Lima tahun pernikahan Bella dan Ryan belum juga dikaruniai anak, membuat rumah tangga mereka diambang perceraian. Setelah gagal beberapa kali diam-diam Bella mengikuti proses kehamilan lewat insenminasi, dengan dokter sahabatnya.
Usaha Bella berhasil. Bella positif hamil. Tapi sang dokter meminta janin itu digugurkan. Bella menolak. dia ingin membuktikan pada suami dan mertuanya bahwa dia tidak mandul..
Namun, janin di dalam perut Bella adalah milik seorang Ceo dingin yang memutuskan memiliki anak tanpa pernikahan. Dia mengontrak rahim perempuan untuk melahirkan anaknya. Tapi, karena kelalaian Dokter Sherly, benih itu tertukar.
Bagaimanakah Bella mengahadapi masalah dalam rumah tangganya. Mana yang dipilihnya, bayi dalam kandungannnya atau rumah tangganya. Yuk! beri dukungungan pada penulis, untuk tetap berkarya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Duapuluh enam, Masa lalu Bella.
Dua puluh dua tahun yang lalu. Sepasang suami istri, tengah dalam perjalanan pulang dari luar kota. Keduanya nampak lelah, sementara jarak ke rumah masih jauh.
"Bang, kalau sudah capek dan ngantuk kita, cari penginapan saja." saran istrinya karena beberapa kali memergoki suaminya menguap panjang.
"Tanggung Dek, bentar lagi kita mau sampai ini." sang suami menolak. Karena setengah jam lagi mungkin mereka akan sampai di rumah kalau tidak terhalang macet.
"Tapi Abang dah ngantuk kali kulihat."
"Tidak apa," suaminya masih mencoba bertahan.
"Atau kita singgah di kedai kopi dulu, Bang. Biar abang rileks dikit lah."
"Baiklah, kita cari kedai kopi yang masih buka." lantas suaminya celingak celinguk sepanjang jalan mencari kedai kopi yang masih buka. Hingga dia menemukan sebuah kedai kopi dan memutar arah memasuki halaman parkir.
Kedai yang mereka masuki adalah sebuah rumah makan dua puluh empat jam, yang biasa disinggahi taxi atau bus yang melakukan perjalanan panjang.
Suasana malam itu sangat ramai. Karena ada beberapa mobil yang singgah untuk istirahat atau sekedar mengisi perut.
Malam itu kira-kira pukul sebelas. Pasangan suami istri itu pun memasuki rumah makan. Mereka mencari tempat duduk yang masih kosong. Dan menemukan di sudut .
"Dek, itu ada tempat kosong." sang suami menunjuk arah sudut, lalu mereka duduk disana. Seorang pelayan datang menghampiri mereka. menanyakan mau pesan apa.
"Secangkir kopi. Kamu mau pesan apa dek?" sebut Anwar pada istrinya yang kewalahan menenangkan putrinya yang terjaga.
"Aku lapar Bang. Pesan saja makanan. Juga cemilan buat Ririn." pelayan itu pergi dan tidak berapa lama kembali dengan makanan pesanan mereka.
"Sini Papa gantian gendong," Anwar kasihan melihat istrinya yang belum bisa membuat putrinya tenang. Putrinya tantrum karena tidurnya terganggu.
"Kamu makan sajalah duluan, Dek. Kita gantian nanti." Anwar membawa putrinya keluar dari rumah makan. Karena tangisan putrinya telah mengganggu pengunjung yang lain.
Renita istri Anwar, buru-buru makan. Karena harus gantian dengan suaminya. Selang beberapa saat, Anwar kembali dan Ririn sudah berhasil dibujuk.
"Ririn sudah diam, Bang?" ucap Renita manakala melihat putrinya sudah anteng dalam gendongan ayahnya..
Ketiganya lalu menikmati makan. Tanpa menyadari sepasang mata sejak awal mereka masuk sudah memperhatikan mereka.
Gerak geriknya sangat mencurigakan. Pandangannya tidak lepas pada putri kecil pasangan suami istri itu.
Pandangan tajam seorang wanita, yang mengenakan kaca mata hitam. Anwar dan Renita tidak menyadari hal tersebut. Andai saja mereka sedikit waspada malam itu. Tidak membiarkan Riri berlarian bersama anak-anak yang ada di rumah makan itu. Sehingga Ririn lepas dari pengawasan mereka.
Bermula dari seorang bocah seusia Ririn, memperlihatkan bonekanya pada Ririn. Dalam sekejap mereka akrab. Karena bertetangga meja, keduanya masih diawasi orang tua masing-masing. Bahkan kedua pasangan suami istri yang belum saling kenal itu malah menjadi akrab dan terlibat percakapan.
Disaat itulah tanpa mereka sadari, Ririn dan temannya itu pergi keluar. Dan diikuti perempuan yang memperhatikan sejak tadi.
Dia mengeluarkan dua batang coklat silver quen dari tasnya. Dan mengekori langkah kedua bocah itu. Dan duduk disampingnya.
"Hai, gadis -gadis cantik. Ada yang mau coklat gak?" seraya menunjukkan dua batang coklat. Namanya saja bocah pasti tidak menolak ditawari makanan kesukaan mereka.
"Mau Tante," seru teman Ririn. Tapi Ririn diam saja dan ragu untuk menerima. Wanita itu menyerahkan sebatang.
"Kamu?" lalu mengangsurkan ke depan Ririn. Ririn menggeleng, karena dia tidak mengenal perempuan itu.
"Ambillah tidak apa-apa. Jangan kasih nampak sama mama. Habiskan disini saja. Yuk, makan bareng." wanita itu mengambil lagi sebatang coklat untuk dirinya dan memakannya di depan kedua bocil itu.
"Hem, enak. Makanlah!" wanita itu memotong bagiannya dan memberikannya pada kedua bocah itu. Keduanya memakan coklat pemberian wanita misterius itu. Dan beberapa saat kemudian kedua gadis kecil itu pun tertidur.
Wanita itu lalu menggendong Ririn ke dalam mobilnya.
Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang memperhatikan ketika Ririn dibawa wanita asing. Sementara anak yang bersama Ririn tertidur di pendopo itu setelah makan coklat yang sudah dibaluri obat bius.
Situasi berubah panik, ketika Renita tidak mendengar celotehan putrinya.
"Bang, Ririn kemana?" ucapnya tersadar karena putrinya tidak bolalk balik lagi melintas didekat mereka.
"Tadi mereka ke arah sana," ibunya teman Ririn beranjak dari kursi menuju pintu gerbang. " Itu, putri saya." serunya melihat putrinya yang tertidur.
"Eka kenapa tidur disini?" seru ibu Eka, menggucang tubuh anaknya. Tapi tidak ada respon. Bocah itu tetap tertidur.
"Bang anak kita kenapa ini. Kenapa dia tidaźzk mau bangun.
"Bang Ririn tidak ada!" seru Renita saat tidak menemukan putrinya bersama Eka. Dan keadaan Eka sangat mencurigakan. Germparlah rumah makan itu. Semua mencari Ririn. Dan ada yang menelpon polisi.
Renita panik dan histeris saat menyadari kalau putrinya telah hilang.
"Maaf Bu, tadi saya sempat melihat ada seorang wanita menggedong anak seumuran dia, tapi kukira itu ibunya. Dia sudah pergi sekitar sepuluh menit yang lalu.
"Ya Tuhan! Ririn telah diculik, Bang." raung Renita histeris. Anwar berusaha menenangkan istrinya.
"Tenang, Dek. Kita pasti menemukan Ririn." hibur Anwar pada istrinya. Sementara hatinya juga gundah, tau kemungkinan putrinya diculik.
"Kemana putriku itu dibawa. Ririn pulang Nak," tangis Renita memecah malam itu. Membiat iba para pengunjung yang hadir di rumah makan itu.
Hingga pagi, tidak ada kabar berita tentang Ririn. Polisi menyelidiki kasus itu tapi tidak menemukan petunjuk. Tidak ada kabar dari penculik meminta tebusan. Kasus itu akhirnya mengendap bertahun-tahun kemudian.
Segala upaya telah dilakukan, namun Ririn tidak ditemukan. Seolah lenyap ditelan bumi.
" Abang, kenapa? Sedari tadi melamun terus." teguran istrinya membuat Anwar yang tengah duduk di teras tersentak. Lamunannya ambyar. Renita meletakkan secangkir kopi di atas meja. Lalu duduk disamping suaminya.
"Entahlah Dek, beberapa hari ini abang kepikiran terus soal itu." desah Anwar menghela nafas panjang.
"Soal apa lagi, Bang. Soal Dita dan Heru, ya?" dua anak mereka adiknya Ririn.
"Bukan. Ini soal Ririn."
"Ririn? Bang, Ririn sudah hilang. Kenapa Abang masih membahas soal anak kita itu." ucap Renita sendu. Kenangan duapuluh dua tahun lalu, terlintas lagi di pupil matanya.
"Entahlah, Abang merasa Ririn masih hidup. Dan berada disuatu tempat. Entah bagaimana nasibnya sekarang." Dokter Anwar merasa sangat bersalah atas kelalaian mereka dulu. Terlebih Renita.
Andai dulu dia tidak memaksa suaminya untuk beristirahat malam itu. Tentunya Ririn masih bersama mereka sampai sekarang. Duka itu sangat membekas di benaknya sampai sekarang.
"Abang merasa Ririn masih hidup. Wanita itu, pasti Ririn. Firasat Abang sangat kuat."***
Makasih Thor.