---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Di sebuah ruang kerja mewah yang dipenuhi kaca besar, Melisa melempar berkas ke meja hingga semua asistennya terkejut. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, matanya seperti bara api yang siap membakar siapa saja.
“Apa kalian ulangi!” bentaknya.
Salah satu anak buahnya, Rony, menelan ludah. “Bu… informasi yang kami terima… Nirmala hamil.”
“Kalian yakin?!”
Suara Melisa bergetar menahan amarah.
“Y-yakin, Bu. Dokter dipanggil ke desa. Penjagaan di rumah Pak Wira berubah total. Itu tanda jelas kalau—”
BRAK!
Melisa memukul meja terlalu keras sampai gelas kristal di ujung meja pecah berantakan.
“HAMIL? Dia… hamil anak Daren?!”
Bahunya naik turun, napasnya berat.
Tidak pernah seumur hidupnya, Melisa merasa harga dirinya diinjak-injak seperti ini. Dendamnya pada Nirmala sudah besar… kini semakin membuncah.
Ia menatap Rony dengan mata membunuh.
“Besok.”
Suaranya tenang, tapi justru terdengar paling mematikan.
“Kalau dia keluar rumah, meski cuma sejengkal—langsung eksekusi.”
Rony menunduk cepat. “Perintah siap dilaksanakan, Bu.”
Melisa meremas ujung mejanya keras-keras sampai buku jarinya memutih.
“Anak itu… tidak boleh lahir.”
---
Kayla Datang ke Desa
Keesokan siang, sebuah mobil hitam memasuki desa Nirmala dengan pengawalan dua mobil lain di belakangnya. Warga desa yang sedang menjemur pakaian sampai berhenti sejenak melihat iring-iringan itu.
“Tuh kan, pengawalnya makin banyak…”
“Siapa yang datang?”
“Itu asisten Bu Mala, kayaknya.”
Kayla Ardiani turun dari mobil, wajahnya terlihat kaget melihat betapa ketat penjagaan di pinggir jalan menuju rumah keluarga Wira. Setiap sudut terlihat laki-laki berbadan tinggi dengan ear-piece di telinga.
“Ya ampun… ini desa atau markas militer?” gumamnya.
Begitu sampai di rumah, bodyguard memeriksa sekeliling sebelum akhirnya mengizinkan Kayla masuk.
Mala sedang duduk di ruang tamu, bersandar dengan bantal di punggung. Wajahnya sudah lebih segar hari ini.
“Kay!” panggil Mala senang.
Kayla langsung memeluknya pelan, takut menekan terlalu kuat.
“Ya Tuhan, Mal… aku baru dengar kamu pingsan. Kamu bikin aku jantungan!”
Mala tertawa kecil. “Aku baik-baik saja. Dokter bilang cuma kecapekan.”
Setelah urusan dokumen selesai, mereka akhirnya bisa duduk bercengkerama seperti dulu—teman sejak SMA hingga kuliah, sebelum keduanya sibuk dengan posisi tinggi masing-masing.
Kayla melirik penjaga di halaman lewat jendela.
“Mal, sumpah ya… pas tadi di perjalanan aku merasa… kayak pejabat negara. Pengawalnya banyak banget.”
Mala ngakak pelan sambil menutupi mulut.
“Belajarlah sedikit-sedikit jadi pejabat.”
Kayla mendengus. “Pejabat dari Hongkong! Ini mah lebih kayak… target kriminal yang diburu satu negara.”
Mala mengangkat bahu, masih tersenyum. “Salah siapa jadi temenan sama aku.”
Setelah tawa mereda, Kayla menatap Mala serius.
“Gila ya Mal… aku nggak nyangka tante Melisa bisa jahat sampai segininya.”
“Iya Kay,” jawab Mala lirih.
“Dan aku dengar… Aurelia juga mau disingkirkan?”
Kayla sampai mencondongkan tubuh ke depan, mulut terbuka kaget.
Ya karena aurelia tidak lagi sejalan dengan keinginan melisa,melisa terlalu berambisi ingin memiliki yang memang bukan miliknya
Ya mal, ambisi nya kuat sampai anak sendiri pun rela dikorbankan
Kayla memegang kening. “Astaga… Mal, ini udah bukan iri lagi. Ini gila.”
Mala menatap meja, matanya redup. “Ada dendam apa sebenarnya tante Melisa ke aku?”
Kayla menggeleng cepat, wajahnya tegang. “Aku pikir kalian cuma beda pendapat. Tapi sampai mau ngilangin kamu dan Aurelia? Itu dendam yang dalam, Mal.”
Mala menghela napas panjang.
“Aku benar-benar nggak tahu, Kay.”
Dan di luar sana, tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengamati rumah itu dari kejauhan… dengan kamera dan ponsel yang terus bergetar menerima pesan baru.
Pesan dari Melisa.
“Pastikan dia keluar rumah hari ini.”
Assalamualaikum selamat pagi
Selamat beraktifitas.
terimakasih bagi yang telah meluangkan membaca cerita receh nya author
Salam kenal
jangan lupa like dan komen nya ya
Selamat membaca..