NovelToon NovelToon
Cinta Di Raga Baru

Cinta Di Raga Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.

Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.

Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pagi harinya, Arlena tampak berbeda.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela. Cahaya matahari menyusup masuk, namun tidak menyentuh sorot matanya. Wajahnya murung, diam, dan jauh.

Bagi Davin, itu hanya sisa mimpi buruk semalam.

Namun bagi Nayla, diam itu menyimpan gema dari pertemuan yang belum selesai.

Davin menghampiri dan meraih bahu Arlena lembut. “Kamu masih capek? Ikut aku ke kantor saja. Biar tidak sendirian.”

Arlena menggeleng pelan. “Tidak, Mas. Aku ingin di rumah.”

Nada suaranya datar, bukan dingin, lebih seperti seseorang yang butuh ruang.

Davin tidak memaksa. Ia hanya mengecup kening Arlena sebelum pergi. “Istirahat yang cukup. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

Arlena mengangguk.

Begitu pintu kamar tertutup dan rumah kembali sunyi, Arlena berjalan perlahan kembali ke ranjang. Ia duduk, memeluk lutut, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Kenapa kamu muncul sekarang?" batin Nayla gelisah.

Ia mencoba mengingat detail mimpinya semalam. Wajah Arlena yang tenang. Tatapan kosongnya. Diamnya yang menyesakkan.

"Apakah kamu tidak setuju aku memutuskan Roy?" tanya Nayla didalam hati yang tentunya tidak mendapatkan jawaban.

"Atau kamu marah karena aku mengambil keputusan tanpa persetujuanmu?"

Nayla menunduk, jemarinya mencengkeram seprai.

Arlena tidak pernah muncul sebelumnya.

Arlena datang tepat setelah Nayla memutus hubungan dengan Roy, menutup satu pintu yang mungkin, bagi Arlena, belum siap ditutup.

"Apa mimpi semalam bukan tentang Roy sama sekali?"

Nayla menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak hidup sebagai Arlena, ia merasakan ketakutan yang berbeda, bukan takut kehilangan Davin, bukan takut gagal membalas dendam, melainkan takut melakukan kesalahan atas hidup orang lain.

Nayla menatap pantulan dirinya di cermin.

“Kalau kamu masih ada,” bisik Nayla pelan pada bayangan wajahnya, “katakan padaku apa yang kamu mau.”

Namun kamar itu tetap sunyi. Dan Nayla sadar, diam Arlena jauh lebih berat daripada kemarahan mana pun.

Nayla masih berada didalam kamar dan melihat ada mobil yang masuk ke rumahnya.

Nayla tahu itu mobil ibu mertuanya, dan Arlena tidak tahu kalau ada ibu mertuanya berkunjung, Arlena segera merapikan penampilannya dan keluar dari kanar.

Ayu datang tidak sendiri, Ayu datang bersama Kanaya. Ayu langsung menyadari perubahan di wajah Arlena, tatapan yang lebih redup, senyum yang tertahan.

“Kamu kelihatan murung,” ujar Ayu lembut sambil menggenggam tangan Arlena. “Masih kepikiran mimpi buruk semalam?” Ayu datang karena Davin menelepon kalau Arlena mimpi buruk dan masih murung.

Arlena hanya tersenyum tipis. “Sedikit.” jawab Arlena dan Nayla tahu pasti Davin yang memberitahu Ayu.

Namun Kanaya, yang sejak awal memang menyimpan kecurigaan, langsung menyimpulkan hal lain. Ia menyilangkan tangan, melirik Arlena dengan sorot mata menilai.

“Ya wajar sih,” kata Kanaya santai tapi menyengat, “habis putus sama orang lama. Biasanya memang butuh waktu buat move on.”

Kalimat itu meluncur halus, tapi cukup tajam.

Arlena terdiam. Nayla di dalam dirinya merasa perih, bukan karena Roy, melainkan karena disalahpahami.

Belum sempat Arlena menjawab, Ayu langsung menyikut lengan Kanaya. “Kana,” tegur Ayu pelan tapi tegas. “Jaga ucapan.”

Kanaya mendengus kecil, memalingkan wajah.

Ayu menatap Arlena kembali. “Daripada kamu bengong di rumah, ikut ibu jalan-jalan, ya. Biar pikiran segar.”

Arlena ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik, bu.

Ayu mengajak Nayla ke moll, Ayu tahu kalau Arlena paling suka belanja. Dan Ayu sedang berusaha membuat Arlena kembali ceria.

Mall dipenuhi cahaya dan suara. Orang lalu-lalang, etalase berkilau, musik lembut mengalun dari berbagai sudut.

Namun Nayla justru tiba-tiba merasa asing, padahal sejak ada di tubuh Arlena ini bukan pertama kalinya Nayla ke mall.

Ayu berhenti di satu butik ke butik lain. Kanaya sibuk mencoba sepatu, tas, bahkan aksesoris yang menurut Nayla… berlebihan.

Sedangkan Arlena berdiri di tengah, bingung.

Nayla menatap etalase disekitarnya, lalu kembali kosong.

"Aku mau beli apa?" tanya Nayla didalam hati.

"Sepertinya… tidak butuh apa-apa."

