Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Amira tersenyum sumringah. Bagaimana tidak bahagia dia, jualan yang baru seminggu dijalaninya, sudah banyak langganannya. Semua itu berkat bantuan dari orang-orang yang tulus, sayang dan peduli padanya. Bu Sinta, Bu RT, Hesti, sampai Mbak Ratih, ikut membantu mempromosikan jualan donat kekinian yang di buatnya. Dari melihat cara membuat donat yang enak dan empuk di salah satu aplikasi HP yang baru dibelinya, kini Amira sudah mahir membuat donat yang enak dan empuk. Dan siang ini dia sedang bersantai. Setelah pagi tadi, sudah terjual habis habis donat buatannya.
Dia juga sedang belajar menggunakan HP pintar yang baru di belinya. Tentu saja di beli dengan uang kiriman suaminya.
"Duh, duh, duh, duuuuh...enak ya, mentang-mentang udah punya HP baru, samapi di kasih salam juga nggak denger."
Suara Hesti mengagetkan Amira, yang sedang serius bermain ponsel. Begitupun dengan Alif yang sedang berbaring di atas kasur. Anak itu sedang Menonton sebuah film kartun spons berwarna kuning, sedang mengejar sekelompok ubur-ubur bersama sahabatnya si bintang lau di dasar laut.
Hesti, berdiri di depan pintu. Kedua tangannya berkacak pinggang menatap Amira dengan dongkol.
"Unda, cini onton!"
Amira terkekeh
"Wa'alaikumssalam, ayo masuk, anak mu manggil tuh, temani nonton."
Hesti mendengus. Tapi kakinya melangkah masuk. Lalu dia duduk di samping Alif.
"Asik ya, anak Bunda nonton. Udah tidur siang?"Tanya Hesti pada Alif.
"Udah."
"Pintar nya anak Bunda."Puji Hesti, mencubit pipi Alif dengan gemas.
Sementara Amira, tidak menggubris obrolan kedua orang itu. Dia terlalu asik dengan HP barunya.
"Lagi ngapain kamu Mir, tuh muka serius amat?"Hesti mengalihkan pertanyaan pada Amira, sementara kakinya dengan usil menendang kaki Amira yang selonjoran perlahan..
"Apaan kamu Hes, nggak bisa lihat orang seneng dikit. Nonton tuh temani anak mu, ganggu aja.."Balas Amira, tidak melepaskan matanya pada layar ponselnya. Tubuhnya di putar menyamping.
Hesti sungguh gondok, melihat Amira yang sengaja mengabaikan dirinya. Apa lagi raut wajah Amira. tanpa permisi, Hesti keluar dari rumah membawa Alif ikut bersamanya. Tentu saja tanpa sepengatahuan Amira. Karena wanita itu terlalu fokus dengan ponselnya. Hingga dia tidak tahu, kalau Hesti pergi membawa anaknya.
................
Hingga beberapa menit kemudian, ponsel lamanya berdering beberapa kali.
"Astaghfirullah...ada yang nelpon."Amira buru-buru mengambil HP-nya yang di taruh di samping TV.
"Assalamu'alaikum."
Tanpa melihat siapa yang menelepon, Amira langsung menekan tombol panggil.
"Wa'alaikumssalam..Mira."
Amira melihat HP-nya, memastikan suara yang tadi menjawab salamnya, adalah orang yang sama dengan nama yang ada HP-nya. Ternyata sama, Bu Sinta.
"Iya Bu, ada apa?"Tanya Amira.
"Mir, tolong datang ke Puskesmas ya nak? Ibu mertua kamu, sekarang lagi di puskesmas."Jawab Bu Sinta menjelaskan.
Deggg...
Jantungnya berdetak hebat. "Masf Bu, emangnya Ibu kenapa?"
"Datang dulu kesini, nanti Ibu jelasin."
"Baiklah, aku kesana."
Amira menutup HP-nya. Kemudian mencari-cari Hesti dan Alif.
"Hesti sama Alif ke mana sih?"
Amira bingung, baru menyadari kalau Hesti dan anaknya sudah tidak terlihat di ruangan itu.
Sesaat kemudian, Amira tiba di Puskesmas. Wajah cemas dan khawatir terlihat dari wajahnya, saat memasuki pintu Puskesmas.
Sampainya di depan ruang UGD, Amira melihat Bu Sinta dan Bu RT sedang duduk di bangku yang di sediakan.
"Assalamu'alaikum Bu."Salam Amira, begitu tiba di dekat Keduanya.
Bu Sinta dan Bu RT, sontak menoleh.
"Wa'alaikumssalam."Balas Bu Sinta dan Bu RT.
