosankan, sangat efektif. Baiklah. Aku menyetujui gencatan senjata sementara ini. Enam dewa kematian akan turun ke dunia fana. Biarkan bocah itu mati tanpa tahu dari mana bilahnya berasal."
Kedua patriark raksasa itu menyegel kesepakatan mematikan dalam bayangan. Sayangnya, mereka salah menilai satu hal fundamental. Membekukan jalur ekonomi melawan seseorang yang secara harfiah merupakan Dewa Kekayaan adalah tindakan yang sama konyolnya dengan mencoba mengajari ikan cara berenang.
Tiga minggu berlalu sejak kembalinya armada emas ke daratan Jinling.
Ibukota kekaisaran sedang mengalami zaman keemasan yang belum pernah disaksikan oleh generasi mana pun. Ratusan kapal terbang berlabuh di pangkalan militer yang baru dibangun di pinggiran kota. Pegunungan harta dari Guntur Suci telah membanjiri perbendaharaan Jaring Bayangan. Pajak dihapuskan sepenuhnya untuk rakyat jelata. Jalanan diaspal menggunakan batu spiritual kelas rendah agar gerobak dagang bisa meluncur tanpa gesekan.
Di dalam Istana Naga Langit, Kaisar Yan Wudi kini sepenuhnya menjadi pajangan hidup. Ia hanya duduk di singgasananya selama dua jam sehari untuk menerima laporan yang sudah disensor oleh Putri Yan Ling, lalu kembali berbaring di peraduannya ditemani racun dingin yang sengaja dibiarkan bersemayam di jantungnya oleh Qixuan sebagai pengingat sisa usianya.
Wali Penguasa Yan Ling benar-benar menunjukkan kompetensi politik yang menakutkan. Wanita berwajah sedingin es itu mengatur roda birokrasi tanpa belas kasihan. Menteri-menteri yang korup langsung dipecat dan hartanya disita ke dalam kas Jaring Bayangan. Ia bekerja belasan jam sehari, memastikan tidak ada satu pun debu pemberontakan yang berani muncul di Benua Timur.
Sore itu, Yan Ling melangkah masuk ke dalam Menara Teratai Emas. Ia naik ke lantai seratus membawa setumpuk gulungan laporan.
Di taman gantung puncak menara, Qixuan sedang duduk santai menikmati jamuan teh bersama ibunya, Nyonya Besar Yue Xinyi.
Nyonya Yue terlihat jauh lebih sehat dan awet muda. Aura penderitaan yang selama bertahun-tahun membayanginya telah sirna berkat pil penambah usia yang diberikan putranya. Wanita lembut itu sedang menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir giok Qixuan.
"Kau harus lebih sering beristirahat, Xuan'er," tegur Nyonya Yue dengan nada penuh kasih sayang, tangannya mengusap pundak Qixuan. "Kau mengurus begitu banyak hal sekarang. Kakekmu bahkan mengeluh kau jarang mampir ke rumah utama untuk bermain catur dengannya."
Qixuan tersenyum hangat, sebuah ekspresi langka yang hanya ia tunjukkan pada wanita yang melahirkannya ini. "Kakek hanya kesal karena dia selalu kalah catur, Ibu. Aku sedang merencanakan sesuatu yang besar. Setelah ini selesai, aku berjanji akan mengambil liburan panjang dan memancing di Danau Bintang bersama kalian."
Melihat kehangatan keluarga tersebut, Yan Ling menghentikan langkahnya beberapa meter jauhnya. Ia menundukkan wajah, tidak berani merusak momen tersebut. Walaupun ia seorang Wali Penguasa yang ditakuti seluruh menteri, di hadapan Qixuan, ia hanyalah seorang pelayan birokrasi.
Qixuan menyadari kehadiran Yan Ling. Ia menepuk tangan ibunya pelan. "Ibu, aku ada sedikit urusan pekerjaan. Bolehkah Ibu kembali ke paviliun bawah lebih dulu? Mo Chen akan mengawal Ibu."
"Tentu," Nyonya Yue mengangguk maklum. Ia berdiri, tersenyum ramah pada Yan Ling saat melewatinya—sebuah keramahan yang membuat mantan putri mahkota itu merasa canggung sekaligus bersalah atas dosa-dosa masa lalunya—lalu turun diiringi bayangan hitam Mo Chen.
Setelah ibunya menghilang dari pandangan, senyum hangat di wajah Qixuan lenyap tak berbekas. Matanya kembali menajam, memancarkan dominasi penguasa dunia bawah.
"Laporan apa yang kau bawa hingga wajahmu sepucat itu, Yan Ling?" Qixuan menyesap tehnya, kembali bersandar malas di kursinya.
