Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.
Season 2 : 13. Benteng Putih dan Serangan Balik
Pukul 15.00 WIB. Ruang Tunggu Operasi RSPAD Gatot Soebroto.
Lampu indikator di atas pintu ruang operasi masih menyala merah: SEDANG OPERASI.
Kirana duduk meringkuk di kursi besi ruang tunggu yang dingin. Matanya sembap, pakaiannya masih lembap sisa air hujan, dan ada noda darah Arya yang mengering di kemejanya. Ia menolak pulang untuk ganti baju.
Di sebelahnya, Dimas duduk tegak dengan laptop terbuka di pangkuan. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, wajahnya diterangi cahaya layar. Kacamatanya memantulkan barisan kode dan data.
“Mas Dimas…masih lama?” Tanya Kirana lirih untuk kesekian kalinya.
“Operasi pengangkatan pecahan kaca dan internal bleeding, butuh waktu, Na,” jawab Dimas tenang tanpa mengalihkan pandangan. “Tapi dokter bedahnya yang terbaik. Senior saya di militer dulu.”
Kirana mengernyit. “Senior? Mas Dimas pernah masuk militer?”
Dimas berhenti mengetik. Ia menoleh, tersenyum tipis. “Di kehidupan ini, saya cuma sejarawan yang suka hacking. Tapi koneksi keluarga saya di militer cukup kuat. Itu sebabnya saya bawa Arya ke sini. Di sini, uang Dyandra tidak berguna.”
Dimas memutar laptopnya ke arah Kirana. Di layar, terlihat denah digital rumah sakit dan daftar nama penjaga.
“Saya sudah memblokir akses ke lantai ini. Status pasien Arya saya sudah ubah jadi VVIP—Restricted. Cuma kita berdua dan tim medis yang bisa masuk. Kalau ada nama ‘Dyandra’ atau orang suruhannya yang coba masuk di lobi depan, alarm Hp saya akan bunyi.”
Kirana menatap Dimas kagum. “Gila. Mas Dipa beneran ahli strategi.”
“Harus,” gumam Dimas, kembali mengetik. “Dulu saya cuma bisa baca buku dan ngelukis, sampai akhirnya kakak saya mati karena racun. Kali ini, saya pastikan bentengnya nggak tembus.”
NGIING!
Tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi merah berkedip di layar laptopnya.
ALERT: ANUTHORIZED ACCES ATEMPT - LOBBY UTAMA.
SUBJECT: DYANDRA PRAMESTI & LAWYER.
Dimas menutup laptopnya dengan bunyi klik tegas. Wajah ramahnya berubah dingin.
“Ular itu sudah datang,” kata Dimas sambil berdiri. “Kamu tetap di sini, jaga pintu operasi. Biar saya yang urus tamu tak diundang itu.”
Lobi Utama RSPAD.
Suasan lobi yang tenang mendadak riuh. Dyandra berdiri di depan meja resepsionis, mengenakan kacamata hitam besar (untuk menutupi mata palsunya yang sembap) dan gaun hitam dramatis. Di belakangnya, seorang pria berjas rapi membawa tas kerja kulit,
“Mba, saya tunangannya! Kenapa saya nggak boleh naik?!” Bentak Dyandra pada suster resepsionis. “Saya mau bayar deposit VIP! Berapapun biayanya saya bayar sekarang!”
“Maaf, Bu. Data pasien atas nama Arya Baskara dikunci oleh pihak keluarga. Tidak boleh dijenguk,” jawab suster itu gugup namun tegas.
“Keluarga siapa?! Orang tuanya sudah meninggal! Saya keluarga terdekatnya!” Dyandra menggebrak meja. “Pengacara saya akan menuntut rumah sakit ini kalau saya dihalang-halangi!”
“Simpan ancamanmu buat di pengadilan, Dyandra.”
Suara tenang namun tajam memotong keributan itu.
Dyandra menoleh. Dimas berjalan santai menuruni tangga lobi, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia terlihat seperti mahasiswa yang salah jurusan, tapi aura yang dipancarkannya membuat satpam disekitar lobi otomatis memberinya jalan.