"Alhamdulillah, kamu sudah sampai nak." Sambung Bu Sinta, sedikit lega.
"Maaf Bu, Ibu kenapa sampai bisa masuk ke sini."Tangannya dengan nada khawatir. Sejahat-jahat Ibu mertuanya, dia adalah Ibu yang sudah melahirkan suaminya. Seorang Nenek dari anaknya.
"Ibu juga kurang tau nak, pintu rumah Bu Susi dari pagi nggak dibuka-buka. Walau jarang bergaul dengan tetangga, nggak biasanya rumah Ibu mertua mu di tutup sampai setengah hari begitu. Jendela sama gordennya juga nggak di buka. Awalnya Ibu pikir jangan-jangan Bu Susi pergi. Tapi kemarin sore Ibu masih melihat Bu Susi lagi nyiram bunga. Masak iya, Bu Susi perginya malam-malam."
"Ibu jadi nggak enak. Ibu manggil Bu RT, mau lihat apa ada orang atau nggak. Di ketok-ketok nggak nyaut-nyaut. Kita pulang, siang tadi, Ibu kembali ke rumah Bu Susi tapi sama Pak RT. Terpaksa Pak RT rusakin pintunya. Ternyata Ibu mertua mu pingsan di kamar mandi. Nggak tau pingsannya dari kapan. Jadi kami langsung bawah ke sini."Jelas Bu Sinta tentang kronologi kejadian yang menimpa Bu Susi.
"Jadi sekarang Ibu keadaan Ibu bagaimana?"Tanya Amira, masih tampak khawatir.
"Masih di periksa di dalam, kami nggak di izinin masuk. Kamu yang sabar, do'akan semoga Ibu mertua mu baik-baik saja."Bu Sinta, mengusap punggung Amira, untuk memberi dukungan.
"Kurang sabar apa Amira Bu. Itu mungkin karma bagi Bu Susi."Ucap Bu RT dengan nada ketus.
"Sebenarnya aku malas, ngurus Bu Susi ini. Tapi yah...mau bagaimana lagi. Tetangga sekaligus merangkap Ibu RT, terpaksa deh, mau nggak mau, suka nggak suka harus bantu..menurut Bu Sinta dan Amira, kira-kira dapat nggak pahala?"
Ucapan Bu RT, membuat Amira dan Bu Sinta melongo menatap ke arahnya.
"Mau dapat paha apa, kalau nolongnya karena terpaksa."Balas Bu Sinta.
Amira cuma tersenyum. Tapi dia sangat bersyukur Ibu mertuanya di tolong oleh tetangga yang baik itu. Dia akui kalau Bu RT memang mulutnya sedikit ceplas-ceplos, tapi hatinya sungguh sangat baik.
"Makasih ya, Bu...udah mau nolongin Ibu mertua aku."Ujar Amira tulus.
"Sama-sama nak, sudah kewajiban kita sebagai tetangga harus saling membantu, kalau yang lainnya lagi kesusahan."Bu Sinta membalas.
Tak lama kemudian.
"Mira."Panggil seorang suster, setelah pintu ruang UGD terbuka.
"Mbak Amel?"
Amira begitu terkejut melihat siapa yang barusan manggil namanya. Amelia Putri. Sepupu yang selalu menghina dirinya, sewaktu dia masih tinggal di rumah Amelia. Tepatnya rumah peninggalan Ayahnya yang diambil alih oleh keluarga Amelia. Ibu Amelia adalah adik dari Ayahnya. Dan saat Ayah dan Ibunya meninggal karena kecelakaan mobil, seluruh harta peninggalan Ayahnya di ambil oleh bibinya. Yang tak lain adalah Ibunya Amelia.
Melihat Amelia berdiri di depannya, luka lama itu menganga kembali. Rasa sakit yang begitu membekas, kini dia rasakan. Rumah miliknya, semua hartanya di ambil, tanpa tersisa sedikitpun untuknya. Bahkan dirinya di jadikan pembantu di rumahnya sendiri. Dia juga harus bekerja untuk membiayai sekolahnya. Dan Amelia, wanita itu, yang sering menghinanya, membulinya, berdiri dengan tidak ada rasa bersalah dan tidak tahu malunya, tersenyum ke arahnya. Kedua tangan Amira terkepal sangat kuat. Dia marah, dia sakit.
"Mira, sedang apa kamu di sini? Kamu sakit?"Tanya Amelia dengan raut wajah sedikit cemas, lalu melangkah menuju Amira.
"Stop di situ."
Suara Amira sedikit keras. Membuat Amelia menghentikan langkahnya. Sementara Bu Sinta dan Bu RT, menatap Amira dengan kening mengerut.
Bersambung........
Jd gmes bcanya bkin emosi
Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya