Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Masa Kecil
Keheningan yang mematikan menyelimuti penthouse mewah itu. Bau steak yang lezat terasa ironis di tengah ketegangan yang tiba-tiba.
“Kejutaaannnnn!” seru Lauren ceria, tetapi suaranya melemah drastis di akhir. Ia berhenti melangkah, senyumnya membeku di wajahnya yang cantik.
Matanya yang memancarkan aura kesuksesan kini dipenuhi keterkejutan. Rex Carson—pria yang ia cintai dan ia kejar kembali—berdiri terlalu dekat dengan seorang wanita ber-hoodie lusuh, di dapur terbuka. Greenindia dan Rex tampak seperti pasangan intim yang baru saja menyelesaikan ritual memasak sore mereka.
Lauren menatap Rex dengan mata yang sangat ragu dan nada yang dipenuhi kegugupan.
“R-Rex?… Siapa… siapa dia?”
Rex yang baru saja merasakan kehangatan dari sesi memasak bersama Greenindia, kembali memasang wajah CEO yang datar, namun ada kilatan kegembiraan yang tulus di matanya karena bertemu teman lamanya. Ia dengan bangga memperkenalkan Greenindia.
“Lauren, kau sudah kembali? Astaga! Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku. Supaya aku bisa menjemputmu. Ah, benar juga, kenalkan, ini Greenindia. Istriku.” Rex melingkarkan lengannya di bahu Greenindia—tindakan protektif dan kepemilikan yang Greenindia tahu dilakukan Rex untuk menegaskan statusnya.
Lauren terkesiap, mundur selangkah. Keranjang mewah yang ia pegang nyaris terlepas dari tangannya. Wajahnya yang semula cerah kini berubah pucat, seolah ia baru saja melihat hantu di dapur.
“Istri?” bisik Lauren. Suaranya serak dan menahan emosi. “Rex, apa maksudmu? Kapan? Kau tidak pernah bilang kau berkencan dengan siapa pun! Kau tahu aku baru saja kembali…”
Rex mengabaikan rasa sakit dan air mata yang berkumpul di mata Lauren. Ia kemudian menoleh ke Greenindia.
“Green, ini Lauren Alvaretta. Sahabat masa kecilku. Kami tumbuh bersama. Dia baru saja kembali setelah menyelesaikan studinya dan menjalankan perusahaan di London. Lauren, jangan kaget, kami menikah belum lama ini dan tidak mengadakan pesta.”
Greenindia, yang merasakan lengan Rex di bahunya, balas tersenyum pada Lauren dengan senyum palsu yang sama manisnya.
“Halo, Lauren. Senang bertemu denganmu,” kata Greenindia, nadanya tenang dan sopan.
Lauren mengangguk kaku, matanya masih menolak memercayai adegan itu. Ia berusaha keras untuk tersenyum, tetapi yang muncul hanya topeng yang retak.
“Aku… aku tidak percaya. Kenapa kau tidak bilang padaku, Rex? Aku meninggalkan segalanya di London untuk…” Lauren menghentikan kalimatnya, menyadari ada orang asing di sana.
“Kau terlalu sibuk, Lauren. Itu masa lalu,” Rex memotong tegas, tetapi nadanya kembali menjadi hangat dan bernostalgia saat ia mengganti topik. “Kau datang di saat yang tepat! Aku baru saja menyelesaikan memasak. Kau harus menceritakan semuanya tentang London. Aku ingin tahu kabar kakekmu.”
Rex segera melepaskan Greenindia, meraih tongkatnya, dan berjalan pincang menuju sofa ruang tamu. Ia langsung melupakan masakan yang baru saja Greenindia selesaikan.
“Ayo, Lauren. Duduklah. Aku ingin mendengar cerita tentang dewan direksi baru di perusahaan kakekmu,” ajak Rex, sedikit mengabaikan Greenindia dan masakan di kompor.
Lauren memanfaatkan kesempatan itu. Ia berjalan anggun menuju sofa, melewati Greenindia tanpa kontak mata. “Kau tidak akan percaya kekacauan di London, Rex. Aku benar-benar membutuhkanmu di sana. Tapi, bisakah kita bicara tentang kakimu dulu? Kenapa kau terluka?”
Rex dan Lauren segera tenggelam dalam obrolan nostalgia yang akrab, membahas masa lalu mereka. Mereka tertawa, membahas strategi bisnis, dan berbicara tentang kenangan masa kecil—semua hal yang membuat Greenindia semakin terasing.
Greenindia hanya berdiri, mengawasi mereka dari ambang dapur. Ia merasa canggung dan kesal.
Aku bukan istrinya. Aku hanya alat tukar untuk tanggung jawab.
Greenindia kembali ke kompor dan menyelesaikan memasak steak. Ia mengatur piring untuk tiga orang, Rex, dirinya, dan Lauren, membawa hidangan itu ke meja makan yang mewah.
“Rex, makanan sudah siap. Lauren, kau mau bergabung?” panggil Greenindia dengan nada tenang dan sopan.
Rex mendongak, matanya sedikit terkejut karena sudah larut dalam percakapan dengan Lauren. “Oh, sudah siap? Kau memang cepat belajar, Green.”
Lauren menoleh. Senyum polosnya kembali terpasang, tetapi Greenindia menangkap kilatan ancaman di baliknya. “Terima kasih, Green, kau sangat manis. Tapi aku sudah sarapan pagi tadi, dan aku tidak ingin mengganggu acara makanmu.”
Lauren menekankan kata ‘makanmu' dengan sengaja.
“Kau makan saja, Green. Aku akan menemani Lauren sebentar lagi,” kata Rex, merasa tidak enak hati untuk meninggalkannya.
Greenindia hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi. Ia kembali ke meja makan dan duduk.
Sesekali terdengar Rex tertawa mendengar cerita Lauren yang disajikan dengan penuh detail.
Greenindia fokus pada makanannya. Ia membuka tablet Rex untuk memeriksa berita di internet. Berita tentang dirinya dan Chester mulai mereda, tetapi beberapa komentar sinis dari penggemar Chester masih terlihat.
Ketika Greenindia selesai makan, Rex tiba-tiba bangkit, menyandarkan tubuhnya pada tongkat.
“Green, aku pergi dulu sebentar bersama Lauren,” kata Rex.
Greenindia menatapnya, alisnya terangkat. “Pergi? Ke mana? Bukankah kau baru saja bilang aku tidak boleh keluar karena wartawan?”
“Ini berbeda, Green. Lauren merindukan makanan yang sering kami beli saat masih kecil, di pasar malam lama dekat taman. Kami akan pergi sebentar, kau bisa membereskan makanannya. Aku akan makan di luar bersama Lauren.” Rex menjelaskan, wajahnya sedikit bersalah, tetapi antusiasmenya terhadap nostalgia lebih kuat.
“Kau yakin?” Greenindia bertanya, pandangannya tertuju pada tongkat kayu Rex. Rex baru saja memaksanya tinggal di penthouse demi keselamatannya karena kakinya yang terluka, tetapi sekarang, demi Lauren, Rex bersedia berjalan pincang dan menempuh perjalanan jauh ke pasar malam.
Selain itu, jelas-jelas Lauren mengatakan sudah sarapan di rumahnya. Bagaimana ia sekarang ingin makan?
“Aku yakin. Itu makanan legendaris, Green. Kau tidak akan mengerti,” Rex terkekeh, seolah itu adalah lelucon pribadi yang hanya mereka berdua pahami.
“Baiklah,” jawab Greenindia, suaranya sangat datar.
Greenindia menatap Lauren, dan saat itulah pandangannya langsung tertuju pada Lauren yang memandangnya dengan tatapan aneh, seperti sedang menunjukkan sebuah kemenangan.
Senyum polos Lauren berubah menjadi seringai tipis, seolah berkata, aku tetap pemenangnya.
Greenindia mengabaikannya. “Hati-hati, Rex. Dan jangan lupa, kakimu masih terluka.”
Rex segera berjalan pincang menuju lift, Lauren mendampinginya dengan penuh perhatian, seolah ia adalah perawat pribadi Rex.
Greenindia hanya duduk sendirian di meja makan mewah, menatap piring kotor bekas makannya. Rasa kesal, dan kesadaran pahit bahwa ia hanya pion dalam Proposal Perlindungan Rex, membanjiri dirinya.
Greenindia bangkit dan berjalan ke kamar.
Tanpa sadar, Green kembali membuka ponselnya mencari seseorang bernama Lauren Alvaretta.
Beberapa berita muncul di layar ponselnya.
Pencarian 1: Lauren Alvaretta
Hasil pencarian menunjukkan Lauren adalah CEO termuda dari Alvaretta Financial, sebuah perusahaan investasi besar di London, dan cucu tunggal dari salah satu pendiri perusahaan. Tidak ada yang buruk, hanya kesuksesan yang memesona.
Greenindia merasa sedikit lega, tetapi kemudian ia menemukan artikel lama yang membuat tangannya dingin:
"Skandal Romantis di Lingkaran Elite: CEO Rex Carson dan Ahli Waris Alvaretta Diisukan Bertunangan..."
Greenindia membaca artikel itu dengan tergesa-gesa. Artikel itu menceritakan bagaimana penerus keluarga Carson, Rex, menjalin hubungan dengan Lauren Alvaretta.
Greenindia menghela napas. Itu berarti Lauren memiliki hubungan yang sangat mendalam dengan Rex.
Green terus mencari tapi tidak ada apa pun lagi selain beberapa pencapaian Rex dan seperti apa Lauren Alvaretta dalam kepiawaiannya dalam berinvestasi. Tidak ada juga konfirmasi atau bantahan dari kedua belah pihak soal hubungan mereka.
Kamu hanya butiran debu, Green.
semangat up