NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 027

Parkiran SMA Pelita Bangsa sore itu riuh rendah. Suara knalpot motor-motor sport yang dipanaskan saling bersahutan, menciptakan simfoni bising yang mendominasi udara. Di pusat keramaian itu, Kenan, Vino, Bram, dan Daren sudah nangkring di atas motor sport mereka masing-masing.

​Aksa melangkah mendekat, kunci motornya diputar-putar di telunjuk. Ia melirik sekilas ke arah sedan hitam keluarga Winata yang mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang sekolah.

"Gila ya, Bos kita," Vino menyeringai sambil mengencangkan sarung tangan kulitnya. "Tadi di balkon matanya kayak pake laser, ngunci ke satu target doang. Sekarang pas orangnya pergi, mukanya balik lagi jadi kulkas dua pintu."

​Aksa tidak menyahut. Ia naik ke atas motor sport hitam legam miliknya, sebuah mesin monster yang selalu ia jaga kebersihannya seolah itu adalah karya seni.

"Nanti malam jangan telat," ucap Aksa berat. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. "Bandara lama, jam sebelas. Gue nggak mau denger ada yang telat gara-gara alasan klasik."

​"Siap, Bos!" Seru mereka berempat dengan antusias.

Vino menyalip motor Aksa, memberinya kerlingan jahil. "Gimana kalau taruhannya ditambah aja, Bos? Kalau lo menang, lo harus bawa Ziva ke basecamp kita. Kenalin secara resmi sebagai... ya, lo tau lah." Sambil menaik turun kan alisnya.

Aksa menarik gasnya dalam-dalam, membuat suara mesinnya menggelegar hingga membuat Vino hampir meloncat dari motornya. "Bacot, Vin. Jalan."

Kelima motor sport itu melesat keluar dari sekolah, membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang membuat pengendara lain hanya bisa menatap mereka dengan iri.

"30 menit kemudian."

Sesampainya di rumah, Aksa langsung menuju kamarnya yang luas. Ia melepas jaket kulitnya, melemparkannya ke sofa, dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang minimalis.

​Pikirannya masih melayang pada tatapan Ziva di parkiran tadi. Tatapan satu detik itu... rasanya lebih melelahkan daripada touring antar kota.

"Baby..." gumam Aksa pelan. Ia menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang sangat langka yang hanya ia tunjukkan pada dinding-dinding kamarnya. Seringai itu penuh dengan rasa memiliki yang mulai tumbuh liar. Ia teringat bagaimana kulit pipi Ziva terasa lembut di bawah ibu jarinya tadi pagi. "Lo beneran bikin gue gila ya, Ziv."

Di lantai bawah, Pak Hendra Erlangga dan Mami Saras sedang duduk santai di ruang tamu yang megah.

Papa liat Aksa belakangan ini agak beda ya, Mi?" Pak Hendra melipat koran bisnisnya. "Tumben pulang sekolah langsung ke masion biasa kan dia ke markas barang temen-temennya. Ini malah pulang, terus senyam-senyum sadari tadi sampai menghilang di balik pintu kamarnya."

​Mami Saras tersenyum lembut tapi anggun, sambil menyesap tehnya. "Papa telat info. Aksa lagi nemu sesuatu yang baru, yang lebih menarik daripada mesin motor. Namanya Ziva, anaknya Baskara Winata."

​"Winata? Oh, yang perusahaannya hampir kena manipulasi keluarga Dirgantara itu?" Pak Hendra manggut-manggut. "Baguslah kalau Aksa yang jagain. Setidaknya anak kita punya selera yang jelas."

​"Bukan cuma jelas, Pa. Aksa itu kalau udah naksir, posesifnya bisa lebih parah dari Papa dulu pas ngejar Mami," goda Saras yang sukses membuat suaminya nyengir lebar.

Disisi lain di ​Kediaman Winata.

​Di kamarnya, Ziva sedang menatap pulpen perak A.E di atas meja belajarnya. Ia sudah mandi, ganti baju, sudah makan malam, tapi matanya sama sekali tidak mau terpejam.

​Ucapan Liana soal balapan malam ini terus terngiang-ngiang di Kepala nya.

Ziva berguling ke kanan, lalu ke kiri, lalu berakhir dengan posisi telungkup sambil menenggelamkan wajahnya di bantal. Pikirannya benar-benar kacau. Padahal, biasanya di jam segini, jiwanya sudah melayang ke alam mimpi tingkat tinggi.

​"Duh, kenapa sih gue kepikiran mulu!" gerutunya tertahan bantal. "Mau dia balapan, mau dia terbang pake motor, mau dia kayang di tengah jalan, kan bukan urusan gue!"

Ziva bangkit duduk, rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat seperti hantu penunggu kasur yang sedang galau. Matanya melirik jam dinding: 21:30. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum balapan itu dimulai.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan tidak santai.

...TOK TOK TOK!...

​"ZIVA! BELIIN GUE MARTABAK DONG!" suara Abangnya menggelegar dari balik pintu.

Ziva menghela napas panjang. "BANG! LO PUNYA KAKI, PUNYA MOTOR, PUNYA DOMPET! BELI SENDIRI!"

Pintu terbuka, memperlihatkan Abian yang sudah rapi mengenakan jaket kulit (yang sebenarnya milik Papa) dan kunci motor di tangan. "Gue mau keluar sekalian cari angin, tapi dompet gue ketinggalan di laci lo pas tadi gue numpang charge HP. Siniin!"

