"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Luka Yang Sangat Dalam
Malam itu terasa paling panjang dan paling mencekam dalam sejarah rumah tangga mereka. Suasana rumah yang biasanya hangat dan penuh tawa, kini kembali membeku, bahkan jauh lebih dingin daripada saat mereka belum saling mencintai.
Arga tidak masuk ke kamar. Ia memilih duduk di ruang tamu lantai bawah, di kegelapan. Hanya ada sebatang rokok yang menyala redup di tangannya, meski sebenarnya ia jarang merokok kecuali saat pikirannya sedang sangat kacau.
Asap rokok mengepul memenuhi ruangan, namun tidak mampu meredakan rasa sesak di dadanya. Bayangan wajah Kirana yang memandangnya dengan tatapan benci dan kecewa terus berputar di kepalanya.
'Aku benci kamu, Arga Wijaya!'
Kalimat itu terus bergema, menusuk jantungnya berkali-kali lipat.
"Dasar bodoh... dasar bodoh..." gerutunya pada diri sendiri, memukul pelan kepalanya. "Kenapa kau tidak cerita dari awal? Kenapa kau biarkan dia tahu lewat cara menyakitkan begini?!"
Ia sadar sepenuhnya kesalahan ada di tangannya. Ia seharusnya jujur sejak awal. Ia seharusnya menceritakan siapa Alya, apa hubungan mereka, dan kenapa wajah mereka mirip. Tapi karena ia takut kehilangan, takut Kirana akan pergi, ia justru memilih menutup-nutupi. Dan hasilnya? Justru makin memperburuk keadaan.
Di kamar tidur utama, Kirana tidak jauh berbeda keadaannya. Ia berbaring memeluk bantal, air matanya seakan tak pernah kering. Dadanya sesak, rasanya sakit sekali hingga sulit bernapas.
Cinta yang begitu indah, janji manis di bawah bulan, kehangatan pelukan, dan ciuman mesra... semuanya terasa seperti kebohongan besar saat ini.
'Jadi selama ini aku cuma boneka? Jadi setiap kali dia memanggil namaku, atau bilang sayang... di kepalanya dia sedang memanggil nama Alya?'
Pikiran itu membuatnya mual dan sakit hati. Ia merasa dikhianati dengan cara yang paling kejam. Ia merasa dirinya tidak dihargai sebagai individu, melainkan hanya dihargai karena memiliki fisik yang mirip dengan orang lain.
"Kenapa Tuhan sekejam ini padaku..." isaknya pelan. "Aku sudah berusaha mencintai dia dengan tulus, kenapa balasannya begini?"
Pagi harinya, matahari terbit namun tidak membawa semangat sama sekali.
Arga masuk ke kamar dengan langkah pelan dan hati-hati. Wajahnya terlihat sangat kacau. Matanya bengkak dan ada lingkaran hitam di bawahnya, tanda bahwa ia tidak tidur semalaman. Rambutnya berantakan, dan aura dingin yang dulu ia miliki kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan rasa putus asa yang mendalam.
Kirana sudah bangun. Ia duduk di tepi ranjang membelakangi pintu, menatap lurus ke dinding dengan tatapan kosong dan hampa. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak, dan ia terlihat sangat kurus dalam semalam.
"Kirana..." panggil Arga pelan, suaranya serak dan berat.
Kirana tidak menjawab. Tidak bergerak sedikitpun. Seolah ia tidak mendengar atau tidak peduli dengan kehadiran suaminya.
Arga mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang menahan cemas.
"Sayang... aku buatkan sarapan. Kamu makan sedikit ya? Kamu harus makan..." tawar Arga lembut, mengulurkan tangan ingin menyentuh bahu istrinya.
Namun baru saja tangannya menyentuh kain baju itu, Kirana langsung bergerak menjauh seolah tersengat listrik. Ia berdiri dan mundur cepat, menjaga jarak aman sejauh mungkin dari Arga.
"JANGAN SENTUH AKU!" teriaknya dengan suara parau, tatapannya tajam namun penuh luka. "JANGAN DEKAT-DEKAT! BAU KAMU ITU MENYEBALKAN!"
Hentakan itu membuat Arga terpaku dan mundur selangkah. Wajahnya memucat mendengar kata-kata sepedas itu dari mulut wanita yang paling ia cintai.
"Kirana, tolong... dengerin aku jelasin sekali ini aja. Plis..." Arga memohon, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu aku salah. Aku salah karena nggak jujur dari awal. Tapi tolong jangan gini caranya. Aku mohon."
"Apa lagi yang perlu dijelaskan? Semuanya sudah jelas!" potong Kirana cepat, air mata kembali menetes. "Kamu nikah sama aku karena aku mirip sama Alya kan?! Kamu sayang sama aku karena kamu kangen sama dia! Aku cuma pengganti, Arga! Pengganti yang murahan!"
"BUKAN BEGITU!" seru Arga keras, suaranya menggema di kamar itu. "Dengerin aku, Kirana! Alya itu memang mantan pacarku. Kami sangat cinta dulu, dan dia meninggal dunia karena kecelakaan mobil lima tahun yang lalu!"
Pengakuan itu membuat Kirana terhenti. Ia menatap Arga terbelalak. Meninggal?
Arga menarik napas panjang, air mata akhirnya jatuh membasahi pipi tampannya. Untuk pertama kalinya, Arga Wijaya menangis di hadapan orang lain.
"Dia meninggal, Kirana. Dia pergi ninggalin aku pas kita lagi sayang-sayangnya. Aku hancur. Aku benci dunia. Aku jadi dingin karena aku nggak mau ngerasain sakit kehilangan itu lagi," cerita Arga dengan suara pecah. "Dan saat pertama kali aku lihat kamu... aku kaget. Kamu mirip banget sama dia. Wajah, senyum, semuanya. Awalnya ya... aku terima pernikahan ini karena aku kaget dan karena Mama yang maksa. Aku pikir mungkin Tuhan kirim kamu buat ngobatin luka aku."
Arga berjalan mendekat meski Kirana mundur.
"Tapi Kirana... tolong bedakan ya. Dulu mungkin aku terima kamu karena mirip. Tapi sekarang? SEKARANG?!" Arga menunjuk dadanya sendiri dengan kuat. "Sekarang aku cinta kamu karena KAMU! Karena KIRANA! Karena kebaikan kamu, kesabaran kamu, tawa kamu! Alya itu masa lalu, dia sudah jadi kenangan. Tapi kamu... kamu adalah masa depanku! Kamu itu beda, Ran! Jangan pernah samakan dirimu sama dia! Kamu jauh lebih berharga!"
Arga mencoba meraih tangan Kirana lagi. "Aku sayang kamu, Kirana. Bukan karena mirip siapa-siapa. Tapi karena kamu itu kamu. Percaya sama aku..."
Namun luka di hati Kirana terlalu dalam. Kepercayaan itu sudah hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin ia bisa percaya begitu saja? Bagaimana membedakan mana cinta untuk Alya dan mana untuk dirinya?
"BOONG!" teriak Kirana melepaskan tangannya kasar. "SEMUA ITU BOONG! KALAU BENAR SAYANG, KENAPA DISIMPAN?! KENAPA DIBOHONGI SELAMA INI?!"
"AKU TAKUT KAMU PERGI!" balas Arga tak kalah keras, suaranya penuh keputusasaan. "AKU TAKUT KALAU KAMU TAU KAMU AKAN MENINGGALKAN AKU! AKU GAK BISA HIDUP TANPA KAMU SEKARANG, KIRANA!"
"LEBIH BAIK KAMU HIDUP TANPA AKU!" balas Kirana tak mau kalah. "AKU CAPEK, ARGA! CAPEK DIBOHONGI! AKU GAK MAU JADI BAYANGAN ORANG LAIN SELAMANYA!"
Kirana berjalan cepat menuju lemari pakaiannya. Ia mulai mengeluarkan baju-bajunya dan melemparkannya sembarangan ke atas ranjang, lalu mulai memasukkannya ke dalam koper besar.
Tindakan itu membuat Arga syok setengah mati.
"Kamu... kamu mau ngapain?!" tanya Arga gemetar, wajahnya pucat pasi.
"Aku mau pulang!" jawab Kirana singkat dan dingin, tangannya terus bergerak memasukkan barang dengan kasar. "Aku mau pulang ke rumah orang tuaku! Kita butuh waktu jarak! Aku gak mau lihat muka kamu lagi buat sekarang!"
"JANGAN! JANGAN PERGI KIRANA! TOLONG!" Arga langsung memegang tangan Kirana, mencegahnya mengemasi barang. "JANGAN PERGI! AKU MOHON! JANGAN TINGGALKAN AKU!"
"LEPAS! ATAU AKU TERIAK!" ancam Kirana.
"NGGAK! AKU GAK BISA NGELEPASIN KAMU!" Arga justru memeluk kaki Kirana, memohon dengan sangat memelas. Pria yang sombong dan angkuh itu kini sedang bersujud di kaki istrinya, menangis seperti anak kecil. "PLIS JANGAN PERGI, SAYANG... MAAF... AKU MAAF SEMUANYA... JANGAN TINGGALIN AKU SENDIRI..."
Pemandangan itu sungguh memilukan. Arga Wijaya, CEO muda yang disegani banyak orang, kini hancur lebur hanya karena seorang wanita. Ia benar-benar tidak siap jika harus kehilangan Kirana. Hidupnya akan kembali gelap dan suram seperti dulu.
Kirana berdiri kaku, air matanya mengalir deras melihat suaminya yang bangga itu bersikap sedesperate ini. Hatinya sakit melihat Arga seperti ini, tapi egonya dan rasa kecewanya juga terlalu besar untuk memaafkan begitu saja.
"Dilepas, Arga..." bisiknya lemah. "Aku butuh waktu buat mikir. Aku butuh tenang. Kalau kamu sayang aku... biarkan aku pergi dulu."
Arga mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Menatap istrinya dengan tatapan putus asa.
"Janji sama aku... kamu bakal balik ya?" tanyanya berharap.
Kirana menunduk, tidak bisa menjawab. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Akhirnya, dengan hati yang hancur berkeping-keping, Arga melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Kirana mengemasi barangnya. Ia membiarkan istrinya pergi, meski rasanya seperti dicabik-cabik hidup-hidup.
Pagi itu, mobil hitam itu melaju meninggalkan halaman rumah. Di kursi belakang, Kirana duduk memeluk lututnya menangis tersedu-sedu. Dan di teras rumah, Arga berdiri mematung menatap kepergian mobil itu sampai hilang dari pandangan, merasa dunianya telah runtuh kembali.