“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12.Keputusan yang memecah belah.
Setelah kemarin Lae ria menjadi daya tarik dalam pesta tea, dan pagi ini juga keputusan kerajaan Alvaro datang ke kediaman mereka.
Suasana di aula utama kediaman keluarga Star born hari itu terasa jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan santai, dan tidak ada aroma teh harum yang biasanya menguar di udara. Yang ada hanyalah keheningan yang mencekam, bercampur dengan aura tegang yang begitu pekat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau.
Semua anggota keluarga besar Star born berkumpul. Dari yang tua hingga yang muda, wajah mereka semua tampak masam, murka, dan penuh kekhawatiran. Di tengah ruangan yang megah namun dingin itu, berdiri seorang utusan kerajaan dengan seragam kebesaran berwarna emas dan ungu. Ia baru saja menyampaikan sebuah titah yang mengubah segalanya.
Titah dari Raja Alva.
"Dengan ini, atas nama Kerajaan Avalon, kami menyampaikan keputusan resmi. Putra Mahkota Ka el drago mir telah memilih putri keluarga Star born untuk menjadi pendamping hidupnya dan calon Permaisuri Avalon. Pernikahan akan dilaksanakan sesuai dengan waktu yang akan ditentukan kemudian."
Suara utusan itu terdengar tegas dan resmi, bagaikan palu hakim yang memukul meja, menutup segala kemungkinan untuk ditawar.
Begitu utusan kerajaan itu pergi meninggalkan kediaman mereka, ledakan amarah pun tak terhindarkan.
"BRUKK!"
Sebuah vas porselen mahal berisi bunga-bunga indah terlempar dengan keras hingga hancur berkeping-keping di lantai marmer. Itu adalah tindakan Lord Valde mar Star born, kepala keluarga sekaligus ayah dari Lae ria dan Luna ria. Wajah pria itu memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol keluar karena menahan amarah yang meledak-ledak.
"Gila! Benar-benar gila!" teriak Lord Valde mar sambil mondar-mandir dengan langkah lebar dan berat. "Bagaimana bisa ini terjadi?! Bagaimana bisa Pangeran itu memilihmu, Lae ria?! Kenapa harus kau?! Putri kebanggaan kami! Permata keluarga Star born!"
Di sudut ruangan, Lae ria berdiri tegak. Gaun indahnya yang berwarna hijau zamrud kini terlihat sedikit kusut karena ia memeluk tangannya sendiri di dada. Namun, anehnya, di tengah teriakan kemarahan ayahnya, di wajah Lae ria justru terselip senyum tipis yang sulit disembunyikan.
Hatinya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang luar biasa.
Pangeran Ka el memilihku... batinnya berteriak. Dia melihatku. Dia memilihku di antara semua gadis bangsawan lainnya. Aku akan menjadi Ratu! Aku akan menjadi Permaisuri Avalon!
Bagi Lae ria, ini adalah puncak dari segala impiannya. Menikah dengan putra mahkota, memiliki kekuasaan tertinggi, dan menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan. Meskipun nama Ka el drago mir identik dengan kengerian, kematian, dan kesedihan, Lae ria terlalu terlena oleh ambisi dan egonya sendiri. Ia yakin dengan kecantikan dan kekuatan sihir Buminya yang luar biasa, ia bisa menaklukkan hati pria dingin itu. Ia yakin ia akan berbeda dari istri-istri sebelumnya yang dianggapnya lemah.
Namun, kegembiraan itu seketika buyar saat ibunya, Lady Seraphina, melangkah mendekat dengan wajah pucat dan mata yang memancarkan kekecewaan mendalam.
"Kenapa kau tersenyum, Lae ria?! Kenapa?!" bentak Lady Seraphina, suaranya bergetar menahan tangis dan marah. "Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau akan menikah?! Itu Ka el drago mir! Pria yang dikenal sebagai Pembawa Petaka! Duda hitam yang sudah memakan korban tiga nyawa! Mereka semua mati dengan cara yang mengerikan! Dan kau tersenyum seolah mendapat hadiah terindah?!"
"Ibu, dia Putra Mahkota! Dia adalah penguasa masa depan!" jawab Lae ria mencoba membela diri, suaranya mulai meninggi. "Ini adalah kehormatan terbesar bagi keluarga kita! Aku akan menjadi Ratu, Bu! Apa yang salah?!"
"Kehormatan?! Kau menyebut ini kehormatan?!" potong pamannya dari sisi kanan, suara beratnya menggema. "Kalian mengirim putri kalian ke mulut harimau!,kalian mengirimnya ke kematian! Mereka bilang siapa saja yang menjadi istrinya tidak akan bertahan lama! Apa kalian ingin putri kalian mati muda?!"
"Dan semua ini karena kelakuanmu yang sok anggun dan berlebihan saat pesta kemarin!" sahut sepupunya yang lain, tak mau kalah. "Kau terlalu mencolok! Kau terlalu memamerkan kekuatanmu! Sampai-sampai menarik perhatian monster itu! Kau pikir kau melakukan hal hebat?! Kau justru membawa malapetaka bagi seluruh keluarga Star born!"
Tuduhan demi tuduhan, makian demi makian, dan kata-kata pedas terus meluncur dari mulut para keluarga besarnya. Mereka memarahi Lae ria habis-habisan. Mereka menyalahkannya karena terlalu sombong, terlalu ingin tampil beda, hingga akhirnya menjadi sasaran pilihan Pangeran yang mereka takuti.
Mereka lebih rela mengirimkan siapa saja, bahkan orang asing sekalipun, asalkan bukan Lae ria. Lae ria adalah harapan mereka. Lae ria adalah bintang mereka. Menikah dengan Ka el sama saja dengan mengirim bintang itu untuk padam selamanya.
"Dengar baik-baik, Lae ria!" Lord Valde mar menatap putrinya tajam, matanya menatap nanar. "Kami akan menolak perintah ini! Kami akan mengajukan keberatan! Kami akan bilang kau sakit, atau... atau kami akan menyembunyikanmu! Lebih baik kau hidup sederhana tapi selamat, daripada mati muda dengan gelar yang megah!"
"TIDAK!" Lae ria akhirnya meledak. Air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya, bercampur dengan emosi yang meluap-luap. "Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku yang dipilih langsung oleh Putra Mahkota! Ini takdirku! Kenapa kalian semua tidak pernah mengerti?! Kalian hanya tahu melarang dan mencurahkan kemarahan padaku!"
Hatinya terasa sangat sesak. Ia merasa tidak dihargai. Ia merasa pencapaian terbesar dalam hidupnya justru dianggap sebagai bencana oleh orang-orang terdekatnya. Kata-kata mereka bagaikan pisau yang terus menikam jantungnya.
"Dasar tidak tahu berterima kasih..."
"Kau akan menyesal, Lae ria..."
"Kau membawa sial bagi keluarga..."
Suara-suara itu terus berputar di kepalanya. Lae ria tidak tahan lagi. Dadanya terasa sesak, udara di aula itu terasa begitu pengap dan menyengat.
"Cukup! Sudah cukup semua omelan kalian!" teriak Lae ria dengan suara pecah. "Aku keluar sebentar! Aku tidak mau mendengar suara kalian lagi! Kalian semua tidak mengerti aku!"
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Lae ria berbalik badan dan berlari keluar dari aula utama. Ia meninggalkan keluarganya yang masih terlihat syok dengan reaksinya, dan melesat menuju pintu keluar kediaman megah itu.
Lae ria berjalan mencari udara untuk mendinginkan kepalanya, yang biasa dirinya lakukan saat marah dan setelah tenang dia akan kembali sendiri ke rumah.
Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang mulai meredup. Namun, bagi Lae ria, dunia terasa begitu kelabu.
Ia berjalan menyusuri jalanan berbatu kota Avalon yang mulai sepi. Biasanya, ia berjalan diiringi pelayan atau menggunakan kereta kencana yang mewah. Tapi hari ini, ia memilih berjalan kaki sendirian. Ia ingin menenangkan pikiran, ingin meluapkan kekesalannya dengan langkah-langkah lebar dan cepat.
"Dasar tetua keras kepala..." gerutunya pelan, menendang sebuah kerikil kecil di jalan. "Mereka hanya takut! Mereka tidak percaya padaku! Padahal aku penyihir terkuat di keluarga ini!"
Lae ria memukul dadanya sendiri dengan gemas. Egonya terluka. Ambisinya terganjal oleh ketakutan keluarganya.
"Ka el drago mir... biarkan mereka bicara apa saja. Aku akan membuktikannya. Aku akan menjadi istri yang paling hebat. Aku tidak akan mati sepertinya mereka. Aku akan menaklukkan hati pria itu dan menguasai istana," gumamnya mencoba memompa semangat kembali, meski getaran kecil ketakutan tetap ada di dasar hatinya.
Jalanan di sekitarnya semakin seiring ia berjalan menjauh dari pusat keramaian. Ia sampai di sebuah kawasan yang lebih tenang, di mana toko-toko mulai menutup usahanya dan hanya ada sedikit orang yang lewat. Suasana hening, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang memantul di dinding-dinding bangunan.
Namun, Lae ria tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu, ada sesuatu yang mengikutinya.
Bukan orang. Bukan binatang.
Melainkan sebuah aura. Aura gelap yang sangat pekat, dingin, dan penuh dengan niat buruk. Aura itu berwujud bayangan hitam yang tampak tak berwujud, namun matanya—atau apa pun itu yang menjadi indra penglihatannya—terus mengunci pergerakan Lae ria.
Bayangan itu melayang rendah, mengikuti di belakang dan sedikit di atas kepala Lae ria, tersamar oleh bayangan bangunan. Lae ria yang sedang dilanda emosi dan pikiran yang kacau, sama sekali tidak merasakan bahaya yang mengintai. Biasanya, sebagai penyihir kuat, indranya akan tajam. Tapi hari ini, pertahanannya lemah karena emosi.
Bayangan hitam itu menatap Lae ria dengan penuh kebencian dan niat jahat. Seolah ada perintah tak terlihat yang menyuruhnya untuk menghentikan gadis itu. Atau mungkin... menghabisinya.
Di depannya, terdapat sebuah bangunan toko material sihir yang sedang dalam perbaikan. Beberapa papan kayu panjang dan balok berat diletakkan di atas sebuah platform darurat yang menjorok ke jalan, diikat dengan tali-temali yang terlihat sudah mulai rapuh karena cuaca.
Langkah Lae ria terus berjalan, mendekati area tersebut. Ia masih menunduk, memikirkan masalahnya sendiri.
Saat itulah, bayangan hitam itu bergerak.
Dengan kecepatan yang tidak kasat mata, bayangan itu menyelinap ke atas bangunan. Tidak ada suara, tidak ada angin berhembus. Namun, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menggerakkan pisau atau benda tajam, SR..E..TT!
Suara geseran halus namun mematikan terdengar.
Tali-tali yang mengikat tumpukan papan kayu dan balok besi itu terputus dengan bersih!
GLEKK... BUMMM!
Suara gemuruh berat mulai terdengar. Keseimbangan beban di atas itu hilang seketika.
Lae ria yang berada tepat di bawahnya baru sadar ketika bayangan menimpa dirinya dan suara gemuruh itu masuk ke telinganya.
Ia mendongak dengan kaget.
Mata biru cerahnya membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik.
Di atas kepalanya, tumpukan papan kayu raksasa dan balok berat itu runtuh! Jatuh bebuyut dengan kecepatan mematikan tepat ke arah di mana ia berdiri!
"APA?!" teriak Lae ria kaget.
Naluri bertahan hidup mengambil alih. Dengan cepat, Lae ria mencoba melompat mundur, menggunakan sihirnya untuk mendorong tubuhnya menjauh secepat mungkin.
"MUNDUR!" serunya sambil mengulurkan tangan, memancarkan aura hijau tanah untuk mempercepat lompatannya.
DUG! TRA..A..KK!
Papan-papan itu jatuh dengan suara ledakan yang sangat keras, menabrak jalanan dan pecah berkeping-keping, menimbulkan debu yang beterbangan ke mana-mana. Jika Lae ria sedetik lebih lambat, tubuhnya pasti akan hancur lebur tertimpa beban berat itu.
Namun, meski berhasil menghindari hantaman langsung, nasib malang tak bisa sepenuhnya terelakkan.
Saat melompat mundur, salah satu serpihan kayu tajam atau mungkin bagian dari struktur yang ambruk tersabet ke arah kakinya. Atau mungkin saat ia mendarat dengan paksa di permukaan jalan yang tidak rata, ada sesuatu yang terkilir atau patah.
"AWWWW!!!"
Jeritan kesakitan meluncur begitu saja dari mulut Lae ria.
Ia jatuh terduduk di tanah yang berdebu. Rasa sakit yang luar biasa, tajam dan panas, menjalar dari pergelangan kaki kanannya hingga ke seluruh tubuh.
Lae ria meringis, keringat dingin langsung membasahi dahinya. Wajahnya pucat pasi menahan sakit yang tak terbayangkan.
Dengan tangan gemetar, ia menunduk melihat kakinya.
Gaun indahnya yang berwarna hijau zamrud kini kotor terkena debu dan mulai terlihat basah oleh warna merah yang semakin melebar. Lukanya cukup parah. Entah itu goresan dalam atau mungkin tulangnya retak, yang jelas Lae ria tidak bisa menggerakkan kakinya lagi. Setiap kali ia mencoba menggerakkan sedikit saja, rasa sakitnya membuat pandangannya menjadi gelap.
"Sakit... Aduh, sakit sekali..." rintihnya pelan, air mata mengalir begitu saja bukan karena sedih, tapi karena rasa perih yang luar biasa.
Ia mencoba menggunakan sihir penyembuhannya sendiri. Ia memejamkan mata, memusatkan energi Bumi untuk memulihkan tubuhnya. Namun, rasa sakit itu terlalu kuat, dan entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelimuti area tersebut, seolah ada energi jahat yang mencegah penyembuhannya bekerja maksimal.
Lae ria menatap ke arah tumpukan kayu yang berantakan itu, lalu menatap ke sekeliling jalanan yang sunyi.
Tidak ada orang. Tidak ada angin kencang sebelumnya.
"Ini... ini bukan kecelakaan..." bisik Lae ria dengan napas tersengal, matanya menyapu sekeliling dengan waspada dan ketakutan. "Seseorang... atau sesuatu... mencoba membunuhku..."
Bayangan hitam yang tadi melakukan aksinya kini sudah menghilang kembali ke dalam kegelapan, meninggalkan Lae ria yang kesakitan, sendirian, dan terluka di tengah jalan yang sepi, dengan kaki yang berdarah dan hati yang panik.
Ia merasa lemas. Marah, kesal, sakit, dan takut bercampur menjadi satu. Pesta pora ambisinya seketika berubah menjadi mimpi buruk yang menyakitkan.
"Tolong... ada orang...?" serunya pelan, suaranya lemah dan parau, sebelum akhirnya pandangannya mulai kabur dan ia hampir pingsan karena kehilangan banyak darah dan rasa sakit yang luar biasa.