​Ziva menyipitkan mata. "Alibi lo basi, Bang. Mau ke mana lo malem-malem gini?"

Abi menyeringai, masuk ke kamar Ziva dan mengambil dompetnya. "Denger-denger, ada hajatan gede di bandara lama. Anak-anak Black Eagle lawan Garuda. Sebagai alumni yang terhormat, gue harus memantau agar tidak terjadi baku hantam antar warga."

Jantung Ziva mencelos. "Bandara lama? Malem ini?"

​"Iya. Kenapa? Lo mau ikut? Tumben amat lo mau keluar malem, biasanya jam segini udah jadi kepompong selimut," goda Abian.

Ziva terdiam sejenak. Jika ia ikut kakaknya, ia punya alasan legal untuk keluar rumah. Tapi jika ia ikut, ia akan melihat Aksa dalam mode "liar".

​"Enggak," sahut Ziva cepat, mencoba bersikap acuh tak acuh. "Tapi... jangan pulang malem-malem. Nanti Papa nanya."

​"Siap, Bos Kecil!" Abi melenggang keluar dengan siulan nakal.

Di mansion keluarga Erlangga, suasana justru jauh lebih hangat namun penuh dengan sindiran halus. Hendra Erlangga sedang memeriksa tabletnya saat melihat Aksa turun dari tangga dengan penampilan yang sudah siap tempur: jaket kulit hitam, celana jeans gelap, dan sarung tangan yang terselip di saku belakang.

"Mau ke mana, Aksa? Balapan lagi?" tanya Hendra tanpa menoleh.

Aksa berhenti di anak tangga terakhir. "Cari angin, Pa."

​"Angin di bandara lama katanya lagi kenceng ya? Hati-hati, jangan sampai anginnya bawa perasaan ke tempat lain," celetuk Mami Saras yang tiba-tiba muncul dari arah dapur membawa kotak bekal kecil.

Saras berjalan mendekati putra semata wayangnya, lalu menyelipkan kotak bekal itu ke dalam tas kecil yang biasanya Aksa bawa. "Ini cokelat praline. Katanya kalau lagi tegang di lintasan, makan cokelat bisa bikin tenang. Atau... kasih ke 'target' kamu kalau dia tiba-tiba muncul di sana."

​Aksa mendengus, tapi tetap menerima kotak itu. "Target apa? Musuh Aksa di lintasan itu motor, bukan orang."

Aksa hanya bisa memutar bola matanya saat Mami Saras memberinya kedipan penuh arti. Ia segera melangkah keluar menuju garasi, menghindari rentetan interogasi "halus" dari ibundanya yang lebih tajam daripada audit pajak.

​Di garasi yang luas itu, motor sport hitamnya tampak berkilau di bawah lampu neon. Aksa memakai helm full-face-nya, menatap pantulan dirinya di spion. Di balik kaca gelap itu, sepasang mata tajamnya menyipit.

​"Baby..." gumamnya lagi, teringat bagaimana Ziva tadi menatapnya di parkiran. Seringai tipisnya muncul kembali.

...​Vroom! Vroom! ...

Raungan mesin 1000cc itu membelah keheningan mansion Erlangga, membuat beberapa burung di pohon taman terbang terkejut. Aksa melesat pergi, meninggalkan aroma bensin dan wibawa yang tertinggal di udara.

Kediaman Winata – 22:15 WIB

Di kamarnya, Ziva sedang mengalami krisis eksistensi. Ia sudah berganti baju sebanyak lima kali. Mulai dari piyama beruang (terlalu kekanakan), gaun santai (dikira mau ke kondangan), sampai akhirnya ia memilih oversized hoodie hitam dan celana cargo abu-abu. Rambutnya ia ikat kuda dengan asal

​"Kenapa gue jadi kayak mau kencan gini sih?!" Ziva (Zura) mengacak rambutnya frustrasi. "Ini cuma mau nonton orang balapan, Ziva! Bukan mau audisi jadi bini raja jalanan!"

Ia mengambil kunci motor matic-nya yang sudah berdebu. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah pikiran melintas. Kalau gue ketahuan Bang Abi, tamat riwayat gue. Tapi kalau gue diem aja di sini, gue bakal mati penasaran.

Ziva mengintip dari jendela. Motor Bang Abi sudah tidak ada. Papa sepertinya sudah tidur kali ya.

​Dengan gerakan ala agen rahasia yang gagal (karena sempat tersandung kabel charger), Ziva menyelinap turun. Ia mendorong motornya keluar pagar tanpa menyalakan mesin agar tidak bersuara. Begitu sudah jarak aman dari rumah, ia baru menstarter motornya.

​Cekit... cekit... greng!

​"Aduh, please ya motor sayang, jangan mogok di tengah jalan. Bandara lama itu banyak setannya, gue belum mau jadi pemeran utama film horor," bisik Ziva pada motornya.

​Ziva pun melaju dengan kecepatan sipil—alias sangat lambat—menuju lokasi. Sepanjang jalan, ia berkali-kali menyumpah pada dirinya sendiri. "Gue pasti udah gila.

Ziva yang asli pasti lagi ketawa di alam sana liat gue yang mager ini malah keluyuran tengah malem demi liat cowok kulkas balapan."

1
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!