Yan Ling melangkah maju, meletakkan setumpuk gulungan di atas meja. "Tuanku, kita menghadapi krisis logistik tingkat benua. Mata-mata kita di pesisir melaporkan bahwa Sekte Teratai Darah dan Langit Berkabut telah mengeluarkan Titah Pembunuhan Bersama. Mereka memblokade seluruh pelabuhan di Benua Atas. Tidak ada satu pun kapal dagang yang diizinkan berlayar menuju Benua Timur. Semua pesanan logam spiritual, pil tingkat tinggi, dan sutra pelindung untuk memperkuat Pasukan Naga Hitam kita telah dibatalkan secara sepihak oleh serikat dagang sana."
"Blokade ekonomi?" Qixuan mengangkat alisnya sebelah, seolah mendengar lelucon yang sangat lucu.
"Bukan hanya itu," tambah Yan Ling dengan nada cemas. "Intelijen Paviliun Fatamorgana Surga mencegat pesan gaib. Kedua sekte raksasa itu telah mengirimkan enam ahli pembunuh ranah Jiwa Baru. Enam orang, Tuanku! Mereka bergerak menggunakan jubah penyembunyi aura. Sasaran utama mereka adalah menembus menara ini dan memenggal kepala Anda."
Bukannya panik, Qixuan malah tertawa pelan. Tawanya terdengar merdu namun menusuk tulang.
"Mereka mencoba mengajariku cara menghentikan aliran uang?" Qixuan berdiri, berjalan perlahan menuju tepi menara yang menghadap ke hamparan ibukota yang sibuk. "Sangat menggemaskan. Mereka mengira Benua Atas adalah satu-satunya pabrik yang memproduksi barang berharga di dunia ini."
Pemuda itu memutar tubuhnya menghadap Yan Ling. "Yan Ling, tahukah kau apa yang terjadi saat pasar ditutup paksa oleh otoritas yang bodoh?"
Wanita itu menggeleng pelan, tidak memahami jalan pikiran majikannya yang melompat-lompat antara siasat perang dan teori ekonomi.
"Pasar gelap akan lahir, dan harganya akan meroket," Qixuan menyeringai iblis. Ia merogoh lengan bajunya, melempar sebuah plakat logam emas yang memancarkan resonansi spiritual sangat rumit ke arah Yan Ling.
Yan Ling menangkapnya. Plakat itu bertuliskan angka-angka yang terus berubah.
"Ini adalah Token Akses Lelang Bayangan," Qixuan menjelaskan dengan nada santai. "Karena mereka melarang serikat dagang menjual barang padaku, aku akan membuat mereka menjual aset rahasia mereka kepadaku dengan sukarela. Aku baru saja menyuruh Shen Feiyan mendirikan jaringan lelang rahasia bawah tanah di seluruh wilayah Benua Atas. Pembayarannya menggunakan batu spiritual jarahan dari Guntur Suci, disalurkan tanpa nama."
Yan Ling membelalakkan matanya. "Tuanku... Anda berniat membeli barang selundupan langsung dari bawah hidung para patriark sekte?"
"Lebih dari sekadar selundupan," Qixuan berjalan mendekati mejanya, mengetukkan jari di atas papan catur yang kosong. "Banyak tetua sekte korup di Benua Atas yang memiliki pusaka rahasia namun kekurangan dana untuk menerobos ranah kultivasi. Dengan blokade ini, harga barang di pasar gelap akan melambung tinggi. Aku menawarkan harga tiga kali lipat lebih tinggi dari harga normal, murni dalam bentuk batu spiritual tunai tanpa pelacakan identitas. Keserakahan akan membuat para tetua ortodoks itu menjual rahasia formasi sekte mereka, pusaka pertahanan, bahkan pil umur panjang leluhur mereka sendiri kepada kita."
Qixuan mengambil sebuah bidak raja hitam dari papan catur. "Mereka mencoba mencekik leherku, alih-alih mereka justru mencekik ekonomi mereka sendiri. Para bawahannya akan memberontak diam-diam demi kekayaan. Dalam sebulan, mereka akan menyadari bahwa senjata yang seharusnya mereka gunakan untuk memerangiku telah kujual kembali kepada musuh mereka."
Analisis manipulasi pasar yang luar biasa kejam itu membuat Yan Ling merinding ngeri. Pemuda ini menggunakan psikologi dasar keserakahan manusia untuk merobohkan tembok pertahanan sekte yang telah dibangun selama ribuan tahun.
"Lalu... bagaimana dengan ancaman enam pembunuh bayaran ranah Jiwa Baru tersebut?" Yan Ling menelan ludah, mengingatkan ancaman fisik yang paling nyata di depan mata.
"Enam ahli Jiwa Baru..." Qixuan menghela napas, seolah membicarakan serangga pengganggu yang masuk ke kamarnya. "Itu adalah tenaga kerja gratis yang sangat berkualitas. Kebetulan sekali, Inti Emas Kegelapanku telah mencapai batas kapasitas penyerapan. Untuk menerobos sepenuhnya ke pertengahan ranah Jiwa Baru, aku membutuhkan asupan nutrisi spiritual tingkat dewa yang banyak."
Tepat saat kalimat mematikan itu selesai diucapkan, udara di dalam ruangan taman gantung itu mendadak turun drastis hingga menyentuh titik beku.
Keenam lilin spiritual yang menerangi ruangan seketika padam. Bayangan dari pilar-pilar menara tiba-tiba memanjang dengan tidak wajar, meliuk-liuk seperti ular berbisa yang siap menerkam.
"Kau terlalu banyak bicara untuk orang yang akan kehilangan kepalanya, Cang Qixuan."
Suara serak bagai gesekan logam berkarat terdengar dari segala penjuru ruangan. Ruang dimensi di sekitar meja teh terkoyak. Enam sosok berpakaian jubah abu-abu tanpa wajah muncul secara bersamaan, mengunci setiap jalan keluar. Mereka memegang belati melengkung yang memancarkan kabut darah murni—senjata khas pembunuh tingkat tinggi dari sekte-sekte atas.
Tekanan gravitasi dari enam ahli ranah Jiwa Baru yang melepaskan niat membunuh secara serempak sungguh tidak masuk akal. Lantai pualam menara langsung retak. Yan Ling, yang kultivasinya tertahan di tahap Pengumpulan Qi, langsung memuntahkan darah dan jatuh berlutut, organ dalamnya serasa diremukkan mesin pres tak kasat mata.
"Wali Penguasa, mundurlah," perintah Qixuan tenang. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan tersebut. *Domain* gravitasi yang ia serap dari Lei Wuji sebelumnya bertindak sebagai perisai tak kasat mata yang melindungi ruang pribadinya.
Enam pembunuh itu tidak membuang waktu satu detik pun untuk berorasi. Sebagai ahli bayaran sekte tertinggi, efisiensi adalah nyawa mereka. Keenam belati darah itu melesat bersamaan, membidik enam titik vital di tubuh Qixuan: jantung, tenggorokan, ubun-ubun, tulang belakang, dan kedua Dantian (atas dan bawah). Kecepatan mereka melampaui kilatan cahaya, meninggalkan jejak vakum di udara.
Qixuan menyeringai. Senyum iblis yang menandakan dimulainya panen kematian.
"Menelan Langit: Lonceng Pelindung Bumi Abadi," bisik Qixuan.
Bukannya menghindar, Qixuan menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Gelombang qi elemen Bumi yang telah dimurnikan menggunakan Koin Timbangan Surga meledak keluar dari pori-porinya. Dinding tanah spiritual berwarna keemasan pekat langsung terbentuk layaknya lonceng raksasa yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
*TRANG! TING! TRANG!*
Enam belati pembunuh tingkat Surga menghantam lonceng bumi tersebut. Alih-alih menembus, belati-belati itu memercikkan api dan tertahan sepenuhnya. Lonceng itu tidak bergeming sedikit pun. Kepadatan pertahanan Qixuan telah mencapai tahap yang mustahil ditembus oleh serangan fisik murni ranah Jiwa Baru awal.
"Pertahanan kura-kura!" decih salah satu pembunuh dari Sekte Teratai Darah. "Gunakan Kutukan Pengurai Darah! Cairkan tanahnya!"
Tiga pembunuh segera melafalkan mantra, darah segar mengalir dari telapak tangan mereka, mengubah belati mereka menjadi cairan korosif yang mulai melelehkan dinding bumi Qixuan. Tiga pembunuh lainnya dari Langit Berkabut melepaskan kabut ilusi untuk membutakan sensor spiritual target. Kombinasi serangan yang sangat mematikan.
"Mencairkan bumiku?" suara Qixuan menggema dari dalam lonceng. Nada suaranya sangat meremehkan. "Kalian terlalu lambat."
Lonceng emas itu tiba-tiba menghilang. Bukan dihancurkan, melainkan ditarik kembali ke dalam tubuh Qixuan dalam sepersekian detik. Ketiadaan pertahanan yang mendadak itu membuat keenam pembunuh kehilangan keseimbangan tumpuan serangan mereka.
Saat mereka terhuyung maju, Qixuan mengaktifkan kemampuan tergelap dari seninya.
"Pusaran Air Kegelapan: Rantai Beku Pengikat Jiwa."
Energi Yin ekstrem yang ia warisi dari Bunga Jiwa Hitam kini menyembur keluar seperti gurita raksasa. Enam rantai hitam pekat yang memancarkan hawa sedingin neraka es melesat dari punggung Qixuan, melilit leher dan tubuh keenam pembunuh itu sebelum mereka sempat menarik kembali senjata mereka.
"A-Apa ini?! Qi Yin ini... mustahil!" jerit salah satu pembunuh, merasakan darah di nadinya membeku seketika. Qi pelindung Jiwa Baru mereka hancur seolah tidak pernah ada saat bersentuhan dengan elemen purba tersebut.
Rantai itu tidak hanya mengikat fisik, melainkan langsung mencengkeram entitas jiwa emas di dalam Dantian mereka. Keenam ahli dewa maut itu kini digantung di udara layaknya boneka jerami yang tidak berdaya, meronta-ronta meratapi kesombongan mereka.
Qixuan berjalan perlahan mendekati pemimpin pembunuh tersebut. Ia mengibaskan kipas gioknya, membersihkan sisa asap pertempuran.
"Membekukan ekonomi, dan mengirim enam kecoak ke rumahku?" Qixuan menggelengkan kepala dengan kecewa. "Patriark kalian benar-benar miskin kreativitas. Kalian tahu apa aturan pertama bagi tamu yang datang berkunjung di Jinling?"
Qixuan menatap tajam ke mata pembunuh yang melotot ketakutan tersebut. Ia mengulurkan tangannya yang kini dilapisi aura penyedot mematikan.
"Bawa hadiah yang mahal. Jika tidak... kalian akan menjadi santapan utamaku."
*SRAAAASH!*
Tanpa setetes pun belas kasihan, Qixuan mengaktifkan teknik ekstraksi jiwanya. Keenam rantai Yin itu menarik paksa entitas Jiwa Baru dari dalam tubuh para pembunuh tersebut. Jeritan parau yang tidak bersuara bergema di dimensi spiritual. Enam kelereng cahaya emas yang menyimpan ratusan tahun kultivasi ditarik keluar dan melayang masuk langsung ke dalam mulut Qixuan.
Pemuda itu menelan seluruh esensi dewa tersebut sekaligus. Tubuhnya sedikit bergetar, Inti Emas Kegelapannya meledak memancarkan energi yang luar biasa padat, memecahkan batas akhir. Dalam satu hisapan mematikan, kultivasi Qixuan meroket, stabil di ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) tahap Menengah. Kekuatan gravitasi di sekitarnya menjadi begitu stabil hingga keretakan lantai pualam di bawahnya tertutup rapat kembali secara ajaib karena distorsi ruang.
Qixuan melepaskan rantai esnya. Enam tubuh kosong tanpa jiwa jatuh berdebum ke lantai, menjadi cangkang mati tanpa identitas.
Yan Ling, yang bersandar di dinding sambil menahan luka dalamnya, menatap sang Tuan Muda dengan pemujaan layaknya umat memuja dewa yang kejam. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, enam bahaya tingkat benua dimusnahkan seperti meniup debu.
"Tuanku..." Yan Ling berusaha berdiri.
"Duduklah, Yan Ling. Pulihkan qi-mu," perintah Qixuan tanpa menoleh. Ia melangkah menuju langkan menara, memandang ke arah ufuk timur laut, di mana Benua Atas berada.
Angin malam memainkan rambut panjangnya. Sorot mata Qixuan kini tidak lagi sekadar tatapan pedagang licik. Mata itu adalah milik penakluk yang siap mengakhiri sebuah era.
"Mo Chen!" panggil Qixuan menembus kehampaan.
Bayangan setia itu muncul dari kegelapan dalam sekejap. "Hamba siap, Tuanku."
"Panggil Leng Yue dan Hong Lian. Perintahkan armada untuk bersiaga. Bawa serta lima ribu meriam naga generasi kedua yang baru saja selesai ditempa," titah Qixuan dingin, mematahkan kipas giok di tangannya hingga hancur menjadi debu putih.
"Mereka telah menantang batas kesabaranku. Malam ini, Jinling tidak akan tidur. Kita akan berangkat ke Benua Atas. Aku akan menenggelamkan Sekte Teratai Darah dan Langit Berkabut ke dalam lautan lahar yang dibeli dengan batu spiritual mereka sendiri. Era sekte dewa telah berakhir."
Langkah terakhir menuju dominasi absolut telah diambil. Sang Penguasa Langit Berdarah tidak lagi menunggu di menaranya; ia membawa sendiri neraka kapitalisnya untuk membakar langit para dewa hingga menjadi debu sisa sejarah.