Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Ayah!
Mikaila menoleh, mata bulatnya menatap Althan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pipinya yang gembul karena sedang mengunyah sandwich membuat Althan langsung berteriak di dalam hati.
Astaga, imutnya!
"Om siapa?" tanya Mikaila dengan wajah polos. "Om kenal aku?"
Althan tersenyum canggung, lalu menggelengkan kepala. "Om ga kenal kamu sih, tapi boleh kok kalau kamu mau kenalan sama Om,"
"Tapi kata Mama, Aku nggak boleh ngomong sama orang yang nggak aku kenal, takutnya orang itu jahat,"
Ucapan gadis kecil itu sontak membuat Althan memundurkan langkah. "Eh, nggak kok, Om nggak jahat kok. Suer deh. Om cuma pengen duduk di sebelah kamu aja. Tapi, kalau nggak boleh, ya udah deh, Om berdiri aja di sini,"
Mikaila masih menatap Althan dengan penuh rasa curiga. Entah mengapa, ditatap seperti itu oleh seorang gadis kecil membuat Althan gugup. Karena tadi tidak diperbolehkan duduk, ia pun hanya berdiri saja sambil sesekali mencuri pandang ke arah Mikaila yang sedang memakan sandwich dari kotak bekalnya.
"Om lapar, ya?" tanya Mikaila tiba-tiba.
"Hah? Ng-nggak kok," Althan menggelengkan kepalanya.
"Kalau nggak laper, kenapa dari tadi ngeliatin rotiku terus?"
"Oh.. itu.. Om cuma.. merasa kalau sandwich kamu enak," Althan berkata asal sambil menggaruk garuk kepalanya canggung.
"Oh, iya Om, emang enak rotinya. Mama aku loh yang bikin," Mikaila berkata dengan nada bangga.
"Oh, ya? Mama kamu pintar masak, ya?"
Mikaila menggeleng. "Mama tuh nggak bisa masak Om. Dia cuma bisa membuat dua menu, yaitu sandwich sama nasi goreng. Tapi nasi goreng nya enaaaakkk banget! Aku suka makan nasi goreng Mama!"
Celotehan gadis kecil itu membuat Althan tersenyum. Iya, dia tau kalau Vivi dari dulu memang tidak bisa masak. Tapi ada satu hidangan yang selalu Vivi buatkan untuknya, yaitu nasi goreng. Meskipun rasanya juga tidak terlalu enak, Althan dulu selalu memakannya dengan lahap karena tak mau membuat Vivi sedih.
"Nih Om, aku bagi separuhnya buat Om,"
Althan terkesiap saat melihat Mikaila menyerahkan separuh sandwich nya kepadanya.
"Eh, nggak usah, itu buat kamu aja. Om nggak laper kok," Tentu saja Althan berusaha menolak.
"Nggak papa Om. Kata Mama, kita harus selalu berbagi kepada orang orang yang kelaparan, biar dapat pahala,"
Ucapan gadis kecil itu langsung menohok ke dada Althan. Apa aku keliatan semenyedihkan itu di matanya?
Tapi, karena Mikaila tak kunjung menurunkan tangannya, akhirnya Althan pun menerima potongan sandwich itu dengan terpaksa.
"Terimakasih ya,"
"Sama-sama Om.. Sini Om, kata mama kalau makan harus duduk," kata Mikaila sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Loh, bukannya tadi kamu bilang nggak boleh ngomong sama orang yang nggak di kenal? Kok malah kamu suruh Om duduk di sebelah kamu, sih? Emangnya kamu nggak takut kalau Om orang jahat?" canda Althan.
"Kalau Om jahat, dari awal Om nggak akan ngebiarin aku makan sandwich. Aku pasti udah diculik duluan," jelas Mikaila santai, sembari melanjutkan makan.
Jawaban Mikaila membuat Althan tertegun. Wah, pintar juga anak ini, batinnya.
