Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.
Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.
akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sura bel berbunyi, memecah ketegangan antara keduanya, setelah Aksa mengungkapkan isi hatinya pada Si Gadis.
Erina mengedip-ngedipkan mata dengan mulut yang menganga, ia tak percaya, apa yang ia dengar dari mulut Aksa, jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang.
Aksa beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya pada pintu Apartemen, Rupanya Rio yang datang "selamat pagi pak" sapa Rio, setelah Aksa membukakan pintu untuknya.
Lega rasanya, kedatangan Rio seakan menghalau kebingungan jawaban apa yang harus Erina ucapkan.
Erina melempar senyum tipis di bibirnya tatkala Rio memandangnya saat kali pertama memasuki kediaman Aksa.
"Pak Aksa tidak masuk kantor hari ini?" Tanya Rio, ia mengamati Aksa masih lengkap dengan piamanya.
Aksa menggaruk kepalanya "sepertinya tidak, saya terjaga semalaman, entah kenapa saya tak merasakan kantuk" jelas Aksa.
"Mas gak tidur semalaman?" Tanya Erina dengan nada lembut namun jelas.
Aksa mengulum senyum, dan menggeleng pelan kepalanya.
Netra Rio menelisik Aksa , sikap nya seakan berubah 100% tak seperti biasanya jika berhadapan dengan Erina, ini bukan atasannya. Rio dengan jelas dapat merasakan perbedaannya, bahkan ia juga memiliki pertanyaan lain, mengapa sekarang Erina memanggil atasannya dengan sebutan Mas.
Erina meninggalkan Aksa dan Rio di meja makan, barang kali ada percakapan yang tak sepatutnya ia dengar, percakapan yang hanya mereka diskusikan. Erina kembali ke kamar, mengemasi barang-barangnya sebelum ia pamit pada si pemilik rumah.
Di mejamakan Aksa masih dengan segelas kopi yang Erina seduhkan untuknya "saya sudak infokan pada Navella bahwa saya hari ini tidak ke kantor, lagi pula tidak ada urusan yang urgent hari ini"
"Baik kalau begitu pak" Rio menganggukan kepalanya.
Erina kembali menghampiri Aksa "Mas, saya mohon izin untuk pamit pulang. Terima kasih banyak atas izin dan kesempatan menginap di sini."
"Kemana? Apakah tante Talia sudah pulang dari luar kota?" Tanya Aksa, raut wajahnya nampak datar, secara tidak langsung ia mengekspresikan ketidak inginan untuk Erina beranjak dari kediamannya.
"Tidak, saya gak pulang ke rumah Tante Talia, saya memiliki tujuan lain"
Rasa penasaran menghinggapi pikirannya, namun jika ia banyak bertanya khawatir menimbulkan ketidaknyamanan untuk Erina, toh dia memiliki banyak anak buah untuk memata-matainya "baiklah Nona, biar saya antarkan" belum sempat tegak ia berdiri dari kursinya, Erina sudah memotong ucapan Aksa, membuat aksa kembali menduduki kursinya.
"Tidak usah pak, saya terlalu banyak merepotkan, lagi pula—bapak tidak tidur semalaman, itu bahaya jika bapak ngantuk saat mengemudi" Ungkap Erina
Rio menyelak diantara obrolan Aksa dan Erina "Maaf izin pak Aksa, jika boleh biar saya yang mengantar Nona Erina"
Aksa mengetuk meja dengan jarinya "itu lebih baik, saya sedikit merasa lega jika Kamu diantar Rio"
"Tidak perlu pak, saya berangkat sendiri pun—pasti aman kok" Tegas Erina. sungguh, ia sangat merasa canggung kali ini, perlakuan manis yang ia dapat dari Aksa bukan tidak mungkin kelak membuatnya nyaman.
"Saya tidak mengizinkan kamu keluar dari Apartemen saya kalau begitu"
Erina membuang nafasnya kasar dengan berdecak "Tuhan tolong" gumamnya.
"Jadi bagaimana Nona? Tetap stay disini atau pergi tapi asisten saya yang mengantarkan? Atau kamu perlu asisten pribadi untukmu sendiri Nona?"
"Penawaran macam apa itu? Siapa aku? Sampai-sampai aku harus punya asisten pribadi?"
Batin si Gadis berisik, namun sulit mengungkapkan, Aksa selalu saja menginfasi dirinya dengan sikap yang tak mampu Erina tolak "Baiklah Mas, saya memilih di antar Pak Rio."
Aksa mengukir senyum di wajahnya, kini pria dengan julukan si minim ekspresi ini, sudah sedikit menambah beragam ekspresi lain di wajahnya, meski hanya terjadi saat bersama Erina saja. Sorot mata Aksa yang tajam mengunci pandangan Erina.
"Rio," perintahnya dengan suara rendah namun jelas, "antarkan Nona Erina. Pastikan tempat tujuannya aman dan terjaga."
Rio, pria bertubuh tegap yang selama ini berdiri diam seperti patung di sudut ruangan, bergerak cepat. Langkahnya ringan namun pasti, menghampiri Erina dengan sikap yang profesional namun dingin.
"Baik, Pak." jawab Rio, suaranya datar, tanpa emosi, sebuah kontras yang sempurna.
Erina akhirnya mengalihkan pandangannya dari Aksa. Ia merapikan sedikit lipatan pada blazernya, gerakan kecil yang menunjukkan ia masih memegang kendali atas dirinya sendiri.
Sebelum ia benar-benar pergi dari kediaman Aksa, Erina menganggukan lembut kepalanya juga dengan senyum yang tersimpul di wajahnya. Senyum Erina seakan memiliki kekuatan magis, yang mampu menyentuh relung hati, menularkan kehangatan yang membuat netra setiap orang yang memandangnya ikut melengkungkan bibirnya, membalas tanpa sadar, seolah terhipnotis dalam keindahan getaran senyumnya.
Aksa beranjak dari kursinya, mengantar Gadis yang ia pastikan akan menjadi miliknya keluar dari aparteman, hingga mengantarnya ke Basement dan memastikan masuk ke mobil bersama Rio, ia cemas jika saja Erina setelah keluar dari Apartemennya ternyata memilih menolak di antar oleh Rio.
...***...
"Pak Rio" ucap Erina, dengan sura rendah namun jelas.
"Iya Nona Erina" jawab Rio lembut, sangat berbeda dengan Rio yang biasa ia temui jika sedang bersama Aksa, Rio kali ini terlihat lebih santai dan ekspresif.
"Sudah lama kerja sama Pak Aksa?" Tanya Erina penasaran
"Sudah lebih dari dua tahun" jawab Rio, sesekali ia mengamati Erina yang duduk di kursi penumpang.
"Dia benar-benar tidak punya istri?" Sorot mata Erina seakan menginfasi Rio saat ia bertanya padanya, sorot mata yang seakan memaksa untuk Rio menjawab dengan jujur.
Rio menelan ludah,dan mencengkram kuat kemudi, ia sedang berusaha menyusun kata yang tepat untuk memberikan jawaban "i—iya, beliau belum punya istri Nona" jawab Rio dengan suara yang sedikit terjeda, ia khawatir salah memberikan jawaban hingga membuat atasannya murka atas dirinya yang salah dalam berucap.
Persoalan pribadi Aksa yang sempat memiliki istri sangat di rahasiakan, untungnya kala itu Aksa hanya menikah dibawah tangan, andai memang ia dapat mempersunting Erina, babak lama itu akan tetap terpendam, tak meninggalkan riak sedikit pun dalam catatan sipil, memastikan kisah barunya murni tak bernoda.
"Jadi saya harus mengantarkanmu kemana Nona Erina?" Tanya Rio tegas, dengan sengaja ia mengalihkan pembicaraannya agar Erina tak memperpanjang pertanyaan prihal pribadi atasannya.
"Tidak apa-apa— jika meminta perjalanan yang cukup banyak menguras waktumu pak? Saya mau pergi ke Panti asuhan Kasih Sejati, kita bisa menempuh jarak satu jam dari sini" Ujar Erina, lirih nan lembut setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Sudah menjadi tugas saya yang dititahkan Pak Aksa mengantarkanmu kemanapun dan memastikan kamu tetap aman, Nona. Jadi tidak perlu canggung, lagi pula saya hanya pekerjanya, bicaralah santai jika berbicara denganku"
Erina terkikih "kalau begitu jangan juga Pak Rio panggil Aku nama saja, jangan ada embel-embel Nona, saya ngerasa bicara dengan Pak Aksa jika ada embel-embel Nona, karena memang cuma dia yang memanggilku Nona"
"Maaf Non, saya hanya menghargaimu jadi kamu kupanggil Non saja biar lebih akrab"
Erina menghalau udara di hadapannya "tidak apa-apa nama saja"
"Saya takut kena tegur Pak Aksa jika saya memanggilmu cuma nama"
Erina mengernyitkan dahi "apa hubungannya memanggilku cuma sebutan nama, dengan di tegur Pak Aksa?"
...***...