“Dimas?” Dyandra mendengus remeh. “Ngapain kamu disini? Sepupu benalu yang cuma numpang hidup.”
“Saya di sini untuk memastikan sampah tidak masuk ke ruang steril,” jawab Dimas sambil membetulkan letak kacamatanya.
Wajah Dyandra memerah. “Jaga mulutmu! Saya calon istri Arya. Saya punya hak atas dia!”
“Calon istri?” Dimas tertawa kecil. Ia maju selangkah, menatap mata Dyandra lekat-lekat. “Secara hukum negara, statusmu di KTP Arya itu nol. Tidak ada akta nikah. Tidak ada surat kuasa.”
Dimas menoleh pada pengacara Dyandra.
“Dan Bapak Pengacara…kalau anda memaksa masuk ke area terbatas Rumah Sakit Militer tanpa izin keluarga, saya bisa panggil Polisi Militer untuk menyeret anda keluar atas tuduhan gangguan ketertiban objek vital.”
Pengacara itu pucat, lalu berbisik pada Dyandra. “Bu, posisinya lemah. Ini yuridiksi militer. Kita nggak bisa maksa.”
Dyandra mengepalkan tangannya. Giginya gemeretak.
“Kamu…” desis Dyandra menunjuk hidung Dimas. “Kamu sekongkol sama perempuan gembel itu kan? Kalian mau cuci otak Arya buat morotin hartanya kan?”
“Dyandra…Dyandra…” Dimas menggeleng prihatin. “Arya selamat dari kecelakaan itu. Mobilnya memang hancur, tapi dia sadar. Kamu tau artinya apa?”
Mata Dyandra membesar sedikit karena panik.
“Artinya,” bisik Dimas tepat di telinga Dyandra. “Dia ingat siapa yang menabraknya. Dan dia ingat siapa yang menyuruhnya. Sebaiknya kamu pulang, siapin alibi. Karena saat Arya bangun nanti…dia bukan lagi arsitek yang bisa kamu setir.”
Dyandra mundur selangkah, wajahnya pias. Ia merasakan ancaman nyata dari sosok Dimas yang biasanya pendiam ini.
“Awas kalian,” ancam Dyandra dengan suara bergetar. “Kalian pikir kalian bisa menang lawan kekuasaan saya? Lihat saja nanti!”
Dyandra memutar tumitnya, berjalan cepat meninggalkan lobi dengan rasa malu yang membakar, diikuti pengacaranya yang tertunduk.
Dimas menatap kepergian mereka sampai hilang di balik pintu kaca. Ia menghela napas panjang, lalu mengirim pesan singkat ke Kirana:
“Aman. Ular sudah diusir.”
Pukul 19.00 WIB. Ruang Rawat VVIP.
Operasi berhasil. Arya di pindahkan ke kamar rawat paling ujung yang dijaga dua petugas keamanan sewaan Dimas.
Kirana duduk di samping ranjang pasien. Bunyi Bip-Bip monitor menjadi satu-satunya suara.
Kelopak mata Arya bergerak-gerak. Perlahan, mata elang itu terbuka.
“Mas…” Kirana langsung menggenggam tangannya.
Arya mengerjap, menyesuaikan mata dengan cahaya lampu. Rasa sakit di sekujur tubuhnya menyadarkannya bahwa ia masih hidup.
“Na…” suaranya serak dan kering.
Kirana menyodorkan sedotan berisi air putih. Arya minum sedikit, lalu mengedarkan pandangan. Ia melihat Dimas berdiri di pojok ruangan, bersandar pada dinding sambil bersedekap.
Arya tersenyum tipis pada Dimas.
“Strategi yang bagus, Dipa,” ucap Arya pelan. “RSPAD…benteng yang kokoh.”
Dimas tersenyum lega. “Selamat datang kembali, Kakang. Istirahatlah. Dyah Ayu tidak bisa menyentuhmu disini.”
Arya mencoba duduk, tapi Kirana menahannya. “Jangan bangun dulu! Tulang rusuk kamu retak!”
“Aku nggak apa-apa,” Arya bersikeras menyandarkan punggungnya di bantal yang ditinggikan. Wajahnya yang pucat berubah serius. Tatapan matanya tajam, penuh perhitungan.
“Mana tas kerjaku yang di mobil?” Tanya Arya.
“Hancur, Mas. Tapi laptop dan hp kamu berhasil diamankan polisi, sekarang ada di Dimas,” jawab Kirana.
“Bukan laptop,” sela Arya. “Kamera.”
Dimas dan Kirana saling pandang bingung. “Kamera?”
“Mobilku,” jelas Arya, napasnya sedikit berat menahan sakit. “Mobil itu prototype pintar. Ada kamera dasbor (dashcam) yang terhubung langsung ke Cloud Server kantor. Kameranya merekam 360 derajat. Depan dan belakang.”
Mata Dimas membelalak. “Maksud Kakang…rekaman tabrakannya?”
Arya mengangguk dingin.
“Rekaman itu pasti sudah terunggah otomatis ke server sebelum mobilnya terbakar. Di sana pasti terlihat jelas pelat nomor atau wajah pengemudi SUV yang menabrakku.”
Dimas langsung membuka laptopnya, meretas masuk ke server kantor Arya dengan password yang diberikan Arya.
Jari Dimas menekan tombol enter. Sebuah video mulai berputar di layar.
Gambar berguncang hebat. Suara dentuman. Lalu mobil berputar. Tapi di detik-detik awal, terlihat jelas sebuah SUV hitam memepet agresif. Dan dari kamera belakang, terlihat kaca depan SUV itu tidak terlalu gelap.
Wajah pengemudinya terlihat samar tapi bisa dikenali. Pria bertato di leher.
“Bimo,” desis Arya saat melihat wajah itu di layar pause. “Itu kepala keamanan perusahaan ayahnya Dyandra. Sering mengawal dia.”
Hening di ruangan itu. Bukti itu telak.
“Kita bisa lapor polisi sekarang. Pasal percobaan pembunuhan berencana. Dyandra tamat,” kata Kirana berapi-api.
“Jangan,” cegah Arya.
“Kenapa?!” Protes Kirana. “Dia udah mau bunuh kamu!”
“Kalau kita lapor sekarang, dia akan pakai uang bapaknya untuk menyuap hukum. Bimo akan dijadikan kambing hitam, dibilang inisiatif sendiri. Dyandra akan bebas,” Arya menjelaskan dengan gaya seorang Panglima Perang.
“Terus kita diem aja?”
Arya menatap Kirana, lalu beralih ke Dimas.
“Tidak. Kita mainkan permainannya,” Arya menyeringai, seringai yang membuat bulu kuduk merinding. “Biarkan dia berpikir aku masih sekarat. Biarkan dia berpikir aku tidak ingat apa-apa. Biarkan dia merasa aman.”
“Dipa,” panggil Arya.
“Siap, Kakang.”
“Tiga hari lagi ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan ayahnya Dyandra, kan? Di mana mereka akan mengumumkan aku sebagai arsitek utama proyek triliunan itu?”
“Benar. Itu acara besar. Live di TV nasional.”
“Bagus,” Arya mengepalkan tangannya, mengabaikan selang infus yang tertarik.
“Kita akan datang ke sana. Kita putar video ini di layar raksasa saat dia sedang pidato kemenangan. Kita hancurkan dia bukan di kantor polisi yang sepi…tapi di depan seluruh dunia.”
Kirana menatap Arya. Pria ini…benar-benar menakutkan jika sedang marah.
“Kamu yakin kuat, Mas?” Tanya Kirana khawatir.
Arya meraih tangan Kirana, mencium Cincin Merah Delima yang melingkar di jari gadis itu.
“Selama kamu disampingku, Na…aku bisa meruntuhkan gunung, apalagi jika cuma seekor ular.”
Malam itu, di kamar VVIP RSPAD, rencana serangan balik di susun. Trio Majapahit telah bangkit sepenuhnya, dan mereka siap mengirim Ratu Ular ke neraka buatannya sendiri.