NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 kelahiran Marsha valerine

Nama Selena Ardith pernah berdiri di puncak.

Di dunia yang dipenuhi kilau lampu runway dan gemuruh tepuk tangan yang tak kunjung reda, ia adalah sosok yang tak tergantikan. Rancangannya bukan sekadar pakaian melainkan pernyataan. Setiap helai kain yang disentuhnya seolah memiliki napas, memiliki cerita, memiliki jiwa.

Orang-orang menyebutnya sempurna dan Selena mempercayainya, hingga suatu hari, segalanya berubah, bukan karena kesalahan, bukan karena kegagalan, melainkan sesuatu yang, bagi banyak orang, justru dianggap sebagai anugerah terbesar kehamilan.

Awalnya, kabar itu disambut dengan senyum dan ucapan selamat yang tak putus-putus, karangan bunga memenuhi setiap sudut rumah, pesan-pesan hangat berdatangan tanpa henti, seolah kebahagiaan itu benar-benar utuh, Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa di balik senyum tipis Selena, ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Di minggu-minggu pertama, ia masih berusaha bertahan masih menghadiri pertemuan penting, masih berdiri tegak di hadapan para klien, masih mencoba menjadi dirinya yang dulu versi terbaik yang selalu ia banggakan, namun tubuhnya tidak lagi berpihak padanya, rasa mual datang tanpa aba-aba, pusing membuat pandangannya berkunang-kunang, tenaganya terkuras, seolah setiap hari ada bagian dari dirinya yang perlahan diambil, tanpa bisa ia cegah.

“Selena, kamu harus istirahat.” Suara Andreas Halvard selalu terdengar tenang, mencoba meredam kekacauan yang mulai terlihat di permukaan. “Aku bisa mengurus sisanya.”, namun bagi Selena, kalimat itu bukanlah bantuan melainkan pertanda, bahwa ia mulai kehilangan kendali.

Hari demi hari berlalu…

Dan perlahan, satu per satu hal yang dulu ia genggam erat, mulai terlepas dari tangannya, kontrak besar dibatalkan, undangan fashion show dialihkan, klien-klien setia mulai menoleh ke arah lain, hingga suatu siang, asistennya datang dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. “Nyonya… klien dari Milan memutuskan bekerja sama dengan desainer lain.”

Selena tidak langsung merespons, ia hanya duduk diam, menatap sketsa di tangannya sebuah rancangan yang belum sempat ia sempurnakan. “Desainer baru?” tanyanya pelan Asisten itu mengangguk.

Tidak ada amarah, tidak ada bentakan, hanya keheningan yang terasa jauh lebih berat dari kata-kata, sejak saat itu, nama Selena mulai memudar, bukan karena ia berhenti berkarya, melainkan karena dunia tidak lagi menunggunya.

Di waktu yang sama, sosok baru mulai mencuri perhatian seorang desainer muda segar dan penuh energi, selalu hadir di waktu yang tepat, di panggung yang tepat, Selena melihat wajah itu terpampang di halaman majalah dan senyumnya cerah, sorotan kamera seolah mencintainya.

Tanpa sadar, jemari Selena mengencang di atas kertas.

Lembaran sketsa itu sedikit terlipat di ujungnya sementara dirinya hanya bisa berbaring di kamar, dengan tubuh yang semakin melemah dan perut yang kian membesar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa tertinggal.

Malam itu, kamar terasa lebih sunyi dari biasanya lampu redup, tirai tertutup rapat, hanya ada dirinya dan pikirannya sendiri, Selena duduk perlahan, satu tangannya menyentuh perutnya, tidak ada kelembutan dalam sentuhan itu. “Sejak kamu datang…” suaranya nyaris tak terdengar. “…semuanya berubah.” ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun dalam diam, sebuah perasaan mulai tumbuh pelan hampir tak terasa, namun semakin hari semakin nyata, bukan kasih sayang dan bukan pula harapan, melainkan penolakan, waktu terus berjalan, tanpa pernah menunggu siapapun.

Dan hari itu pun tiba…

Tangisan bayi memenuhi ruangan, suara yang biasanya membawa haru kelegaan kebahagiaan.

Perawat tersenyum hangat. “Selamat, bayinya sehat.” namun di atas ranjang itu Selena hanya menatap kosong ke langit-langit. “Apakah Anda ingin menggendongnya?”

Tidak ada jawaban. “Setidaknya… melihatnya?”

Hening…

Beberapa detik berlalu terasa jauh lebih panjang dari seharusnya, Lalu, dengan suara pelan yang nyaris tanpa emosi “Tidak perlu.”

Perawat itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk perlahan bayi kecil itu pun dibawa pergi, tanpa pernah benar-benar disambut ia diberi nama Marsha Valerine.

Sejak awal ia tidak pernah berada di tempat yang seharusnya, hari-hari berlalu, tahun pertama, tahun kedua, Marsha tumbuh namun bukan dalam pelukan ibunya, Ia lebih mengenal tangan pengasuh, lebih akrab dengan suara orang lain, daripada suara yang seharusnya memanggil namanya dengan penuh kasih.

Rumah itu besar, megah, namun terasa dingin dan asing, Selena kembali bekerja, perlahan, ia membangun kembali namanya. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah, ia tidak pernah benar-benar melihat anak itu, seolah keberadaan Marsha tidak pernah ia izinkan untuk menjadi bagian dari hidupnya.

Suatu sore yang tenang langkah kecil terdengar di sepanjang lorong, Marsha, yang belum genap tiga tahun, berjalan perlahan, tangannya menyusuri dinding, menjaga keseimbangan, matanya berbinar seolah menemukan sesuatu yang ingin ia capai.

Di ujung lorong pintu ruang kerja Selena terbuka sedikit dengan dorongan kecil, pintu itu terbuka lebih lebar. Selena, yang duduk di balik meja, mengangkat pandangannya dan untuk sesaat mata mereka bertemu anak kecil itu tersenyum. Polos dan tulus. “Ibu…” satu kata sederhana.

Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti sejenak Selena tidak langsung berbicara, Ia hanya menatap dengan tatapan yang datar tanpa kehangatan, hanya ada kebencian yang terus terasa. “Jangan masuk.” teriaknya, namun cukup untuk menghentikan langkah kecil itu.

Namun justru itulah yang membuat jarak itu terasa begitu nyata, Marsha tidak sepenuhnya mengerti, hanya menunduk dan memundurkan langkahnya, namun ia merasakan sesuatu sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang belum bisa ia pahami, senyumnya perlahan memudar ia tidak menangis ataupun memaksa.

Hanya berdiri diam beberapa detik lalu berbalik, langkah kecilnya menjauh, pelan dan hampir tanpa suara. Dan sejak saat itu tanpa ada yang benar-benar menyadari sebuah jarak telah terbentuk, bukan karena pertengkaran, bukan karena kesalahan melainkan karena tidak pernah ada penerimaan.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!