Pakaian di lemari Arlena sudah lebih dari cukup. Tas mahal tergeletak tanpa pernah benar-benar Nayla pakai. Semua ada, tapi tidak ada yang Nayla inginkan.

Berbeda jauh dengan Ayu dan Kanaya yang terus membawa kantong belanja.

“Kamu nggak mau apa-apa?” tanya Ayu heran.

Arlena menggeleng pelan. “Tidak, bu.”

Kanaya melirik sinis. “Aneh. Biasanya kakak iparku paling betah belanja.”

Arlena tersenyum tipis, tidak menanggapi.

Di tengah keramaian itu, Nayla justru semakin merasa sunyi.

Dunia Arlena terlalu penuh, hingga Nayla tidak tahu lagi apa yang sebenarnya Arlena inginkan.

Dan mungkin, yang Nayla cari bukan barang, melainkan jawaban.

Nayla menatap kantong-kantong belanja di tangan Ayu dan Kanaya, lalu menunduk pada jemarinya sendiri yang kosong. Sebuah senyum tipis terukir di wajah Arlena, senyum yang lebih menyerupai kenangan daripada kebahagiaan.

Dulu, sebagai Nayla, ia sering berdiri lama di depan etalase. Menghitung ulang uang di dompet, menimbang kebutuhan dan keinginan. Berkhayal suatu hari bisa masuk ke toko mana pun, mengambil apa pun yang ia suka, tanpa harus melihat label harga.

Itu dulu mimpi Nayla.

Namun sekarang, ketika semua itu menjadi nyata, ketika kartu hitam ada di genggamannya, ketika harga tak lagi berarti, hatinya justru kosong.

"Ini bukan ragaku." batin Nayla pelan.

"Bukan hidupku yang kuperjuangkan dari awal."

Ia bisa membeli apa pun, tapi bukan dengan tangan Nayla. Ia bisa memiliki segalanya, tapi bukan sebagai dirinya sendiri.

Arlena berjalan perlahan di antara etalase, memantulkan bayangannya di kaca-kaca mengilap. Gaun mahal. Tas eksklusif. Sepatu dengan harga yang dulu setara gajinya berbulan-bulan.

Tidak satu pun memanggil hatinya.

“Kamu benar-benar nggak mau apa-apa?” tanya Ayu lagi, kali ini lebih lembut.

Arlena menggeleng. “Aku sudah punya cukup.”

Kanaya mendengus kecil, tak mengerti. Namun Nayla tidak peduli.

Karena ia sadar satu hal yang membuat dadanya sedikit sesak:

Impian itu tetap indah, tapi ketika tercapai di tubuh orang lain, rasanya tidak sama.

Nayla tersenyum tipis lagi. Bukan karena sedih sepenuhnya.

Melainkan karena ia akhirnya mengerti. Bahwa yang membuat impian berarti bukan hanya hasilnya, melainkan perjalanan siapa yang menjalaninya.

Nayla akhirnya hanya membeli beberapa mainan untuk Xavier, setidaknya nanti sampai di rumah ada oleh-oleh untuk anaknya, dan juga beberapa makanan.

Apa yang dibeli oleh Nayla mendapatkan tatapan aneh dari Kanaya, karena dulu kaka iparnya paling anti membeli makanan sembarangan, tapi kali ini berbeda, Kanaya memang merasa kakak iparnya seperti berganti kepribadian, namun Kanaya tidak percaya kalau Arlena itu Nayla. Dan Kanaya hanya menganggap itu dongeng.

Saat hendak masuk kedalam mobil, Nayla melihat Rama bersama keluarga barunya.

Dada Nayla langsung terasa panas, "Baiklah, sabar dulu, urusan Rama dan Edo belum selesai, maaf Arlena, aku pinjam ragamu dulu." kata Nayla yang kemudian menutup pintu mobil dan semangat hidupnya kembali menyala.

1
Yuni Anto
/Whimper/Thor mkasih update nya/Doubt/Thor Napa Nayla pingsan 🤩 apa lagi hamil muda y🥰 semangat terus un😍/Determined//Determined//Determined//Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/💪💪💪💪 terus y Thor n sehatt selalu 🥰🥰🥰😍
Erunisa: di bikin hamil sekarang atau nanti aja yah kira-kira?/Shy/
total 1 replies
Yuni Anto
🥰KKA author 🥰 tersayang mkasih update nya 🥳🥳🥳🥰bulan ini di kasih update terbaru 2x🤩🤩🥳🥳🥰🥰🥰💪 semangat terus ya Thor 💪😍 sehat selalu Bwt kka/Determined//Angry//Determined//Angry/😍
Erunisa: terima kasih kaka, semoga kaka juga sehat
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mantab Nayla
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Putra Satria
🥰wah my 🩷 Thor 🩷 cinta banyak 2 bwt kka🥰 mkasih update terbaru hari ini 💪💪💪 terus y
Yuni Anto
🥰 makasih 🥰 update terbaru nya 💪💪💪 terus y Thor 🥳🥳🥳🥳🥰
Yuni Anto
next Thor 🥰
kawaiko
Gemes deh!
Rizitos Bonitos
Plot yang rumit tapi berhasil diungkap dengan cerdas.
Re Creators
Wah seru banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!