Karena sudah mendapat persetujuan, akhirnya Althan pun duduk di sebelah gadis kecil itu. Ia menatap potongan kecil sandwich di tangannya sebentar, lantas memasukkan semuanya ke dalam mulut.
Hmm, rasanya lumayan juga.
"Omong omong, kita belum kenalan loh. Nama kamu siapa?" tanya Althan kemudian.
"Mikaila, Om bisa panggil aku Mika aja,"
"Oh, Mika.. Cantik juga ya nama kamu,"
Mikaila berhenti mengunyah dan menatap Althan dengan tajam. "Om buaya, ya?"
"Hah? Bukanlah, Om itu manusia!"
"Tapi kata orang, kalau cowok suka godain cewek itu sebutannya buaya,"
Althan menghela napas panjang. "Kamu tau istilah itu dari mana sih? Pasti kamu keseringan main hape ya? Hape itu nggak bagus buat anak kecil tau,"
"Nggak kok, Aku dengernya dari ibu ibunya temen temen aku," Mikaila menunjuk ke arah seberang, dimana terlihat ada beberapa ibu ibu berkumpul sembari bergosip di sana. Suaranya bahkan terdengar cukup keras sampai bisa di dengar oleh mereka.
"Astaga, kamu nggak boleh menguping pembicaraan orang dewasa, Mika.."
"Mana ada Aku Nguping? orang kedengeran kok dari sini," Mikaila berkilah.
Althan menelan ludah. Ya bener juga sih, batinnya. Namun ada satu hal yang membuatnya takjub. Mikaila, si gadis kecil ini sangat pintar berbicara. Bahkan, Althan pun bisa mendengar semua perkataannya dengan jelas, tanpa cadel sama sekali. Padahal biasanya anak sekecil ini masih kesulitan untuk mengucapkan huruf 'r' dan sebagainya. Tapi Mikaila berbeda.
"Mika umurnya berapa sih?" Althan mulai ke mode interogasi yang sangat halus.
"Lima tahun," jawab Mikaila sambil mengacungkan kelima jari tangannya. "Kalau Om umurnya berapa?"
"28 tahun," jawab Althan jujur.
"28?" Mikaila tampak terdiam sejenak, kesepuluh jarinya sekarang terangkat semua. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu dengan cukup keras, karena Althan bisa melihat keningnya berkerut cukup serius. Benar benar imut.
"Berarti, selisih umur kita 23 tahun ya Om,"
Althan terbelalak. "Kamu udah bisa menghitung?"
"Udah dong Om, Mama yang ngajarin aku setiap hari," jawab Mikaila bangga. "Kalau selisih umurku sama Mama 22 tahun. Berarti Om lebih tua dari mamaku, ya?"
"Iya," Althan mengangguk. "Selisihnya satu tahun,"
"Oh, iya iya," Mikaila mengangguk. "Oh ya, Mikaila lupa. Kalau Om, namanya siapa?"
"Nama Om..."
"Mikaila!"
Suara seseorang membuat Mikaila dan Althan sontak menoleh. Dari seberang sana, terlihat ada seorang pria yang melambaikan tangan ke arah mereka.
"Ayah!" Mikaila membalas lambaian tangan pria itu.
Tubuh Althan seketika langsung membeku. Apa katanya tadi? Ayah? Jadi dia adalah ayahnya Mikaila? Suaminya Vivi?
Pria yang dipanggil Ayah itu kemudian mendekati mereka. Mikaila dengan gembira langsung berlari ke pelukannya. Althan hanya bisa menatapnya dengan dada yang terasa sakit.
"Loh, ini siapa, Mikaila?" tanya pria itu sambil menunjuk Althan.
Althan tak menjawab. Lebih tepatnya, lidahnya terasa beku untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa terdiam, sampai Mikaila dan pria yang dipanggilnya Ayah itu pergi dari hadapannya.
Jadi, kau sudah benar-benar melupakan aku ya, Vivi...
semoga althan segera tau kebenaran ny ,, klo vivi ninggalin dy krn Selina ,,
mungkin vivi di bawah ancaman Selina ,,
next kak
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara